Posted on Leave a comment

MENGANDALKAN TUHAN – HARI MINGGU BIASA XIV, MINGGU, 9 JULI 2023

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XIV, MINGGU,  9 JULI 20233

MENGANDALKAN TUHAN

 

  • Minggu, 9 Juli 2023
  • Injil Mat 11:25-30.
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Orang kecil dan sederhana justru tidak memiliki apa dan siapa, karena itu andalan mereka adalah Tuhan.”

 

RENUNGAN:

Dalam hidup kita jumpai ada orang yang cerdik pandai, orang besar, orang berpengaruh, orang hebat, juga ada orang kecil dan sederhana, orang biasa, tidak ada pengaruh. Beda dengan orang kecil, dan sederhana, orang cerdik pandai memiliki sejumlah pengetahuan dan bisa juga keahlian dalam bidang tertentu. Orang-orang seperti itu sering disegani, dihormati dan dimintai pendapat, bahkan nasehat-nasehat bijak. Mereka berkecukupan dalam kehidupan ekonomi, juga diperhitungkan dalam kehidupan bersama. Mereka juga didengarkan ketika mereka menyampaikan ide atau apa saja. Mereka juga punya banyak sahabat, dan bersahabat dengan orang-orang penting dan berkedudukan.

Nah, beda dengan orang orang kecil, sederhana, apalagi miskin dan tersingkir.  Mereka justru tidak memiliki apa dan siapa, dan karena itu andalan mereka adalah Tuhan. Mereka menggantungkan harapan dan mimpi-mimpi mereka, kiranya Tuhan selalu memperhatikan dan mendengarkan serta menolong mereka, ketika kesulitan, beban hidup dan penderitaan menghimpit. Mereka kurang mendapat perhatian dan sering tidak diperhitungkan dalam kehidupan bersama. Mereka juga tidak bisa menentukan nasibnya sendiri apalagi nasib orang lain. Itulah kenyataan yang ada dalam hidup kita, juga ada di sekitar kita.

https://youtu.be/zBJ0wZ-zRAo

Yesus dalam karya pewartaan-Nya mendapat tantangan dan penolakan dari orang-orang yang cerdik pandai seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Karena itu, Pewartaan Yesus ditujukan dan diterima oleh orang-orang kecil dan sederhana. Yesus menyapa orang-orang kecil dan sederhana itu. Yang disebut orang kecil pertama-tama adalah kelompok para Rasul, yang Yesus panggil dan memilih mereka dari orang kecil dan sederhana; orang kecil itu kemudian adalah masyarakat Yahudi pada umumnya, karena mereka hidup dalam masa penjajahan Romawi. Lalu, orang kecil yang disapa Yesus yang lain adalah masyarakat kelas bawah yang selalu ditindas oleh kelompok Farisi dan ahli Taurat; serta orang kecil yang disapa Yesus adalah orang-orang cacat dan penderita sakit.

Dalam warta Injil tadi kita mendengar,”Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu…. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” Di sini Yesus berdoa untuk bersyukur dan mengundang semua mereka untuk datang kepada-Nya. Mengapa? Karena mereka yang mengerti dan mau menerima misteri Kerajaan Allah; dan mereka adalah orang-orang rendah hati dan membuka diri bagi Yesus yang hati-Nya lemah lembut.

The Navarre Bible tentang Mat 11:25-26: “Mereka yang bijak dan pandai dari dunia ini, yaitu, mereka yang mengandalkan pemahamannya sendiri, tidak dapat menerima wahyu yang dibawa oleh Kristus kepada kita. Pandangan/ pemahaman adikodrati selalu berhubungan dengan kerendahan hati. Orang yang rendah hati, yang tidak menganggap dirinya penting, dapat melihat/ memahaminya; [sedangkan] orang yang penuh dengan kepercayaan/ keyakinan diri gagal untuk memahami hal- hal yang adikodrati.”

Nampaknya inti yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa wahyu Allah yang disampaikan Kristus hanya dapat dipahami dengan sikap kerendahan hati, seperti halnya sikap anak- anak atau orang- orang yang sederhana, yaitu dengan sikap miskin di hadapan Allah. Ini sejalan dengan pesan pertama dalam khotbah di bukit (Mat 5:3), “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Jelaslah bahwa bagi Yesus, Kerajaan Allah, kesungguhan hidup dalam kebahagiaan yang penuh, tidak diperoleh dan tidak dimengerti oleh mereka yang pintar, yang kuat dalam persaingan, tetapi mereka yang peka akan nilai kehidupan, mereka yang rendah hati, yang tidak mementingkan dirinya sendiri, yang bisa membangun hidup bersama dalam kesederhanaan, mereka itulah yang dapat mengerti rahasia Kerajaan Allah. Mengapa demikian?

Karena Kerajaan Allah tidak dikuasai oleh nilai dunia ini, tetapi hidup selalu bernilai dan berharga. Ketika di sana ada kerendahan hati, kepekaan  terhadap yang lemah dan yang tak berdaya. Yesus bersyukur kepada Bapa karena orang-orang seperti inilah, yang dalam kesederhanaan dan dalam kesadaran akan kekecilan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama membangun hubungan dengan Tuhan menjadi utama. Melalui Yesus kita mengenal wajah Allah yang sederhana dan penuh perhatian terhadap manusia. Allah yang membuka diri-Nya bagi yang kecil dan sederhana dan manusia menemukan dalam Allah kekuatan dan kebesarannya. Allah mencintai manusia tanpa syarat, tanpa batas.

Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, khususnya bagi yang letih lesu dan berbeban berat. Dengan datang kepada-Nya dan meletakkan segala beban berat, segala keletihan dan kelesuan menjadi hilang. Dalam Dia hanya ada kebahagiaan. Karena itu Ia mengundang kita untuk belajar, supaya menjadi seperti Dia. Belajar dari hati-Nya supaya hati kita seperti hati-Nya. Hati yang lemah lembut. Belajar memikul salib dari-Nya maka akan menjadi ringan salib dan beban kita.

Kita diajak untuk selalu bersyukur. Bersyukur berarti menerima dengan sukacita segala yang Tuhan rencanakan dan berikan; bersikap rendah hati dan datang kepada Yesus setiap saat. Datang kepada Yesus dan belajar dari Dia. Belajar untuk memikul tugas dan tanggungjawab yang dibeikan; tidak melarikan diri, tidak menghindari segala beban yang harus dikerjakan.

Belajar dari Yesus, meneladani seluruh hidup-Nya dalam kelembutan dan kerendahan hati. Kita juga perlu belajar untuk menjadi orang kecil, yang memiliki kerendahan hati untuk selalu mencari Yesus. Kita juga diajak untuk menemui Yesus dalam diri “orang kecil”, “orang yang rendah hati” yang suka bersahabat dan yang selalu membawa kasih. Kita pun membiarkan Yesus memimpin hidup kita, artinya membiarkan sukacita dan damai mewarnai hidup dan perjuangan kita. Dengan itu kita akan mengalami kelegaan dalam hidup yang selalu diwarnai tantangan dan masalah.

Kita diajak untuk  mengimani Allah yang demikian, berarti menghidupi nilai-nilai yang diajarkan-Nya dan mengikuti teladan hidup-Nya, yang senantiasa mau berbuat baik kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Ia terus mengajak dan mengundang untuk datang kepada-Nya, “Marilah datang kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah daripada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”.

Maka sebenarnya kita semua dipanggil untuk mempunyai sikap kerendahan hati dan kesederhanaan ini di hadapan Allah, mau mendengarkan dan mau menerima pengajaran iman seperti yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul-Nya, tanpa berkeras memegang pandangan sendiri sesuai dengan pemahaman pribadi.

Semoga kita juga menjadi bagian dalam doa syukur Yesus. Sungguh menjadi orang kecil dan sederhana yang tetap selalu mengandalkan Dia, untuk terus datang kepada-Nya dan belajar pada-Nya, sampai jiwa kita pun mendapat ketenangan dalam Dia. ***

 

DOA:

 

Ya Tuhan Yesus, aku lemah dan tak berdaya tanpa-Mu. Sekarang aku datang kepada-Mu, aku meletakkan semua bebanku di bawah kaki-Mu dan berilah aku kelegaan. Aku percaya pada kasih Hati-Mu yang selalu ada rahmat kehidupan yang menyegarkan hatiku. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara, (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

 

Posted on Leave a comment

BERKAT UNTUK MEMBERKATI-HARI MINGGU BIASA XI, MINGGU, 18 JUNI 2023

BERKAT UNTUK MEMBERKATI-HARI MINGGU BIASA XI, MINGGU, 18 JUNI 20233

BERKAT UNTUK MEMBERKATI 

 

  • Minggu, 18 Juni 2023
  • Injil Mat 9:36 – 10:8
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Kuasa untuk melakukan tanda mukjizat diberikan oleh Yesus kepada para rasul secara cuma-cuma, karena itu Yesus tidak menginginkan mereka menarik keuntungan materi dari pelayanan mereka.”

BACAAN INJIL

Ketika Yesus melihat orang banyak, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

 

RENUNGAN:

Yesus datang ke dunia untuk memberitakan tentang Kerajaan Allah. Sebagai pemenuhan janji Allah, Yesus adalah pendiri Kerajaan Allah itu di dunia, yang diawali dengan pewartaan ajaran-Nya dan ditandai dengan mukjizat-mukjizat. Tugas pewartaan dan kuasa melakukan mukjizat itu kemudian diberikan kepada para rasul. Sampai sekarang kita melihat bagaimana pewartaan dan kuasa mukjizat itu diteruskan oleh para pengganti para rasul di dalam Gereja-Nya, maka kita dapat mengetahui bahwa Kerajaan Allah yang dikatakan di dalam Injil merupakan sesuatu yang terjadi saat ini dan terus disempurnakan sampai akhir jaman.

https://youtu.be/3C4J0O6pEJY

Dalam warta Injil tadi dikatakan bahwa, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Yesus menyembuhkan karena Ia mengasihi. Mari kita mengingat, bahwa Yesus adalah perwujudan belas kasihan Allah yang sempurna kepada manusia. Ia adalah Sang Gembala yang baik, yang selalu rindu untuk mempersatukan domba-domba-Nya. Di sini kita melihat betapa segala mukjizat yang dilakukan-Nya adalah untuk membawa manusia untuk bersatu di dalam satu kawanan, dengan Ia sendiri sebagai Kepalanya.

Kemudian di hadapan para murid-Nya diteruskan dengan mengatakan, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Firman ini ‘pas’ untuk menggambarkan saat ini, yaitu bahwa ada banyak orang yang rindu untuk menerima Kabar Gembira, sedangkan jumlah para pekerja/ pewarta Kabar Gembira itu sedikit. Yesus menginginkan kita berdoa memohon kepada Tuhan agar Ia menggerakkan banyak orang mau bekerja mewartakan Injil Kerajaan Allah ini. Dan dengan doa kita, Allah berjanji akan mengirimkan para pekerja itu.

Kemudian, untuk meluaskan Kerajaan Allah, Yesus memilih kedua belas rasul yang diberi-Nya kuasa melakukan mukjizat dan kesembuhan. Di sini kita melihat bahwa pemilihan para rasul berkaitan dengan misi pewartaan Kerajaan Allah. Karena itu hirarki Gereja yang menjadi penerus para rasul itu (Paus, para uskup dan imam) melanjutkan karya Kristus untuk membangun Kerajaan Allah di dunia ini.

Di sini kita juga melihat dan merenungkan bahwa menjadi rasul itu bukan merupakan ‘hak’ seseorang, tetapi merupakan ‘karunia’. Tak seorangpun dapat meng-klaim bahwa ia berhak untuk menjadi seorang imam, namun Yesus sendiri yang dengan kebijaksanaan dan kemurahan hati-Nya memilih orang-orang tertentu untuk menjadi para rasul-Nya.

Yesus memilih kedua belas rasul, yang dimulai dengan Petrus. Kalau nama Petrus atau Simon banyak kali disebut dibandingkan nama rasul lain, hal ini menunjukkan keutamaan Rasul Petrus dibandingkan dengan rasul-rasul yang lain. Kedua belas rasul yang dipilih oleh Yesus ini adalah orang-orang sederhana. Mereka kebanyakan adalah nelayan. Namun begitu dipilih, mereka meninggalkan pekerjaan mereka dan langsung mengikuti Yesus. Kerajaan Allah dimulai dari orang-orang kecil dan sederhana, maka tak heran Yesus menyebutkan bahwa Kerajaan Allah adalah seperti biji sesawi, biji yang kecil namun setelah bertumbuh dapat menjadi besar.

“Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. Apakah Yesus datang hanya untuk orang Yahudi? Tentu saja tidak demikian. Yesus ingin sebanyak mungkin orang dapat masuk menjadi anggota Kerajaan Allah, seperti yang dikatakan-Nya dalam amanat agung sebelum Ia naik ke surga. Pada kesempatan itu, Yesus juga menjanjikan karunia Roh Kudus yang menjadikan para rasul sebagai saksi-Nya mulai dari Yerusalem, lalu meluas ke seluruh Yudea dan Samaria, dan akhirnya sampai ke ujung bumi (Kis 1:8).

Jadi Kerajaan Allah direncanakan Yesus untuk disebarkan ke seluruh dunia, dan karenanya bersifat universal, yaitu untuk semua orang. Kenyataan bahwa Yesus memerintahkan agar para rasul pergi mewartakan kepada umat Israel terlebih dahulu itu berhubungan dengan rencana Allah yang telah memilih Israel sebagai bangsa pertama untuk menerima tawaran Sang Mesias.

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” Perkataan Yesus ini mengingatkan kita pada seruan Yohanes Pembaptis. Injil Matius menyebutkan seruan Yohanes ini setelah menjabarkan kisah kelahiran Yesus, sang ‘Raja’ (Mat 2:2) yang disembah oleh para Majus. Sedang firman yang menyatakan “Kerajaan Sorga sudah dekat”, di sini menunjuk kepada Yesus, Sang Mesias; karena misi Yohanes Pembaptis adalah untuk mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus.

Kerajaan Sorga yang disebutkan oleh Yesus juga menunjuk kepada diri-Nya, seperti yang dijelaskan oleh Yesus sendiri melalui perumpamaan penabur. Yesus ‘menabur benih’ di dunia, dan benih gandum itu akan dibiarkan tumbuh bersama lalang sampai masa menuai di akhir jaman. Di sini kita melihat bahwa Kerajaan Allah telah didirikan oleh Yesus, namun kesempurnaannya dicapai pada akhir jaman, saat gandum itu dipisahkan dari lalang; saat orang-orang yang baik dipisahkan dari yang jahat.

Kerajaan Sorga ini mengacu pada Kerajaan Allah yang diberitakan oleh Yesus melalui ajaran-ajaran-Nya yang disertai dengan tanda-tanda mukjizat-Nya. Perintah Yesus ini serupa dengan dikatakan-Nya sebelum Dia naik ke surga, “…pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu….” (Mat 28:20). Dengan demikian, Yesus menjadikan Pembaptisan sebagai pintu gerbang untuk memasuki Kerajaan Allah itu, dan Pembaptisan harus diikuti dengan melaksanakan segala perintah-Nya.

Sekarang, apakah Kerajaan Allah sudah dekat bagi kita? Jawabnya tentu, YA! Karena Yesus sang Raja hadir dalam Ekaristi, jadi setiap kita menyambut Ekaristi, kita menyambut Yesus dan KerajaanNya, karena keduanya tak terpisahkan. Jadi Kerajaan Allah bukan saja hanya dekat, tetapi malah menghampiri dan bersatu dengan kita di dalam Ekaristi. Saat kita menerima Ekaristi, Kerajaan Allah bagi kita adalah di sini dan sekarang, yang merupakan gambaran jaminan kemuliaan Kerajaan Surgawi yang akan datang.

Ekaristi memampukan kita untuk tinggal di dalam kasih dan berbuat kasih, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi saksi yang hidup tentang kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini. Jadi, walaupun kesempurnaan Kerajaan Allah itu dicapai di surga, namun sejak sekarang sudah dapat kita alami. Kehadiran Kristus di hati kita menjadikan Kerajaan Allah itu hadir ‘di sini dan sekarang’.

Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-Cuma”. Kuasa untuk melakukan tanda mukjizat diberikan oleh Yesus kepada para rasul secara cuma-cuma, karena itu Yesus tidak menginginkan mereka menarik keuntungan materi dari pelayanan mereka. Inilah yang menjadi tanda para hamba Allah sejati. Jika mereka meniru teladan Yesus dan para rasul, maka mereka haruslah hidup sederhana, tanpa menarik keuntungan pribadi dari segala pelayanan misi Kerajaan Allah.***

 

DOA:

Ya Bapa di Surga, aku mengucap syukur untuk Sabda-Mu yang mengingatkan aku tentang indahnya Kerajaan-Mu. Aku bersyukur karena Engkau telah mengangkatku untuk menjadi anggota Kerajaan-Mu lewat Sakramen Pembaptisan. Terima kasih ya Tuhan, untuk karunia rahmat Pembaptisan ini. Ampunilah aku jika aku belum sungguh-sungguh layak disebut sebagai anggota Kerajaan-Mu, terutama jika aku kurang mengimani bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, jika aku kurang bersyukur kepada-Mu dan jika aku gagal melakukan semua ajaran-Mu. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Minggu 4 Juni 2023

RENUNGAN HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Minggu 4 Juni 2023

ALLAH TRITUNGGAL: ALLAH YANG MENYELAMATKAN

 

  • Minggu, 4 Juni 2023
  • Injil Yoh 3:16-18
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengutus Putera-Nya, supaya orang yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

BACAAN INJIL

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak tunggal Allah.”

 

RENUNGAN

Warta Injil hari minggu ini,di mana kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus ialah Yoh 3:16-18. Yang intinya adalah Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkannya. Jadi Yesus bukan sembarang utusan. Inilah ungkapan kerahiman yang paling besar. Diungkapkan dalam ay. 16, “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.” Kesediaan Putra diutus ke dunia membuat semua ini sungguh terjadi. Dalam kata-kata Injil hari ini (ay. 17-18) “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa yang tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

https://youtu.be/LVsKgBDeauk

Kesaksian yang terhimpun dalam ayat-ayat firman itu kiranya dapat membantu kaum beriman, kita semua, untuk menyelami iman akan Tritunggal Mahakudus. Mungkin kita masih ingat akan sebuah lagu yang pertama kali dinyanyikan oleh Ahmad Albar, yakni PANGGUNG SANDIWARA, yang bicara tentang dunia ini yang dihuni oleh orang-orang yang berperan di atas panggung sandiwara. Bermacam-ragam peran dimainkan oleh mereka. Nah, berbeda dengan dahulu, dimana orang memandang dunia ini sebagai drama sandiwara yang dilakonkan oleh Allah sendiri. Di dalam drama ini ada tiga pemeran. Allah Bapa berperan sebagai “pengasal” tindakan penyelamatan, Allah Putra sebagai “pelaksana”-nya, sedangkan Allah Roh Kudus “melanjutkannya”. Ketiga pelaku ini menjalankan peran yang berbeda-beda tapi dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia beserta isinya. Pelaku dalam lakon disebut “prosoopon” (Yunani) atau “persona” (Latin) yang diindonesiakan sebagai “pribadi”. Arti harfiah kata Yunani dan Latin ialah gambar wajah yang dikenakan pelaku sehingga para hadirin langsung menangkap peran mana sedang dijalankan. Cara berungkap dengan bahasa lakon seperti ini dulu mudah menghimbau perhatian orang banyak dan oleh karenanya dipakai untuk menjelaskan karya penyelamatan.

Lalu, bagaimana jalan pemikirannya? Demikian saudara-saudari yang terkasih: karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan dilaksanakan oleh Putra yang diutus ke dunia, dan kemudian dijaga keberlangsungannya oleh Roh Kudus. Demikianlah disadari iman mengenai Tritunggal dalam hubungan dengan karya penyelamatan. Dan di situ dijelaskan inti keilahian pula. Kesatuan antara ketiga pribadi itu sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidak berubah. Bapa, Putra dan Roh Kudus ialah tiga pribadi dari Allah yang satu.Masih samakah makna iman akan Tritunggal itu bagi kita dalam masyarakat dewasa ini? Ya, masih sama. Mereka dulu berusaha semakin mengenali karya penyelamatan di dalam macam-macam keadaan. Begitu pula kita. Yang beraneka ragam ujudnya ialah peluang nyata serta ungkapan untuk ikut serta membangun dunia yang baru, dunia yang bisa dikatakan “semakin diselamatkan” Allah. Percaya bahwa ada karya penyelamatan sendiri sebetulnya sudah dapat menjadi bentuk keikutsertaan dalam karya ilahi itu. Mengimani Tritunggal bukan hanya mengucapkan “aku percaya”, tapi juga ikut serta membangun dunia yang makin layak dan menjaganya agar tidak merosot. Itulah arti “selamat” dalam bahasa yang dimengerti orang sekarang. Pemahaman ini dapat membuat iman semakin hidup.

Warta Injil hari ini merupakan kelanjutan pembicaraan Nikodemus, yakni seorang ulama Yahudi, dengan Yesus (Yoh 3:1-15). Nikodemus percaya bahwa Yesus itu utusan Allah sendiri dan ingin mengenalnya lebih dalam. Yesus membantunya. Perhatian Nikodemus diarahkannya pada warta yang sejak awal disampaikannya kepada orang banyak, yakni Kerajaan Allah sudah datang di dunia dan orang diajak bersiap ikut serta di dalamnya. Kepada Nikodemus diterangkan, syarat untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah ialah dilahirkan kembali dalam air dan Roh. Maksudnya, dibaptis menjadi pengikut Yesus dan membiarkan diri dibawa dan dipimpin oleh kekuatan-kekuatan ilahi sendiri – yakni Roh. Dialah yang bakal menuntun ke Kerajaan Allah. Dengan demikian pelbagai kepastian yang hingga kini dipegang erat-erat juga tidak terasa mengikat lagi.

Karena Nikodemus tidak segera menangkap maksudnya, Yesus menjelaskan hal ini dengan cara yang lebih mudah dipahami, dengan merujuk pada keinginan mencapai hidup kekal. Siapa saja yang memandangi yang datang dari atas sana, yakni Anak Manusia, dan percaya kepadanya akan mendapat hidup kekal. Tentu saja Nikodemus mengerti bahwa Anak Manusia ini ialah Yesus sendiri yang sudah dipercayanya sebagai utusan yang datang dari Allah sendiri. Tapi masih perlu satu langkah penting lagi yakni: memulai hidup baru di dalam Kerajaan Allah. Itulah pokok pembicaraan dengan Nikodemus yang mendahului petikan yang kita dengar hari ini, yakni ay. 16-18.

Bagi banyak orang “kehidupan kekal” itu gagasan yang langsung memberi isi pada paham keselamatan. Setiap orang mendambakannya. Tapi bagaimana dengan “Kerajaan Allah”? Hal itu hanya dikenal di antara para pengikut Yesus! Di luar itu boleh jadi hanya kalangan murid Yohanes Pembaptis sajalah yang pernah mendengarnya. Yesus mengajak orang bersiap-siap menyongsong Kerajaan Allah yang telah datang. Bagi para pengikut-Nya, keinginan yang terdalam tidak berhenti pada gagasan “keselamatan = hidup kekal”, melainkan lebih jauh dan terarah pada “keselamatan = ikutserta dalam Kerajaan Allah” bersama dengan Dia yang mengajarkan mengenai Kerajaan ini.

Hidup kekal dapat dicapai dengan hidup beragama dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Tetapi untuk mencapai kesempurnaan dalam arti masuk ke dalam Kerajaan Allah, perlu adanya bimbingan Roh. Begitulah, untuk mendapatkan hidup kekal, Nikodemus sendiri sudah tahu jalannya – sudah diajarkan Musa. Namun, untuk memasuki Kerajaan Allah, dibutuhkan penyerahan diri dan bimbingan Roh.

Pembicaraan dengan Nikodemus itu sebenarnya dapat dijadikan cermin untuk mengamati diri: masih mengarah ke yang biasa, yakni “hidup kekal”, ataukah sudah mulai terbuka ke kesempurnaan dalam “Kerajaan Allah”? Yesus sang utusan ilahi memahami keterbatasan wawasan manusia (Nikodemus) yang bijak dan saleh sebagai ulama besar! Tetapi Yesus tetap mengajak melihat ke arah yang lebih sempurna, yakni memasuki Kerajaan Allah. Warta Injil yang kita dengarkan hari ini sebetulnya berbicara mengenai keterbukaan pada kehidupan kekal sebagai jalan masuk untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah.

Agama menunjukkan jalan mencapai “keselamatan” sehingga orang menemukan arti hidup dalam macam-macam keadaan, baik menyenangkan atau menyedihkan. Agama dan iman membuat orang menemukan diri sebagai makhluk di hadapan Yang Ilahi. Namun dalam pewartaan Yesus, masih ada kelanjutannya, yakni memasuki Kerajaan Allah. Di situ orang belajar mengenali Allah Pencipta sebagai “Bapa”, sebagai yang dekat, sebagai yang menghendaki yang terbaik. Dan yang mengajarkannya ialah Putra-Nya sendiri.

Dengan menerima dan hidup bersatu dengan Tuhan Yesus kita menjadi anak-anak Allah melalui baptisan. Nah, bagi orang Yahudi pada waktu itu, ajaran ini mengejutkan. Mengapa? Ya, mana bisa manusia membayangkan diri diperanakkan Allah! Dan memang inilah kendala warta Yesus. Maka Ia disingkirkan oleh pemuka-pemuka agama Yahudi karena mengajarkan Allah itu Bapa, dan mengakui diri sebagai yang mengenal-Nya dari dekat. Bagi orang-orang saleh waktu itu semua ini terdengar sebagai ‘hujatan dan pelecehan’. Tetapi memang itulah warta Yesus. Ia menawarkan citra yang baru dari Allah. Yang Mahakuasa bisa didekati. Berada di dekat-Nya berarti ikutserta dalam Kerajaan-Nya.

Para murid Yesus yang pertama ialah orang-orang yang berminat akan warta ini walau belum sepenuhnya mengerti. Baru nanti setelah semuanya terpenuhi, yakni setelah Allah yang dipanggil Bapa oleh Yesus itu membangkitkannya dan memberinya hidup baru, dan gagasan bahwa Allah ialah Bapa yang Maharahim baru menjadi nyata bagi mereka. Yesus berani mengorbankan diri demi warta ini. Ia mempertaruhkan diri. Dan Dia benar. Para pengikut Yesus, kita semua, umat beriman, dipanggil ke arah hidup kekal dan lebih jauh lagi, untuk menjadi orang-orang merdeka dari kekuatan yang mengekang, dari rasa waswas dan terancam. Kekuatan yang mengekang itu amat nyata yaitu: ketakadilan, pembodohan, kemiskinan, perkosaan hak-hak azasi, kekerasan. Sadari dan ketahuilah bahwa kebalikan dari itu semua adalah kemerdekaan hidup dalam Kerajaan Allah. Dan orang beriman diajak ikut serta ke sana.***

 

DOA:

Ya Allah Tritunggal mahakudus, kami percaya Engkau selalu membimbing menuntun kami pada keselamatan. Engkau mendorong kami bukan sekedar tahu, bukan sekedar mengerti akan Kerajaan Allah tetapi Engkau sendirilah yang menuntun membimbing kami untuk masuk dalam Kerajaan Allah itu sehingga kami sungguh-sungguh percaya bahwa Engkaulah Allah Tritunggal yang menyelamatkan kami. Amin.

Semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

ROH KUDUS: DAYA UBAH UNTUK BERBUAH – RENUNGAN HARI RAYA PENTAKOSTA, Minggu 28 Mei 2023

RENUNGAN HARI RAYA PENTAKOSTA, Minggu 28 Mei 2023

ROH KUDUS: DAYA UBAH UNTUK BERBUAH

 

  • Minggu, 28 Mei 2023
  • Injil Yoh 20:19-23
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Salam dan kehadiran Allah di tengah para murid mempunyai kekuatan untuk mengubah ketakutan menjadi sukacita.”

BACAAN INJIL

Setelah Yesus disalibkan, pada malam pertama sesudah hari Sabat  berkumpullah murid-murid Yesus di satu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

 

RENUNGAN

Pada hari Raya Pentakosta hari ini kita semua diajak untuk merenungkan Injil Yoh 20:19-23 di mana di dalam wartanya Yesus memberikan Roh Kudus kepada para murid dengan cara meghembusi mereka.

Setelah kematian Yesus, para murid berada dalam kondisi kesedihan dan ketakutan, walaupun telah mendengar bahwa Yesus telah bangkit, seperti yang dikatakan kepada Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus dan Salome dan dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus. Pada malam hari, ketika para rasul berkumpul dalam ketakutan, Yesus menampakkan diri kepada mereka.Setelah memberikan salam, Yesus mengutus para rasul, memberikan Roh Kudus, dan memberi kuasa untuk mengampuni atau menyatakan bahwa dosa seseorang tetap ada.

Lima abad sebelum Kristus datang, nabi Zakharia menubuatkan “Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba akan tercerai berai” (Zak 13:7). Dan pada malam perjamuan terakhir, sebelum menghadapi sengsara-Nya, Kristus mengatakan kepada para murid-Nya bahwa semua akan tergoncang imannya, karena Kristus, Gembala yang baik akan menderita sengsara dan wafat di kayu salib. Memang pada waktu Kristus ditangkap di taman Getsemani para murid lari tunggang langgang. Rasul Petrus dan Rasul Yohanes mencoba untuk mengikuti Kristus, namun akhirnya juga berakhir dengan penyangkalan Rasul Petrus akan Kristus. Ketika Yesus disalibkan, kecuali Rasul Yohanes, rasul-rasul yang lain menghilang dan tidak berani memunculkan diri mereka. Dan ketika Yesus telah bangkit dan menampakkan Diri-Nya kepada para rasul, maka salah satu dari murid-Nya, yaitu Rasul Tomas masih tidak percaya bahwa Dia telah bangkit.

https://youtu.be/3FZNs6jyvH8

Kristus yang menderita, wafat dan bangkit serta naik ke Sorga adalah merupakan dasar iman Katolik. Tanpa penderitaan dan kematian Kristus, tidak ada kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga. Tanpa Jumat Agung tidak ada Minggu Paskah. Menekankan yang satu dan menghilangkan yang lain tidak memberikan pesan Kristus secara keseluruhan. Tanpa kebangkitan Kristus, maka iman kita akan sia-sia. Inilah sebabnya, Kristus yang bangkit menjadi bagian dari syahadat para rasul. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 638-658) memberikan penjelasan tentang kebangkitan Kristus dengan begitu indahnya. KGK 638 menyatakannya sebagai berikut:

Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita. keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus” (Kis 13:32-33). Kebangkitan Kristus adalah kebenaran, di mana iman kita kepada Kristus mencapai puncaknya: umat Kristen perdana mempercayainya dan menghayatinya sebagai kebenaran sentral; tradisi meneruskannya sebagai sesuatu yang mendasar, dokumen-dokumen Perjanjian Baru membuktikannya; bersama dengan salib ia diwartakan sebagai bagian penting misteri Paska.Kristus telah bangkit dari antara orang-orang mati.Oleh kematian-Nya Ia telah mengalahkan kematian.Ia telah memberi kehidupan kepada orang-orang mati.(Liturgi Bizantin, Troparion pada hari Paska)

Bagaimana kita dapat mempertanggungjawabkan bahwa Kristus yang memang benar-benar mati kemudian bangkit dari antara orang mati? KGK, 639 menyatakkan bahwa peristiwa kebangkitan Kristus terekam dalam sejarah. Kalau kita telusuri, maka kita akan melihat lebih dari 515 orang telah melihat Kristus yang hidup lagi setelah Dia disalibkan dan sebelum Dia naik ke Sorga:  (a) Maria Magdalena; (b) Maria Ibu Yakobus dan Salome; (c) Dua orang dalam perjalanan ke Emaus; (d) Sebelas rasul terdiri dari: Simon Petrus, Sepuluh murid kecuali Tomas, Tomas, Yakobus; (e) Bahkan dikatakan “lebih dari lima ratus saudara sekaligus” (1Kor 15:6)

Mengapa saksi-saksi di atas menjadi penting? Karena banyak dari saksi-saksi itu masih hidup ketika Injil dan surat Rasul Paulus dituliskan. Kalau kebangkitan hanyalah isapan jempol belaka, maka tentu akan banyak keterangan yang menyanggah kesaksian para rasul. Apalagi, pada waktu itu, kekristenan berada dalam tekanan dan banyak yang dibunuh. Alasan yang lain adalah bagaimana melalui para rasul, yang notabene adalah orang-orang yang sederhana, yang kurang berpendidikan, namun pengajaran mereka dapat menyebar ke seluruh dunia. Bagaimana mungkin seluruh dunia dapat dipengaruhi oleh cerita fiksi dari orang-orang yang sederhana? Dan bagaimana mungkin ada begitu banyak orang yang rela mengorbankan nyawanya dan rela dibunuh demi kebenaran Injil?

Sekarang mari kita melihat argument of fittingness, yang berguna bagi kita, umat yang telah percaya akan Kristus. St. Thomas dalam bukunya Summa Theology menjelaskan bahwa ada lima alasan untuk kebangkitan Kristus: 1.Menandai keadilan ilahi. 2.Sebagai pelajaran iman kepada manusia.3. Agar manusia menaruh pengharapan di dalam Kristus. 4.Agar umat Allah berjalan di dalam Kristus. Dikatakan “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom 6:4)5.Untuk menyelesaikan karya keselamatan.

Dikatakan tadi bahwa para murid ketakutan. Mereka ketakutan, walaupun mereka telah mendengar kesaksian dari Maria Magdalena dan juga kesaksian dari dua orang murid yang melakukan perjalanan ke Emaus. Kabar tentang kebangkitan Kristus mungkin telah menyebar ke seluruh pelosok negeri, sehingga di Injil Matius menuliskan bahwa imam-imam kepala mengatakan, “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.“(Mt 28:13) setelah mereka mendengar laporan bahwa Kristus telah bangkit. Dan dalam situasi ini, para murid dapat menjadi sasaran kemarahan imam-imam kepala. Menghindari hal ini, maka para murid bersembunyi dalam ketakutan.

Dalam situasi ketakutan seperti ini, pada sore hari, hari pertama dalam Minggu, ketika mereka berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci, datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka sambil memberikan salam “Damai sejahtera bagi kamu!” Keterangan tentang keberadaan mereka di ruangan dengan “pintu-pintu terkunci” menekankan bahwa Yesus datang ke dalam ruangan tanpa mengetuk maupun merusak pintu, namun tiba-tiba datang ke dalam ruangan, yaitu dengan tubuh yang telah dimuliakan. Dan untuk membuktikan bahwa itu adalah Diri-Nya yang telah disalibkan, maka Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya, yaitu menunjukkan bekas luka karena disalibkan dan ditembus tombak. Salam dan kenyataan yang ada di depan mata para murid yang ketakutan mempunyai kekuatan untuk mengubah ketakutan menjadi sukacita.

Setelah Yesus mengubah ketakutan para murid menjadi sukacita, maka Yesus memberikan tugas kepada mereka. Tugas ini adalah tugas yang sungguh luar biasa besarnya, yang hanya dapat dilaksakan dengan kuasa Roh Kudus dan pemberian kuasa yang begitu besar kepada para murid. Kemudian kita dapat melihat adanya tiga hal yang diperintahkan dan diberikan oleh Kristus kepada para murid:

  1. Yesus mengutus para rasul.Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sungguh suatu pernyataan yang membuka mata kita, bahwa Yesus memberikan suatu penugasan kepada para murid, sama seperti Bapa mengutus Yesus. Ini berarti sama seperti Yesus memberikan pengajaran dengan otoritas dari Sorga, maka para murid juga diberikan otoritas untuk mengajar dalam nama-Nya. Sama seperti Kristus menjadi perantara antara Allah Bapa dan manusia, maka para murid berpartisipasi dalam tugas perantaraan ini. Sama seperti Kristus melayani para murid dengan membasuh kaki para murid, maka para murid juga harus melayani umat Allah. Namun, kita harus melihat bahwa tugas perutusan sebagai nabi, imam dan raja tidaklah untuk menyaingi Kristus, namun harus dipandang sebagai partisipasi dalam tiga misi keselamatan Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja.
  2. Yesus menghembuskan dan memberikan Roh Kudus.Yesus tahu bahwa tidaklah mungkin manusia dapat mengemban tugas sebagai nabi, imam dan raja tanpa adanya Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang merupakan buah dari pengorbanan Kristus di kayu salib, yang dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta. Roh Kudus yang sama inilah yang membimbing para rasul untuk mewartakan Kristus ke seluruh penjuru dunia. Yesus memberikan Roh Kudus kepada para rasul secara khusus, yaitu dengan menghembusi mereka dan mengatakan, terimalah Roh Kudus.

“Terimalah Roh Kudus”. Mengapa Kristus memberikan Roh Kudus? Bukankah Roh Kudus juga telah dicurahkan kepada mereka pada saat pembaptisan dan juga pada malam perjamuan? Dan Roh Kudus ini juga akan mereka terima secara penuh pada saat peristiwa Pentakosta. “Terimalah Roh Kudus” di ayat ini memberikan satu sisi yang lain, yaitu untuk memberikan pengampunan dosa. Hal ini dipertegas di ayat berikutnya.

  1. Yesus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa.Kita melihat bahwa setelah Yesus mengutus para murid dan memberikan Roh Kudus, maka Yesus memberikan kuasa untuk mengampuni dosa. Yesus mengatakan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Menurut saya, sungguh sulit untuk mengartikan ayat ini tanpa mengkaitkannya dengan Sakramen Pengakuan Dosa.

Kalau kita mau jujur dan setia terhadap firman ini (teks), maka kita akan melihat bahwa memang kuasa untuk mengampuni dan menyatakan dosa diberikan kepada para rasul, seperti yang dituliskan “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Dan kalau tugas perutusan (ay.21) dan pemberian Roh Kudus (ay.22) diberikan kepada para rasul dan juga penerusnya, maka kuasa mengampuni dosa dan menyatakan dosa juga diberikan kepada penerus para rasul. Dalam Gereja Katolik, penerus para rasul adalah para uskup. Dan karena para uskup ini dibantu oleh para imam, maka kuasa ini juga diberikan kepada para imam. Manifestasi dari kuasa ini adalah Sakramen Pengampunan Dosa atau Sakramen Tobat, yang dapat memberikan pengampunan akan dosa berat dan dosa ringan.***

 

DOA:

Ya Tuhan Yesus, Engkau berjanji dan memenuhi janji-Mu dengan mengutus Roh Kudus, Roh Penghibur yang lain untuk menuntun dan membimbing kami pada jalan keselamatan. Semoga dengan peristiwa hari turunnya Roh Kudus yang kami rayakan hari ini, kami selalu diingatkan untuk mau mengikuti ajaran dan perintah-Mu.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

JAUH DI MATA, DEKAT DI DOA-RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 21 Mei 2023

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 21 Mei 2023

JAUH DI MATA DEKAT DI DOA 

 

  • Minggu, 21 Mei 2023
  • Injil Yoh 17:1-11a
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Kita punya keterbatasan; jarak dan waktu, bahkan kelemahan fisik, tetapi kita tetap berdaya untuk peduli pada sesama di dalam DOA.”

BACAAN INJIL

Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus menengadah ke langit dan berdoa ”Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu.”

RENUNGAN:

Ada ungkapan “Aku memelukmu dengan doaku.” Ungkapan ini sering digunakan oleh orang-orang yang ingin memberikan dukungan kepada orang lain, tetapi terhalang oleh jarak. Bayangkan, kita mendengar sahabat kita mengalami musibah. Kita tahu bahwa pelukan akan sangat berarti baginya. Namun, sungguh disayangkan, kita tak dapat hadir di sana. Satu-satunya cara adalah dengan mendoakannya. Kita memeluknya dengan doa-doa yang kita panjatkan baginya.

Nah, seperti yang kita dengar tadi, dalam warta Injil, Yesus tahu bahwa Dia tidak akan ada lagi bersama murid-murid-Nya. Dalam ayat-ayat berikutnya yang tidak dikutip, Yesus juga tahu, Dia tidak akan ada bersama dengan orang-orang yang kelak menjadi percaya kepada-Nya karena pemberitaan para murid secara fisik (20-21). Oleh karena itu, Dia berdoa kepada Bapa, memohon bagi orang-orang yang Dia kasihi. Selama Yesus berada di dunia, Dia telah menjaga semua orang yang dipercayakan oleh Bapa kepada-Nya. Dia memegang mereka dengan begitu kuat hingga tidak membiarkan seorang pun binasa selain dia yang sudah ditentukan (12).

https://youtu.be/s3IRZbgyLrE

Kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk merasa tidak berdaya dan putus asa, lalu hidup dalam ketidakpedulian terhadap sesama. Dalam keterbatasan, kita hidup karena Dia dan bersama dengan Dia-yang tidak terbatas, yaitu Tuhan. Kalau kita percaya bahwa Dia yang menciptakan kita tidak terbatas, kita bisa meyakini bahwa Dia bisa melakukan hal-hal yang tidak terbatas pula. Doa kita mengungkapkan kepercayaan itu.

Suatu saat, karena keterbatasan jarak dan waktu, bahkan tidak berdaya karena kelemahan fisik dan hal lainnya, kita tak bisa hadir bagi orang yang kita kasihi di tengah musibah yang dialaminya. Bisa jadi, karena sebab tertentu, kita sungguh-sungguh tak berdaya karena hanya bisa tergeletak di tempat tidur. Doa adalah cara kita untuk tetap bisa memeluk kekasih-kekasih kita. Doa adalah cara kita tetap berdaya untuk peduli kepada mereka. Sebab, doa adalah pernyataan iman bahwa Allah, yang tidak terbatas, yang penuh kuasa, menyertai mereka senantiasa.

Doa Yesus yang terakhir untuk para murid-Nya menunjukkan keinginanNya yang mendalam bagi semua orang percaya, baik dahulu maupun sekarang. Doa ini juga merupakan suatu teladan yang diilhamkan Roh tentang bagaimana semua gembala harus mendoakan jemaat mereka, dan bagaimana orang-tua harus mendoakan anak-anak mereka.

Yesus berdoa secara khusus untuk para muridNya dan mereka yang telah dipercayakan kepadaNya. “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yoh 17:9). Pribadi-pribadi yang dipercayakan kepadaNya menjadi konsentrasi focus dalam doaNya.

Yesus berdoa kepada Allah bagi para pengikutNya. Yesus telah melaksanakan semua tugas perutusan yang disampaikan Bapa kepadaNya. Ia telah mengagungkan Bapa-Nya seiring dengan tuntasnya semua tugasNya di dunia. Yesus telah memperkenalkan Bapa-Nya dunia. Yesus mendoakan para pengikut-Nya supaya mereka tetap satu. Model kesatuan mereka adalah kesatuan Yesus dan Bapa-Nya. Yesus begitu mengasihi para pengikutNya. Yesus sangat peduli dengan masa depan mereka, terutama saat Ia akan berangkat ke Surga. Karena itulah, Ia membawa para pengikutNya dalam doa.

Yesus tidak hanya berdoa bagi para murid-Nya saja, tetapi juga untuk Gereja yaitu orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus karena pemberitaan para murid-Nya. Yesus ingin agar Gereja menjadi satu. Melalui kesatuan ini, dunia akan percaya Yesus telah diutus Allah Bapa dan dunia akan mengenali bahwa Allah Bapa mengasihi mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Dalam warta Injil hari ini, Yesus menyatakan hal bahwa Ia telah menyelesaikan dengan baik-baik tugas-Nya. Para Rasul pada perjamuan terakhir menjadi saksi dari pernyataan Yesus kepada Bapa-Nya bahwa Ia telah menyampaikan kepada umat manusia apa saja yang diperintahkan oleh Bapa.

Tentu warta Injil hari ini diwarnai akan perpisahan dan kesedihan, di mana Yesus harus meninggalkan para murid-Nya. Sungguhpun begitu, kepergian-Nya harus terjadi agar para murid menjadi semakin matang.

Ada saat ketika kita harus dituntun, ada saat ketika kita harus berjalan sendiri. Inilah dinamika hidup iman kita. Kendati begitu, sebenarnya kita tidak pernah sendirian dalam arti sebenarnya. Yesus dan Roh Kudus-Nya senantiasa membimbing kita. Selain itu, penghayatan iman kita senantiasa ada dalam kebersamaan dengan umat lain, dimana kita dapat saling meneguhkan satu sama lain.

DOA:

Ya Tuhan Allah,  tambahkanlah dan teguhkan imanku serta mampukanlah aku untuk melakukan tugas-tugas yang Kau percayakan kepadaku dengan baik lagi setia. Semua ini demi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

TUHAN MENINGGALKAN MURIDNYA? MANA RELA!!! RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 14 Mei 2023

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 14 Mei 2023

TUHAN MENINGGALKAN MURIDNYA? MANA RELA!

 

  • Minggu, 14 Mei 2023
  • Injil Yoh 14:15-21
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Yesus meninggalkan muridNya bagaikan anak yatim-piatu? Mana rela! Makanya, Ia mengutus Roh Kudus sebagai penolong yang mengasihi dan menyertai.” 

Pada perjamuan malam terakhir, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

 

RENUNGAN:

Saudara-saudari yang terkasih, dari warta Injil yang kita dengar tadi tergambar jelas bahwa Yesus memahami situasi dan kondisi yang akan dihadapi para murid-Nya setelah Dia pergi ke rumah Bapa untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Situasiini tidak akan mudah bagi para murid, setelah selama tiga tahun Yesus begitu nyata dilihat oleh mereka. Tak heran bila para murid merasa gelisah.

Sebab itu,Saudara-saudari yang terkasih, Ia tidak akan meninggalkan mereka begitu saja, bagaikan anak-anak yatim piatu. Apalagi mereka akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan, bahkan yang lebih besar. Itu sebabnya Yesus meminta kepada Bapa agar mengirimkan Penolong, yaitu Roh Kebenaran. Roh itu akan menyertai orang-orang yang mengasihi Dia, yaitu yang menaati perintah-Nya. Sepeninggal Yesus, Roh Kebenaran itulah yang akan mengajar para murid dan mengingatkan mereka tentang apa yang sudah diajarkan Yesus, Guru mereka.

https://youtu.be/LWZPh18WKn0

 

Selain itu, Saudara-saudari yang terkasih, pada ayat-ayat berikutnya yg tidak diperdengarkan dalam warta tadi, Yesus juga akan meninggalkan damai sejahtera-Nya bagi murid-murid-Nya (27). Damai sejahtera yang dimaksud bukan merupakan jaminan bahwa murid-murid-Nya tidak akan mengalami badai kehidupan, melainkan sebuah janji bahwa ada kuasa dan damai sejahtera untuk melalui badai itu.

Saudara-saudari yang terkasih, dengan Roh Kudus dan damai sejahtera yang akan hadir di dalam diri setiap murid Yesus, seharusnya murid-murid bersukacita atas kepergian Yesus ke rumah Bapa, karena itulah bukti kasih mereka kepada Dia (28). Dan bukti lain bahwa mereka mengasihi Dia adalah dengan taat kepada-Nya. Bila seorang murid menyatakan bahwa ia mengasihi Yesus maka ia tentu menaati perintah-perintah Yesus. Atau bisa juga dikatakan sebaliknya, ketaatan seseorang pada Yesus merupakan tanda bahwa orang itu mengasihi Dia.

Nah, Saudara-saudari yang terkasih, kitasebagai murid-murid Yesus di masa kini, memang tidak pernah melihat Yesus secara fisik. Namun kehadiran Roh Kudus dan damai sejahtera yang melingkupi kita merupakan bukti bahwa suatu saat kelak kita akan bersama-sama Yesus di rumah Bapa. Dan sementara menantikan waktu itu tiba, marilah kita memperlihatkan kehadiran Kristus di dalam hidup kita dengan ketaatan kita kepada firman-Nya.

Saudara-saudari yang terkasih, tentu saja warta Injil pada hari ini mengingatkan kita akan janji Tuhan Yesus itu. Tuhan Yesus menghendaki agar kita bertumbuh dalam kasih dan menuruti segala perintah-Nya, agar kelak kita dapat sampai kepada kehidupan kekal di Surga. Namun, Tuhan mengetahui bahwa akan sangat sulit bagi kita untuk melakukan kehendak-Nya itu, jika Ia sendiri tidak memampukan kita. Bukankah cukup sulit bagi kita untuk berbuat yang benar dan jujur, jika orang-orang di sekitar kita mencemooh kita? Bukankah tak mudah bagi kita untuk terus mengasihi dan mengampuni?  Memang, jika kita mengandalkan kekuatan sendiri, akan mustahil bagi kita untuk melaksanakan perintah Tuhan.

Itulah sebabnya, Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran dan Kasih itu, untuk memampukan kita. Ini seumpama orang tua yang memberikan kemampuan dan modal yang cukup kepada anak-anaknya, agar mereka dapat melakukan usaha dengan baik. Atau, seumpama guru yang meneruskan seluruh ilmu dan kemampuannya kepada anak-anak didiknya. Sekarang tergantung kepada tanggapan anak-anak itu sendiri: sejauh mana mereka mau menggunakan kemampuan dan modal yang sudah diberikan oleh orang tua dan guru mereka itu agar sukses dalam usaha dan studi mereka.

Sungguh, Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan Yesus telah melakukan sesuatu yang jauh melampaui apa yang diberikan oleh orang tua dan guru yang baik itu. Kristus telah memberikan segala-galanya kepada kita semua para murid-Nya. Setelah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, Ia tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia selalu menyertai kita dengan Roh Kudus-Nya sendiri yang berdiam di dalam kita (Yoh 14:17). Betapa kita perlu meresapkan perkataan ini. Bukankah bagi orang yang saling mengasihi, hal yang terpenting adalah kebersamaan dengan orang yang dikasihi? Allah telah melakukannya untuk kita! Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa secara khusus, melalui sakramen- sakramen Gereja kita menerima kuasa Roh Kudus yang tetap hidup dan menghidupkan kita sebagai murid-murid Kristus (lih. KGK 1116). Melalui sakramen- sakramen itulah, kita menerima kepenuhan hidup di dalam Yesus; dan oleh kuasa Roh Kudus-Nya kita dibimbing kepada seluruh kebenaran yang dijanjikan oleh Kristus itu (lih. KGK 1117).

Saudara-saudari yang terkasih, Pada tahun 2014 yang lalu kita membaca berita, bahwa Ulf Ekman, seorang pendeta dari jemaat Word of Life di Uppsala, Swedia, yang mendirikan sekolah Alkitab terbesar di Skandinavia, memutuskan dan diterima dalam Gereja katolik menjadi Katolik. Untuk diketahui saja bahwa sekolah yang didirikan Ulf Ekman itusangat berperan dalam mendirikan lebih dari 1000 gereja di Rusia. Tentu pergumulan yang dilalui Ekman dan istrinya sebelum memutuskan hal ini, tidaklah kecil. Mereka siap menerima segala konsekuensi dari keputusan mereka, termasuk menjelaskannya kepada sekitar 3,300 orang jemaat yang dipimpinnya selama 30 tahun; dan bahwa dengan menjadi Katolik, Ekman tidak lagi dapat menerima apa-apa yang tadinya menjadi haknya semasa menjadi pendeta di denominasi tersebut.

Namun,saudara-saudari yang terkasih, semua ini mereka tempuh, sebab mereka merindukan kepenuhan janji Tuhan yang mereka sadari ada dalam Gereja Katolik. Kehidupan sakramen, kesatuan dan otoritas kepemimpinan Gereja, itulah yang mendorong Ekman dan istrinya untuk bergabung dalam Gereja Katolik. Mereka rindu untuk menerima kepenuhan pertolongan rahmat Tuhan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang murid Kristus. Telah bertahun-tahun lamanya mereka membawa pergumulan ini dalam doa-doa dan permenungan akan firman Tuhan, dan baru pada tahun inilah mereka mewujudkannya. “Saya memerlukan, kita semua memerlukan, apa yang Tuhan sudah berikan kepada Gereja Katolik untuk hidup sepenuhnya sebagai umat Kristen. Itulah sebabnya, mengapa kami mau menjadi Katolik”, demikian ujar Ekman.

Saudara-saudari yang terkasih, semoga kisah singkat seorang Ulf Ekman, dapat membuka mata hati kita, untuk semakin menghargai kepenuhan sarana keselamatan yang Tuhan sudah berikan di dalam Gereja Katolik, yang melaluinya Allah berdiam dan tinggal di dalam kita. Roh Kudus, Sang Penolong itu, telah diberikan Allah dalam Gereja-Nya, untuk membantu kita hidup dalam kebenaran dan kasih. Kini pertanyaannya adalah: sudahkah kita menyadarinya, merindukannya dan menghargainya?

Saudara-saudari yang terkasih, Minggu yang lalu kita mendengar warta Injil Yoh 14:1-14, perikop sebelum yang tadi kita dengar bersama. Di situ disampaikan bagaimana Yesus membesarkan hati para murid.Mereka diajak tetap berteguh pada jalan yang benar yang memberi hidup. Keteguhan inilah yang menumbuhkan iman.

Saudara-saudari yang terkasih, Hari ini kita dengar bagian kedua dari wejangan-wejangan itu. Gagasan pokoknya berkisar pada mengasihi. Memang keteguhan iman baru utuh bila ada kasih. Warta Injil ini memberi pendalaman di seputar apa itu “kasih” dalam hubungan dengan keteguhan mempercayai Yesus tadi. Wejangan ini memuat ajaran seorang tokoh spiritual – dalam hal ini Yesus – bagi para murid yang sedang menghadapi saat-saat sulit.

Saudara-saudari yang terkasih, seperti yang kita dengar tadi dikatakan bahwa, “Jikalau kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti perintah-perintahku.”Tentu saja kita akan bertanya perintah-perintah mana yang dimaksud. Secara ringkasyang dimaksudkan adalah bahwa dengan mengasihi Yesus akan membuat orang dapat mengenal perintah-perintahnya dan menurutinya. Jadi mengasihinya menjadi jaminan agar dapat memperhatikan perintah-perintahnya.

Maka, Saudara-saudari yang terkasih, siapa saja yang memegang dan menuruti perintah-perintahnya, dia itulah yang juga nyata-nyata mengasihinya. Oleh karena itu ia akan dikasihi Bapa dan Yesus sendiri.“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Sehingga  “mengasihi” Yesus di sini dalam arti mengakui kebesarannya dan meluangkan tempat bagi dia dlam kehidupan ini, setia kepadanya. Ini dari sisi murid. Lalu bagaimana dari sisi sang guru? Dikasihi oleh guru berarti menerima perlindungan darinya. Latar belakang ungkapan “mengasihi” ini ialah kehidupan umat Perjanjian Lama. Para murid itu dipilih, dikasihi, dilindungi, dipedulikan Allah, tapi sekaligus mereka diharapkan tetap setia dan memberi tempat pada-Nya… Jadi mengasihi dalam pengertian itulah menjadi dasar bagi “menuruti perintah-perintah” dan termasuk perintah-perintah yang lain yang bersumber dari kasih itu.

Saudara-saudari yang terkasih, Dalam Yoh 14:16-17 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” – Namun ditegaskan selanjutnya bahwa para murid mengenal Dia sebab ia menyertai mereka dan akan tinggal di dalam diri mereka.

Maka situasi dunia yang seperti itu,Saudara-saudari yang terkasih, disodorkan kepada murid bukan untuk mengecam dunia dan menghukumnya, melainkan agar mengasihaninya dan mencarikan jalan bagi yang ada dalam kegelapan. Dalam upaya inilah murid-murid akan dikuatkan oleh dampingan Roh Kebenaran dan bimbingan sang Penolong sendiri.

Jadi, Saudara-saudari yang terkasih, Sang Penolong datang itu bukan untuk menjamin rasa aman sendiri, melainkan agar diamalkan demi kembalinya dunia kepada terang. Jadi ada pengutusan dan perutusan yang besar bagi para murid. Menurut penginjil Yohanes, para murid itu bahkan jadi tempat tinggal Roh Kebenaran. Lalu sekarang, kita semua murid Kristus hendaknya menjalankan tugas perutusan Yesus karena kita mengasihi Dia dan mewartakannya kepada semua orang supaya mereka semua dapat menikmati damai-Nya atas dasar kasih Kristus. ***

DOA:

Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau akan ada dan tetap selalu hadir dalam diri kami melalui Roh Kudus-Mu, yang tak lain Sang Penolong yang diutus oleh Bapa untuk memimpin, menerangi jalan kepada keselamatan. Kami mengucapkan syukur dan terimakasih atas pertolongan-Mu ini. Terpujilah Engkau kini dan selamanya. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH V, Minggu 7 Mei 2023

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH V, Minggu 7 Mei 2023

DI MANA AKU BERADA, KAMU PUN BERADA

 

  • Minggu, 7 Mei 2023
  • Injil Yoh 14:1-12
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

““Asalkan kita berpegang kepada Kristus dan mengandalkan Dia, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, kita akan memperoleh jalan keluar.”

Yoh 14:1-12

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.”

 

RENUNGAN:

Seperti yang diwartakan dalam Injil tadi, Yesus sudah tahu bahwa Rasul Petrus akan menyangkal-Nya sebanyak tiga kali, dan ketika Ia mengatakan hal itu di hadapan para rasul lainnya, membuat hati mereka menjadi sedih karenanya. Namun kemudian Yesus menghibur mereka, sebab sebagai Allah, Ia-pun sudah mengetahui bahwa para rasul itu, walaupun jatuh bangun dalam hal iman, akan akhirnya sampai juga ke surga.

https://youtu.be/P8qgUmL0Aws

 

Firman Yesus yang mengatakan “Aku akan datang kembali” tadi mengacu pada kedatangan-Nya yang kedua maupun juga pertemuan-Nya dengan setiap jiwa manusia setelah orang itu meninggal dunia. Maka janji Tuhan Yesus untuk menyediakan tempat di surga, bukan saja ditujukan kepada para rasul, tetapi juga kepada kita yang percaya kepada-Nya dan yang setia kepada-Nya sampai akhir.

Janji Tuhan Yesus ini selayaknya menghibur kita; namun juga mengingatkan agar kita selalu percaya dan setia kepada-Nya. Oleh rahmat Baptisan kita semua ini menjadi milik Allah, anak- anak angkat Allah di dalam Kristus. Sudahkah kita hidup sebagai anak- anak Allah? Sebab jika kita terus berjuang untuk hidup sesuai dengan panggilan kita ini, maka janji Tuhan ini akan digenapi di dalam kita.

Apa yang kita bayangkan bila kita hadir di tengah para rasul 2000 tahun yang lalu, saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya ini, kemungkinan kitapun dapat memahami kegundahan, kegelisahan hati Rasul Tomas, “Ke manakah Engkau akan pergi, Tuhan? Aku tidak tahu, bagaimana mungkin aku tahu jalan ke sana?” Namun sekarang justru kita perlu berterima kasih kepada Rasul Tomas, yang menyuarakan kegundahan hatinya, sebab oleh karena itu, Yesus menjawabnya dengan Sabda-Nya yang meneguhkan, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6).

Dengan mengatakan “Akulah jalan…,” pertanyaannya: apakah kita sudah mengenal Tuhan Yesus? Hidup kita di dunia ini memang merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus, supaya kita dapat bertumbuh pula dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama demi kasih kita kepada Kristus. Sebab pada akhirnya, kasih inilah yang kita persembahkan kembali ke hadirat Tuhan di surga.

Menarik dalam penjelasan The Navarre Bible, dikatakan bahwa Yesus menjadi ‘jalan’ kepada Bapa melalui 5 cara. Pertama melalui ajaran-Nya; sebab dengan berpegang pada ajaran-Nya kita akan sampai ke surga; kedua, melalui iman yang diinspirasikan-Nya, sebab Ia datang ke dunia sehingga “barang siapa yang percaya kepada-Nya dapat beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16); ketiga, melalui teladan-Nya, sebab tak ada yang dapat sampai kepada Allah Bapa tanpa meneladani Kristus; keempat, melalui jasa-Nya, yang memampukan kita untuk masuk ke tempat kediaman abadi, dan terakhir, Kristus adalah jalan, karena Ia menyatakan Allah Bapa, yang dengan-Nya Ia adalah Satu, karena ke-Allahan-Nya.

Maka agar kita semakin menghayati bahwa Kristus adalah jalan kepada Allah Bapa, kita perlu merenungkan ajaran Kristus dan kehidupanNya, dari lahir-Nya sampai pada wafat,  kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Hal ini diajarkan oleh St. Francis dari Sales yang mengatakan, “Seperti halnya anak- anak yang mendengarkan ibunya…., belajar untuk bicara sesuai dengan bahasa ibunya, demikian pula kita, dengan membawaNya dekat dengan kita melalui meditasi, permenungan akan perkataan-Nya, perbuatan-Nya, dan kasih-Nya, kita belajar, dengan bantuan rahmat Tuhan, untuk berbicara, bertindak dan berkehendak seperti Dia…. Kita tidak dapat mencapai Allah Bapa dengan melalui jalan lain….; Ke-Allahan tidak dapat kita lihat dengan baik di dunia ini jika tidak di dalam kesatuan dengan kemanusiaan Penyelamat kita yang kudus, yang hidup dan kematian-Nya…. merupakan topik yang paling layak untuk direnungkan bagi meditasi kita sehari- hari.”

Dengan merenungkan kehidupan Yesus, maka kita akan dapat mengarahkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Itulah sebabnya banyak orang dapat bertumbuh secara rohani dengan berdoa rosario, karena doa rosario pada dasarnya adalah doa permenungan peristiwa- peristiwa hidup Yesus. Dengan permenungan tersebut, umat beriman dibawa untuk lebih menghayati rencana keselamatan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Maka ajakan untuk merenungkan kehidupan Yesus ini adalah ajakan bagi anda dan juga saya.

Jose Maria Escriva mengatakan, “Ia [Kristus] ingin agar Tuhan selalu ada di dalam pikiran- pikiran kita, di mulut kita, dan di setiap perbuatan kita, termasuk dalam kegiatan-kegiatan yang paling biasa dan rutin.” Mari kita memeriksa batin kita dengan jujur, sejauh mana Kristus sudah menjadi pusat dalam pikiran kita, perkataan kita, kehendak maupun perbuatan kita? Jika Kristus belum menjadi motivasi yang utama bagi kita tiap- tiap hari, kita perlu memohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengarahkan pikiran dan hati kita kepada-Nya, supaya hidup kita dapat dipimpin oleh-Nya.

 “Akulah jalan, kebenaran dan hidup,” … Kristus adalah kebenaran, mengapa? sebab dengan kedatangan-Nya ke dunia Ia menunjukkan bahwa Tuhan setia kepada janji- janji-Nya; dan karena Ia mengajarkan kebenaran tentang siapakah Tuhan itu. Selanjutnya, Kristus mengajarkan kepada kita bahwa penyembahan yang sejati adalah yang dilakukan “di dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:23), yang artinya, penyembahan sejati kepada Allah Bapa adalah yang dilakukan di dalam Diri-Nya, yang adalah Sang Kebenaran itu.

Lalu dikatakan bahwa Kristus adalah Hidup, sebab apa? karena dari kekekalan Ia mempunyai hidup ilahi dengan Allah Bapa dan karena Ia menjadikan kita pengambil bagian dalam kehidupan ilahi, melalui rahmat Baptisan. Inilah sebabnya mengapa Injil mengatakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3)

Tentang hal ini St. Agustinus mengajarkan, “….sepertinya, Yesus berkata, Lewat jalan mana kamu akan pergi? Akulah Jalan. Kemanakah kamu akan pergi? Akulah kebenaran. Di manakah kamu akan tinggal? Akulah Hidup. Setiap orang dapat mencapai pengertian akan Kebenaran dan Hidup, tetapi tidak semua menemukan Jalannya. Para orang bijak di dunia menyadari bahwa Tuhan adalah kehidupan kekal dan kebenaran yang dapat diketahui; namun Sang Sabda Allah yang adalah Kebenaran dan Hidup yang bersatu dengan Allah Bapa, telah menjadi Jalan, dengan menjelma menjadi manusia. Renungkanlah kerendahan hati-Nya [Kristus] dan kamu akan mencapai Allah.”

Banyak orang mempertanyakan ke-Allahan Yesus, sebab mereka tidak memahami bahwa Allah Bapa dan Putera [Kristus] adalah Satu.  Hal inilah yang kemungkinan mengapa tadi Rasul Filipus meminta, “…tunjukkanlah Bapa itu kepada kami”. Namun justru Yesus “menegur para rasul karena [mereka] tidak mengenali Dia, meskipun perbuatan- perbuatan-Nya adalah perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan — berjalan di atas air, mengendalikan angin badai, mengampuni dosa, membangkitkan orang mati. Karena inilah mengapa Ia [Kristus] menegur Filipus: karena ia tidak mengenali kodrat ke-Allahan-Nya melalui kemanusiaan-Nya.”  Maka sungguh, kita perlu memohon kepada Tuhan agar semakin dapat menghayati misteri kasih Allah ini, yang begitu tak terbatas dan melampaui batas pikiran manusia. Sebab hanya kasih Allah yang begitu besarlah yang membuat-Nya mau mengutus Sang Sabda, yaitu Putera-Nya sendiri untuk menjadi manusia dan menyelamatkan manusia.

Akhirnya pesan yang layak diingat adalah:Jangan takut.Paus Yohanes Paulus II adalah Paus yang paling sering menyuarakan tema ini dalam khotbah- khotbahnya: Jangan takut!  Menurut Archbishop Fulton Sheen yang pernah menghitung kata “Jangan takut” di Kitab Suci, konon jumlahnya adalah 365 kali. Tentu ini bukan kebetulan, dan bahwa Tuhan mengingatkan kita setiap hari dalam setahun agar kita jangan takut, jangan lekas gelisah dan khawatir. Ini adalah pesan yang selalu relevan dan pas dengan keadaan kita saat ini. Sebab apapun yang sedang kita hadapi, baik tantangan, kesulitan, ataupun bencana, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Asalkan kita berpegang kepada Kristus dan mengandalkan Dia, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, kita akan memperoleh jalan keluar. Jika janji Tuhan ini digenapi dalam hidup banyak orang percaya, kita harus yakin hal itu juga terjadi dalam hidup kita. Ingat yang dikatakan Tuhan Yesus,“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku…. Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33) ***

 

DOA:

Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau sungguh jalan kebenaran dan hidup yang dapat menuntun dan membawa kami pada keselamatan. Engkau bukan hanya penunjuk atau penuntun jalan kami tetapi Engkau sendirilah jalan itu sehingga bagi kami yang sungguh percaya kepada-Mu akan sampai pada kehidupan kekal yang Kaujanjikan itu. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH IV MINGGU PANGGILAN, Minggu 30 April 2023

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH IV MINGGU PANGGILAN, Minggu 30 April 2023

MENGENALI SUARA SANG GEMBALA BAIK

 

  • Minggu, 30 April 2023
  • Injil Yoh 10:1-10
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Ada banyak suara di sekeliling kita, kita perlu mengenali suara Kristus, yang secara terus menerus disampaikan kepada kita melalui pengajaran. Ia telah mengatur segalanya sehingga akan selalu ada orang-orang yang membimbing dan memimpin kita, untuk mengingatkan kita secara terus menerus akan jalan kita.”

Bacaan Injil

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.” Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Renungan

Pada hari minggu panggilan ini, saya mengajak saudara untuk merenungkan pesan warta Injil tentang Perumpamaan Yesus sebagai Pintu dan Gembala yang baik. Pada awal warta tadi diungkapkan bahwamasuk melalui pintu menjadi tolok ukur gembala yang baik.Ketahuilah bahwa kawanan domba dapat diganggu dengan cara yang halus dari dalam, ataupun dengan cara yang kasar melalui kekuasaan yang disalahgunakan.

Sejarah Gereja menunjukkan bahwa si Jahat dapat menggunakan kedua cara ini: kadang-kadang masuk dalam tubuh Gereja dengan cara halus dan rahasia untuk mengacaukan dari dalam; namun kadang ia masuk dari luar, dengan cara terang-terangan dan kasar. Pintu hanya terbuka bagi para gembala domba, sedangkan yang tidak masuk melalui pintu disebut sebagai pencuri dan perampok. Santo Josemaria Escriva mengatakan,“Siapakah gembala yang baik? Ia yang masuk melalui pintu, yaitu pintu kesetiaan kepada ajaran Gereja…. ”

Maka dapatkah kita mengenali gangguan si Jahat ini dalam Gereja, yang bahkan terjadi di masa sekarang ini? Gangguan yang kasar dari luar mungkin lebih jelas di mata kita, seperti kekerasan/ penganiayaan yang dilakukan oleh pihak luar kepada Gereja. Namun yang tak kalah memprihatinkan adalah gangguan yang masuk di dalam tubuh Gereja secara perlahan-lahan, misalnya adalah ajaran atau paham tentang (misal) New Age; di mana tanpa disadari mulai banyak mempengaruhi umat Katolik. Sudahkah kita waspada dan menjaga iman kita dan keluarga kita agar jangan terpengaruh olehnya? Sudahkah kita menyadari bahwa gembala yang benar adalah yang masuk melalui pintu yaitu Kristus?

https://youtu.be/rmo25GLKqmQ

 

Kemudian dikatakan bahwa Gembala yang baik mengenal domba- dombanya dan mereka mengikuti dia. Di saat itu adalah umum bahwa jika pada waktu malam kawanan domba dikumpulkan menjadi satu kawanan, dan mereka akan dijaga semalaman oleh penjaga malam. Lalu pada waktu dini hari, para gembala akan kembali dan membuka kawanan dan setiap gembala akan memanggil tiap- tiap dombanya, yang akan mengenali suara gembalanya dan mengikutinya. Domba- domba ini mengenali suara gembalanya karena sang gembala biasanya memanggil nama mereka untuk mencegah mereka terpisah dari kawanan; dan sang gembala akan memimpin mereka ke padang rumput.

Tuhan menggunakan gambaran ini untuk mengajarkan kebenaran ilahi ini: Karena ada banyak suara di sekeliling kita, kita perlu mengenali suara Kristus, yang secara terus menerus disampaikan kepada kita melalui pengajaran Magisterium Gereja. Selanjutnya, kita perlu menaatinya, jika kita ingin memenuhi kebutuhan jiwa kita. Santo Josemaria Escriva kembali mengatakan “Kristus telah memberikan kepada Gereja-Nya kepastian di dalam ajaran dan sumber air rahmat di dalam sakramen-sakramen. Ia telah mengatur segalanya sehingga akan selalu ada orang-orang yang membimbing dan memimpin kita, untuk mengingatkan kita secara terus menerus akan jalan kita.”

Belajar dari kisah domba- domba ini yang mengenali suara gembalanya: apakah kita sudah mengenali suara Kristus Gembala utama kita? Apakah kita mau taat kepada suara para gembala, yaitu para imam, uskup dan Paus yang diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk mengajar kita? Apakah kita sudah mengenali pengajaran mereka sebagai pengajaran Tuhan sendiri? Apakah kita menghargai sakramen- sakramen? Dan dengan tulus hati mempersiapkan diri untuk menerimanya dengan sikap batin dan sikap tubuh yang layak?

Setelah Yesus bicara tentang perumpamaan lalu dinyatakan “tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka”.   Dengan kata lain mau dikatakan bahwa mereka tidak memahami ajaran Yesus yang disampaikan dengan perumpamaan itu. Lalu di sini, Kristus mengembangkan dan menginterpretasikan gambaran gembala dan kawanan untuk meyakinkan bahwa setiap orang yang mempunyai sikap batin yang baik dapat memahami artinya. Tetapi orang Yahudi gagal untuk memahaminya – seperti terjadi juga ketika Yesus mengajar tentang Ekaristi/ sang Roti hidup yang turun dari surga dan ketika ia berbicara tentang “air hidup”, atau ketika Ia membangkitkan Lazarus dari mati.

Adakah halangan di batin kita untuk menerima ajaran Kristus? Apakah kita juga seperti orang Farisi, yang menutup diri terhadap ajaran Kristus dan ajaran Gereja, sementara dengan teguh memegang interpretasi sendiri tentang suatu ajaran tertentu? Bagaimana penghayatan kita akan pengajaran Yesus tentang Ekaristi- Roti Hidup yang dapat kita terima setiap hari? Nampaknya kita perlu mempunyai keterbukaan hati dan kerendahan hati untuk belajar memahami apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui Gereja-Nya. Jika kita berkeras mempertahankan pendapat pribadi, bukankah kita menjadi seperti orang Yahudi, yang gagal memahami ajaran Yesus karena mendahulukan pemahaman sendiri, yang berbeda dengan yang Yesus sampaikan?

Setelah Yesus menjabarkan tentang Gereja-Nya di masa datang melalui gambaran kawanan domba, Kristus memperluas perumpamaan ini dan menyebut diri-Nya sebagai “pintu ke domba- domba itu”. Artinya, baik para gembala maupun domba yang masuk ke dalam kawanan harus melalui pintu itu; yaitu Kristus. Jika Tuhan mempercayakan tugas penggembalaan yang sederhana kepada kita: misalnya sebagai orang tua dalam membina iman anak- anak kita; atau sebagai pelayan umat dalam paroki atau lingkungan, kita perlu mengusahakan tujuan ini: yaitu agar orang- orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita, dapat mengenal dan mengasihi Kristus. Kristuslah yang harus menjadi yang utama, Dia semakin besar, dan kita semakin kecil (Yoh 3:30). Sudahkah kita bersikap demikian?

Dikatakan tadi bahwa mereka yang datang sebelum Yesusadalah pencuri dan perampok. Tentu saja perkataan Yesus yang keras tentang mereka yang datang sebelum Dia, tidak ditujukan kepada Musa atau para nabi, atau kepada Yohanes Pembaptis, sebab mereka mewartakan Mesias yang akan datang dan mempersiapkan jalan bagi-Nya. Di sini Kristus mengacu kepada para nabi palsu dan penipu, di antaranya beberapa pengajar Hukum Taurat, yang adalah orang- orang buta dan pembimbing yang buta yang menghalangi jalan orang- orang kepada Kristus, seperti telah terjadi sesaat sebelumnya, ketika para pengajar itu menghalangi orang-orang untuk percaya kepada Yesus, ketika Ia menyembuhkan orang yang dilahirkan buta. Kelihatannya hal ini sungguhmengacu kepada para gembala palsu yang ada pada saat itu yaitu para orang Farisi dan Saduki.

Dalam kehidupan sehari- hari, terutama bagi kita sering datang ke gereja, berdoa menerima sakramen, kita dipanggil untuk menjadi saksi iman yang hidup, yang bertingkah laku sesuai dengan iman kita. Apalagi bagi mereka yang dipercaya untuk mengajar di gereja, atau dikenal sebagai seseorang yang ‘melayani’ Tuhan, maka renungan ini menjadi sangat relevan: apakah aku sudah mengambil bagian dalam tugas penggembalaan Kristus dengan baik, ataukah belum? Sebab jangan sampai kita bersikap seperti orang- orang Farisi yang perbuatannya tidak sesuai dengan perkataan/ ajaran yang keluar dari mulut kita.

Kemudian ketika Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pintu yang aman bagi semua yang masuk melalui Dia, Ia bermaksud pertama- tama sebagai pintu bagi gembala, namun demikian,  Ia juga adalah pintu bagi domba- domba yang melalui-Nya mereka masuk dan keluar untuk menemukan padang rumput.Adalah wajar jika dalam rangka mengambil bagian dalam tugas sang pemimpin, sang bawahan mengikuti ketentuan dan perintah atasannya. Maka semua orang yang turut mengambil bagian di dalam tugas penggembalaan Kristus selayaknya mengindahkan ajaran Kristus yang dinyatakan melalui Magisterium, dan bukan semata- mata atas pemahamannya sendiri.

AkhirnyaYesus datang untuk memberikan hidup dalam kelimpahan.Jika maksud para pencuri adalah merusak, maksud Yesus adalah memberikan hidup, yaitu hidup kekal. Ia datang kepada domba-dombanya supaya mereka memperoleh hidup dan mempunyainya di dalam kelimpahannya: yaitu rahmat, kemuliaan dan kebangkitan dari kematian.

Ada banyak orang keliru dalam menginterpretasikan ‘hidup dalam segala kelimpahan’ yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus di sini. Mereka menyangka bahwa Tuhan Yesus menjanjikan kelimpahan materi. Seolah-olah jika seseorang sudah mengimani Kristus pasti dapat berkelimpahan harta, atau sebaliknya, jika ia belum berkelimpahan harta artinya ia belum sungguh hidup di dalam Yesus. Namun Sabda Tuhan menunjukkan bahwa bukan kelimpahan harta jasmani yang dijanjikan oleh Yesus, melainkan hidup yang kekal.

Yang dijanjikan-Nya adalah Ia, sebagai Sang Roti Hidup, akan hadir dan menyertai kita dalam Ekaristi; dan dengan menyambut Ekaristi kita menyambut Kristus sendiri. Adakah yang lebih berharga dari Kristus sendiri yang kita sambut? Dan dengan menyambut Dia yang adalah Sang Hidup, kita memperoleh hidup ilahi di dalam Kristus yang menghantar kita kepada hidup yang kekal. Dengan menyambut Kristus kita akan diubah sedikit demi sedikit untuk menjadi semakin menyerupai Dia: semakin beriman, semakin berpengharapan dan semakin dapat mengasihi dengan tulus.

Dengan sifat- sifat inilah kita dimampukan oleh Allah untuk menghadapi pergumulan hidup; dan kita sungguh dapat hidup di dalam Tuhan dan bersama Tuhan. Dalam keadaan ini kita dapat melihat berkat- berkat Tuhan yang terus menyertai, walaupun kita berada dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Inilah hidup sejati di dalam Tuhan yang menghantar kita kepada kehidupan kekal di surga kelak.***

 

DOA:

Ya Tuhan Yesus, Engkau sungguh gembala yang baik dan kami adalah domba-domba-Mu. Kami sungguh percaya akan sabda-Mu dan berusaha untuk taat menjalankan perintah-Mu. Semoga Engkau sudi selalu mencurahkan roh kekuatan-Mu sehingga kami dimampukan untuk hidup sebagai domba-domba yang setia. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

BERJALAN DALAM BIMBINGAN TUHAN RENUNGAN MINGGU PASKAH III 23 April 2023

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH III, Minggu 23 April 2023

BERJALAN DALAM BIMBINGAN TUHAN

 

  • Minggu, 23 April 2023
  • Injil Luk 24:13-35
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Sadarilah bahwa lari dari masalah bukanlah solusi, apalagi sebagai orang beriman jika meninggalkan persekutuan dalam Gereja, ketahuilah hal itu hanya akan membuat kita semakin tersesat.”

 

Perjalanan kedua orang murid menuju Emaus ternyata tidaklah membosankan, walaupun mereka sedang dilingkupi perasaan kecewa, sedih dan bingung. Sebab ada Orang yang menemani dan sedikit demi sedikit Orang itu meluruskan tentang kesimpang-siuran berita yang mereka terima. Karena ketertarikan mereka pada penjelasan Orang itu sampai mereka akhirnya meminta Orang itu untuk tinggal bermalam bersama mereka. Sebab tempat yang mereka tuju telah mau sampai sementara Orang itu masih harus melanjutkan perjalananNya. 

https://youtu.be/aBVHARlehAg

 

Kebersamaan mereka pada malam itu telah membuka mata mereka untuk mengenali siapa Orang yang bersama mereka selama perjalanan. Bahwa Dia adalah Yesus orang Nazaret yang mereka ceritakan itu, bahwa ternyata berita yang mereka dengar adalah benar bahwa Yesus telah bangkit dan hidup.  Yesus tidak mengatakan kepada mereka tentang siapa sebenarnya diriNya. Namun demikian, kedua orang itu akhirnya dapat mengenali Yesus dengan caraNya memecah-mecahkan roti dan mengucapkan berkat. Di sini akhirnya mereka tersadar akan perasaan mereka dan pengajaran Yesus selama perjalanan.

Menjadi pengikut Yesus, tidak harus seperti para rasul di mana mereka melihat bekas paku di tangan Yesus atau Dia harus memperkenalkan diriNya pada kita dan mengatakan “Ini Aku Yesus!”. Seperti dua murid Emaus tadi yang akhirnya mereka mengenali Yesus tanpa harus berbuat yang hebat, hanya dengan mendengar penjelasan-Nya. Di sini, Yesus membuka mata hati mereka untuk mengenali diri-Nya bahwa Dia adalah Yesus yang telah bangkit.

Dari percakapan yang terjadi dalam perjalanan menuju Emaus ini, Tuhan Yesus rupanya telah memberikan kita suatu pengajaran yang berharga, bahwa Dia adalah penggenapan dari semua yang tertulis dalam kitab suci. Maka segala tulisan yang terdapat dalam Kita Suci adalah penjelasan yang utuh untuk mengetahui tentang Tuhan dalam kehidupan ini. Sehingga baiklah kiranya kita dengan tetap tekun membaca dan merenungkan firman Tuhan, sehingga kita semakin dikuatkan untuk mengerti segala kehendakNya dalam kehidupan ini.

Mengapa kita memerlukan Kitab Suci? Jika kita hidup hanya mau mengandalkan diri sendiri tentu tak perlu kita membaca Firman Tuhan. Namun pengikut Yesus (orang beriman) membutuhkan Kitab Suci dalam kehidupannya sebagai makanan rohani, sebagaimana Yesus mengatakan “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Matius 5:6). Kita harus suka membaca Kita Suci, walaupun kita merasa sulit untuk memahaminya. Ingatlah bahwa kita akan berusaha untuk memahaminya jika kita memang sedang haus dan lapar akan kebenaran.

Sadarilah bahwa Firman Tuhan adalah kebutuhan pokok kita, Firman itu yang akan selalu mengingatkan, menegur, menuntun, mendidik kita (2 Timoteus 3:16) dan yang akan memperbaharui kehidupan kita setiap saat ke arah yang lebih baik. Dan yang terpenting kita ketahui bahwa percakapan kedua murid Emaus tadi dengan Yesus mengingatkan kita pada kitab Yohanes 1: 1 bahwa “Firman itu adalah Allah”. Jika kita mendalami ayat ini, maka kita akan menemukan jawaban mengapa Kitab Suci itu sangat berharga dalam kehidupan kita.

Kita tidak mengetahui apa maksud kedua murid Yesus ini pergi ke Emaus, namun yang pasti mereka telah pergi meninggalkan para murid Yesus yang lainnya di Yerusalem. Kepergian mereka dilingkupi oleh perasaan kecewa, kesedihan dan berita yang simpang siur. Maka tidak heran jika Yesus menegur mereka “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu….”. Sadarilah bahwa lari dari masalah bukanlah solusi, apalagi sebagai orang beriman jika meninggalkan persekutuan dalam Gereja, ketahuilah hal itu hanya akan membuat kita semakin tersesat.

