Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVIII

Allah Mengundang Setiap Orang

 

  • Minggu, 11 Oktober 2020
  • Injil Mat 22:1-14
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Allah memilih seseorang tidak berdasarkan perbuatannya. Namun, pilihan ini baru akan menjadi ungkapan yang penuh, yakni ketika orang yang dipilih itu hidup dalam ketaatan kepada-Nya.

 

Perumpamaan tentang perjamuan kawin dalam warta Injil tadi merupakan perumpamaan yang ketiga dari rangkaian tiga perumpamaan, dan membentuk klimaks ke perumpamaan tentang dua orang anak dan penggarap-penggarap kebun anggur.

Ketiga perumpamaan tentang Kerajaan Surga ini diucapkan Yesus selama minggu terakhir keberadaan-Nya di dunia, ketika Dia mengalami perseteruan tersembunyi dari orang-orang Farisi, imam-imam kepala, dan pemimpin-pemimpin, di mana mereka memasang perangkap untuk menangkap Dia melalui pengajaran-Nya.

Yesus mengajarkan dengan berani perumpamaan tentang perjamuan kawin ini yang jelas ditujukan melawan penentang-penentang-Nya. Karena itu, perumpamaan ini harus didengar dan dimengerti berdasarkan latar belakang sejarah dari peristiwa-peristiwa terakhir dalam pelayanan Yesus.

https://www.youtube.com/watch?v=mjbKYvdfToI

Tema pendahuluan dari perumpamaan ini menandakan kebahagiaan dan sukacita. Raja mempersiapkan pesta yang besar untuk merayakan pernikahan anaknya. Dia mengundang tamu-tamu terhormat untuk merayakan pesta tersebut. Sebenarnya makanan dan minuman yang mengambil bagian dalam kebahagiaan ini mengungkapkan ikatan perdamaian dan kesatuan antara tuan rumah dan tamu.

Jelas sekali bahwa sebuah pesta bukan semata-mata bertujuan untuk memuaskan nafsu makan seseorang. Ketika tuan rumah dan tamu makan bersama-sama, mereka terlibat dalam pembicaraan di sekitar meja makan dan dapat men genal dengan lebih baik. Kekhawatiran hilang, timbul semangat pengertian dan persamaan. Di dalam perjamuan, kedamaian dan kerukunan itu ada.

Tamu-tamu yang diundang oleh raja menolak datang. Di dunia Timur, sebagaimana di tempat lain, tamu-tamu undangan diharapkan menerima undangan kerajaan sebagai suatu kewajiban. Para tamu juga diharapkan hadir dengan membawa hadiah yang pantas. Dan karena tamu-tamu di dalam perumpamaan ini tidak bisa membalas dengan mengundang raja dan keluarganya dalam sebuah pesta yang serupa, maka hadiahnya harus mahal – khususnya karena pesta itu adalah pesta pernikahan anak raja.

Menolak untuk menghadiri pesta pernikahan tersebut mempunyai implikasi yang luas yang menimbulkan kesulitan dan permusuhan. Penolakan memberi pesan bahwa anak raja itu tidak layak untuk menerima pemberian, bahwa tamu-tamu tidak menyetujui pernikahan itu, dan bahwa mereka tidak lagi setia kepada rajanya.

Raja wajib menyatakan otoritasnya dengan menetapkan ukuran. Dia menyatakan otoritasnya dengan mengirim hamba-hambanya untuk kedua kalinya, tetapi sekarang dengan seruan penting supaya datang dengan segera. Dia tidak mengambil tindakan lain pada waktu itu.

Raja berharap para tamu akan berubah pikiran dan menerima undangannya. Tetapi tamu-tamu yang diundang tidak mengubah pendiriannya. Mereka mengurus usaha mereka sendiri dan mengabaikan para utusan raja. Ketika para utusan itu menekankan pentingnya undangan kerajaan, mereka mengejek dan mencela bahkan tanpa ragu-ragu membunuh mereka.

Kiranya dalam perumpamaan ini, Yesus menghubungkan dengan sejarah Israel, dan pendengarnya tentu saja mengerti bahwa Dia menunjuk kepada nabi-nabi yang diutus oleh Allah yang membawa pesan pertobatan yang sangat penting. Tetapi bangsa Israel mempermalukan nabi-nabi itu dan membunuh beberapa dari mereka daripada menerima panggilan pertobatan dari Allah (Mat 23:35).

Kepada pendengarnya, Yesus mengingatkan akan halaman hitam dalam buku sejarah mereka. Orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, imam-imam, dan pemimpin-pemimpin mengakui bahwa referensi tidak langsung ke dalam halaman sejarah ini melibatkan diri mereka.

