Posted on Leave a comment

PROMO SPESIAL

DEHONIAN DAY

 

 

Bulan Maret menjadi bulan istimewa bagi para Dehonian.

Pada bulan ini, kita merayakan pesta Kabar Sukacita, pesta Ecce Veniodan Ecce Ancilla, yang menjadi salah satu inti spiritualitas hidup para pengikut Pater Dehon itu.

Spesialnya lagi, pada bulan ini pula dirayakan hari ulang tahun kelahiran Pater Dehon, 14 Maret 1843. Pendiri Kongregasi SCJ yang lahir di La Cappelle, Prancis, ini pun dibaptis bulan Maret, tepatnya pada Hari Raya Maria menerima kabar sukacita, 24 Maret.

 

 

Nah, pada hari ultah ke-178 ini, Rumah Dehonian memberikan promo spesial, diskon hingga 45%. Apa saja itu?

Silakan kunjungi akun Shoppe, Tokopedia, website, Facebook, dan Instagram Rumah Dehonian.

 

Jika Anda tertarik, silakan menghubungi admin Rumah Dehonian: 0821-7934-6007.

 

Posted on Leave a comment

BIA ONLINE

Maria Diangkat ke Surga

 

Hai Adik-adik bina iman… Sehat-sehat, kan?
Kita berjumpa lagi untuk kegiatan bina iman kita, khususnya pada hari Minggu 16 Agustus 2020. Tahu kan Adik-adik kalau hari Minggu nanti kita merayakan Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga?
Nah, pada bina iman anak online kali ini kita akan ditemani tokoh imut yang mungkin Adik-adik belum kenal. Siapa dia? Makanya, ikutan, yaaa… Jangan lupa, dapatkan juga bingkisan dari kakak-kakak pendamping!

 

Untuk bergabung dengan BIA Online ini, silakan Adik-adik ikuti di kanal YouTube Rumah Dehonian dan Paroki Sanfrades Palembang. Video akan siap mulai Sabtu sore, 15 Agustus.
Supaya BIA Online kita hari Minggu nanti bisa berjalan baik dan lancar, yuk kita siapkan beberapa hal yang perlu.

 

LAGU-LAGU

Dengar Dia Panggil Nama Saya

Dengar Dia panggil nama saya
Dengar Dia panggil namamu…
Dengar Dia panggil nama saya
Juga Dia panggil namamu…
2x

Ooo giranglah… ooo giranglah
Yesus amat cinta pada saya
Ooo giranglah

Kujawab, ya ya ya
Kujawab, ya ya ya
Kujawab, ya Tuhan
Kujawab, ya Tuhan
Ku jawab, ya ya ya

Firman Tuhan Di Hatiku

Kubuka Alkitab lalu kubaca
Kubuka Alkitab lalu kubaca
Firman Tuhan ada di hatiku
Ada di langkahku
Ada di hidupku

Dan terus bertumbuh sirami jiwaku
Berbuah… berbuah…
Berbuah… berbuah…
Berbuah… berbuah…
Berbuah… berbuah…
Uuuuu…

Kudaki Gunung yang Tinggi

Kudaki daki daki daki gunung yang tinggi
Kuturun turun turun turun lembah yang dalam
Kumelintasi padang rumput hijau terbentang
Yesus besertaku

Kuterbang terbang terbang terbang luas angkasa
Kuselam selam selam selam dalam samudera
Kudayung dayung dayung dayung perahu di sungai
Yesus besertaku

Di kanan Kau ada… Di kiri Kau ada…
Di atas dan di bawah Kau ada…
Di suka Kau ada… Di duka pun Kau ada…
Karena Engkau Yesusku

AKTIVITAS-PRAKARYA
Pola gambar Maria bisa adik-adik download di sini: POLA GAMBAR MARIA.

Alat dan bahan:
 hasil print out gambar Maria
 1 buah cup air mineral
 pensil warna
 lem
 spidol
 gunting
 pita kecil

 

Oke, Adik-adik… selamat belajar. Salam sehat dan ceria.
Sampai jumpa pada hari Minggu nanti.
Tuhan memberkati.

Posted on Leave a comment

BIA ONLINE MINGGU BIASA XVI

Gandum dan Ilalang

 

Hai adik-adik, gimana kabar kalian? Ngomong-ngomong, kalian sudah siap bergembira lagi dalam acara bina iman anak (BIA) pada hari Minggu depan, kan!

Pada BIA Online hari Minggu, 19 Juli 2020, adik-adik akan didampingi oleh Romo Arko SCJ dan tim BIAK dari Paroki Sanfrades, Palembang.

Video BIA Online Minggu Biasa XVI ini bisa adik-adik akses di kanal YouTube Rumah Dehonian dan Paroki Sanfrades Palembang mulai pada Sabtu sore (18 Juli).

