Posted on Leave a comment

MENGANDALKAN TUHAN – HARI MINGGU BIASA XIV, MINGGU, 9 JULI 2023

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XIV, MINGGU,  9 JULI 20233

MENGANDALKAN TUHAN

 

  • Minggu, 9 Juli 2023
  • Injil Mat 11:25-30.
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Orang kecil dan sederhana justru tidak memiliki apa dan siapa, karena itu andalan mereka adalah Tuhan.”

 

RENUNGAN:

Dalam hidup kita jumpai ada orang yang cerdik pandai, orang besar, orang berpengaruh, orang hebat, juga ada orang kecil dan sederhana, orang biasa, tidak ada pengaruh. Beda dengan orang kecil, dan sederhana, orang cerdik pandai memiliki sejumlah pengetahuan dan bisa juga keahlian dalam bidang tertentu. Orang-orang seperti itu sering disegani, dihormati dan dimintai pendapat, bahkan nasehat-nasehat bijak. Mereka berkecukupan dalam kehidupan ekonomi, juga diperhitungkan dalam kehidupan bersama. Mereka juga didengarkan ketika mereka menyampaikan ide atau apa saja. Mereka juga punya banyak sahabat, dan bersahabat dengan orang-orang penting dan berkedudukan.

Nah, beda dengan orang orang kecil, sederhana, apalagi miskin dan tersingkir.  Mereka justru tidak memiliki apa dan siapa, dan karena itu andalan mereka adalah Tuhan. Mereka menggantungkan harapan dan mimpi-mimpi mereka, kiranya Tuhan selalu memperhatikan dan mendengarkan serta menolong mereka, ketika kesulitan, beban hidup dan penderitaan menghimpit. Mereka kurang mendapat perhatian dan sering tidak diperhitungkan dalam kehidupan bersama. Mereka juga tidak bisa menentukan nasibnya sendiri apalagi nasib orang lain. Itulah kenyataan yang ada dalam hidup kita, juga ada di sekitar kita.

https://youtu.be/zBJ0wZ-zRAo

Yesus dalam karya pewartaan-Nya mendapat tantangan dan penolakan dari orang-orang yang cerdik pandai seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Karena itu, Pewartaan Yesus ditujukan dan diterima oleh orang-orang kecil dan sederhana. Yesus menyapa orang-orang kecil dan sederhana itu. Yang disebut orang kecil pertama-tama adalah kelompok para Rasul, yang Yesus panggil dan memilih mereka dari orang kecil dan sederhana; orang kecil itu kemudian adalah masyarakat Yahudi pada umumnya, karena mereka hidup dalam masa penjajahan Romawi. Lalu, orang kecil yang disapa Yesus yang lain adalah masyarakat kelas bawah yang selalu ditindas oleh kelompok Farisi dan ahli Taurat; serta orang kecil yang disapa Yesus adalah orang-orang cacat dan penderita sakit.

Dalam warta Injil tadi kita mendengar,”Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu…. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” Di sini Yesus berdoa untuk bersyukur dan mengundang semua mereka untuk datang kepada-Nya. Mengapa? Karena mereka yang mengerti dan mau menerima misteri Kerajaan Allah; dan mereka adalah orang-orang rendah hati dan membuka diri bagi Yesus yang hati-Nya lemah lembut.

The Navarre Bible tentang Mat 11:25-26: “Mereka yang bijak dan pandai dari dunia ini, yaitu, mereka yang mengandalkan pemahamannya sendiri, tidak dapat menerima wahyu yang dibawa oleh Kristus kepada kita. Pandangan/ pemahaman adikodrati selalu berhubungan dengan kerendahan hati. Orang yang rendah hati, yang tidak menganggap dirinya penting, dapat melihat/ memahaminya; [sedangkan] orang yang penuh dengan kepercayaan/ keyakinan diri gagal untuk memahami hal- hal yang adikodrati.”

Nampaknya inti yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa wahyu Allah yang disampaikan Kristus hanya dapat dipahami dengan sikap kerendahan hati, seperti halnya sikap anak- anak atau orang- orang yang sederhana, yaitu dengan sikap miskin di hadapan Allah. Ini sejalan dengan pesan pertama dalam khotbah di bukit (Mat 5:3), “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Jelaslah bahwa bagi Yesus, Kerajaan Allah, kesungguhan hidup dalam kebahagiaan yang penuh, tidak diperoleh dan tidak dimengerti oleh mereka yang pintar, yang kuat dalam persaingan, tetapi mereka yang peka akan nilai kehidupan, mereka yang rendah hati, yang tidak mementingkan dirinya sendiri, yang bisa membangun hidup bersama dalam kesederhanaan, mereka itulah yang dapat mengerti rahasia Kerajaan Allah. Mengapa demikian?

Karena Kerajaan Allah tidak dikuasai oleh nilai dunia ini, tetapi hidup selalu bernilai dan berharga. Ketika di sana ada kerendahan hati, kepekaan  terhadap yang lemah dan yang tak berdaya. Yesus bersyukur kepada Bapa karena orang-orang seperti inilah, yang dalam kesederhanaan dan dalam kesadaran akan kekecilan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama membangun hubungan dengan Tuhan menjadi utama. Melalui Yesus kita mengenal wajah Allah yang sederhana dan penuh perhatian terhadap manusia. Allah yang membuka diri-Nya bagi yang kecil dan sederhana dan manusia menemukan dalam Allah kekuatan dan kebesarannya. Allah mencintai manusia tanpa syarat, tanpa batas.

Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, khususnya bagi yang letih lesu dan berbeban berat. Dengan datang kepada-Nya dan meletakkan segala beban berat, segala keletihan dan kelesuan menjadi hilang. Dalam Dia hanya ada kebahagiaan. Karena itu Ia mengundang kita untuk belajar, supaya menjadi seperti Dia. Belajar dari hati-Nya supaya hati kita seperti hati-Nya. Hati yang lemah lembut. Belajar memikul salib dari-Nya maka akan menjadi ringan salib dan beban kita.

Kita diajak untuk selalu bersyukur. Bersyukur berarti menerima dengan sukacita segala yang Tuhan rencanakan dan berikan; bersikap rendah hati dan datang kepada Yesus setiap saat. Datang kepada Yesus dan belajar dari Dia. Belajar untuk memikul tugas dan tanggungjawab yang dibeikan; tidak melarikan diri, tidak menghindari segala beban yang harus dikerjakan.

Belajar dari Yesus, meneladani seluruh hidup-Nya dalam kelembutan dan kerendahan hati. Kita juga perlu belajar untuk menjadi orang kecil, yang memiliki kerendahan hati untuk selalu mencari Yesus. Kita juga diajak untuk menemui Yesus dalam diri “orang kecil”, “orang yang rendah hati” yang suka bersahabat dan yang selalu membawa kasih. Kita pun membiarkan Yesus memimpin hidup kita, artinya membiarkan sukacita dan damai mewarnai hidup dan perjuangan kita. Dengan itu kita akan mengalami kelegaan dalam hidup yang selalu diwarnai tantangan dan masalah.

Kita diajak untuk  mengimani Allah yang demikian, berarti menghidupi nilai-nilai yang diajarkan-Nya dan mengikuti teladan hidup-Nya, yang senantiasa mau berbuat baik kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Ia terus mengajak dan mengundang untuk datang kepada-Nya, “Marilah datang kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah daripada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”.

Maka sebenarnya kita semua dipanggil untuk mempunyai sikap kerendahan hati dan kesederhanaan ini di hadapan Allah, mau mendengarkan dan mau menerima pengajaran iman seperti yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul-Nya, tanpa berkeras memegang pandangan sendiri sesuai dengan pemahaman pribadi.

Semoga kita juga menjadi bagian dalam doa syukur Yesus. Sungguh menjadi orang kecil dan sederhana yang tetap selalu mengandalkan Dia, untuk terus datang kepada-Nya dan belajar pada-Nya, sampai jiwa kita pun mendapat ketenangan dalam Dia. ***

 

DOA:

 

Ya Tuhan Yesus, aku lemah dan tak berdaya tanpa-Mu. Sekarang aku datang kepada-Mu, aku meletakkan semua bebanku di bawah kaki-Mu dan berilah aku kelegaan. Aku percaya pada kasih Hati-Mu yang selalu ada rahmat kehidupan yang menyegarkan hatiku. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara, (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Minggu 4 Juni 2023

RENUNGAN HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, Minggu 4 Juni 2023

ALLAH TRITUNGGAL: ALLAH YANG MENYELAMATKAN

 

  • Minggu, 4 Juni 2023
  • Injil Yoh 3:16-18
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengutus Putera-Nya, supaya orang yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

BACAAN INJIL

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak tunggal Allah.”

 

RENUNGAN

Warta Injil hari minggu ini,di mana kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus ialah Yoh 3:16-18. Yang intinya adalah Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkannya. Jadi Yesus bukan sembarang utusan. Inilah ungkapan kerahiman yang paling besar. Diungkapkan dalam ay. 16, “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.” Kesediaan Putra diutus ke dunia membuat semua ini sungguh terjadi. Dalam kata-kata Injil hari ini (ay. 17-18) “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa yang tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

https://youtu.be/LVsKgBDeauk

Kesaksian yang terhimpun dalam ayat-ayat firman itu kiranya dapat membantu kaum beriman, kita semua, untuk menyelami iman akan Tritunggal Mahakudus. Mungkin kita masih ingat akan sebuah lagu yang pertama kali dinyanyikan oleh Ahmad Albar, yakni PANGGUNG SANDIWARA, yang bicara tentang dunia ini yang dihuni oleh orang-orang yang berperan di atas panggung sandiwara. Bermacam-ragam peran dimainkan oleh mereka. Nah, berbeda dengan dahulu, dimana orang memandang dunia ini sebagai drama sandiwara yang dilakonkan oleh Allah sendiri. Di dalam drama ini ada tiga pemeran. Allah Bapa berperan sebagai “pengasal” tindakan penyelamatan, Allah Putra sebagai “pelaksana”-nya, sedangkan Allah Roh Kudus “melanjutkannya”. Ketiga pelaku ini menjalankan peran yang berbeda-beda tapi dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia beserta isinya. Pelaku dalam lakon disebut “prosoopon” (Yunani) atau “persona” (Latin) yang diindonesiakan sebagai “pribadi”. Arti harfiah kata Yunani dan Latin ialah gambar wajah yang dikenakan pelaku sehingga para hadirin langsung menangkap peran mana sedang dijalankan. Cara berungkap dengan bahasa lakon seperti ini dulu mudah menghimbau perhatian orang banyak dan oleh karenanya dipakai untuk menjelaskan karya penyelamatan.

Lalu, bagaimana jalan pemikirannya? Demikian saudara-saudari yang terkasih: karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan dilaksanakan oleh Putra yang diutus ke dunia, dan kemudian dijaga keberlangsungannya oleh Roh Kudus. Demikianlah disadari iman mengenai Tritunggal dalam hubungan dengan karya penyelamatan. Dan di situ dijelaskan inti keilahian pula. Kesatuan antara ketiga pribadi itu sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidak berubah. Bapa, Putra dan Roh Kudus ialah tiga pribadi dari Allah yang satu.Masih samakah makna iman akan Tritunggal itu bagi kita dalam masyarakat dewasa ini? Ya, masih sama. Mereka dulu berusaha semakin mengenali karya penyelamatan di dalam macam-macam keadaan. Begitu pula kita. Yang beraneka ragam ujudnya ialah peluang nyata serta ungkapan untuk ikut serta membangun dunia yang baru, dunia yang bisa dikatakan “semakin diselamatkan” Allah. Percaya bahwa ada karya penyelamatan sendiri sebetulnya sudah dapat menjadi bentuk keikutsertaan dalam karya ilahi itu. Mengimani Tritunggal bukan hanya mengucapkan “aku percaya”, tapi juga ikut serta membangun dunia yang makin layak dan menjaganya agar tidak merosot. Itulah arti “selamat” dalam bahasa yang dimengerti orang sekarang. Pemahaman ini dapat membuat iman semakin hidup.

Warta Injil hari ini merupakan kelanjutan pembicaraan Nikodemus, yakni seorang ulama Yahudi, dengan Yesus (Yoh 3:1-15). Nikodemus percaya bahwa Yesus itu utusan Allah sendiri dan ingin mengenalnya lebih dalam. Yesus membantunya. Perhatian Nikodemus diarahkannya pada warta yang sejak awal disampaikannya kepada orang banyak, yakni Kerajaan Allah sudah datang di dunia dan orang diajak bersiap ikut serta di dalamnya. Kepada Nikodemus diterangkan, syarat untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah ialah dilahirkan kembali dalam air dan Roh. Maksudnya, dibaptis menjadi pengikut Yesus dan membiarkan diri dibawa dan dipimpin oleh kekuatan-kekuatan ilahi sendiri – yakni Roh. Dialah yang bakal menuntun ke Kerajaan Allah. Dengan demikian pelbagai kepastian yang hingga kini dipegang erat-erat juga tidak terasa mengikat lagi.

Karena Nikodemus tidak segera menangkap maksudnya, Yesus menjelaskan hal ini dengan cara yang lebih mudah dipahami, dengan merujuk pada keinginan mencapai hidup kekal. Siapa saja yang memandangi yang datang dari atas sana, yakni Anak Manusia, dan percaya kepadanya akan mendapat hidup kekal. Tentu saja Nikodemus mengerti bahwa Anak Manusia ini ialah Yesus sendiri yang sudah dipercayanya sebagai utusan yang datang dari Allah sendiri. Tapi masih perlu satu langkah penting lagi yakni: memulai hidup baru di dalam Kerajaan Allah. Itulah pokok pembicaraan dengan Nikodemus yang mendahului petikan yang kita dengar hari ini, yakni ay. 16-18.

Bagi banyak orang “kehidupan kekal” itu gagasan yang langsung memberi isi pada paham keselamatan. Setiap orang mendambakannya. Tapi bagaimana dengan “Kerajaan Allah”? Hal itu hanya dikenal di antara para pengikut Yesus! Di luar itu boleh jadi hanya kalangan murid Yohanes Pembaptis sajalah yang pernah mendengarnya. Yesus mengajak orang bersiap-siap menyongsong Kerajaan Allah yang telah datang. Bagi para pengikut-Nya, keinginan yang terdalam tidak berhenti pada gagasan “keselamatan = hidup kekal”, melainkan lebih jauh dan terarah pada “keselamatan = ikutserta dalam Kerajaan Allah” bersama dengan Dia yang mengajarkan mengenai Kerajaan ini.

Hidup kekal dapat dicapai dengan hidup beragama dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Tetapi untuk mencapai kesempurnaan dalam arti masuk ke dalam Kerajaan Allah, perlu adanya bimbingan Roh. Begitulah, untuk mendapatkan hidup kekal, Nikodemus sendiri sudah tahu jalannya – sudah diajarkan Musa. Namun, untuk memasuki Kerajaan Allah, dibutuhkan penyerahan diri dan bimbingan Roh.

Pembicaraan dengan Nikodemus itu sebenarnya dapat dijadikan cermin untuk mengamati diri: masih mengarah ke yang biasa, yakni “hidup kekal”, ataukah sudah mulai terbuka ke kesempurnaan dalam “Kerajaan Allah”? Yesus sang utusan ilahi memahami keterbatasan wawasan manusia (Nikodemus) yang bijak dan saleh sebagai ulama besar! Tetapi Yesus tetap mengajak melihat ke arah yang lebih sempurna, yakni memasuki Kerajaan Allah. Warta Injil yang kita dengarkan hari ini sebetulnya berbicara mengenai keterbukaan pada kehidupan kekal sebagai jalan masuk untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah.

Agama menunjukkan jalan mencapai “keselamatan” sehingga orang menemukan arti hidup dalam macam-macam keadaan, baik menyenangkan atau menyedihkan. Agama dan iman membuat orang menemukan diri sebagai makhluk di hadapan Yang Ilahi. Namun dalam pewartaan Yesus, masih ada kelanjutannya, yakni memasuki Kerajaan Allah. Di situ orang belajar mengenali Allah Pencipta sebagai “Bapa”, sebagai yang dekat, sebagai yang menghendaki yang terbaik. Dan yang mengajarkannya ialah Putra-Nya sendiri.

Dengan menerima dan hidup bersatu dengan Tuhan Yesus kita menjadi anak-anak Allah melalui baptisan. Nah, bagi orang Yahudi pada waktu itu, ajaran ini mengejutkan. Mengapa? Ya, mana bisa manusia membayangkan diri diperanakkan Allah! Dan memang inilah kendala warta Yesus. Maka Ia disingkirkan oleh pemuka-pemuka agama Yahudi karena mengajarkan Allah itu Bapa, dan mengakui diri sebagai yang mengenal-Nya dari dekat. Bagi orang-orang saleh waktu itu semua ini terdengar sebagai ‘hujatan dan pelecehan’. Tetapi memang itulah warta Yesus. Ia menawarkan citra yang baru dari Allah. Yang Mahakuasa bisa didekati. Berada di dekat-Nya berarti ikutserta dalam Kerajaan-Nya.

Para murid Yesus yang pertama ialah orang-orang yang berminat akan warta ini walau belum sepenuhnya mengerti. Baru nanti setelah semuanya terpenuhi, yakni setelah Allah yang dipanggil Bapa oleh Yesus itu membangkitkannya dan memberinya hidup baru, dan gagasan bahwa Allah ialah Bapa yang Maharahim baru menjadi nyata bagi mereka. Yesus berani mengorbankan diri demi warta ini. Ia mempertaruhkan diri. Dan Dia benar. Para pengikut Yesus, kita semua, umat beriman, dipanggil ke arah hidup kekal dan lebih jauh lagi, untuk menjadi orang-orang merdeka dari kekuatan yang mengekang, dari rasa waswas dan terancam. Kekuatan yang mengekang itu amat nyata yaitu: ketakadilan, pembodohan, kemiskinan, perkosaan hak-hak azasi, kekerasan. Sadari dan ketahuilah bahwa kebalikan dari itu semua adalah kemerdekaan hidup dalam Kerajaan Allah. Dan orang beriman diajak ikut serta ke sana.***

 

DOA:

Ya Allah Tritunggal mahakudus, kami percaya Engkau selalu membimbing menuntun kami pada keselamatan. Engkau mendorong kami bukan sekedar tahu, bukan sekedar mengerti akan Kerajaan Allah tetapi Engkau sendirilah yang menuntun membimbing kami untuk masuk dalam Kerajaan Allah itu sehingga kami sungguh-sungguh percaya bahwa Engkaulah Allah Tritunggal yang menyelamatkan kami. Amin.

Semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Posted on Leave a comment

MEDITASI KESEHATAN #3

Melatih Kesadaran

 

Berjagajagalah dan berdoalahsupaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaanroh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Matius 26:41 

 

Allah tiada henti-hentinya menyelenggarakan segala yang diperlukan untuk kehidupan manusia. Penyelenggaraan-Nya merangkul semua hidup. Ia memberi hidup dan gerak menuju pada keserasian. Segala-galanya baik di tangan kuasa-Nya.

Sayangnya, kita sering kurang atau tidak menyadari Penyelenggaraan Ilahi itu. Ketika kita sakit atau mengalami suatu masalah yang tidak mengenakkan, baru di situlah kita sadar bahwa sesuatu itu berharga dan betapa kita membutuhkannya. Saat sakit pernapasan, misalnya, barulah kita sadar betapa berharganya udara atau oksigen itu. Padahal, setiap hari kita menghirupnya, diberi hidup olehnya, secara gratis.

Kesadaran sangat diperlukan oleh setiap orang dalam menjalani kehidupan. Kesadaran membantu manusia untuk mengenali dirinya sendiri dan penciptanya. Meskipun menjadi salah satu aspek penting dalam diri manusia, tidak semua orang dapat menciptakan kesadaran dengan penuh dan optimal. Bahkan pada saat tertentu orang bisa kehilangan kesadaran.

Detail-detail kesadaran seperti apa saja yang perlu kita latih melalui meditasi? Lalu, bagaimana kita melatih kesadaran itu secara berkesinambungan? Bagaimana mengembalikan konsentrasi ketika meditasi kita lari dari fokus dan melantur?

 

 

Dalam video ini, Br. Yohanes Yuwono SCJ akan membantu kita bagaimana mempraktikkan latihan-latihan tersebut dalam sebuah meditasi. Selamat menikmati setiap alur latihan seri Meditasi Kesehatan ini bersama Bruder.

Salam hening, tenang, damai, dan sukacita!

 

Posted on Leave a comment

SABDA YANG MENGINSPIRASI

Makna Hati dalam Kitab Suci

 

Dalam hati manusia terdapat virus kejahatan. Semua kejahatan timbulnya dari hati. Itulah yang membuat orang najis. Supaya hatinya bisa memunculkan yang indah dan baik dari Allah, manusia membutuhkan terang Allah.