Nah, Yesus melanjutkan cerita dan menggambarkan seorang raja yang marah, yang mengirimkan pasukannya untuk membinasakan para pembunuh dan membakar kota mereka. Dengan mengingatkan tamu-tamunya untuk kedua kalinya melalui hamba-hambanya, dan melihat bahwa para utusannya dicaci maki dan bahkan beberapa dari mereka dibunuh, raja menyadari konsekuensi politik dari perbuatan mereka yang menjijikkan.

Sangat penting bagi raja untuk memperkenalkan lawan-lawan yang memberontak dengan peraturannya. Dia memerintahkan pasukannya untuk membinasakan pembunuh-pembunuh dan membakar kota mereka. Tidak menjadi masalah apakah kejadian ini terjadi tepat pada hari pernikahan atau sesudahnya; yang penting adalah bahwa raja telah menggunakan otoritasnya; dia memerintah dan menuntut ketaatan.

Pendengar Yesus mungkin telah melihat figur dari raja yang marah sebagai personifikasi dari Allah. Kesabaran Allah tidak untuk selamanya, dan ketika belas kasihannya tidak menghasilkan pertobatan, akibatnya adalah penghakiman.

Kemudian raja itu mengundang orang-orang yang berada di kota kerajaan dan di sekitar pinggiran kota untuk datang ke ruangan pesta pemikahan. Mereka datang dari jauh dan dekat, orang baik dan orang jahat, dan mengisi tempat-tempat yang masih kosong dengan tamu-tamu tidak penting. Raja merupakan gambaran kebajikan, dan dengan demikian menggambarkan belas kasihan dan kasih Allah yang meluas sampai kepada orang-orang berdosa.

Hamba-hamba raja menyambut mereka yang masuk ke dalam istana dan mengatakan kepada tiap-tiap tamu untuk mengenakan pakaian pesta yang dibuat untuk acara tersebut. Raja mengundang orang-orang dan mengharapkan mereka untuk mengenakan pakaian yang telah disediakan.

Dengan mengenakan pakaian pesta yang disediakan oleh raja, tidak ada orang yang terlihat miskin atau menderita. Setiap tamu dapat menyembunyikan status sosial dan ekonominya di balik pakaian yang diterimanya dari raja. Pakaian pesta itu bersih dan putih, yang menurut kebudayaan timur melambangkan sukacita dan kebahagiaan.

Bolehkah setiap orang datang ke pesta pernikahan anak raja? Jawabnya adalah bahwa setiap orang disambut asalkan mereka memakai pakaian pesta. Ketika raja memasuki ruang pesta dan memperhatikan bahwa salah satu tamu tidak berpakaian sebagaimana mestinya, raja menganggapnya sebagai penghinaan yang disengaja.

Dia tidak dapat mentolerir hal-hal yang menjijikkan, keras kepala atau penolakan. Dia ingin tamu-tamunya menerima apapun yang dia berikan. Barangsiapa memilih untuk menolak akan membangkitkan murkanya dan harus menanggung akibatnya. Dengan segera salah satu tamu yang datang ke pesta dengan mengenakan pakaiannya sendiri disingkirkan dan dilemparkan keluar ke dalam kegelapan malam.

Dipenuhi dengan penyesalan yang dalam, dia meratap dan menahan kertak gigi. Tidak setiap orang boleh tinggal di dalam ruang pesta. Hanya mereka yang menerima undangan raja dan memenuhi persyaratan yang boleh tinggal.

Kitab Wahyu khususnya berbicara tentang orang-orang benar yang mengenakan pakaian putih dan lenan halus yang cemerlang dan bersih. Allah menyediakan dan memberikan pakaian kepada umat-Nya yang melambangkan kebenaran-Nya.

Allah memberi mereka pakaian kebenaran yang melambangkan bahwa si pemakai telah diampuni, dan dia adalah anggota rumah Allah melalui Kristus. Ketika Bapa menyambut pulang anaknya yang telah hilang, dia mengenakan jubah yang terbaik bagi anaknya, dengan berbuat demikian ia menyatakan bahwa anaknya telah diampuni (Luk 15:22).

Sama seperti raja di dalam perumpamaan ini menginginkan semua tamunya untuk mengenakan pakaian pesta yang telah tersedia, demikian juga Allah menginginkan orang-orang berdosa untuk datang ke pesta Anak-Nya dan mengenakan pakaian putih yang melambangkan pertobatan, pengampunan, dan kebenaran.

Tamu yang tidak memakai pakaian pesta di pesta kerajaan itu jelas melambangkan orang berdosa yang membenarkan diri sendiri. Dia ingin menyatakan bahwa dia tidak membutuhkan kematian yang berkorban dan darah yang menebuskan dari Yesus untuk dapat masuk ke dalam surga.

Dia tidak mendengarkan perkataan Yesus, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”(Yoh 14:6), sehingga ketika datang ke hadapan Allah, dia dilemparkan. Sungguh mustahil berada di hadapan Allah tanpa pakaian yang ditawarkan oleh Yesus Kristus.