Agar proses BIA Online kita nanti bisa berjalan dengan baik dan lancar, yuk kita siapin beberapa hal berikut ini:

 

Injil Mat 13:24-30

LAGU-LAGU:

Aku Diberkati

Aku diberkati…
Sepanjang hidup ku diberkati
Mulai dari bangun pagi, siang berganti malam
Aku diberkati

Kakek-kakek…, Nenek-nenek…
Tante-tante…, Om-om…
Pemudanya…, pemudinya…
Semua diberkati Tuhan

Bapak-bapak…, Ibu…ibu…
Romo…, Bruder…, Suster…
Bapak Uskup…, Bapak Paus…,
Semua diberkati Tuhan
Semua diberkati Tuhan.

Alkitab

Alkitab…, Alkitab…
Kusuka mendengar ceritanya indah
Alkitab…, Alkitab…
Kusiap mendengar cerita Alkitab 

Aku Bangga Jadi Anak Katolik

Aku bangga jadi anak katolik
Penuh kasih… berdoa untuk semua
Penuh kasih… berderma untuk semua
Kurban kesaksian akan kulakukan

Bangga… bangga… jadi anak katolik
Bangga… bangga… jadi anak katolik
Bangga… bangga… jadi anak katolik
Bangga dan bahagia jadi anak katolik

 

Bahan Games
# 25 buah cotton bud
# 25 buah korek api atau tusuk gigi

Bahan Aktivitas

  • Pola gambar gandum dan ilalang (bisa di-download di sini  POLA)
  • Siapkan 3 lembar kertas kambing
  • Pensil warna
  • Lem
  • Gunting

 

 

 

Sampai jumpa, adik-adik.
Terima kasih
Tuhan memberkati!

Posted on Leave a comment

UNDIAN BINGKISAN BIA ONLINE BERSAMA RUMAH DEHONIAN

 

Hi Adik-adik, salam sehat, ya…

Bagaimana  kegiatan bina iman hari Minggu kemarin? Pasti seru, ya…

Rumah Dehonian mengucapkan terima kasih atas partisipasi Adik-adik dalam kegiatan tersebut. Terima kasih pula untuk kalian yang sudah mengirim foto-foto keren dengan hasil prakarya baling-baling tritunggal.

Nah, kami akan mengumumkan nama-nama yang beruntung mendapatkan bingkisan dari Rumah Dehonian. Untuk kalian yang belum beruntung, nanti ikuti lagi BIA Online bersama Rumah Dehonian, ya…

Mereka yang mendapat undian bingkisan BIA Online 7 Juni 2020 ialah:

  • ELISABETH KIRANA AYUNINGTYAS, Paroki St Pius X Gisting: buku Asyik Bersama Yesus
  • ANGELO DEHON, Paroki St Petrus Kenten, Palembang: buku Katakan dengan Cerita
  • FRANSISKUS EGI WIDYANATA, Paroki St Teresia Jambi: kaus Avanger
  • MARCELIA SIHALOHO (Argamakmur), Paroki Yohanes Pemandi Bengkulu: buku Celoteh Paus Fransiskus
  • GABRIELLO HASIOLAN JONATHAN, Paroki St Petrus dan Paulus Baturaja: buku Doa Anak & Remaja
  • DAMARA, Paroki St Fransiskus de Sales, Palembang: buku Celoteh Paus Fransiskus

 

Untuk kalian yang mendapatkan undian ini, silakan menghubungi admin Rumah Dehonian 0821-7934-6007.

Terima kasih, Adik-adik…

Sampai jumpa lagi pada BIA Online selanjutnya!

Salam misioner!

Posted on Leave a comment

BINA IMAN ANAK HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Tritunggal, Allah yang Mengasihi Anak-anak

 

Hai adik-adik, kalian sudah siap bergembira lagi dalam acara bina iman anak (BIA) pada hari Minggu depan, kan!

Minggu, 7 Juni, merupakan hari raya Tritunggal Mahakudus. BIA Online kita pada kesempatan ini akan didampingi oleh Romo Elis dan tim BIAK dari Paroki Sanfrades, Palembang.

Video BIA Online Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, bisa adik-adik akses di kanal YouTube Rumah Dehonian mulai pada Sabtu sore (6 Juni).

