Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU XVIII

Belajar dari Tuhan yang Berbelas Kasih

 

  • Minggu, 2 Agustus 2020
  • Injil Mat 14:13-21
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Tuhan Yesus berbuat baik di dalam hidup-Nya di dunia ini, tetapi orang-orang justru menggantung Dia di kayu salib! Apakah balas jasa yang Yesus terima? Hinaan, cercaan, aniaya, kematian, itulah yang Dia terima. Di sini jelas, Tuhan Yesus tidak mengajarkan tentang karma!

 

Warta Injil hari ini, yang dapat kita renungkan:

Pertamaadalah Yesus sumber makanan umat Tuhan.

Inilah pesan pertama yang disampaikan oleh penginjil Matius. Dikatakan bahwa para murid harus memberikan mereka makan. Tidakkah ini perintah yang aneh. Karena kita tahu bahwa tidak ada satu pun murid yang sanggup memberi makan orang sebanyak itu.

Nah, Aliran teologi pembebasan sangat senang dengan bagian ini. Mereka terus menekankan bahwa tugas Gereja adalah memberi makan orang-orang yang tidak mampu. Tetapi ini bukan kesimpulan yang benar. Mengapa?

Sebab bagian ini sedang menekankan bahwa Yesus memberikan perintah yang tidak sanggup dikerjakan para murid. Ini bukan hanya mengenai makanan. Tuhan Yesus memberikan perintah, lalu kita sebagai Gereja sadar bahwa kita tidak sanggup melaksanakan hal itu!

Tuhan Yesus memerintahkan kita orang beriman untuk melakukan sesuatu yang perlu untuk menjalankannya walau itu nampaknya mustahil. Inilah yang menjadi pelajaran bagian ini. Apakah Gereja kemudian tidak berkewajiban memberi makan orang miskin?

https://www.youtube.com/watch?v=XpaLz8oQTK8&t=8s

 

Tetaplah berkewajiban. Tetapi memberi makan orang-orang miskin adalah pekerjaan yang dilakukan dari ketersediaan yang cukup bahkan melimpah di dalam Gereja. Orang-orang yang tidak bisa cari makan sendiri karena kelemahan mereka, inilah yang harus ditolong.

Gereja tidak boleh sembarangan membagikan sumber daya yang Tuhan sudah berikan untuk orang-orang yang malas, untuk penipu-penipu yang berpura-pura miskin, dan untuk orang-orang yang sebenarnya masih mampu berusaha.

Jika Gereja sembarangan menolong, maka orang-orang yang memang tidak mampu dan harus diberi makan, orang-orang ini bisa jadi akan terabaikan.

Yang mau ditekankan oleh penginjil Matius adalah Yesus memberi perintah yang mustahil. Mustahil dan hanya bisa terjadi kalau Yesus melakukan mukjizat.

Inilah yang disebut dengan perintah untuk percaya kepada Tuhan, atau beriman kepada Tuhan Allah. Yakni, Perintah yang menuntut bukan hanya seluruh harta, tetapi bahkan lebih daripada apa yang kita miliki. Perintah yang menuntut keyakinan iman! Inilah yang sedang Yesus kerjakan.

Dalam pengalaman hidup atau realitasmenunjukkan mungkin masih banyak diantara kita orang beriman kristiani yang begitu pelit kepada Tuhan dan sesama, belum menjadi sesamayang murah hati dan berbelaskasih bagi mereka yang menderita. Ini artinya kita belum menghayati dengan benar iman kita.

Lalu, bagaimana mungkin kita sanggup akan menjalankan perintah Tuhan yang melampaui apa yang kita miliki. Murid-murid diperintahkan untuk memberi makan 5.000 orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak). Meskipun semua perbekalan mereka dikeluarkan pun tetap tidak cukup.

Dengan kata lain, mereka sudah tidak punya makanan! Namun,ingatlah apa yang dikatakan oleh Yesus, segala sesuatu itu mungkin bagi Allah. Memang rasanya mustahil memerintahkan orang lapar untuk memberi makan orang lapar yang lain!

Namun,percayalah, siapa yang datang kepada Tuhan dengan mengasihani diri, justru Tuhan akan memerintahkan mereka untuk belajar mengasihani orang lain.

Dengan kata lain,biarlah Tuhan yang mengasihani diri kita, sedangkan belas kasihan kita harus kita berikan kepada orang lain, dan bukan untuk diri kita sendiri. Perintah yang mustahil inilah yang melatih kita untuk senantiasa bergantung kepada Tuhan dan berharap Tuhan sajalah yang bekerja.

Inilah yang Tuhan ingin kita peroleh. Iman kepada Tuhan dan ucapan syukur serta perasaan kagum yang muncul setelah melihat Tuhan bekerja. Tuhanlah yang memberi makan umat-Nya.

Yesus adalah Tuhan Allah yang menjadi sumber makanan, sumber keselamatan, sumber pertumbuhan iman, dan sumber kebenaran umat Tuhan, kita semua. Dialah yang mencukupkan kebutuhan kita, Gereja-Nya.

Maka,setelah iman kita dilatih dengan hal-hal seperti ini, barulah kita dapat memiliki kekuatan iman yang sesungguhnya. Kekuatan yang mengandalkan Tuhan untuk mengerjakan hal-hal besar di dalam hidup kita demi kemuliaan-Nya.

 

Keduaadalah Yesus melakukan segala sesuatu didorong oleh belas kasihan-Nya.

Yesus tidak melakukan mukjizat-Nya untuk mendatangkan kekaguman orang atas diri-Nya. Dia tidak mencari itu. Dia tidak punya kerinduan untuk nama-Nya ditinggikan. Yang Dia lakukan adalah agar orang-orang mempermuliakan Bapa di surga.

Tuhan Yesus memberi makan 5.000 orang bukan supaya Dia mempunyai pengaruh yang besar kepada mereka. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus tidak mau menjadi raja, pemimpin dari 5.000 orang itu. Dia justru meninggalkan mereka dan pergi bersama dengan murid-murid-Nya.

Banyak orang menolong orang lain demi mengharapkan balas jasa. Ada juga yang menolong orang lain karena percaya karma, yakni kalau kita baik kepada orang lain, maka nanti kita pun akan menerima kebaikan.

Namun,lihatlah!Tuhan Yesus berbuat baik di dalam hidup-Nya di dunia ini, tetapi orang-orang justru menggantung Dia di kayu salib! Apakah balas jasa yang Yesus terima? Hinaan, cercaan, aniaya, kematian, itulah yang Dia terima. Di sini jelas, Tuhan Yesus tidak mengajarkan tentang karma!

Setiap orang yang dengan motivasi egois pasti tidak pernah bisa melepaskan keuntungan pribadi di dalam apa yang dia lakukan. Tetapi Yesus tidaklah demikian, fokusnya adalah orang lain.

Dia mudah berbelaskasihan karena Dia tidak mementingkan diri-Nya sendiri. Dia justru memberi hidup-Nya bagi orang lain. Seperti yang kita dengar dalam warta Injil tadi bahwa Tuhan Yesus melihat orang banyak, dan Dia tergerak oleh belas kasihan.

Belas kasihan yang paling indah dan paling sempurna diberikan oleh Yesus kepada manusia. Manusia yang bagaimana?

Manusia pemberontak yang tidak tahu bagaimana caranya setia kepada Tuhan. Tetapi Tuhan Yesus tetap mengasihani manusia seperti mereka.

Kiranya mulai hari ini saudara-saudari yang terkasih, kita harus belajar dari Tuhan Yesus dengan tulus untuk menjadikan hati kita mudah berbelaskasihan. Bukan karena motivasi egois tetapi benar-benar tulus karena Tuhan telah dan senantiasa mengasihi dan mencintai kita semua.***

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU XVII

Mengurbankan Segala Sesuatu Demi Kerajaan Surga

 

  • Minggu, 26 Juli 2020
  • Injil Mat 13:44-52
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Kerajaan Surga merupakan sesuatu yang sangat berharga dan indah. Tiada pengurbanan yang sebanding untuk mendapatkannya. Maka, layaklah kita mohon rahmat Allah dan karunia keberanian, agakita berani untuk mengurbankan segalanya bagi Tuhan.

 

Perumpamaan dalam warta Injil hari ini pertama dalam perikop Minggu ini menceritakan bahwa Kerajaan Allah seumpama seseorang yang menemukan harta di ladang, menguburkannya kembali, dan dengan sukacita menjual seluruh harta miliknya untuk membeli ladang itu.

Dikatakan bahwa seseorang “menemukan”. Menemukan mempunyai konotasi tidak sengaja atau tiba-tiba. Seseorang dapat saja menemukan harta terpendam melalui kejadian-kejadian yang tidak disangka-sangka, seperti dalam penderitaan seseorang menemukan makna hidup dan Kristus; tiba-tiba merasa kosong dalam hidup, yang menuntun pada penemuan jati diri melalui Sabda Allah, dan lain-lain.

Orang tersebut tidak membayar ketika menemukan harta tersebut, namun harta tersebut mempunyai harga yang sangat mahal untuk dimiliki. Namun, karena harta tersebut sungguh sangat berharga melebihi segalanya, maka orang tersebut dengan sukacita menjual seluruh miliknya demi dapat memiliki harta tersebut.

Dan memang menemukan Kristus dan menjalin hubungan yang intim dengan Kristus jauh lebih berharga dari apapun.

 

https://www.youtube.com/watch?v=IIW6De3wXms&t=11s

Di dalam Alkitab disebutkan banyak sekali ayat-ayat untuk mengasihi sesama kita dan terutama untuk mengasihi Tuhan, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan.

Dengan demikian, kalau seseorang telah menemukan Tuhan, maka dengan segala risikonya dia harus menempatkan Tuhan di atas segalanya, karena memang hanya Tuhanlah yang berharga untuk dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita.

Apapun yang kita punyai prioritasnya harus di bawah Tuhan, karena Tuhan adalah segalanya dan apapun yang kita punyai adalah milik Tuhan. “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21; Luk 12:34).

Kemudian Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Surga seperti pukat yang dilabuhkan ke laut, yang mengumpulkan semua jenis ikan, yang baik maupun yang tidak baik. Ini merupakan pararel dari perumpamaan tentang lalang dan gandum.

Kalau Yesus menjelaskan bahwa ladang adalah dunia (ay.38), maka dalam perumpamaan tentang pukat, lautan adalah dunia, serta pukat adalah Gereja. Sama seperti pukat harus ditebarkan ke tempat yang dalam, maka Gereja harus juga mewartakan Kristus ke tempat yang dalam atau Duc in Altum.

Dan setelah penuh, maka pukat tersebut diseret ke pantai dan orang-orang kemudian memilih ikan yang baik dan membuang ikan yang tidak baik. Ini menggambarkan tentang akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan manusia yang baik dari ikan yang tidak baik. Dan bagi orang yang jahat akan mendapatkan ganjarannya di dalam neraka (ay.50).

Setelah Yesus mengatakan perumpamaan tersebut, maka Yesus berpaling kepada para murid dan bertanya mengertikah kamu semuanya itu? Dengan kata lain, mengertikah kamu, bahwa ketika engkau Kupanggil, Aku akan menjadikan engkau penjala manusia?

Yesus menerapkan tugas ini kepada para murid dan diteruskan oleh Paus dan para uskup dibantu oleh para imam. Dan sebagai pengajar, maka mereka juga harus menjaga keharmonisan antara harta yang lama dan harta yang baru, atau Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – seperti yang diinterpretasikan oleh St. Agustinus.

Namun, tugas perutusan untuk mewartakan Kerajaan Surga bukan hanya diberikan kepada paus, para uskup,dan para imam, namun juga kepada semua umat Allah yang telah dibaptis.

Dari uraian di atas, maka kita dapat melihat bahwa Kerajaan Surga adalah begitu berharga dan begitu indah. Tidak ada pengurbanan yang terlalu besar untuk mendapatkan Kerajaan Surga. Oleh karena itu, kita harus mohon rahmat Allah dan karunia keberanian, sehingga kita berani untuk mengurbankan segalanya bagi Tuhan.

Kita juga ingin mengikuti St. Agustinus, yang mengatakan bahwa kita harus menukar segala yang kita punya untuk dapat menerima Kerajaan Surga, atau menukar diri kita dengan Kerajaan Surga.

St. Agustinus melanjutkan bahwa pertukaran diri kita bukan sama berharganya dengan Kerajaan Surga, namun karena hanya itulah yang kita punyai.

Mari, kita berikan diri kita seutuhnya kepada Tuhan, sehingga Dia dapat membentuk kita dan menjadikan kita kawan sekerja Allah (1Kor 3:9), untuk membawa sesama kita kepada-Nya.***

 

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XVI

Jadilah Gandum yang Berbuah

  • Minggu, 19 Juli 2020
  • Injil Mat 13:36-43
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Kita harus menjadi gandum yang berbuah dan bukan ilalang yang merusak, sehingga kita tidak dimusnahkan melainkan dimasukkan dalam lumbung surgawi.

 

Dalam perumpamaan tadi, dijelaskan bahwa Anak Manusia-lah yang menaburkan benih yang baik. Hal ini akan terlihat lebih jelas, kalau kita juga membaca perumpamaan tentang Sang Penabur (lih.Mat 13:1-23).

Kristus telah menaburkan benih yang baik kepada setiap orang, namun benih ini dapat tumbuh dengan baik kalau manusia menjawab panggilan Tuhan, yang digambarkan sebagai benih yang jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah yang berlimpah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (ay.23).

Namun, di perumpamaan berikutnya (ay.23-42), Kristus memberikan perumpamaan bahwa untuk dapat mencapai Kerajaan Surga, diperlukan kewaspadaan dan senantiasa berjaga karena si jahat menaburkan benih lalang, dan dengan demikian secara aktif merusak benih yang baik yang ditaburkan oleh Kristus.

Dikatakan bahwa si jahat menaburkan benih lalang ketika semua orang sedang tertidur (ay.25). Yesus ingin menekankan pentingnya untuk senantiasa berjaga-jaga, baik terhadap serangan si jahat dan berjaga-jaga sampai pada akhir kehidupan kita, maupun berjaga sampai akhir zaman (lih.Mat 24:42-43).

Yesus menekankan pentingnya untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa sehingga kita tidak jatuh dalam percobaan (lih.Mrk 14:38). Rasul Paulus mengajak kita harus berbaju-zirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.

Hanya dengan tiga kebajikan ilahi, yang ditopang oleh doa dan dikuatkan oleh Roh Kudus, kita dapat berjaga-jaga tanpa mengenal lelah, sehingga tidak memberi kesempatan kepada si jahat untuk menaburkan benih lalang.

Benih lalang yang ditaburkan oleh si jahat bukanlah benih lalang biasa. Jenis lalang ini sangat sulit dibedakan dengan gandum biasa, karena bentuknya yang serupa. Kalau seseorang mencoba memisahkan lalang dengan gandum sebelum waktunya, maka mereka dapat salah mencabut. Seseorang hanya dapat membedakan antara lalang ini dengan gandum ketika mereka bertumbuh besar dan bulir-bulirnya mulai masak.

 

https://www.youtube.com/watch?v=mDGIpRLznW0

 

Dari sini, kita dapat melihat bahwa benih baik yang tercampur dengan benih lalang akan menjadi sangat berbahaya. St. Yohanes Kristotomus dan St. Thomas Aquinas menyebutkan bahwa ajaran yang menyesatkan adalah ajaran yang benar bercampur dengan ajaran yang salah, sehingga banyak orang sulit untuk membedakannya.

Sebagai contoh, kita dapat melihat pengajaran dari teologi kemakmuran, yang memberikan kebenaran tentang kasih Allah, namun mereduksi kasih Allah sebatas hal-hal yang bersifat material. Maka seharusnya kita memegang ajaran yang benar dan berbuah dalam kasih, maka besarlah pengharapan kita akan memperoleh keselamatan abadi di Sorga.

Akhirnya, Yesus mengatakan untuk membiarkan gandum untuk tumbuh bersama-sama dengan lalang, sampai pada akhir zaman. Hal ini memberikan pengharapan sekaligus kesediaan untuk mempersiapkan diri.

Pengharapan bahwa Tuhan akan terus memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki kesalahan kita sampai kita dipanggil Tuhan. Namun pada saat yang bersamaan, pengharapan ini juga harus dibarengi dengan kesiapsiagaan, karena tentang hari dan saatnya tidak ada seorangpun yang tahu.

Pada saat akhir zaman, lalang yang dibiarkan tumbuh bersama gandum di ladang tidak dapat dibiarkan masuk ke dalam gudang yang sama. Pada saat itu, orang-orang yang melakukan kesesatan dan melakukan kejahatan akan dicampakkan ke dalam dapur api.

Bagaimana dengan gandum atau orang-orang yang melakukan kehendak Bapa? Mereka akan mendapatkan kebahagiaan abadi di surga.

Maka marilah kita sungguh mau mendengar dan menghayati apa yang diajarkan Yesus tentang gandum dan ilalang ini. Kita harus menjadi gandum yang berbuah dan bukan ilalang yang merusak, sehingga kita tidak dimusnahkan melainkan dimasukkan dalam lumbung surgawi.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, tumbuhkan dan kembangkanlah aku menjadi gandum yang baik dan akhirnya dapat berbuah melimpah yang berguna bagiku maupun semua orang di sekitarku. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XV

Iman yang Berbuah

 

  • Minggu, 12 Juli 2020
  • Mat 13:1-23
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Iman yang sejati adalah iman yang menghasilkan buah. Menghasilkan buah berarti siap untuk berbagi dengan yang lainnya, karena tidak mungkin buah itu hanya ada untuk diri sendiri.

 

Warta Injil hari ini bila kita baca lengkap dari ayat 1 hingga 23 menampilkan perumpamaan Yesus tentang penabur dan jenis-jenis tanah tempat benih itu jatuh dan dijelaskan oleh Yesus sendiri.

Ada tanah di pinggir jalan, ada tanah yang berbatu-batu, ada tanah yang penuh dengan semak berduri dan ada tanah yang baik. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan sayang sekali bahwa benih yang baik ini tidak selalu jatuh ke tanah yang baik.

Begitulah gambaran orang-orang yang mendengar firman itu dan mengerti. Perhatikanlah, walaupun ada banyak orang menerima anugerah Allah dan firman-Nya secara sia-sia. Namun,Allah masih mempunyai sisa-sisa umat-Nya yang menerima benih itu dan berbuah, sebab firman Allah tidak akan kembali kepada-Nya dengan sia-sia.

Hal yang membedakan tanah yang baik ini dengan jenis tanah lainnya hanyalah satu kata, yaitu berbuah.

Seorang penabur ketika menaburkan benih pasti yang diharapkan adalah hasil dari benih itu. Bila tanpa hasil maka benih yang ditaburkan itu menjadi sia-sia. Hal inilah yang membedakan mana murid yang sejati dan mana yang bukan,yaitu bahwa mereka berbuah banyak dan dengan demikian layak untuk disebut pengikut Kristus yang sejati.

Yang menarik adalah bahwa Yesus berkata bahwa tanah yang baik tidak mendapatkan hambatan untuk berbuah. Mengapa? Karena tanah itu sudah siap ditaburi benih dengan baik untuk menyimpan benih itu dalam kandungannya dan kemudian bertumbuh lalu menghasilkan buah.

Kita semua tahu bahwa menabur benih adalah proses awal dari bercocok tanam. Berbeda dengan yang mungkin kita ketahui sekarang, penabur dalam warta ini tidak mempersiapkan tanahnya terlebih dahulu sebelum ditebari benih.

Tanah tempat benih ditaburkan pun tampaknya begitu terbuka sehingga orang bisa saja lalu lalang di situ. Si penabur menebar benih di berbagai tempat. Ia seolah memberi kesempatan seluas-luasnya pada setiap jenis tanah untuk menerima benih.

Si penabur tahu bahwa tiap benih punya potensi untuk bertumbuh dan tiap jenis tanah punya potensi untuk menumbuhkan benih. Ini terbukti, setiap tanah menumbuhkan benih sesuai potensi masing-masing. Maka hasilnya sesuai dengan jenis tanah tempat jatuhnya benih itu.

https://www.youtube.com/watch?v=wm2r80FG6Zk

Kalau hal ini kita renungkan dan bisa kita ungkapkan bahwa Tuhan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mendengar firman-Nya. Namun bagaimana firman itu tumbuh dan menghasilkan buah, tergantung pada diri setiap orang yang menerimanya. Hanya mendengar saja kiranya bukan merupakan jaminan bahwa orang akan memahaminya.

Maka harus dipertanyakan, apakah orang itu menerimanya dengan antusias ataukah masuk dari telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan? Karena ada yang melupakan firman setelah mendengarnya, ada juga yang langsung menolaknya.