Sebenarnya kita diingatkan melalui peristiwa ini, jangan sekali-kali meninggalkan persekutuan kita dalam gereja karena permasalahan dan pergumulan yang kita hadapi. Walaupun pergumulan kita tidak kunjung berakhir, bukan artinya Tuhan itu tidak berbuat atas hidup kita. Namun sebaliknya kita hendaknya semakin giat dalam persekutuan. Sebab dalam persekutuan umat dengan Tuhan akan memberikan kita kekuatan, hikmat dan penyertaan Tuhan.

Perjalanan kedua murid Yesus ini telah memberikan kita juga pelajaran yang sangat berharga, bahwa sesungguhnya walaupun mereka pada awalnya tidak mengenali siapa Orang yang bersama dengan mereka itu, demikianlah dalam perjalanan kehidupan yang kita lalui. Kita menjalani kehidupan ini, Tuhan tidak pernah tampak di mata kita, namun dalam iman percayalah akan Dia itu Allah yang selalu hadir dan yang setia mengajar dan membimbing hidup kita.

Semakin lama kita menjadi pengikut Yesus seharusnya membuat hati kita semakin dekat denganNya. Ketertarikan kita kepada Yesus akan mengundang Yesus untuk hadir dalam setiap perjalanan kehidupan kita. Dalam perkerjaan, keluarga dan apapun yang sedang terjadi dalam kehidupan ini, kita akan “mendesak Yesus hadir”. Namun sebagai umat Kristen Katolik yang perlu kita ingat adalah Tuhan Yesus sendiri selalu ada dan hadir dalam Ekaristi. Kita selalu diundang oleh-Nya. Maka dari itu marilah kita senantiasa merindukan dan memuaskan diri dengan merayakan Misa Kudus, menyambut Tubuh dan Darah Kristus yang Dia sendiri. Inilah sumber dan puncak hidup kita sebagai Katolik.

DOA:

Ya Tuhan Yesus, kami senantiasa berterimakasih dan bersyukur atas penyertaan-Mu dalam hidup kami. Engkau yang selalu menyertai dan mendampingi hidup kami di dunia ini sehingga kami merasa selalu berbagia dan bersukacita dalam kasih-Mu yang menyelamatkan. Amin.
Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

PERTOBATAN YANG MENYEMBUHKAN – RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH III, Minggu 19 Maret 2023

RENUNGAN HARI MINGGU PRAPASKAH III, Minggu 19 Maret 2023

PERTOBATAN YANG MENYEMBUHKAN

 

  • Minggu, 19 Maret 2023
  • Injil Yoh 9:1-41
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Pertobatan bukan menjadi beban melainkan menjadi kesempatan mengalami kasih Allah yang menyembuhkan.

Minggu Prapaskah IV ini disebut Minggu LAETARE atau minggu sukacita. Para imam dalam merayakan Ekaristi mengenakan stola dan kasula berwarna PINK. Mungkin kita bertanya: di mana sukacita itu? Bukankah seruan pertobatan justru semakin dikumandangkan? Sukacita di sini terungkap seperti disebut dalam antiphon pembuka, sukacita karena penghiburan dari Allah. “Bersukacitalah, hai Yerusalem, dan berhimpunlah, kamu semua yang mencintainya; bergembiralah dengan sukacita, hai kamu yang dulu berdukacita, agar kamu bersoraksorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu.” (bdk Yes 66:10-11).

Oleh karena itu, pertobatan bukan menjadi beban melainkan menjadi kesempatan mengalami kasih Allah yang lebih utuh.Pertobatan akan membuat orang serasa mengalami kesembuhan dari kebutaan, bangkit dari kelumpuhan, dan lebih dalam lagi mengalami rahmat Allah yang diberikan kepada kita. Lalu bagaimana kita merenungkan firman yang diwartakan pada hari ini?

https://youtu.be/7yXbqGDN2UU

Menarik untuk kita simak dan renungkan bersama warta Injil hari ini, yakni bahwa perdebatan dan penolakan yang terjadi dalam kisah taditampaknya tidak membuat Yesus diam dan tak berbuat apa-apa. Tatkala Ia dan murid-murid-Nya berjumpa dengan seorang buta sejak lahir, Ia bertindak mengadakan mukjizat, menyembuhkan si buta. Halangan apapun tidak melunturkan kasih-Nya untuk menolong orang yang menderita. Secara ajaib setelah mata si buta dijamah Yesus, orang itu taat dan segera membasuh dirinya di kolam Siloam. Seketika itu ia pun dapat melihat. Tidak dapat dibayangkan betapa luapan gembira dan sukacita yang dialami si buta yang sekarang dapat melihat.

 

Ketaatan dan mukjizat. Tanpa membasuh mata di kolam Siloam pun sebenarnya Tuhan Yesus bisa mencelikkan mata si buta. Yang Yesus pentingkan dalam peristiwa ini adalah ketaatan. Ketaatan yang dibarengi rasa syukur kepada Tuhan memegang peranan penting, tidak hanya di saat kita membutuhkan pertolongan-Nya, tetapi di setiap saat. Mukjizat terjadi karena ketaatan terhadap firman Tuhan. Si buta yang celik matanya, mensyukuri pertolongan Tuhan. Ia tidak takut menghadapi orang-orang yang meragukan kesembuhan yang telah dialaminya.

 

Dari warta Injil yang kita dengar pada hari ini kita harus menyadari bahwa kedudukan seorang buta di tengah masyarakat saat itu, dinilai sangat rendah, hina, tak berdaya, tak berharga. Namun penilaian ini tidak berlaku dalam diri Tuhan Yesus. Justru Ia mengubah keberadaan orang buta itu secara drastis. Harga diri dibangkitkan. Ia menjadi berani menjawab bertubi-tubi pertanyaan yang diarahkan kepadanya. Mula-mula dari para tetangganya, kemudian berhadapan dengan orang-orang Farisi.

 

Orang-orang Farisi itu akhirnya menegaskan bahwa Yesus bertindak salah dan tidak tahu adat karena melakukan mukjizat pada hari Sabat. Menurut mereka perbuatan itu bertentangan dengan Hukum Taurat. Keputusan orang-orang Farisi itu mendadak menimbulkan keberanian pada diri si pengemis yang dengan tegas dan lugu mengatakan bahwa: “Ia adalah seorang nabi!” Jawaban ini sangat mengejutkan para tetangga maupun orang-orang terhormat di sekitarnya. Si lemah telah menjadi kuat, berani berkata benar, dan menyatakan keyakinannya.

 

Berani karena benar. Kata-kata ini sangat populer di masa-masa perjuangan dahulu. Tetapi karena ambisi tidak sehat, makna kalimat menjadi kabur dan luntur. Banyak orang tidak lagi berani berkata hal yang benar. Masyarakat lebih cenderung memanipulasi kebenaran daripada harus menderita karena berkata benar, bertindak benar. Saat ini umat Kristiani dihadapkan pada pelbagai tantangan dan kesulitan. Kondisi ini bisa saja memaksa Kristen bertindak tidak setia pada kebenaran. Karena itu kesetiaan pada keyakinan terhadap Kristus harus tetap terjaga, berani berkata benar dan mempertahankan kebenaran sekalipun harus tetap menanggung resikonya.

 

Seperti yang dikisahkan tadi bahwa orang-orang Farisi menginterogasi orang buta yang telah sembuh itu dengan pertanyaan yang amat sinis. “Katakanlah kebenaran di hadapan Tuhan (secara harafiah: Muliakanlah Allah).” Sayang, ucapan itu diberi arti apriori, yaitu menuntut orang tersebut mengaku bersalah. Mereka bukan mencari kebenaran, tetapi menginginkan jawaban yang memuaskan diri sendiri.

 

Orang-orang Farisi ini sudah memutuskan bahwa Tuhan Yesus bukan berasal dari Allah, sebaliknya Ia adalah orang berdosa (ayat 24). Dengan otoritas mereka sebagai pemimpin agama, mereka memaksa orang yang dicelikkan matanya itu menyangkal mukjizat yang dia terima. Sikap mereka ini menunjukkan kebodohan dan keterbatasan mereka menafsirkan Hukum Taurat! Kebodohan mereka nyata dari cara mereka memaksa fakta harus sesuai dengan teori. Orang berdosa tidak mungkin mengadakan mukjizat seperti itu, maka pasti mukjizat itu tidak dapat terjadi.

 

Padahal mukjizat sudah terjadi dan saksinya ada di depan mata mereka. Orang-orang Farisi itu kini mengacu kepada Musa sebagai guru mereka. Sebelum ini mereka justru nyata salah ketika mengacu kepada Musa (Yoh. 5:46). Kini orang buta tersebut mempermalukan mereka (Yoh. 9:30). Alasannya jelas mukjizat yang dialaminya bukan sekadar penyembuhan cacat mata, tetapi penciptaan fungsi penglihatan yang tadinya tidak ada. Hanya Allah yang dapat menyertai pembuat mukjizat tersebut.

 

Kesombongan rohani membutakan mata orang bahkan dari kebodohan dirinya sendiri. Bukti-bukti mukjizat bahkan ajaran firman sekalipun dapat diputarbalikkan untuk mendukung kedegilan hati seseorang. Karena itu, kita harus merendahkan hati di hadapan Allah agar oleh anugerah-Nya kita diberikan keterbukaan dan kesediaan belajar terhadap kebenaran.

 

Mungkin di Antara saudara-saudari ada yang pernah dengar tentang Fanny Crosby, penggubah ratusan lagu-lagu rohani yang dikenal banyak orang Kristen, adalah seorang yang buta. Ia buta beberapa minggu sejak lahir dan kebutaannya dapat dikatakan akibat kesalahan dokter. Dalam kesaksiannya Fanny mengatakan bahwa berkat terbesar yang Tuhan berikan kepadanya adalah ketika “Tuhan mengizinkan penglihatan eksternalnya ditutup.” Tuhan telah mengkhususkan dia untuk suatu pekerjaan yang Tuhan sudah rencanakan. Ia mengungkapkan bahwa dalam kebutaan jasmani ia dapat melihat Allah lebih terang. Fanny buta secara jasmani, tetapi ia memiliki penglihatan rohani yang tajam.

 

Orang buta yang telah disembuhkan Yesus ternyata bukan hanya dicelikkan mata jasmaninya, tetapi Yesus membukakan juga mata rohaninya. Orang buta itu memang sempat diusir keluar (dikucilkan) oleh pemimpin-pemimpin agama Yahudi akibat keberaniannya bersaksi, tetapi Yesus mencari dia (ayat 35). Ketika orang-orang Yahudi mengusir orang buta itu keluar dari Bait Allah, Yesus justru menemui dia. Yesus tidak pernah meninggalkan orang-orang yang mau mengikut Dia.

 

Pertanyaan dan pengajaran Yesus membukakan mata rohani orang buta itu. Ia merespons dengan percaya dan sujud menyembah Yesus sebagai Tuhan dan Mesias (ayat 35-38). Sebaliknya kepada orang-orang Farisi, Yesus menyindir mereka sebagai buta (ayat 39). Kalau orang buta itu menyadari kebutaan rohaninya sehingga mau dicelikkan oleh Yesus, orang Farisi itu sebaliknya, merasa diri melek rohani sehingga menolak percaya dan menerima Yesus. Akibatnya mereka tetap tinggal di dalam kebutaan rohani mereka dan tidak bisa ditolong.

Pengetahuan agama dan pengalaman iman tidak serta merta mencelikkan seseorang pada pengenalan sejati akan Yesus. Bahkan sering kedua hal itu menjadikan seseorang sombong rohani, merasa sudah melek rohani sehingga tidak butuh dicelikkan oleh Yesus. Apakah kita termasuk golongan orang-orang seperti itu?***

 

DOA:

 

Ya Allah Bapa, bimbinglah kami agar tetap memiliki keberanian untuk berkata benar di tengah kebohongan yang dianggap biasa. Mampukan kami untuk tetap taat-setia kepada-Mu walau berat tantangan yang harus kami hadapi. Buatlah kami tetap rendah hati walaun kami mempunyai pengetahuan rohani lebih dari yang lain dan mampukanlah kami untuk sungguh-sungguh melibatkan hati serta tindakan nyata ketaatan kami kepada-Mu. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.