Agar BIA kita nanti bisa berjalan lancar, mari adik-adik, kita siapkan beberapa hal:

1. BACAAN INJIL: Yohanes 3:16-18

2. LAGU-LAGU

Kasih-Nya Seperti Sungai

Kasih-Nya seperti sungai
Kasih-Nya seperti sungai
Kasih-Nya seperti sungai
Di hatiku…

Mengalir di waktu susah
Mengalir di waktu senang
Kasih-Nya seperti sungai
Di hatiku…

***

Baca Kitab Suci

Baca Kitab Suci
Doa tiap hari
Doa tiap hari
Doa tiap hari

Baca Kitab Suci
Doa tiap hari kalau mau tumbuh
Kalau mau tumbuh
Kalau mau tumbuh

Glory Halleluya!
Baca Kitab Suci
Doa tiap hari kalau mau tumbuh

***

Pekerja Kristus

Telah lama kucari-cari
Langkah hidup yang lebih pasti
Hidup penuh kemenangan setiap hari
Suatu saat, Yesus panggil ku ‘tuk jadi pekerja
Melayani jadi saksi bagi-Nya

Bukan sembarang pekerja aaa…
Allahku luar biasa aaa…
Dia Raja s’gala Raja
memintaku menuai ladang-Nya

Hanya anug’rah semata aaa…
Aku dipakai oleh-Nya aaa…
Sungguh amat istimewa
‘tuk jadi Pekerja Kristus yang mulia.

***

 

 

  1. AKTIVITAS (PRAKARYA): Baling-baling Tritunggal

Proses kalian dalam membuat baling-baling Tritunggal ini merupakan wujud adik-adik belajar dan memahami apa itu Allah Tritunggal Mahakudus: satu Allah tiga pribadi; Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Bahan-bahan:

  • Pola gambar (silakan download di sini: POLA)
  • Pensil warna
  • Cangkir plastik
  • Stick
  • Jarum pentul
  • Lem kertas
  • Gunting

Untuk tutorial cara membuat baling-baling tritunggal ini, kalian bisa mengikuti petunjuk pada video BIA hari Minggu nanti. Jangan lupa, kalian juga bisa membuat sendiri sekreatif mungkin.

  1. UNDIAN BINGKISAN

Pada BIA Online kali ini, Rumah Dehonnian akan menyediakan bingkisan untuk adik-adik. Caranya bagaimana?

 

  1. Buatlah fotomu dengan memegang hasil tugas aktivitas (prakarya) yang kalian buat. Bikin yang keren, ya…
  2. Nah, posting foto tersebut di medsos (boleh lho kalian pakai akun medsos milik kakak atau papa-mamamu).
  3. Berilah caption yang menarik sebagai pesan yang kalian dapatkan dari BIA online 7 Juni.
  4. Ketika memposting foto tersebut, jangan lupa TAG ke Facebok dan Instagram Rumah Dehonian, ya…

Foto-foto kalian nanti akan diundi. Empat anak yang beruntung akan mendapat bingkisan menarik dari Rumah Dehonian.

Pengumuman undian bingkisan bisa kalian temukan di website www.rumahdehonian.com pada hari Senin, 8 Juni 2020, pukul 10.00 WIB.

Sampai jumpa pada hari Minggu 7 Juni, adik-adik.

Tuhan memberkati.

 

 

 

 

Posted on Leave a comment

BINA IMAN ANAK HARI RAYA PENTAKOSTA

Roh Kudus Menghibur dan Mengutus Anak-anak

 

Hallooo…, adik-adik… Mari kita siapkan beberapa hal yang kita perlukan untuk mengikuti Bina Iman Anak (BIA) pada Hari Raya Pentakosta, Minggu 31 Mei 2020 nanti. Video BIA Online Hari Raya Pentakosta ini, bisa adik-adik akses di kanal YouTube Rumah Dehonian mulai pada Sabtu sore.

 

 

Pada BIA Online Hari Raya Pentakosta nanti kita akan didampingi oleh Romo Elis dan tim dari Sekami Paroki Santo Lukas Samarinda.

Nah, berikut beberapa hal yang akan kita gunakan untuk BIA Online tersebut:

 

  1. Lagu-lagu

 

MATAHARI BERSINAR TERANG

Matahari bersinar t’rang
Burung berkicaulah senang

Harum semerbaklah
bunga di padang
Semua mengajak
kepada kita

‘Kan memuji nama
Tuhan Yang Esa
‘Kan memuji nama
Tuhan Yang Esa

***

ALKITAB BUKU TERINDAH

Hai kawan tahukah kamu
Sebuah buku yang indah dan menakjubkan
Buku yang berisi kebenaran
Alkitab itulah namanya

Alkitab buku terindah, surat cinta dari Tuhan
Untukku dan untukmu dan semua orang

Alkitab buku terindah, britakan keslamatan
Karya Tuhan Yesus yang mulia
Karya Tuhan Yesus yang mulia

***

KU MENANG KU MENANG

Ku menang, ku menang
Bersama Yesus Tuhan
Ku menang, ku menang
Di dalam peperangan
Ku menang, ku menang
Atas segala setan
Haleluya haleluya ku menang

Haleluya Dia bangkit
Haleluya Dia hidup
Haleluya Dia naik
Rohul Kudus turun

***

BINA IMAN SELESAI

Bina iman selesai

kami akan pulang
Bye… bye… bye …

Tuhan memberkati.

