Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU PASKAH IV – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU PASKAH IV

RENUNGAN MINGGU PASKAH IV

 

Makin Erat dengan Sang Gembala

 

 

  • Hari Minggu Panggilan, 3 Mei 2020
  • Injil: Yoh 10:1-21
  • Oleh: Rm Thomas Suratno SCJ

 

 

 

Ia mendahului kawanan jemaat ke sumber kehidupan. Ia mengantar mereka kepada Allah yang menghidupkan. Melalui Yesus, mereka memperoleh hidup sejati yang abadi, yang bertahan melampaui segala penghacuran, bahkan kematian.

 

Apa yang kita lihat dan dengar tadi merupakan suatu pengajaran Yesus tentang hubungan Dia dengan kita. Hal ini diajarkan melalui kiasan dalam dunia peternakan, yakni gembala dan domba-dombanya.

Kawanan domba yang percaya kepada Gembala-Nya atau kita yang percaya kepada Yesus, Sang Gembala sejati. Sebagaimana kita dengar tadi bahwa Yesus, dalam hal ini gembala, mengenal dan memanggil kita masing-masing menurut nama kita.

Di lain pihak, kita pun mengenal suara panggilan-Nya, dan dapat membedakannya dengan jelas dari suara-suara yang menyesatkan.

Yesus mendahului kita, mengantar kita, dan membawa kita kepada kepenuhan hidup, sementara kita mengikuti Dia tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri.

Tentu saja, hubungan erat antara sang Gembala dan umat domba kegembalaan-Nya ini membuahkan beberapa hal yang berharga.

Pertama, hubungan dengan Yesus melindungi mereka dari ‘gembala-gembala’ lain yang berusaha menyusup ke tengah jemaat untuk kepentingan mereka sendiri yang merugikan jemaat Kristus. Para gembala gadungan atau palsu yang rakus itu tidak dapat masuk melalui pintu.

Kalau pun toh berhasil masuk melalui jalan-jalan lain, mereka belum mampu juga untuk mencuri jemaat dari sang Gembala sebab jemaat milik-Nya itu tidak akan mendengarkan suara-suara yang tidak mereka kenal.

Bujukan ‘gembala-gembala’ yang mencari keuntungannya sendiri tak perlu ditakuti selama jemaat berhubungan erat dengan Yesus, dalam arti sungguh percaya dan beriman kepada Yesus Sang Gembala sejati.

 

Kedua, hubungan antara kawanan dan Sang Gembala membuahkan kehidupan. Yesus itu ibarat pintu masuk keluar bagi jemaat kegembalaan-Nya. Melalui dan oleh Dia kawanan domba dibawa keluar ke padang rumput.

Ia mendahului kawanan jemaat ke sumber kehidupan. Ia mengantar mereka kepada Allah yang menghidupkan. Melalui Yesus, mereka memperoleh hidup sejati yang abadi, yang bertahan melampaui segala penghacuran, bahkan kematian.

Nah, karena hubungan dengan Sang Gembala Tuhan Yesus Kristus melindungi dan menghidupkan jemaat, maka kita semua yang mendengar Warta Injil hari ini diundang untuk masuk ke dalam hubungan yang semakin erat dengan Dia, hingga sepenuhnya kita mengenal Dia dan kita dikenal oleh-Nya.

Lalu, bagaimana kita menghayati hubungan dengan Sang Gembala dalam kehidupan umat jaman sekarang ini? Dan, bagaimana hubungan timbal-balik antara Kristus dan kita dapat dibangun sedemikian sehingga kita mengalami buah itu?

Hari Minggu ini sekaligus merupakan hari minggu doa panggilan sedunia, dan biasanya kita diajak untuk merenung dan memikirkan tentang gembala-gembala kita saat ini (para imam khususnya), yang dirasa selalu saja tidak cukup untuk melayani umat Katolik yang semakin hari semakin bertambah banyak atau pertumbuhan jumlah imam Katolik tidak sebanding dengan pertumbuhan umatnya.

Pertambahan gembala (imam maksudnya) seolah jalan di tempat, karena walaupun ada tahbisan namun ada juga yang keluar dan banyak yang  meninggal dunia karena sakit atau usia tua. Sedangkan, laju pertambahan umat Katolik seolah tak hanya berjalan tetapi justru berlari.

Maka dari itulah pada zaman ini yang namanya panggilan menjadi imam itu penting utk digalakkan supaya jumlah gembala mencukupi untuk penggembalaan domba-domba yakni umat Katolik yang semakin berkembang.

Pertanyaannya adalah mengapa penggilan imam saat ini kurang diminati? Apakah tidak menarik?

Mungkin “iya” tapi mungkin juga ada alasan-alasan lain yang lebih mendasar, misal: menjadi imam katolik itu tidak gampang, di mana harus menempuh pendidikan yang lama, penggemblengan untuk hidup tak berkeluarga, belajar dan menghidupi hidup doa dan pelayanan sebagai imam  untuk seumur hidup, kerja pelayanan yang tidak mencari uang atau keuntungan finansial, hidup sederhana dan bersahaja.

Semua itu kalau dijalani demi Kerajaan Surga! Apakah hidup seperti itu menarik bagi kaum muda sekarang?

Mungkin ada yang tertarik tetapi satu dua bisa dihitung dengan jari…. Yang jelas, bukan maksudnya menakut-nakuti menjadi imam atau gembala, apalagi seperti yang digambarkan dalam warta Injil hari ini, itu bukan perkara yang mudah dan secara duniawi tidak mendapatkan apa-apa kecuali kalau menjadi gembala palsu yang bertujuan mencuri atau upahan yang membiarkan domba-dombanya binasa.

Kalau toh akhirnya mau dan mampu menjawab panggilan atau sungguh menjadi gembala pada zaman ini, kiranya merasa lega kalau sungguh berhasil menjalankan tugas pelayanan “cura animarum” (pemeliharaan jiwa-jiwa) umat beriman untuk diselamatkan, yakni supaya hidup mereka tidak tersesat, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, dan supaya dapat berjalan menuju ke tempat tujuan atau sampai pada kepenuhan hidup yang digambarkan sebagai menuju ke ‘padang rumput’.

Maka dari itu, sadar akan kebutuhan pelayan-pelayan Tuhan untuk menggembalakan umat yang dari hari ke hari sangat dibutuhkan, marilah kita pada hari Minggu Panggilan ini bersatu dan bersama berdoa kepada Tuhan, memohon kepada-Nya supaya memanggil orang-orang muda khususnya untuk menjadi pekerja panenan-Nya yang cukup yakni menjadi pelayan, hamba Tuhan, imam, dan gembala-gembala masa kini bagi kita semua.

 

DOA:

Ya Tuhan, panggillah di antara kami, khususnya orang-orang muda Katolik, untuk menjawab panggilan-Mu menjadi gembala-gembala yang bersedia menjadi imam, menjadi pemelihara jiwa-jiwa demi keselamatan kami semua. Amin.

 

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *