Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
JAUH DI MATA, DEKAT DI DOA-RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 21 Mei 2023 – Rumah Dehonian

JAUH DI MATA, DEKAT DI DOA-RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 21 Mei 2023

JAUH DI MATA, DEKAT DI DOA-RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 21 Mei 2023

RENUNGAN HARI MINGGU PASKAH VI, Minggu 21 Mei 2023

JAUH DI MATA DEKAT DI DOA 

 

  • Minggu, 21 Mei 2023
  • Injil Yoh 17:1-11a
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“Kita punya keterbatasan; jarak dan waktu, bahkan kelemahan fisik, tetapi kita tetap berdaya untuk peduli pada sesama di dalam DOA.”

BACAAN INJIL

Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus menengadah ke langit dan berdoa ”Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka. Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu.”

RENUNGAN:

Ada ungkapan “Aku memelukmu dengan doaku.” Ungkapan ini sering digunakan oleh orang-orang yang ingin memberikan dukungan kepada orang lain, tetapi terhalang oleh jarak. Bayangkan, kita mendengar sahabat kita mengalami musibah. Kita tahu bahwa pelukan akan sangat berarti baginya. Namun, sungguh disayangkan, kita tak dapat hadir di sana. Satu-satunya cara adalah dengan mendoakannya. Kita memeluknya dengan doa-doa yang kita panjatkan baginya.

Nah, seperti yang kita dengar tadi, dalam warta Injil, Yesus tahu bahwa Dia tidak akan ada lagi bersama murid-murid-Nya. Dalam ayat-ayat berikutnya yang tidak dikutip, Yesus juga tahu, Dia tidak akan ada bersama dengan orang-orang yang kelak menjadi percaya kepada-Nya karena pemberitaan para murid secara fisik (20-21). Oleh karena itu, Dia berdoa kepada Bapa, memohon bagi orang-orang yang Dia kasihi. Selama Yesus berada di dunia, Dia telah menjaga semua orang yang dipercayakan oleh Bapa kepada-Nya. Dia memegang mereka dengan begitu kuat hingga tidak membiarkan seorang pun binasa selain dia yang sudah ditentukan (12).

Kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk merasa tidak berdaya dan putus asa, lalu hidup dalam ketidakpedulian terhadap sesama. Dalam keterbatasan, kita hidup karena Dia dan bersama dengan Dia-yang tidak terbatas, yaitu Tuhan. Kalau kita percaya bahwa Dia yang menciptakan kita tidak terbatas, kita bisa meyakini bahwa Dia bisa melakukan hal-hal yang tidak terbatas pula. Doa kita mengungkapkan kepercayaan itu.

Suatu saat, karena keterbatasan jarak dan waktu, bahkan tidak berdaya karena kelemahan fisik dan hal lainnya, kita tak bisa hadir bagi orang yang kita kasihi di tengah musibah yang dialaminya. Bisa jadi, karena sebab tertentu, kita sungguh-sungguh tak berdaya karena hanya bisa tergeletak di tempat tidur. Doa adalah cara kita untuk tetap bisa memeluk kekasih-kekasih kita. Doa adalah cara kita tetap berdaya untuk peduli kepada mereka. Sebab, doa adalah pernyataan iman bahwa Allah, yang tidak terbatas, yang penuh kuasa, menyertai mereka senantiasa.

Doa Yesus yang terakhir untuk para murid-Nya menunjukkan keinginanNya yang mendalam bagi semua orang percaya, baik dahulu maupun sekarang. Doa ini juga merupakan suatu teladan yang diilhamkan Roh tentang bagaimana semua gembala harus mendoakan jemaat mereka, dan bagaimana orang-tua harus mendoakan anak-anak mereka.

Yesus berdoa secara khusus untuk para muridNya dan mereka yang telah dipercayakan kepadaNya. “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yoh 17:9). Pribadi-pribadi yang dipercayakan kepadaNya menjadi konsentrasi focus dalam doaNya.

Yesus berdoa kepada Allah bagi para pengikutNya. Yesus telah melaksanakan semua tugas perutusan yang disampaikan Bapa kepadaNya. Ia telah mengagungkan Bapa-Nya seiring dengan tuntasnya semua tugasNya di dunia. Yesus telah memperkenalkan Bapa-Nya dunia. Yesus mendoakan para pengikut-Nya supaya mereka tetap satu. Model kesatuan mereka adalah kesatuan Yesus dan Bapa-Nya. Yesus begitu mengasihi para pengikutNya. Yesus sangat peduli dengan masa depan mereka, terutama saat Ia akan berangkat ke Surga. Karena itulah, Ia membawa para pengikutNya dalam doa.

Yesus tidak hanya berdoa bagi para murid-Nya saja, tetapi juga untuk Gereja yaitu orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus karena pemberitaan para murid-Nya. Yesus ingin agar Gereja menjadi satu. Melalui kesatuan ini, dunia akan percaya Yesus telah diutus Allah Bapa dan dunia akan mengenali bahwa Allah Bapa mengasihi mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Dalam warta Injil hari ini, Yesus menyatakan hal bahwa Ia telah menyelesaikan dengan baik-baik tugas-Nya. Para Rasul pada perjamuan terakhir menjadi saksi dari pernyataan Yesus kepada Bapa-Nya bahwa Ia telah menyampaikan kepada umat manusia apa saja yang diperintahkan oleh Bapa.

Tentu warta Injil hari ini diwarnai akan perpisahan dan kesedihan, di mana Yesus harus meninggalkan para murid-Nya. Sungguhpun begitu, kepergian-Nya harus terjadi agar para murid menjadi semakin matang.

Ada saat ketika kita harus dituntun, ada saat ketika kita harus berjalan sendiri. Inilah dinamika hidup iman kita. Kendati begitu, sebenarnya kita tidak pernah sendirian dalam arti sebenarnya. Yesus dan Roh Kudus-Nya senantiasa membimbing kita. Selain itu, penghayatan iman kita senantiasa ada dalam kebersamaan dengan umat lain, dimana kita dapat saling meneguhkan satu sama lain.

DOA:

Ya Tuhan Allah,  tambahkanlah dan teguhkan imanku serta mampukanlah aku untuk melakukan tugas-tugas yang Kau percayakan kepadaku dengan baik lagi setia. Semua ini demi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *