Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI RAYA PENTAKOSTA

Jangan Biarkan Daya Ilahi Tertidur Dalam Diri Kita

 

  • Minggu, 31 Mei 2020
  • Kis 2:1-11
  • Oleh: Rm Thomas Suratno SCJ

 

Roh Kudus membimbing hidup kita. Namun, daya ilahi ini sering tertidur dalam diri kita. Kita tidak selalu menyadari kehadiran dan kekuatan-Nya, sehingga kita tidak menggunakan karunia-karunia-Nya. Akibatnya, kita tidak bersemangat menjadi saksi-Nya.

Hari ini dalam Liturgi Gereja, kita mengakhiri masa Paskah. Kita merayakan Hari Raya Pentekosta, turunnya Roh Kudus ke atas para rasul. Peristiwa ini diceritakan dengan jelas dalam kisah Para Rasul (bdk. Kis 2:1-11 dst.) di mana filmnya sudah kita saksikan tadi.

Roh Kudus memberikan daya istimewa kepada para rasul untuk berani beraksi. Sudah empat puluh hari lamanya Yesus menampakkan diri, lalu Dia naik ke surga.

Sepuluh hari sesudah itu, Ia mencurahkan Roh Kudus agar mereka kuat imannya dan berani bersaksi, berkotbah, menyentuh hati banyak orang dan menobatkan mereka menjadi pengikuti Yesus. Pada hari itu, kira-kira 3000 orang dibaptis (bdk. Kis 2:14).

Roh Kudus yang sama telah kita terima pada waktu Baptis dan Krisma. Roh yang sama pula membimbing hidup kita. Namun, daya ilahi ini sering tertidur dalam diri kita. Maksudnya, kita tidak selalu menyadari kehadiran dan kekuatan-Nya, sehingga kita tidak menggunakan karunia-karunia-Nya dan akibatnya kita tidak bersemangat menjadi saksi-Nya.

Semoga perayaan hari ini menyadarkan kita akan pribadi ketiga Allah Tritunggal ini dan akan peran kita di dalam karya keselamatan Allah.

Berbagai karunia Roh Kudus yang telah kita terima bukan untuk kita simpan sendiri, tetapi untuk perutusan kita, mendorong diri kita untuk  ikut serta dalam karya pewartaan Injil dan membangun Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

https://www.youtube.com/watch?v=cD-nmayJvQ8

Warta Injil Yoh 20:19-23 yang diwartakan dalam Gereja hari ini mengisahkan bahwa para murid Tuhan Yesus mengalami rasa takut pasca penangkapan, penyiksaan, penyaliban, dan kematian guru mereka beberapa hari sebelumnya.

Suatu situasi yang mencekam hati dan benak mereka dan bisa jadi menjadi mimpi buruk tatkala mereka memejamkan mata untuk sejenak tertidur.  Mengapa? Guru mereka telah mati dalam status sbg orang hukuman. Lalu, Keberadaan mereka sebagai murid dan pengikut Yesus juga pasti sudah sangat familiar bagi orang Yahudi yang sudah melihat kebersamaan mereka dengan Yesus selama kurang lebih 3,5 tahun.

Dalam rasa takut yang mereka miliki maka satu hal yang bisa di lakukan yaitu bersembunyi dengan pintu-pintu yang terkunci (ayat 19). Tapi Tuhan dapat masuk ke ruangan itu tanpa membuat pintu terbuka.

Lalu, kata pertama dan kembali diulang oleh Tuhan Yesus pada para murid yaitu “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Saudara-saudari yang terkasih, rasa takut bisa dialami oleh setiap orang percaya. Dan kiranya kalau kita pikir banyak penyebab dari rasa takut ini. Namun kemudian, tatkala kita mengalami ketakutan maka baiklah kita berdoa memohon kepada Tuhan akan Roh Kudus-Nya yang tak lain adalah kekuatan ilahi yang menciptakan ‘Damai sejahtera’ untuk kita semua.