Hai kawan-kawanku, selamat berpisah!
Kawan yang terkasih, sampai jumpa lagi!

***

  1. Aktivitas (prakarya): membuat ikat kepala Roh Kudus

Proses kreatif ini semacam menjadi doa bagi adik-adik. Yakni, doa untuk memohon Roh Kudus dicurahkan bagi adik-adik. Agar Roh Kudus itu mengajari, membimbing, menghibur, dan memberikan berkat-berkat khusus bagi adik-adik.

Untuk membuat kreativitas ini, ada beberapa bahan yang diperlukan:

  • Gambar pola ikat kepala Roh Kudus (klik dan download pola di siniIKAT KEPALA RK)
  • Gunting
  • Pensil warna
  • Karet gelang

Jika mau, adik-adik juga bisa menggambar sendiri pola gambar Roh Kudus.

Untuk tutorial cara membuat ikat kepala Roh Kudus ini, bisa adik-adik ikuti di video.

Sampai jumpa pada hari Minggu, 31 Mei 2020.

Tuhan memberkati.

 

 

Posted on Leave a comment

Beranda Rohani:

RUANG NYAMAN BERBAGI INSPIRASI

 

Rumah Dehonian ingin hadir dan berjalan bersama umat dengan memberi perspektif hidup yang bersumber pada kedalaman kasih Allah. Roh yang menggerakkan kehendak tersebut ialah semangat yang menjiwainya, yakni “mencintai dalam segala”.

 

Seiring berjalannya waktu, Rumah Dehonian hadir melalui penerbitan buku-buku dan produk-produk rohani lainnya. Layanan tersebut hadir baik secara offline maupun online ke tengah-tengah umat demi menopang kebutuhan umat dalam praktik hidup rohani sehari-hari. Di proses inilah, Rumah Dehonian juga ingin belajar dan berziarah bersama umat semesta.

Sejalan dengan layanan tersebut, kini Rumah Dehonian mendatangi umat dengan bentuk-bentuk siraman rohani, yang disebarkan melalui kanal-kanal media sosial Rumah Dehonian (Facebook, Instagram, YouTube). Sementara di website ini, media siraman rohani tersebut kami beri nama BERANDA ROHANI.  Bentuk-bentuk layanannya berupa artikel, renungan, quotes, multimedia, dan lain sebagainya.

Penamaan “beranda” mengikuti filosofi “rumah” yang dipakai oleh Penerbit dan Toko Rohani Rumah Dehonian. Rumah yang ramah dan nyaman, idealnya memiliki beranda.

Beranda merupakan ruang beratap yang terbuka (tidak berdinding) di bagian samping atau depan rumah. Ruang terbuka itu biasanya dipakai untuk tempat duduk santai, bincang-bincang sambil menikmati suguhan ringan.

Demikian pula Beranda Rohani di website ini, sebuah ruang terbuka yang nyaman untuk berbagi inspirasi yang bersumber pada kedalaman kasih Allah. Di sinilah kita diundang bertutur tentang belas kasih Allah dalam hidup sehari-hari. Di ruang inilah, sebagai sesama umat Allah, kita mau belajar untuk menerima, menghargai, dan mencintai satu dengan yang lain secara apa adanya.

Rumah Dehonian sangat berharap, ke depannya Beranda Rohani ini bisa berkembang secara lebih baik dan profesional sehingga sungguh-sungguh bisa menjadi ruang yang nyaman untuk saling berbagi inspirasi kehidupan di antara kita semua.

Mari kita sama-sama belajar mencinta Dia dalam segala corak hidup yang kita jalani. Biarlah Dia semakin besar dalam setiap apa yang kita hidupi.

 

Posted on Leave a comment

PROSES SANG GEMBALA MENUJU ALLAH

Ada ketertarikan besar Monsinyur mengenai siapa itu Allah. Di samping rahmat Allah begitu yang besar, ia juga menunjukkan kesungguhan yang besar dalam mencapai Allah.

 

Buku The Power of Menyerah dibedah di Aula SD Xaverius 1 Jambi, Minggu sore (2/12). Dr. Hendro Setiawan dan Dr. Yulius Sunardi SCJ menjadi penutur dalam acara yang dimoderatori Romo Wahyu Tri Haryadi SCJ ini. Belajar adalah kata kunci penuturan sore itu.

Analogi mendaki gunung kerinci dipakai Romo Sunardi membuka serangkaian pemaparannya. “Bayangkan kita mau menuju ke puncak Gunung Kerinci. Bayangkan kita akan berada di puncaknya, yang belum pernah dicapai orang,” ajak Romo Sunardi, yang juga seorang psikolog.