 

Dari sisi manusia, istilah “hati” mau mengungkapkan inti terdalam dari pribadi seseorang. Dari sisi Allah, kehendak-Nya untuk membantu dan menyelamatkan manusia dengan penuh belas kasih itu diungkapkan dengan istilah kunci “hati”.

Lalu, bagaimana Hati Kudus Yesus dimengerti dalam konteks pemahaman biblis tersebut? Bagaimana kita bisa mengenal Hati Tuhan, inti jati diri-Nya, Cinta-Nya, yang selalu terbuka bagi manusia itu?

Dosen Kitab Suci di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi St. Yohanes Pematangsiantar, Sumatera Utara, yang  sedang menjalani studi doktoral di Universitas Urbaniana Roma, Rm FX Marmidi SCJ akan membantu kita dalam menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan terang Sabda Allah.

 

 

Posted on Leave a comment

PERSPEKTIF TRAVELER DALAM MENJALANI HIDUP

 

 

 

 

 

 

“Perspektif seorang traveler di buku ini ingin memantik optimisme dan keterbukaan dalam melihat dan merespons segala situasi yang hadir dalam hidup.”

 

 

 

Pebijak mengibaratkan hidup ini seperti sebuah roda. Ada kala kita berada di atas. Namun, kadang kita berada di bawah. Penyair menuliskan, kalau hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka. Nah, jika Anda mau terus-terusan hidup bahagia, saya sarankan Anda untuk membaca buku karangan Romo Ignatius Elis Handoko SCJ ini.

“Buku ini menyajikan sudut pandang dalam melihat hidup bukan sebagai gerutuan. Hidup itu singkat, pikniklah! Hidup itu perjalanan, belajarlah! Hidup itu tak tentu, nikmatilah. Hidup itu asyik, maknailah! Hidup itu indah, rayakanlah!” kata Romo Elis, tentang buku keempat belasnya ini.

Romo Elis, yang karena tugas perutusannya, mau tidak mau harus melancong ke berbagai pulau. Berbagai kota besar hingga pelosok dusun yang belum terjamah orang banyak harus disinggahinya.

“Apakah tidak capek pergi ke sana ke mari? Di sinilah awal mula kesadaran tentang ‘Hidup Itu Singkat, Pikniklah’,” jelasnya.

Kata negatif capek, kemudian di balik menjadi syukur. Romo Elis merasa beruntung bisa keluar dari ‘tempurung kantor’. Pesiar ke berbagai tempat Nusantara dilakukan dengan cinta dan gembira. Menemukan jati dirinya, itu bonus yang boleh dia timba.

“Sebagai seorang yang senang menulis, saya selalu sadar bahwa yang membuat sesuatu berbeda dan bisa memberi makna lebih ialah sudut pandang. Dalam hal ini, saya memilih sudut pandang seorang traveler untuk melihat realitas yang ada,” pungkasnya.

 

Berjalan kaki 12 hari dalam rangka ziarah Camino de Santiago, Spanyol, adalah satu dari puluhan kisah yang disajikan dalam kalimat-kalimat tutur nan ringan di buku Hidup Itu Singkat, Pikniklah. Napak tilas ini membantu kita untuk memetik makna dari setiap kisah kecil, yang terjadi dalam perjalanan hidup.

“Ilustrasinya, bisa saja tiga orang mengalami peristiwa yang sama, tapi respons terhadapnya tak selalu serupa. Ada yang tertawa, mengerutuk, putus asa, atau biasa-biasa saja. Namun, ada juga yang merasa diberi kesempatan berharga untuk belajar mengenali diri, diteguhkan, dilecut motivasinya, dan menjadikannya jalan menuju sukses. Perspektif seorang traveler di buku ini ingin memantik optimisme dan keterbukaan dalam melihat dan merespons segala situasi yang hadir dalam hidup,” tutur Romo lulusan ilmu komunikasi Universitas Gregoriana, Roma ini.

Penasaran dengan isi dalam buku ini? Atau, apakah Anda ingin lebih positif dalam memaknai tapak hidup ini? Apapun keinginan baik Anda, saya sarankan agar  membaca buku Hidup Itu Singkat, Pikniklah. **

Kristiana Rinawati