Mengapa? Karena tatkala Tuhan menyatakan kehadiran-Nya dan damai sejahtera di berikan oleh-Nya dalam hidup kita maka kita tidak lagi di belenggu dengan rasa takut tapi dikuasai oleh kuasa Damai sejahtera Allah dalam hidup kita.

Maka akhirnya, kita semua terdorong menjadi berani bersaksi dan mewartakan Warta Sukacita Kasih-Nya yang menyelamatkan kita semua.

Marilah kita senantiasa memohon kpd Allah untuk mencurahkan Roh Kudus-Nya supaya hidup dan diri kita senantiasa diperbarui-Nya dan mempunyai keberanian untuk membagikan Kabar Sukacita, menjadi saksi cinta kasih ilahi kepada setiap orang yang kita jumpai.

 

DOA:

Datanglah, ya Roh Kudus, anugerahkanlah sapta karunia-Mu kepadaku. Bersihkanlah aku dari segala yang jahat. Siramilah hatiku yang gersang, dan mampukanlah diriku menjadi saksi dan pewarta Kabar Sukacita-Mu. Amin.

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU PASKAH VII

Sukacita yang Melandasi Sikap Berkurban

 

  • Minggu, 24 Mei 2020
  • Injil Yoh 17:1-26
  • Oleh: Rm Thomas Suratno SCJ

 

 

Yesus telah melakukan dan menyempurnakan penebusan-Nya melalui pengurbanan di atas kayu Salib. Pengurbanan ini merupakan pengalaman Yesus memberi segala-galanya sampai tuntas kepada Bapa. Di dalamnya, Ia menemukan sukacita.

 

Dalam Perjamuan malam terakhir Yesus berdoa, “Bapa telah tiba saatnya, permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.”

Setelah melakukan semua pekerjaan yang dipercayakan Bapa kepada-Nya maka Yesus merasa bahwa ini adalah kesempatan istimewa untuk menyerahkan-Nya kembali kepada Bapa. Artinya, semua karya dan Sabda yang dilakukan Yesus adalah Pekerjaan Bapa (Yoh 4:34; 5:36;17:4).

Ia telah melakukannya dan akan menyempurnakannya dalam penebusan berlimpah lewat pengurbanan di atas kayu Salib. Pengurbanan di Salib adalah pengalaman Yesus memberi segala-galanya sampai tuntas kepada Bapa.

 

https://www.youtube.com/watch?v=CYNx-Bgped4

 

Dalam doa-Nya yang tadi kita dengar, Yesus menunjukkan sikap penting yang dihayati selama hidup-Nya, yakni SUKACITA.

Mengapa Yesus bersukacita?

Alasannya adalah Pertama, Dia ber-Sukacita karena Ia memperkenalkan nama Bapa kepada semua orang yang telah percaya dan terhibur, “Mereka telah menerima Firman-Ku dan mereka tahu bahwa semuanya itu keluar atau berasal dari-Mu.”

Kedua, ber-Sukacita karena selama hidup-Nya Ia hanya mencari dan melakukan kehendak Bapa. Ia mewartakan dan berpartisipasi dalam hidup Ilahi Bapa. Ia membuat banyak orang mengenal Allah satu-satunya dan diri-Nya sebagai utusan Bapa.

Ketiga, Yesus ber-Sukacita karena saatnya telah tiba. Saat yang dinantikan selama berabad-abad dengan hasrat yang tinggi dan persiapan yang besar. Saat di mana semua orang akan mengingat kembali semua Karya dan Sabda, terutama pengurbanan-Nya di atas kayu salib bagi semua orang.

Pengalaman Yesus ini mirip dengan Paulus (Kis 20:17-27). Di mana Paulus, setelah melakukan perjalanan misioner di berbagai tempat, tidak kenal lelah dalam melakukan amanat Yesus, yaitu mewartakan Injil dan membaptis orang dalam nama Yesus maka sekarang Ia kembali ke Yerusalem.

Kepada para penatua Miletus, Paulus mengungkapkan isi hatinya, “Sejak kedatanganku ke tempat ini, aku melayani Tuhan dengan rendah hati. Aku menderita, banyak mencucurkan air mata dan mengalami banyak cobaan karena orang Yahudi mau membunuhku. Aku tak kenal lelah memberitakan dan mengajarkan. Aku bersaksi baik terhadap orang Yahudi maupun orang Yunani sehingga membuat mereka bertobat dan percaya.”

Setelah mengucapkan isi hatinya, terutama suka dan dukanya sebagai rasul, maka ia juga menyampaikan masa depannya kepada mereka. Sebagai seorang tawanan Roh, ia hendak pergi ke Yerusalem, di mana penjara dan sengsara menunggunya.

Namun dengan tegar Paulus berkata, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun asal saja aku telah mencapai garis finis dan menyelesaikan semua pekerjaan  yang ditugaskan Yesus yaitu mewartakan InjilNya.”

Luar biasa pengalaman Tuhan Yesus dan Rasul Paulus ini! Kita bisa ingat kembali apa yang dikatakan Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya, (Yoh 15:13).

Perkataan ini diwujudkan secara sempurna dalam semangat pengurbanan diri. Yesus mengurbankan diri-Nya untuk menebus dosa manusia. Sedangkan, Rasul Paulus juga mengurbankan diri karena cintanya kepada Yesus dan umat, di mana ia pernah merasul.

Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Apakah kita juga memiliki semangat rela berkurban, bahkan menyerahkan nyawa bagi Tuhan dan sahabat-sahabat kita? Marilah kita berjuang seperti Santo Paulus ‘sampai garis akhir’!

 

Doa:

Ya Tuhan Yesus, terima kasih kami ucapkan kepadaMu karena cinta dan pengurbananMu demi keselamatan kami. Mampukan kami untuk tetap mengimani-Mu dengan mau mewartakan Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

 

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU PASKAH VI

Roh Kebenaran selalu Menyertai dan Menolong

 

  • Minggu, 17 Mei 2020
  • Injil Yoh 14:15-31
  • Oleh: Rm Thomas Suratno SCJ

 

 

 

Orang bisa mengalami kasih Allah bila mereka benar-benar percaya dan merasakan Roh Allah bersemayam dan menggerakkan diri mereka berbuat kasih itu. Dan pada saat yang sama mereka bisa mengatakan bahwa mereka mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya.

 

Warta Injil hari ini merupakan wejangan menyangkut masa depan murid-murid setelah kebangkitan Yesus. Para murid ditinggalkan-Nya seperti anak yatim piatu.

Demikian juga zaman jemaat yang membaca warta Injil dulu maupun sekarang. Jemaat tidak lagi mengalami kehadiran Yesus secara langsung. Di mata dunia yang tidak percaya, Yesus yang sudah disalibkan, wafat dan dikubur, sudah tidak ada lagi.

Tetapi sebenarnya sungguh tidaklah demikian. Memang dunia luar yang tidak  mencintai Yesus dan yang tidak berpegang pada firman-Nya, tidak mempunyai indra rohani (mata iman) untuk melihat dan merasakan kehadiran Tuhan secara baru di tengah pengikut-pengikut-Nya.

https://www.youtube.com/watch?v=t1UXaG7_psQ

Maka menjadi lain bila dibandingkan dengan umat-Nya sendiri yang menunjukkan kasih-Nya terhadap Yesus dengan berpegang teguh pada firman-Nya. Mereka justru mempunyai mata iman atau indra rohani untuk melihat apa yang tak mungkin dilihat orang luar itu.

Mereka melihat bahwa Yesus yang disalibkan bukan hanya mati melainkan dibangkitkan dan hidup; bukan hilang melainkan tinggal di dalam Bapa. Mereka juga melihat bahwa Yesus itu sudah kembali kepada Bapa, namun dengan cara baru tetap pula berada di antara mereka.

Justru dengan berpegang pada sabda-Nya dengan penuh kepercayaan dan kasih, mereka tetap tinggal di dalam Yesus dan mengalami bahwa Yesus tinggal di tengah mereka dan mencintai mereka.

Melalui Yesus mereka mendapat suatu pengalaman baru yang membuat hidup mereka sungguh berarti, yakni pengalaman bahwa mereka di kasihi Allah. Artinya bahwa mereka tinggal dalam kasih Bapa untuk selama-lamanya bagi yang percaya kepada-Nya.