Jika di puncak Gunung Kerinci terdapat sesuatu yang menjadi keinginan masing-masing orang, maka hasrat untuk sampai ke puncak akan semakin besar. Keberanian akan tercipta.

“Dan menuju ke puncak Gunung Kerinci, tentu butuh tenaga ekstra. Butuh waktu lama, karena banyak tantangannya. Buku The Power of Menyerah merupakan proses peziarahan Monsinyur menuju Allah,” lanjut imam yang saat ini berkarya di Skolastikat SCJ, Yogyakarta ini.

Sama seperti puncak Gunung Kerinci, yang ada sesuatu sehingga menarik manusia untuk mendakinya, begitu pun proses hidup Mgr Sudarso yang dibukukan dalam biografi The Power of Menyerah.  “Di situ ada ketertarikan besar Monsinyur mengenai siapa itu Allah. Di samping rahmat Allah begitu yang besar, beliau juga menunjukkan kesungguhan yang besar dalam mencapai Allah,” papar Romo Sunardi.

Jalan kehidupan selalu meninggalkan jejak langkah. Jejak langkah suatu perbuatan, membiasakan manusia untuk melakukannya kembali. Ini seolah-olah otomatis menurut Romo Sunardi.

“Kecanduan internet dan gadget meninggalkan jejak dan menciptakan jalan menuju ke sana. Secara otomatis yang terpikir adalah gadget. Mengapa? Karena ada sistem memory itu,” kata Romo Sunardi.

Keutamaan

Mgr Sudarso SCJ juga mengalami otomatisasi yang sama, hanya jalannya yang berbeda. “Monsinyur adalah sosok yang rendah hati. Dia dekat dengan umat. Saya merasakan kedekatan itu. Ketika bertemu, selalu ada salam hangat,” tandas Fransiskus Xaverius Sutarno, Ketua Wilayah Bunda Maria, Paroki Santa Teresia, yang juga hadir dalam bedah buku karangan Romo Ignatius Elis Handoko SCJ itu.

Sikap rendah hati, sederhana, sukacita, dan reflektif, yang dirangkum menjadi keutamaan oleh Romo Sunardi, ternyata tidak begitu saja ada. Keutamaan ini dibentuk sedari kecil sejak dalam keluarga, hingga sekarang ini.

“Pada awalnya, Monsinyur tidak memiliki apapun juga tentang yang namanya kerendahan hati, kesederhanaan, dan lain-lain. Semuanya dimulai dari nol. Monsinyur belajar menciptakan jejak langkah menuju puncak Allah,” tegas Romo Sunardi.

Berjalan menuju Allah tidak semata-mata diarungi Uskup Agung Sudarso sendirian. Dia belajar dari orang-orang sekitarnya. “Karena ini merupakan jalan, pasti beliau belajar dari orang-orang sekitarnya. Untuk memiliki jalan keutamaan ini, perlu suatu bentuk latihan yang terus-menerus,” tandas Romo Sunardi.

 

Makna Menyerah

Menuju puncak Allah harus melewati jalan-Nya. Uskup Sudarso melewati jalan yang dinamai menyerah. “Menyerah seperti apa? Ada tiga kisah yang diceritakan dalam proses menyerah itu. Pertama, ketika di seminari. Beliau ingin masuk tarekat di Jawa, tapi romo magister ingin beliau masuk tarekat di Palembang. Itu pergulatan yang pertama. Sempat mau keluar, tapi akhirnya beliau menyerahkan diri,” kata Hendro.

Penyerahan di awal menjadikan orang-orang memanggil Sudarso muda dengan sebutan Romo. Bahkan dia sempat menjadi Provinsial Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) Indonesia. Namun, dia ternyata harus menyerah lagi tatkala ditunjuk oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II menjadi seorang uskup.

“Dalam buku dikisahkan, Monsinyur sempat lari 3 bulan. Berat badannya turun 5 kilogram, karena pergulatan. Kemudian beliau menyerah lagi. Jadi sebetulnya menyerahnya Monsinyur adalah menyerah kepada Tuhan,” jelas Hendro.

Mgr Sudarso juga merupakan seorang psikolog. Berbekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dia mengolah stres tatkala memimpin sebuah Gereja Keuskupan. Makanan pun tidak sembarang masuk ke dalam tubuhnya. Namun, penyakit strok menimpanya.

“Mau mengambil sesuatu pun tidak bisa, apalagi menulis. Tanda tangan tidak bisa. Saya melihat strok yang dialami Monsinyur saat itu cukup berat. Jalan sangat sulit. Beliau menyerah,” kata Hendro.

Kata menyerah memang sering muncul dalam pembicaraan Uskup Sudarso di berbagai kesempatan. Misalnya saja, homili ketika Ekaristi. Menyerah, menurut Mgr Sudarso, merupakan ungkapan iman. Seorang beriman, mesti menyerah. Menyerah seperti apa?

“Menyerah yang tidak pasif, tetapi aktif,” kata Mgr Sudarso.

Pasca strok, Sang Gembala belajar lagi. “Kaki yang satu belajar dengan kaki yang lain, tangan yang satu belajar dengan yang lain,” pungkas Hendro.

Buku The Power of Menyerah menggunakan bahasa bertutur yang sangat ringan. Anda akan diajak mendalami kisah Mgr Sudarso SCJ bersama keluarga dari kecilnya, hingga saat ini. Kisah itu akan membawa dampak positif dalam hidup Anda. **

Kristiana Rinawati

Posted on Leave a comment

MENJADI PEMENANG KEHIDUPAN

Seseorang disebut pemenang, jika menjalani hidup tanpa pernah menyerah pada realitas yang mengingkari perjuangan dan pengorbanan. Dia disebut pemenang, jika tetap setia memilih Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup.

 

Komsos Paroki St Stefanus Cilandak bekerja sama dengan Penerbit Rumah Dehonian mengadakan bedah buku Kisah Sang Pemenang di Gedung Leo Dehon, Cilandak, 3 November 2018. Buku garapan Agustinus Guntoro SCJ ini merupakan biografi Thomas Martin Fix SCJ. Hadir sebagai pembicara acara tersebut ialah Romo FA Purwanto SCJ dan Romo YG Marwoto SCJ. Panitia kegiatan ini mempersembahkan hasil penjualan buku biografi untuk pendidikan calon SCJ, Novisiat St Yohanes Gisting.

Membuka diskusi, moderator Romo Elis Handoko SCJ menyebut tiga langkah bedah buku tersebut, yaitu: membaca, mendalami, dan meneladani. Dijelaskan, membaca melalui video pendek berisi cuplikan isi buku, mendalami pesan melalui seminar, dan meneladani melalui kesaksian-kesaksian sekitar keutamaan Tom Fix.

Kegagalan Seorang Tom Fix

Selaku pembicara pokok, Romo Purwanto menyebut beberapa poin yang terasa mengagetkan. Menurutnya, sebenarnya Tom Fix bisa dikatakan sebagai seorang Amerika yang “gagal”. Alasannya, Tom Fix lahir pada 1933, saat Amerika dalam kondisi sedang baik-baiknya. Ekonomi berlimpah. Namun, dia memilih jalan menjadi imam. Teologi yang berkembang pun teologi kemakmuran. Di masa anak-anak sampai remaja, sebenarnya Tom Fix dapat ikut menikmati. Dia “gagal” karena lebih memilih tugas misi, yang jauh dari negaranya. Dia lebih memilih jalan hidup yang tidak umum, yang tidak sesuai dengan mainstream zamannya.

Selain “gagal”, demikian Romo Purwanto, Tom Fix dinilai sebagai pribadi yang “naif”. Ketika seorang peserta bedah buku menanyakan makna “naif”, narasumber menyatakan bahwa sesungguhnya, naif itu bodoh, suatu perbuatan yang tidak masuk di akal. Namun demikian, “naif”-nya seorang Tom Fix ini lebih mengarah pada gaya hidup yang penuh kesederhanaan dan bersahaja. Ketika banyak pilihan yang menjanjikan, Tom Fix malah lebih memilih panggilan sebagai biarawan dan imamat, yang bersedia hidup miskin, murni, dan taat.

Banyak orang menggambarkan Tom Fix sebagai pribadi yang tulus, bersih, tidak pernah mengeluh, dan selalu melihat orang lain dari sisi positifnya. Lebih lanjut, ada yang mengatakan bahwa Tom Fix adalah teladan dalam segala hal, terutama dalam hal kesetiaan hidup, cinta Ekaristi, dan semangat doa.

Tetapi bagaimana Tom Fix bisa sampai kepada penghayatan yang seperti itu, buku akan mengajak kita untuk menelusuri perjuangannya, yang ternyata tidak selalu mulus dan mudah. Menutup ulasannya, pembicara meyakini bahwa Tom Fix, dengan segala keteladannya, telah membuka “pintu” surga bagi kita.

 

Mozaik Kesaksian

Pada tahapan meneledani, Romo Marwoto bercerita bahwa pada saat ia masih menjabat pastor Paroki Cilandak, Tom Fix adalah pastor rekan. Suatu ketika Tom Fix berkata, “Ada seorang yang butuh bantuan. Saudaranya dirawat di Rumah Sakit Fatmawati. Dia perlu dana sekitar dua juta. Saya hanya punya dua ratus ribu saja.”