Ada juga orang yang melupakan firman saat mengalami penindasan karena firman (20-21), padahal firman itu bisa menjadi kekuatan. Lalu ada pula yang tidak bertahan dalam firman ketika khawatir karena menghadapi fakta di depan mata yang mengerikan,misalnya (22).

Maka apakah firman dapat bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupan kita, tergantung pada kebulatan hati kita untuk tidak membiarkan apa pun menghalangi pertumbuhan firman dalam hidup kita. Juga tergantung pada kesiapsediaan kita untuk dibentuk oleh firman melalui keseriusan menjadi pelaku firman dari hari ke hari dalam hidup yang kita jalani.

Maka, marilah menjadi murid yang bersedia diajar oleh firman. Lalu berilah kesempatan kepada orang lain untuk mendengarkan firman, sebagaimana Anda telah diberi kesempatan itu.

Dengan demikian firman akan berbuah di dalam kehidupan kita dan nama Tuhan kita dipermuliakan. Iman yang sejati adalah iman yang menghasilkan buah. Menghasilkan buah berarti siap untuk berbagi dengan yang lainnya, karena tidak mungkin buah itu hanya ada untuk diri sendiri.

***

DOA:

Ya Tuhan Allah, gemburkanlah selalu ladang hatiku dengan kehidupan doa yang baik. Siramilah selalu dengan sabda-Mu, singkirkanlah penghalang-penghalang yang memperlambat pertumbuhan benih sabda-Mu dan jadikanlah diriku menjadi tanah yang baik bagi benih Sabda-Mu yang terus berbuah dalam kelimpahan. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XIV

 

Datanglah dan Belajarlah pada-Nya

 

  • Minggu, 05 Juli 2020
  • Mat 11:25-30
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Jika setiap hari kita mempelajari dan menghayati salah satu cara dan sifat serta semangat Yesus, niscaya kelegaan dan keindahan hidup akan menjadi milik kita.

Dari warta Injil hari ini kita dapat mengerti atau belajar tahu beberapa hal dari firman-Nya.

Pertama,  Tuhan Yesus memanggil orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk diberi kelegaan. Tetapi cara Yesus memberi kelegaan adalah dengan cara bukan membuang kuku tetapi menambahkan beban yang baru, yang diberi nama “kuk”.

Keduakiranya semua orang Yahudi telah paham bahwa “KUK” itu selalu memberatkan. Lalu mengapa Yesus mengatakan bahwa beban “KUK-Nya” itu ringan dan enak? Apakah kuk ini ber-bentuk seperti makanan.

Ketiga, dengan pemberian kuk ini berarti orang Kristen tidak cukup memakai dan memikul salib karena masih ada yang harus dikenakan, yaitu “kuk”. Harus diakui bahwa sebenarnya kita tidak sangat familiar dengan ini barang yang namanya ‘kuk’ tersebut.

Keempat, apa hubungan memikul kuk dengan kerendahan hati dan kelemah-lembutan yang dimaksud oleh Yesus. Bukannya memikul kuk itu perlu kegagahan, keperkasaan dan bukannya kelembutan bahkan kelemahan.

Untuk merenungkan dan merefleksikan warta hari ini,kita perlu sejenak berdiam dan memikirkan begini: Air segar kiranya akan menghilangkan dahaga para petani yang bekerja di bawah terik mentari. Sebuah gubuk tempat berbaring dapat menghilangkan penat si petani yang seharian bekerja di tengah sawah.

Di sini beban, derita, tanggungan fisik mereka tidak diambil alih, tetapi jiwa dan raga mereka diteduhkan, diringankan, dibebaskan oleh kesegaran air dan keteduhan gubuk, tempat meluruskan kaki dan meregangkan otot.

Nah, jika Yesus mengundang kita yang letih lesu dan berbeban berat untuk mendapat kelegaan dari pada-Nya, itu tidak berarti Yesus akan datang menggantikan kita untuk menjalani hidup kita, menggantikan kita dari kerja tangan kita; dan juga Yesus tidak datang mengambil terik mentari atau menggantikan kita bekerja.

Namun,Yesus menjanjikan kita hati yang lemah lembut, dengan mana kita tidak tegang, stres dan penuh paksaan diri. Dia janjikan kerendahan hati dengan mana kita tidak menggerutu, mengutuk, mempersalahkan, bertingkah angkuh,dan arogan. Sebuah sikap rohani atau keutamaan yang baru, yang akan membantu kita menyikapi beban tanggungan hidup secara baru.

https://www.youtube.com/watch?v=qE42RjnSdCA

Andaikata setiap hari kita mempelajari dan menghayati salah satu cara dan sifat serta semangat Yesus, niscaya kelegaan dan keindahan hidup akan menjadi milik kita. Percayalah bahwa hidup itu indah. Sehingga baiklah kalau dalam diri kita ada dan mempunyai sikap keutamaan yang harus kita hayati:

Pertama, RENDAH HATI!

Kita harus datang dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Agar hidup kita terasa lega, maka pertama kita harus mau datang menjawab undangan Tuhan Yesus. Kita harus mengakui bahwa kita tengah bergumul dengan suatu masalah yang tidak dapat kita atasi sendiri yang membuat kita letih dan lesu dan berbeban berat. Mungkin saja, banyak orang tidak mau mengakuinya, itu berarti mereka tidak mau melepaskan sedikitpun pergumulan hidupnya; mereka merasa mampu dan akhirnya tidak mau berserah. Padahal ada banyak permasalahan di dalam hidup ini yang tidak dapat kita tanggung dengan kekuatan sendiri.

Hanya Tuhan Yesus, Dia yang mampu menangani dengan pasti. Maka bawalah semua beban kita  kepada-Nya dengan kerendahan hati. Lalu rasakanlah pertolongan-Nya yang selalu siap menyertai kita.

Kedua, BERSERAH DIRI!

kita harus mau memikul kuk yang dipasangkan Tuhan kepada kitaMemang harus diakui bahwa beban dan tanggungjawab sebagai umat Kristen itu berat tetapi karena Yesus senantiasa menyertai kita dan selalu mengajari kita untuk bersikap lemah lembut maka beban itu tidak dirasakan lagi sebagai beban yang berat tetapi sungguh terasa ringan.

KetigaBELAJAR!

Kita harus mau belajarlah dari Yesus. Agar hidup kita terasa lega, maka setiap hari kita harus belajar kepada Yesus. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah kita harus mau setiap hari mendengar dan merenungkan Sabda Tuhan maka Dia pasti akan menuntun dan membimbing langkah kita untuk menghadapi dan memenangkan setiap beban dan pergumulan hidup kita.

Belajar berarti kita mau dibekali dengan kekuatan firman TUHAN untuk menghadapi ujian hidup agar kita ‘lulus’ dan menang.

Keempat, PERCAYA!

Kita harus percaya bahwa beban kita enak dan ringan.Sekali lagi, Allah tidak berkata bahwa Dia akan menghapuskan segala beban kita, namun Dia berjanji untuk memberikan kelegaan bagi jiwa kita. Dan kuk yang diberikan Tuhan Yesus itu adalah enak dan ringan.

Mengapa enak dan ringan? Karena Yesus telah memberikan kita kelegaan dan kekuatan untuk menanggung semua kuk yang diberikan-Nya kepada kita sehingga walau pergumulan kita berat, tetapi karena ada Kristus di tengah pergumulan berat itu, maka berat berubah menjadai berkat. 

Karena itu, marilah kita segera datang kepada TUHAN jika hidup kita terasa berbeban berat, percayalah Ia akan memberikan kelegaan kepada kita.

 

DOA:

Ya Allah, Engkau hadir dan tinggal di tengah-tengah kami dan aku sendiri merasakan ketenangan dan kedamaian. Semoga kehadiranku, baik di dalam keluarga, di tempat kerja, atau di lingkungan masyarakat, juga dapat membawa kenyamanan dan kedamaian. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XIII

Menjadi Utusan Tuhan

 

  • Minggu, 28 Juni 2020
  • Mat 10:37-42
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Lakukanlah kebaikan sekecil apapun! Sekalipun hanya memberi air sejuk secangkir kepada orang sederhana, lakukan saja! Di sini Yesus mau mengajarkanbahwa ada wajah Tuhan yang tersamar dalam diri orang yang kecil, hinadan tak berdaya. Betapa luar biasa, hal yang kecil saja bisa menjadi suatu pertolongan yang cukup berarti.

 

Untuk seorang utusan atau menjadi utusan, ikatan dengan Kristus membawa tantangan dan risiko, tetapi lebih lagi yakni membawa pengharapan.Lalu menjadi utusan Yesus berarti mengikuti Yesus dengan segala konsekwensinya,yakni dengan juga mau memikul salib-Nya.

Tugas menjadi utusan Yesus terutama adalah memberitakanatau mewartakan Injil Kerajaan Allah dan bila hal itu dilakukan dengan memberi pelayanan di tengah suatu masyarakat yang sering berlawanan dengan Injil, tidak jarang membawa kerugian bagi kepentingan pribadi dan keluarga yang menjalani perutusan.

Lalu bagaimana?

Di saat atau di tempat konflik seperti ini seorang utusan sejati pastilah akan memilih Kristus dan kepentingan Injil-Nya. Sedangkan keuntungan keluarga dan keamanan pribadi menjadi nomor dua atau nomor sekian. Bahkan dalam hal ini hidupnya sendiri dipertaruhkan bagi Kristus, setiap hari, dan pada suatu hari kemungkinan secara tuntas dan untuk selamanya. Sekali lagi, hal itu dilakukan demi pelaksanaan akan perutusan Yesus.

 

https://www.youtube.com/watch?v=FjOod3TpK2o

Pertanyaannya adalah: Siapa yang akan mampu menerima tantangan seberat itu seandainya hubungan dengan Yesus tidak juga membawa anugerah yang mengimbangi apa yang dikurbankan? Itulah maksud beberapa sabda terakhir Yesus wejangan sehubungan dengan perutusan.

Pengikut dan utusan Yesus yang kehilangan hidupnya yang fana di dunia ini, akan memperoleh hidup baka bersama Yesus untuk selama-lamanya. Berkat itu sudah mulai terasa juga di dunia sekarang ini. Di samping para penganiaya yang menolak utusan kristus dan pemberitaannya, ada pula orang-orang lain yang menyambutnya dengan baik, menerima pemberitaannya dan melayani keperluannya.

Dalam warta Injil hari ini,  Yesus bersabda, “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Maksudnya tak lain adalah kebaikan yang dilakukan meskipun kecil sifatnya, – karena kita tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih, –  maka lakukan saja bila ada kesempatan, dan itu akan diterima, sekalipun hanya memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini.

Di sini Yesus juga mau mengajarkan kepada kita bahwa ada wajah Tuhan yang tersamar dalam diri orang yang kecil, hina dan tak berdaya. Betapa luar biasanya hal yang kecil itu sampai secangkir air sejuk pun merupakan pertolongan yang sangat besar.

Perhatikanlah, kebaikan yang ditunjukkan orang-orang kecil ini dihargai menurut ukuran Kristus, bukan menurut harga pemberian itu, melainkan menurut kasih dan perasaan si pemberi. Kita bisa membandingkannya dengan kisah tentang janda miskin yang dipuji oleh Yesus karena memberi dari kekurangannya.

Dengan demikian, berdasarkan ukuran seperti ini, maka uang si janda miskin yang sangat sedikit itu bukan saja dipandang berlaku, tetapi juga bernilai tinggi.

Jadi, orang yang benar-benar kaya dalam anugerah juga bisa kaya dalam perbuatan baik, meskipun mereka miskin dalam dunia. Kebaikan terhadap sesama sama halnya dengan mengumpulkan poin untuk kehidupan di akhirat.

Seorang nabi harus disambut sebagai nabi, seorang benar sebagai orang benar, dan salah seorang kecil ini sebagai seorang murid, bukan karena mereka orang terpelajar atau cerdas, juga bukan karena mereka saudara atau tetangga kita, melainkan karena mereka orang benar, yang karena demikian membawa wajah Kristus.

Mereka juga harus disambut karena mereka adalah nabi dan murid, yang diutus demikian untuk melakukan pesan Kristus.

Semuanya itu karena apa? Dikarenakan mereka terdorong untuk menerima para utusan sebab mereka sadar bahwa dengan demikian mereka menyambut Yesus sendiri dan menyambut Allah yang mengutus-Nya; dan dengan demikian pula mereka akan menerima upah besar, upah sama seperti yang akan diberikan kepada orang yang melakukan kehendak Allah dan memberitakan sabda-Nya.

Bagi seorang utusan sungguh berlaku apa yang dijanjikan dalam Mat 19:29 “setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya, bapa dan ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

Lalu jangan lupa dalam Injil Markus 10:39 Yesus juga mengingatkan dengan bersabda “sekalipun disertai berbagai penganiayaan”.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, jadikanlah aku mampu menjadi utusan-Mu yang mau mewartakan Injil-Mu di mana aku tinggal dan tengah-tengah zaman modern seperti sekarang ini. Curahkanlah Roh kuat kuasa-Mu selalu dalam diriku sehingga aku berani mengutamakan Injil dan kehidupan kekal bahagia yang akan Kauanugerahkan padaku. Amin.

 

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XII

 

Kita Berharga di Mata Allah

 

  • Minggu, 21 Juni 2020
  • Mat 10:26-33
  • Oleh RmThomas Suratno SCJ

 

Allah memperhatikan secara khusus setiap orang di dalam hidup dan penderitaan-penderitaannya. Sebagai Bapa, Allah  memelihara kita dengan penuh kelembutan.

 

Warta Injil yang kita dengar dan renungkan ini tentang ajaran Yesus mengenai kebahagiaan dalam setiap penderitaan. Ketahuilah bahwa seberat apa pun masalah yang dihadapi murid-murid Kristus, semuanya itu tidaklah melebihi apa yang sudah dihadapi Kristus sendiri. Seorang murid tidak akan lebih daripada gurunya.

Kita juga melihat perkataan Yesus ini dijadikan alasan mengapa mereka harus bersedia melakukan pekerjaan yang paling hina sekalipun, bahkan untuk saling membasuh kaki mereka. Di sini perkataan tersebut kiranya diberikan sebagai alasan mengapa mereka tidak boleh menyerah di dalam penderitaan yang paling berat sekalipun.

Mereka diingatkan akan perkataan ini merupakan sebuah ungkapan peribahasa, bahwa seorang hamba tidaklah lebih dari tuannya, karena itu, seorang hamba janganlah mengharapkan yang lebih baik daripada tuannya.

Allah di dalam pemeliharaan-Nya memperhatikan secara khusus setiap orang di dalam hidup dan penderitaan-penderitaannya. Allah sendiri mengajarkan hal ini kepada kita, dan ini sangat menghibur bagi umat manusia, terutama bagi semua orang baik yang di dalam iman dapat memanggil Allah ini sebagai Bapa mereka, yang memelihara mereka dengan penuh kelembutan.

https://www.youtube.com/watch?v=1gS59_vjzwI

Pertama,pemeliharaan ilahi yang secara umum itu meliputi seluruh makhluk hidup, bahkan yang paling kecil sekalipun seperti burung pipit. Begitu tidak berartinya hewan yang mungil ini sampai satu ekor saja tidak ada harganya. Harus ada dua ekor untuk bisa dijual seduit.

Namun demikian, burung-burung itu tidak luput dari pemeliharaan Tuhan. Walaupun mereka hanya merupakan bagian yang begitu kecil saja dari ciptaan-Nya, namun bahkan kematian mereka pun tidak luput dari perhatian pemeliharaan Allah. Apalagi tentunya kematian murid-murid-Nya! Lihatlah, burung-burung yang melayang tinggi di atas, jatuh juga ke bumi ketika mati. Kematian membawa yang paling tinggi kembali ke bumi.

Kedua,perhatian khusus yang diberikan Allah kepada murid-murid Kristus, terutama di dalam penderitaan-penderitaan mereka, rambut kepalamu pun terhitung semuanya.

Ini adalah suatu ungkapan peribahasa yang menunjukkan betapa Allah sangat memerhatikan dan memedulikan umat-Nya, bahkan hal-hal yang kecil dan yang paling sedikit diperhatikan sekalipun. Mengenai hal ini, tidak perlulah kita bertanya-tanya mengenai kebenarannya, sebaliknya kita terdorong untuk hidup dengan terus bergantung pada pemeliharaan Allah yang meliputi segala kejadian.

Pemeliharaan ilahi itu sama sekali tidak merendahkan kemuliaan yang tidak terbatas atau mengganggu ketenangan yang tidak terhingga dari Tuhan Allah yang mahakuasa dan kekal. Jika rambut manusia saja dihitung-Nya, apalagi kepala mereka, umat-Nya. Terlebih lagi Ia akan mengurusi hidup mereka, kesejahteraan mereka, dan jiwa mereka.

Ini menunjukkan bahwa Allah lebih memperhatikan mereka, umat-Nya, daripada mereka memperhatikan diri mereka sendiri. Orang biasanya cemas menghitung uang dan barang-barang mereka, namun tidak pernah mau dengan teliti menghitung rambutnya, yang rontok dan hilang, dan mereka tidak pernah merasa kehilangan rambut mereka itu. Tetapi Allah menghitung rambut umat-Nya, dan tidak sehelai pun dari rambut kepala mereka akan hilang. Mereka tidak akan dibiarkan disakiti sedikit pun, kecuali atas pertimbangan yang matang.

Mengapa demikian? Karena kita, manusia ciptaan-Nya,begitu berharga di mata Tuhan, siapapun dia! Maka marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah menciptakan dan memelihara hidup dan diri kita senantiasa sehingga kita boleh menikmati kebahagiaan karena kasih-Nya.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, terima kasih aku ucapkan kepada-Mu karena Engkau telah mencintai diriku dan memandang aku berharga di mata dan hati-Mu. Terpujilah Engkau kini dan sepanjang segala masa. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS

 Hati Kudus Yesus

 

  • Jumat 19 Juni 2020
  • Injil Mat 11:25-30
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Kita perlu selalu datang dan mau belajar serta menimba kasih Hati Tuhan Yesus.

 

Gereja Katolik dan kita sebagai umat Katolik, percaya bahwa Yesus memiliki hati yang mahakudus, yakni sebuah hati yang mampu mengasihi dan berbelas kasih tanpa batas. Maka sudah selayaknya, bahkan seharusnya lah, kita semua belajar dan mendidik diri untuk memiliki hati seperti Hati Yesus.

Tentu, sebagai manusia, ciptaan Allah kita sadar bahwa manusia itu meskipun luhur sebagai cipataan namun terbatas. Justru dalam segala keterbatasan itulah sebagai manusia, kita tak perlu lelah berusaha, berjuang untuk agar memiliki hati yang menyerupai hati Yesus.

Tidakkah kita senantiasa bermohon kepada Tuhan dalam doa “jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu”? Mungkin saja sampai sampai saat ini doa itu sebagai doa tertulis dan bahkan doa hafalan belaka. Belum sempat merefleksikan dan merenungkannya dalam hati kita masing-masing.

Dalam tradisi doa Katolik,kita mengenal devosi kepada Hati Kudus Yesus. Atau yang lebih populer dikenal sebagai Novena Hati Kudus Yesus. Doa Hati Kudus Yesus ini sangat penting dan bermakna sangat tinggi inilah praktik kristosentris yang sangat mendalam, yang sudah menjadi bagian penting dari devosi Kristen sejak awal.

Dalam terang Kitab Suci, istilah ‘Hati Kudus Yesus’ menunjukkan keseluruhan misteri Kristus, keseluruhan keberadaannya, dan pribadi-Nya. ‘Hati Kudus’ adalah Kristus, Sabda yang berinkarnasi, Juruselamat yang secara intrinsik mengandung kekuatan Roh Kudus. Itulah sebabnya kita dapat berdoa tertuju kepada “Ya Hati Kudus Yesus….” (kasihanilah dan selamatkanlah kami).

Di masa lalu, devosi ini mulai populer di kalangan umat Kristen setelah seorang biarawati Visitation dari Perancis yang bernama Maria Margaretha Alacoque, mendapat vision (penglihatan rohani) tentang Yesus. Dikisahkan dalam penglihatan itu, menurut penuturan Maria Margareta ini, Yesus meminta Gereja untuk menghormati Hati-Nya yang Paling Suci (artinya: Mahakudus). Maka sejak itulah banyak orang mulai berdoa dan berdevosi kepada Hati Kudus Yesus. Doa itu kemudian terus populer hingga sekarang ini.