Nah, pengalaman ini dengan kata-kata yang berbeda dapat dinyatakan atau diungkapkan dalam janji tentang Roh Kudus, yakni Roh Kebenaran yang akan diminta Yesus dan diberikan Bapa.

Dan, Roh kebenaran itu akan terus menyertai dan menolong mereka, diam di dalam mereka dan membawa mereka kepada kebenaran yang penuh, yakni kepada Allah sendiri yang telah menyatakan kasih-Nya dalam Anak-Nya, Yesus Kristus.

Maka, seluruh warta Injil hari ini berbicara tentang suatu hal yang dicari manusia sekarang, yakni pengalaman akan Allah. Dan, syarat untuk mendapat pengalaman akan hadirnya Allah dalam Roh Allah ialah kasih kepada Yesus, kasih yang menjadi konkrit dalam kesetiaan terhadap sabda-Nya, umat yang dengan penuh kepercayaan dan kasih berpegang pada firman Tuhan, antara lain melalui Sabda yang terkandung dalam Injil tadi.

Dengan  demikian, kita yakin, bahwa mereka akan mendapat pengalaman semakin mendalam akan Tuhan yang hadir pada mereka dan akan Roh-nya yang selalu menolong mereka untuk memperdalam pengalaman akan Allah itu sendiri.

Akhirnya dapat dikatakan bahwa hidup dalam Roh Allah, Roh Kudus atau Roh Kebenaran, bila kita mempunyai dan menghayati kasih kepada Allah dan sesama.

Orang bisa mengalami kasih Allah bila mereka benar-benar percaya dan merasakan Roh Allah bersemayam dan menggerakkan diri mereka berbuat kasih itu. Dan pada saat yang sama mereka bisa mengatakan bahwa mereka mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya.

Apakah kita selalu merasakan hal itu dalam hidup kita? Semoga dengan kepercayaan dan iman kita kepada Allah senantiasa kita disadarkan akan kehadiran-Nya dalam hidup kita. Dan semoga juga, diri kita digerakkan dan didorong selalu untuk berbuat kasih satu sama lain.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, tolonglah aku supaya dapat mengalami kehadiran-Mu dalam kasih yang senantiasa aku perlukan untuk menyatakan bahwa Engkau adalah sungguh hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU PASKAH V

 

Jalan, Kebenaran, dan Hidup

 

  • Minggu, 10 Mei 2020
  • Injil Yoh 14:1-12
  • Oleh: Rm Thomas Suratno SCJ

 

 

 

 

Itulah Yesus Kristus, Tuhan kita. Dia tidak hanya memberi nasihat dan pengarahan. Dia menuntun dan memimpin secara pribadi setiap hari. Dia tidak mengatakan tentang jalan itu, tetapi Dia adalah JALAN itu.

Saudara-saudari yang terkasih, mendengar warta Injil hari ini, jelas menunjukkan kepada kita semua bahwa jemaat pada waktu itu mengalami kecemasan dan kebingungan. Dunia yang telah menyingkirkan Yesus, mengancam pula pengikut-pengikut-Nya.

Lalu mereka bertanya: Yesus itu mau kemana? Apa yang dilakukan-Nya kepada para murid-Nya Apakah Dia akan menyelamatkan para murid? Bagaimana caranya? Apakah mereka akan tetap percaya dan mengikuti-Nya? Akhirnya, bagaimana dengan kita yang percaya kepada Dia? Apa yang harus kita perbuat?

Yesus berkata, “Ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana. Namun Tomas menanggapinya balik bertanya begini: “Tuhan kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?” Lalu Yesus mengatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”

https://www.youtube.com/watch?v=EM4beMwJp8Q

Saudara-saudari yang terkasih, Apa yang dimaksudkan ketika Yesus Kristus berkata, “Akulah jalan.”

Seandainya kita berada dalam kota yang asing dan menanyakan jurusan. Seandainya orang yang ditanyai itu menjawab, “Ambillah jalan yang pertama ke kanan, dan jalan yang kedua ke kiri. Lintasilah taman, kemudian lewati sebuah gedung gereja, ambillah jalan ketiga ke kanan, dan jalan yang Saudara cari adalah yang keempat di sebelah kiri.”

Kemungkinan besar kita sudah tersesat sebelum separuh jalan. Tetapi, seandainya orang yang ditanyai itu berkata, “Marilah, saya akan menunjukkan jalan itu.” Dalam hal yang demikian itu, orang itu sendiri yang menjadi jalan, dan kita tidak mungkin lagi tersesat.

Itulah sebenarnya yang Yesus Kristus lakukan. Dia tidak hanya memberi nasihat dan pengarahan. Dia menuntun dan memimpin secara pribadi setiap hari. Dia tidak mengatakan tentang jalan itu, tetapi Dia adalah JALAN itu.

Saudara-saudari yang terkasih, kemudian Yesus mengatakan bahwa Dia juga adalah Kebenaran. Ingatlah bahwa banyak orang, bahkan nabi-nabi telah menceritakan tentang kebenaran, tetapi tidak ada orang yang pernah mengatakan seperti yang Tuhan Yesus katakan “Akulah Kebenaran”.

Ada satu yang penting mengenai kebenaran moral. Moral seseorang sebenarnya tidak mempengaruhi ajaran orang itu. Akan tetapi kalau seorang ingin mengajarkan kebenaran moral, bagaimana watak orang itu akan amat penting. Misal, seorang yang suka berzinah tapi mengajarkan hal pentingnya kesucian, seorang yang suka mencuri barang orang lain, tapi mengajarkan soal nilai kedermawanan, seorang yang mendendam tapi mengajarkan tentang keindahan kasih, bagaimanapun juga semua yang diajarkan itu tidak akan berhasil.

Nah, kebenaran-kebenaran moral tidak bisa disampaikan hanya dengan kata-kata, tapi harus dengan contoh. Justru itulah yang tidak dapat dilakukan oleh guru manusia yang terbesar sekalipun. Tidak ada guru pernah menghayati dan mendarahdagingi kebenaran sepenuhnya apa yang ia ajarkan.

Banyak orang dapat mengatakan, “Aku telah mengajarkan kebenaran kepadamu”, tetapi tidak ada yang dapat berkata, “Akulah Kebenaran” seperti Tuhan Yesus katakana tentang diri-Nya. Lalu, hal yang hebat sekali mengenai Yesus ialah bahwa Dia tidak hanya “pernyataan” mengenai kesempurnaan moral mencapai puncaknya di dalam Dia, tetapi juga “kenyataan” mengenai kesempurnaan moral mendapatkan realisasinya dalam Dia. Dan Ia telah berkata dengan jelas kepada kita  Akulah Kebenaran!.

Saudara-saudari yang terkasih, pada akhirnya apa yang selalu dicari oleh manusia ialah kehidupan. Yesus berkata: “Akulah hidup!” Yang jelas di sini dicarinya bukanlah pengetahuan untuk hanya mengetahui, melainkan apa yang membuat kehidupan itu berharga untuk dihidupi.

Kasih membawa kehidupan. Itulah yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Tuhan kita Yesus Kristus berkata dengan tegas “Akulah hidup”, menyatakan jelas bahwa Dia adalah sumber kehidupan, Ia mempunyai kuasa memberikan makanan kepada umat yang percaya dari Pohon Kehidupan.

Pohon Kehidupan di tengah-tengah taman Firdaus Allah: Kemudian, Yesus berkata: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Hanya di dalam Dia-lah ketiga-tiganya itu: Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Orang lain hanya dapat menunjukkan ketiga hal itu tanpa dapat mengatakan “Akulah itu”.

Pernyataan ini mengungkapkan bahwa Yesus adalah Allah: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,”  (Yoh 14:6).

Tidak ada Juruselamat lain kecuali YHVH! Dan YHVH telah turun ke dunia untuk misi keselamatan bagi Anda dan saya. Yesus Kristus adalah Allah yang inkarnasi yang turun ke dunia. Nama “Yesus” yang berarti ‘YHVH Juruselamat’; jelas suatu nama keilahian yang berperan bagi penyelamatan manusia. Jadi, nama itu menunjukkan peran Tuhan Yesus akan kedatangan-Nya di dunia untuk misi keselamatan.

Saudara-saudari yang terkasih, semoga dengan Sabda Yesus yang kita dengar hari ini, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup”, semakin membuat kita percaya bahwa Dia adalah Sang Penyelamat, di mana di dalam diri-Nya Yang ilahi berkarya bagi keselamatan dunia hingga akhir zaman nanti.

Dan inilah yang harus kita perbuat, tetaplah percaya kepada Yesus Kristus, Sang Mesias dari Allah dan bertobatlah senantiasa. Biarkanlah diri dan hidup kita dipimpin oleh-Nya!

 

DOA:

Ya Tuhan Yesus Kristus, sabda-Mu menguatkan imanku. Semoga aku tetap percaya dan dapat mengimani diri-Mu hingga akhir hidupku. Bawalah aku ke Rumah Bapa-Mu, di mana Engkau telah menyiapkan tempat bagiku. Amin.

 

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU PASKAH IV

 

Makin Erat dengan Sang Gembala

 

 

  • Hari Minggu Panggilan, 3 Mei 2020
  • Injil: Yoh 10:1-21
  • Oleh: Rm Thomas Suratno SCJ

 

 

 

Ia mendahului kawanan jemaat ke sumber kehidupan. Ia mengantar mereka kepada Allah yang menghidupkan. Melalui Yesus, mereka memperoleh hidup sejati yang abadi, yang bertahan melampaui segala penghacuran, bahkan kematian.

 

Apa yang kita lihat dan dengar tadi merupakan suatu pengajaran Yesus tentang hubungan Dia dengan kita. Hal ini diajarkan melalui kiasan dalam dunia peternakan, yakni gembala dan domba-dombanya.

Kawanan domba yang percaya kepada Gembala-Nya atau kita yang percaya kepada Yesus, Sang Gembala sejati. Sebagaimana kita dengar tadi bahwa Yesus, dalam hal ini gembala, mengenal dan memanggil kita masing-masing menurut nama kita.

Di lain pihak, kita pun mengenal suara panggilan-Nya, dan dapat membedakannya dengan jelas dari suara-suara yang menyesatkan.

Yesus mendahului kita, mengantar kita, dan membawa kita kepada kepenuhan hidup, sementara kita mengikuti Dia tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri.

Tentu saja, hubungan erat antara sang Gembala dan umat domba kegembalaan-Nya ini membuahkan beberapa hal yang berharga.

Pertama, hubungan dengan Yesus melindungi mereka dari ‘gembala-gembala’ lain yang berusaha menyusup ke tengah jemaat untuk kepentingan mereka sendiri yang merugikan jemaat Kristus. Para gembala gadungan atau palsu yang rakus itu tidak dapat masuk melalui pintu.

Kalau pun toh berhasil masuk melalui jalan-jalan lain, mereka belum mampu juga untuk mencuri jemaat dari sang Gembala sebab jemaat milik-Nya itu tidak akan mendengarkan suara-suara yang tidak mereka kenal.

Bujukan ‘gembala-gembala’ yang mencari keuntungannya sendiri tak perlu ditakuti selama jemaat berhubungan erat dengan Yesus, dalam arti sungguh percaya dan beriman kepada Yesus Sang Gembala sejati.

 

https://www.youtube.com/watch?v=6VDi32kBKm8&feature=youtu.be

Kedua, hubungan antara kawanan dan Sang Gembala membuahkan kehidupan. Yesus itu ibarat pintu masuk keluar bagi jemaat kegembalaan-Nya. Melalui dan oleh Dia kawanan domba dibawa keluar ke padang rumput.

Ia mendahului kawanan jemaat ke sumber kehidupan. Ia mengantar mereka kepada Allah yang menghidupkan. Melalui Yesus, mereka memperoleh hidup sejati yang abadi, yang bertahan melampaui segala penghacuran, bahkan kematian.

Nah, karena hubungan dengan Sang Gembala Tuhan Yesus Kristus melindungi dan menghidupkan jemaat, maka kita semua yang mendengar Warta Injil hari ini diundang untuk masuk ke dalam hubungan yang semakin erat dengan Dia, hingga sepenuhnya kita mengenal Dia dan kita dikenal oleh-Nya.

Lalu, bagaimana kita menghayati hubungan dengan Sang Gembala dalam kehidupan umat jaman sekarang ini? Dan, bagaimana hubungan timbal-balik antara Kristus dan kita dapat dibangun sedemikian sehingga kita mengalami buah itu?

Hari Minggu ini sekaligus merupakan hari minggu doa panggilan sedunia, dan biasanya kita diajak untuk merenung dan memikirkan tentang gembala-gembala kita saat ini (para imam khususnya), yang dirasa selalu saja tidak cukup untuk melayani umat Katolik yang semakin hari semakin bertambah banyak atau pertumbuhan jumlah imam Katolik tidak sebanding dengan pertumbuhan umatnya.

Pertambahan gembala (imam maksudnya) seolah jalan di tempat, karena walaupun ada tahbisan namun ada juga yang keluar dan banyak yang  meninggal dunia karena sakit atau usia tua. Sedangkan, laju pertambahan umat Katolik seolah tak hanya berjalan tetapi justru berlari.

Maka dari itulah pada zaman ini yang namanya panggilan menjadi imam itu penting utk digalakkan supaya jumlah gembala mencukupi untuk penggembalaan domba-domba yakni umat Katolik yang semakin berkembang.

Pertanyaannya adalah mengapa penggilan imam saat ini kurang diminati? Apakah tidak menarik?

Mungkin “iya” tapi mungkin juga ada alasan-alasan lain yang lebih mendasar, misal: menjadi imam katolik itu tidak gampang, di mana harus menempuh pendidikan yang lama, penggemblengan untuk hidup tak berkeluarga, belajar dan menghidupi hidup doa dan pelayanan sebagai imam  untuk seumur hidup, kerja pelayanan yang tidak mencari uang atau keuntungan finansial, hidup sederhana dan bersahaja.

Semua itu kalau dijalani demi Kerajaan Surga! Apakah hidup seperti itu menarik bagi kaum muda sekarang?

Mungkin ada yang tertarik tetapi satu dua bisa dihitung dengan jari…. Yang jelas, bukan maksudnya menakut-nakuti menjadi imam atau gembala, apalagi seperti yang digambarkan dalam warta Injil hari ini, itu bukan perkara yang mudah dan secara duniawi tidak mendapatkan apa-apa kecuali kalau menjadi gembala palsu yang bertujuan mencuri atau upahan yang membiarkan domba-dombanya binasa.

Kalau toh akhirnya mau dan mampu menjawab panggilan atau sungguh menjadi gembala pada zaman ini, kiranya merasa lega kalau sungguh berhasil menjalankan tugas pelayanan “cura animarum” (pemeliharaan jiwa-jiwa) umat beriman untuk diselamatkan, yakni supaya hidup mereka tidak tersesat, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, dan supaya dapat berjalan menuju ke tempat tujuan atau sampai pada kepenuhan hidup yang digambarkan sebagai menuju ke ‘padang rumput’.

Maka dari itu, sadar akan kebutuhan pelayan-pelayan Tuhan untuk menggembalakan umat yang dari hari ke hari sangat dibutuhkan, marilah kita pada hari Minggu Panggilan ini bersatu dan bersama berdoa kepada Tuhan, memohon kepada-Nya supaya memanggil orang-orang muda khususnya untuk menjadi pekerja panenan-Nya yang cukup yakni menjadi pelayan, hamba Tuhan, imam, dan gembala-gembala masa kini bagi kita semua.

 

DOA:

Ya Tuhan, panggillah di antara kami, khususnya orang-orang muda Katolik, untuk menjawab panggilan-Mu menjadi gembala-gembala yang bersedia menjadi imam, menjadi pemelihara jiwa-jiwa demi keselamatan kami semua. Amin.