Romo Marwoto mencium gelagat tidak enak. Ia meminta seseorang untuk mengklarifikasikan kebenaran berita teserbut ke Rumah Sakit. Dan benar dugaannya, nama seperti yang disebut oleh Tom Fix tidak ada. Lalu ia menyampaikan kepada Tom Fix bahwa dia kena tipu. “Lupakan saja dua ratus ribu yang pernah diberikan, tapi tidak perlu pikir kekurangan yang dia minta.”

Tom Fix masih bertanya, “Bagaimana kalau yang dikatakan benar?”

Ia tetap menggeleng tidak mau memberi. Tom Fix pun menjumpai orang yang meminta bantuan dana tersebut, sambil tersenyum berkata, “Saya hanya bisa membantumu dua ratus ribu. Pastor Paroki menolak memberikan sisa yang kamu perlukan!”

Mendengar kisah tersebut, hadirin tersenyum. Di balik kisah tersebut, Romo Marwoto hendak mengatakan bahwa rendah hati menjadi kata kunci terpenting dalam hidup Tom Fix. Ia juga pribadi yang murah senyum dan hidup suci.

Kesaksian lain datang dari Ibu Toto. Katanya, hal yang paling mengesankan adalah saat Tom Fix hadir pada malam duka kematian orangtuanya. Waktu itu, belum lama ia mendengar bahwa orangtua Tom Fix di Amerika juga dipanggil Tuhan. Maka bertanyalah ia, “Tidakkah Pastor rindu untuk pulang? Memberi penghormatan kepada almarhum?”  Saat itu Tom Fix menjawab, “Seperti halnya, saya melayani orangtua kalian. Di Amerika akan ada orang lain yang melayani orangtua saya!”

Ungkapan Tom Fix ini menggambarkan betapa ia sungguh mempunyai iman yang dalam dan sangat percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Di sisi lain, totalitas pelayanan bagi umat tidak diragukan lagi, bahkan sampai harus mengorbankan diri untuk tidak memberikan waktu untuk keluarganya.

Sementara Ibu Maya mempunyai pengalaman lain yang diperoleh dari pengalaman berziarah bersama ke Tanah Suci. Sampai di Mesir banyak yang tidak bisa makan. Ibu Maya terkejut melihat Tom Fix tetap makan dengan enaknya. Dia bertanya, “Suka, ya Pastor? Cocok seleranya?”

Jawaban Tom Fix membuktikan kesahajaannya, “Tadi kita sudah berdoa bersama dan mohon berkat. Masak setelah diberkati, makanan tidak di makan, malah dibuang! Kan sayang.”

Kesaksian berikutnya ditampilkan oleh beberapa imam SCJ. Mereka sama-sama memberikan apresiasi tentang kesederhanaan dan kesucian hidup Tom Fix.

Romo Titus Waris Widodo SCJ mengawali kesaksiannya dengan gurauan, “Sekarang ini saya bertanya-tanya, kelak kalau saya sendiri mati, kira-kira apa yang akan ditulis mengenai diri saya oleh Pastor Elis, ya?” Yang ditanya dengan sigap langsung menjawab, “Yang mati saya duluan, Pastor!”

Di balik gurauan itu, hendak disampaikan bahwa pengalaman hidup Tom Fix sangatlah kaya dan luar biasa, sehingga ada banyak hal yang bisa ditulis dan direnungkan. Oleh karenanya, tantangan bagi SCJ lainnya, bukan supaya bisa ditulis, tetapi menghadirkan diri agar hidupnya mampu menginspirasi banyak orang untuk semakin dekat kepada Yesus, sebagai jalan, kebenaran, dan hidup.

Romo Suratno SCJ mengisahkan perjumpaannya dengan Tom Fix sejak ia masih kecil dan belum Katolik, lalu ketika di seminari hingga sudah menjadi imam. Dari semua pengalaman perjumpaan dengan Tom Fix, ia merasakan sentuhan yang mengesankan dari seorang imam yang kebapakan, murah hati, dan lurus hati seturut prinsip imannya.

Salah satu pengalaman Romo Kusmaryadi didapatinya ketika berkarya di India bersama Tom Fix. Dari kebersamaannya itu, Romo Kus mengatakan, “Siapa saja yang mengenal Tom Fix  pasti mengatakan hal yang sama. Ia merupakan seorang pribadi yang rendah hati dan mau merendahkan hatinya sampai ke paling dasar.”

 

Sang Pemenang

Dalam closing statement-nya, moderator bedah buku menutupnya dengan penekanan makna menjadi pemenang kehidupan. Bunyinya kira-kira demikian.

Menjadi pemenang kehidupan berarti setia bertekun di jalan kekudusan hidup sehari-hari, meski realitas tak senyaman yang diharapkan. Menang bukan berarti memiliki hidup tanpa gelap, sakit, gelisah, gagal, kecewa, atau mati.

Seseorang disebut pemenang, jika menjalani hidup tanpa pernah menyerah pada realitas yang mengingkari perjuangan dan pengorbanan. Dia disebut pemenang, jika tetap setia memilih Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Dialah si pemenang, yang menjelang garis finis berseru dalam iman, “Ke dalam tangan-Mu, ku serahkan hidupku!”

Dan inilah jalan kekudusan sehari-hari ala Tom Fix itu: Tersenyum, menyapa, menghargai, bersyukur, berdoa,… Lakukanlah hal-hal kecil sehari-hari itu dengan cinta dan kegembiraan yang besar. Niscaya hidupmu akan menjadi berkat bagi yang lain.**

Agus P Rahardjo

 

Posted on Leave a comment

RUMAH TANDA KERINDUAN UNTUK TINGGAL DEKAT BERSAMA UMAT

 

Jelang seabad melayani Gereja Nusantara, Kongregasi SCJ Indonesia mendirikan Rumah Dehonian. Inilah wujud lain kerasulan SCJ yang ingin terus bersama umat.

 

“DEHONIAN” sebenarnya merupakan sebutan bagi para anggota Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (Sacerdotum a Sacro Corde Jesu / SCJ). Ini merujuk pada nama sang pendiri, Pater Yohanes Leo Dehon.

Spiritualitas SCJ yang terbentuk dari cinta Allah dan pemulihan menggerakkan kongregasi ini untuk hadir di tengah umat dan masyarakat umum, termasuk di tengah arus zaman yang kian berkembang ini. Rumah Dehonian menjadi jawaban atas kehadiran SCJ.

Di Indonesia, para imam dan bruder SCJ berkarya di empat keuskupan, yaitu Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Tanjungkarang, Keuskupan Agung Jakarta, dan Keuskupan Timika. Memasuki usia satu abad berkarya di Indonesia, Kongregasi SCJ Indonesia mendirikan Rumah Dehonian yang terletak di Provinsialat SCJ, Palembang, Sumatera Selatan.

Peresmian Rumah Dehonian ini sendiri diadakan di Gedung Yayasan Xaverius, Palembang, Minggu, 16/9. Pastor Aloysius Gonzaga Yudistira SCJ dari Tim Rumah Dehonian menjelaskan, ini merupakan bentuk lain pelayanan SCJ.

Lewat rumah ini, SCJ ingin hadir di tengah umat. Ini merupakan bentuk lain pelayanan SCJ. “Kami ingin hadir dan berjalan bersama umat semesta dengan memberi perspektif hidup yang bersumber pada kedalaman kasih Allah,” tuturnya.

Rumah Dehonian nantinya akan menjadi sarana produksi baik media cetak seperti penerbitan buku-buku, media online, maupun multimedia. Produk lain rumah ini bisa berupa benda rohani dan suvenir Dehonian.

 

Provinsial SCJ Indonesia, Pastor Titus Waris Widodo SCJ mengatakan, melalui Rumah Dehonian, SCJ ingin menyapa umat di manapun di dunia ini. “Rumah Dehonian adalah tentang bagaimana kami hadir dengan cara yang mudah ditangkap dan dipahami lebih banyak umat baik didunia nyata maupun di dunia maya.

Ini adalah ruang ekspresi dalam mewujudkan kehendak untuk mencintai Allah dalam segala,” kata Pastor Titus. Peresmian Rumah Dehonian ini dihadiri oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, para imam, biarawan-biarawati dari beberapa kongregasi, seminaris, serta umat.

Sebelum peresmian Rumah Dehonian, diadakan pula peluncuran dan bedah buku berjudul The Power of Menyerah karya Pastor Elis Handoko, SCJ. Buku ini merupakan biografi Mgr Aloysius dan menjadi satu dari beberapa buku yang telah berhasil diterbitkan oleh Rumah Dehonian.

Pastor Elis mengatakan selama menjalankan tugasnya membantu Mgr Sudarso, ia menemukan empat keutamaan sang uskup, yaitu arif, bijaksana, berani, dan ugahari. “Dalam perjumpaan, saya melihat keutamaan-keutamaan itu. Sayang bila kisahnya berlalu begitu saja tanpa didokumentasikan,” ucap pastor yang juga ditunjuk sebagai direktur Rumah Dehonian ini.

Bedah buku ini menghadirkan pembicara Doktor Psikologis Klinis, Pastor Yulius Sunardi SCJ dan Hendro Setiawan yang merupakan seorang pengusaha, penulis, dan doktor filsafat. Pastor Yulius meninjau dari sisi psiko-rohani, sedangkan Hendro Setiawan menilik dari sudut pandang awam.

 

Hermina Wulohering

(seperti dimuat dalam hidupkatolik.com, 25/9/18)