Apa yang direnungkan oleh beberapa orang kudus dan saleh berikut tentang Hati Kudus Yesus yang menyentuh hati dan kiranya cocok untuk kehidupan sehari-hari hingga saat ini.

https://www.youtube.com/watch?v=izsMyEDz43U

Pertama-tama adalah St. Margareta Maria Alacoque. Dia mengatakan dan ini merupakan pesan dari vision rohaninya bahwa Tuhan kita Yesus Kristus menginginkan agar kita, demi menguduskan diri kita sendiri, memuliakan Hati-Nya yang penuh kasih. Hati-Nya adalah yang paling menderita dalam Kemanusiaan-Nya yang Kudus. Luar biasa,… Tuhan Yesus ingin supaya kita kudus atau menguduskan diri dengan memuliakan Hati Kudus-Nya yang penuh cinta walau hati-Nya itu penuh penderitaan dalam kesucian hidup-Nya. Dari sini kita bisa merenung sejenak bahwa kudus adalah dambaan setiap manusia beriman namun harus disadari dan diterima menjadi kudus tidak berarti harus lepas dari penderitaan. Kemungkinannya menjadi suci boleh jadi pasti menderita…!

St. Therese dari Lisieux dalam doa dan harapannya mengungkapkan: ”Tuhanku Yesus Kristus, Engkau mendengar saya, dan kaulah teman yang saya cintai. Untuk menebus hati saya, Engkau menjadi manusia dan rela menumpahkan darah-Mu. Itulah misteri tertinggi…! Jika saya dapat melihat kecemerlangan wajah-Mu atau mendengar suara manis-Mu, ya Tuhan, saya dapat hidup dalam kasih karunia; saya dapat beristirahat di Hati Kudus-Mu!” Ini adalah sebuah doa dan harapan yang indah, terdengar akrab dan intim penuh kasih, doa yang memancarkan kerinduan untuk diam dan bersemayan dalam ribaan Hati Kudus Yesus.

St. Teresa dari Calcutta“Jangan biarkan masa lalu mengganggu Anda. Tinggalkan semuanya di (dalam) Hati Kudus Yesus dan mulai lagi dengan sukacita”. Orang suci dari Calcuta ini mempunyai keyakinan bahwa manusia pasti akan mengalami penderitaan, atau sesuatu yang tidak baik yang bisa mengganggu hidupnya. Namun sebagai orang beriman, kita harus berani meninggalkan itu semua pada Hati Kudus Yesus. Berarti kita harus yakin bahwa Yesus tidak akan pernah menolak segala sesuatu yang dapat mengganggu hidup kita. Justru yang diharapkan adalah kita harus senantiasa bersukacita, berarti kita mesti mulai lagi dan mulai lagi dengan bersukacita….Ini adalah ciri khas menjadi umat kristiani, pengikut Yesus.

St. Yohanes Paulus II,Seorang Paus zaman ini yang telah menjadi seorang santo ini menyatakan bahwaDalam Hati Kudus Yesus semua kekayaan hikmat dan pengetahuan tersembunyi. Dalam Hati Ilahi ada cinta Tuhan yang tak terbatas untuk semua orang; untuk kita masing-masing.” Beliau mau menyatakan bahwa Hati Yesus merupakan kekayaan dan sumber segala-galanya yang kita butuhkan untuk hidup di dunia ini.

Venerabilis Pius XII.Paus Pius XII ini menyatakan bahwa “sama sekali tak mungkin terhitung hadiah surgawi bagi mereka yang mengabdikan diri kepada Hati Yesus. Hati Kudus Yesus telah dicurahkan ke dalam jiwa-jiwa umat beriman, memurnikan kita, menawarkan kekuatan surgawi, dan menguatkan kita untuk mencapai semua kebajikan.” Kita, umat beriman yang berdevosi dan mengabdikan hidup kita kepada Hati Kudus Yesus, bila hidup kita sesuai dengan kehendak hati_nya, pastilah kita akan menjadi orang yang penuh kebajikan ilahi. Kita akan menjadi saleh dan kudus seperti yang diharapkan Tuhan.

Venerabilis Yohanes Leo Dehon(pendiri kongregasi SCJ/Hati Kudus Yesus); menyatakan tentang harta warisan rohaninya kepada kami para pengikutnya adalah Kerajaan Hati Kudus Yesus. Datanglah Kerajaan-Mu “adveniat regnum tuum” menjadi motto kongregasinya (SCJ – Sacerdotum a Sacro Cor de Jesu), “ecce venio” – lihatlah, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu – dan “ecce ancilla” – aku ini hamba Tuhan – menjadi spiritualitasnya. Maka dari itu, – mohon selalu didoakan – “semoga kami para SCJ sungguh dapat hidup dan berkarya berdasarkan apa yang kami warisi ini. Vivar Cor Jesu – per Cor Mariae! Di muliakanlah hati Yesus melalui Hati Maria….”

Kalau para kudus dan para orang yang pantas dihormati tadi bisa menghayati Hati Kudus Yesus seperti itu, lalu bagaimana dengan kita yang hidup sebagai umat beriman zaman sekarang? Tidakkah kita juga bisa menimba kekayaan HKY kemudian sebagai modal untuk menjadikan diri kita ‘nabi2 cintakasih’ di zaman modern ini yang bersedia melayani usaha untuk pendamaian (manusia x Tuhan). Lalu sebagai perwujudan nyata dari semangat Hati Yesus yang mahakudus hendaknya kita mau mengasihi,  dan mendoakan serta membimbing sesama kepada keselamatan dalam kasih Tuhan kita, Yesus Kristus?

Kita perlu selalu datang dan mau belajar serta menimba kasih Hati Tuhan Yesus. Itulah tanggapan yang benar dari undanganTuhan Yesus yang tadi kita dengar bersama, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan”.

Semoga kita semua dengan rela hati dan tulus memuji dan memuliakan Hati Kudus Yesus tidak hanya secara liturgis dalam nyanyian dan doa, dalam Adorasi dan Misa Jumat pertama, tetapi juga dalam tindakan nyata terhadap sesama, Tuhan dan diri kita… dengan menjadikan Allah sebagai motivasi tindakan kita, demi Dia, dalam Dia dan karena Dia. Hal itu hendaknya kita lakukan dalam hidup kita sehari-hari.***

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Bekal Hidup yang Menguduskan

 

  • Minggu, 14 Juni 2020
  • Injil Yoh 6:51-58
  • Oleh Rm Thomas Suratno SCJ

 

Sadar tidak sadar, ketika kita menerima Tubuh Kristus, tubuh kita dikuduskan. Maka sudah selayaknya kita menggunakan tubuh kita, artinya seluruh diri kita, sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan pada Allah.

 

Hari minggu ini kita bersama-sama merayakan Hari Tubuh dan Darah Kristus, Ekaristi Kudus. Saya mengajak saudara sekalian untuk sejenak merefleksikan akan Ekaristi yang selalu kita sambut dalam Misa Kudus,yang kita rayakan dengan merenungkan sabda Tuhan yang tadi kita dengar bersama dari Injil Yoh 6:51-58.

Secara tegas dinyatakan bahwa Yesus adalah Roti Kehidupan bukan hanya dalam arti KIASAN yang umum, yakni bahwa ajaran dan karya-Nya sebagai utusan Bapa ibarat bekal hidup bagi orang yang percaya kepada Yesus, TETAPI juga dalam ARTI yang lebih khusus yakni bahwa daging atau tubuh-Nya yang diserahkan-Nya di kayu salib dan darah-Nya yang tertumpah di Golgota menjadi bekal hidupbagi orang yang menyambut-Nya dalam Perjamuan Ekaristi.

https://www.youtube.com/watch?v=kfPVF8e6bGg

Lalu apa artinya?

Orang mendapat bagian dalam hidup ilahi dengan suatu cara yang sangat konkret dan realistis, yakni dengan makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Mungkin saja kata atau istilah ini mengganggu kita yang mendengar, namun kiranya kata ini dipakai dengan sengaja bagi mereka yang cenderung mengartikan segala-galanya secara rohani saja dan mencukupi diri dengan suatu kontak batiniah dengan Kristus yang kurang mereka akui sebagai manusia.

Penginjil Yohanes di sini ingin menekankan bahwa Yesus, Firman Allah yang menjadi manusia (daging), harus juga disambut sebagai manusia secara nyata dengan makan daging-Nya dan minum darah-Nya dalam perjamuan Ekaristi. Hanya dalam hubungan  nyata dengan Yesus menyerahkan daging-Nya dan mencurahkan darah-Nya, orang beriman mendapat bagian penuh dalam hidup yang diterima-Nya dari Bapa.

Di satu pihak, daging-Nya dan darah-Nya yang dimakan dan diminum secara nyata dalam perjamuan ekaristi jangan dipahami terlalu materiil sebagai ‘jejamu’ atau ‘ramuan yang secara ajaib dan otomatis membangkitkan daya hidup yang takkan berkurang.

Namun dengan menyambut tubuh dan darah Kristus, kita diharapkan masuk ke dalam suatu hubungan timbal balik dengan Yesus: kita membuka diri bagi Yesus yang telah menyerahkan hidup-Nya untuk kita, dan kita tinggal dalam semangat Yesus yang menyerahkan diri-Nya itu.

Menerima hidup Yesus (karena Dia hidup dalam diri kita), yang sekaligus menumbuhkan hidup seperti Yesus (karena kita tinggal dalam Dia) itulah hidup kekal yang kita peroleh dari perjamuan ekaristi dengan menyambut Komuni Kudus, Tubuh dan darah Kristus.

Setiap kali kita merayakan ekaristi, kita semua diingatkan bahwa sebelum komuni, imam akan mengatakan “inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang dalam perjamuan Tuhan”.

Kemudian kita akan menjawab,“Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”. Bukankah ini mengungkapkan rasa percaya yang mendalam, iman yang sederhana tetapi sungguh mengena, menyentuh hati?

Sadar tidak sadar, ketika kita menerima Tubuh Kristus, tubuh kita dikuduskan. Maka sudah selayaknya kita menggunakan tubuh kita, artinya seluruh diri kita, sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan pada Allah.

Yesus dengan jelas menegaskan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”.

Mari kita menyambut dan bersatu dengan Kristus sendiri dengan mempersiapkan diri dengan hati dan budi yang pantas. Dan juga marilah kita mohon kesembuhan diri dari berbagai macam kesakitan rohani (karena dosa) yang kita miliki, agar kita mampu menjadi manusia yang Kristiani yang kudus.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, datanglah selalu dan menyatu dalam tubuhku, sehingga aku menjadi kudus, serta hasrat dan semangat yang kumiliki tak lain ingin yang kulakukan mewujudkan apa yang Kaukehendaki. Amin.

 

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Karena Allah Adalah Kasih

 

  • Minggu, 07 Juni 2020
  • Injil Yoh 3:16-18
  • Oleh Rm Thomas Suratno SCJ

 

Dalam kasih, ada dinamika indah dari tiga kasih. Kasih itu satu, tapi tiga. Sekarang, masuk akal mengapa Tuhan sangat mengasihi dunia dan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk keselamatan kita. Semua karena Tuhan itu adalah kasih.

 

Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, tetapi juga pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita.

Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan?

Banyak pemikir  besar, seperti Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquino telah mencoba menjelaskan. Namun, saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya seperti setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, tetapi diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.

https://www.youtube.com/watch?v=KAy7_zuR46Y

Pernyataan yang paling jelas tentang Trinitas dalam Kitab Suci datang dari penginjil Matius. Yesus berkata kepada murid-murid, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat 28:19).”

Kita mengamati bahwa kita dibaptis untuk keselamatan hanya dalam “satu Nama”. Tentunya satu nama ini mengacu pada satu Tuhan Allah. Namun, di dalam satu Tuhan, ada tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Santo Paulus, rasul bagi bangsa-bangsa, sering mengucapkan berkat dalam nama Tritunggal Mahakudus. Dalam suratnya yang kedua, dia memberkati jemaat di Korintus, dengan mengatakan, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (13:14).”

Praktik yang sama juga Diikuti oleh Santo Petrus. Dalam surat pertamanya, dia menyapa sesama dan memberkati semua jemaat, “…sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu (1:2).”

Memang benar bahwa istilah Trinitas tidak ada dalam Alkitab karena kata ini dibentuk untuk memudahkan pemahaman kita, namun seperti yang telah kita dengar tadi, Kitab Suci mewahyukan kebenaran dan realitas Tritunggal Mahakudus.

Jika kemudian Tritunggal Mahakudus memang diwahyukan oleh Tuhan sendiri, apa gunanya memiliki iman kepada Tritunggal Mahakudus?

Jawabannya bisa ditemukan pada Injil hari ini Yoh 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Identitas Allah adalah kasih (lih. 1Yoh 4: 6). Bapa mengasihi Putra sepenuhnya, dan Putra mengasihi Bapa secara radikal, dan kasih yang mempersatukan Bapa dan Putra adalah Roh Kudus. Dalam kasih, ada dinamika indah dari tiga kasih. Kasih itu satu, tapi tiga. Sekarang, masuk akal mengapa Tuhan sangat mengasihi dunia dan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk keselamatan kita. Semua karena Tuhan itu adalah kasih.

Jika Tuhan itu kasih dan Dia ingin berbagi kasih-Nya dan kehidupan-Nya dengan kita, kita harus bersiap untuk memasuki kasih tersebut. Dan cara terbaik untuk mempersiapkan diri kita adalah kita perlu menjadi kasih itu sendiri. Kita harus belajar untuk lebih mengasihi, memaafkan, dan bermurah hati.

Singkatnya, kita harus menjadi terus seperti Trinitas. Seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes dari Salib, “Di akhir kehidupan kita, Allah tidak akan mengadili kita berdasarkan harta duniawi dan atau kesuksesan manusiawi kita, namun (melainkan) seberapa baik (banyak dan mendalam) kita telah mengasihi sesama.”

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, aku percaya akan Dikau dalam kesatuan Tritunggal Mahakudus. Aku sungguh percaya kepada-Mu dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.