Warta Injil hari ini diakhiri dengan kata-kata, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Baik klausa pertama maupun terakhir dari perumpamaan ini menunjuk kepada orang yang telah dipanggil. Juga tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta, tidak termasuk ke dalam orang-orang yang dipilih. “Banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih!”.

Warta Injil hari ini dengan jelas menunjukkan adanya pemilihan ilahi yang membawa orang berdosa kepada Allah. Sekalipun demikian, Allah juga menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas sikapnya yang tidak mengindahkan, pemberontakan, dan keangkuhan. Maka, meskipun undangan itu bersifat universal dan meliputi semua orang, hanya beberapa orang yang menerimanya dalarn iman dan pertobatan yang ditentukan untuk kehidupan kekal (Kis 13:48 ).

Allah tidak berkenan kepada kematian orang fasik; Dia ingin mereka hidup. Allah tidak ingin “ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”(2 Ptr 3:9). Tetapi jika manusia menyatakan bahwa dia tidak rnerasa membutuhkan Yesus, dengan demikian dia menolak kebenaran yang Yesus berikan. Dia harus datang untuk bertobat dan menyadari bahwa di dalam kondisinya sendiri dia tidak berharga sama sekali untuk memasuki hadirat Allah, dan bahwa dia memerlukan pakaian kebenaran yang disediakan Yesus.

Undangan Allah melalui Injil diberitakan ke seluruh dunia, tetapi hanya beberapa orang saja yang menanggapi tawaran keselamatan itu. Dan bahkan di antara mereka yang menerima undangan itu, banyak yang puas hanya dengan pengakuan iman semata-mata. Maka diingatkan bahwa pengakuan iman harus memperlihatkan kehidupan baru. Orang percaya harus mewujudkan kata-katanya di dalam perbuatan.

Dan meskipun Allah memilih seseorang tidak berdasarkan perbuatan, tetapi pilihan tersebut sampai kepada ungkapan yang penuh ketika orang yang telah dipilih itu hidup di dalam ketaatan kepada Allah.

Allah memilih atau memanggil dan manusia menanggapi atau menjawab. Pemilihan Allah menggambarkan satu sisi dari lukisan; kemudian tanggung jawab manusia untuk menerima undangan Allah dalam iman yang benar merupakan sisi yang lain.

Maka dari itu, seperti dikatakan dalam dalam warta hari ini,akhirnya dikatakan, “Sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih,” kiranya sejalan dengan firman yang menyatakan bahwa,“Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:14).***

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVII

Menjadi Pekerja yang Baik

 

  • Minggu, 04 Oktober 2020
  • Injil Mat 21:33-43
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Melalui alur pengalaman sehari-hari, hidup beriman kita dimurnikan. Kadang melalui kejadian-kejadian menyakitkan, melalui penderitaan.  Di situlah kita terus dimurnikan sampai menghasilkan ‘anggur’ yang berkualitas.

 

Minggu ini, Kristus ingin mengingatkan kita akan tuntutan untuk para penggarap dan para pekerja kebun anggur agar dapat menggarap kebun anggur dengan sebaik-baiknya.

Dengan kata lain, Kristus mengingatkan seluruh umat beriman, baik di tingkat hierarki maupun awam, untuk benar-benar menghasilkan buah-buah yang limpah, dan dapat menjadi alat Tuhan sehingga orang-orang lain juga dapat menghasilkan buah yang limpah, yaitu semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji (lih. Fil 4:8), atau dalam satu kata adalah ‘kekudusan’.

https://www.youtube.com/watch?v=nTSmwXIK6Xc&t=3s

Anggur dan kebun anggur adalah dua hal yang begitu umum dijumpai di dalam bangsa Israel. Bahkan sejak awal, Tuhan menjanjikan tanah yang berlimpah dengan begitu banyak hal termasuk berlimpah dengan anggur (lih. Ul 6:11, 8:8).

Sejak awal, Tuhan telah memilih umat Israel sebagai umat pilihan, seperti kebun anggur yang dijaga dengan tembok, melengkapi dengan seluruh perlengkapan – menara jaga, pemeras anggur – sehingga perkebunan anggur itu dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain, Tuhan telah melakukan bagian-Nya dengan sebaik-baiknya.

Dan kemudian, Tuhan menitipkan umat Israel (kebun anggur) kepada para pemimpin-pemimpin agama, para imam, ahli taurat, yang diumpamakan dengan para penggarap. Dengan kata lain, para ahli taurat, kaum Farisi dipercaya oleh Tuhan untuk menggembalakan umat Israel, sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan Firman Tuhan atau dapat menghasilkan buah yang limpah.

Nah, untuk dapat menghasilkan buah yang limpah, diperlukan kerja keras dari penggarap-penggarap, termasuk mencangkul agar tanah menjadi gembur, mencabut tanaman liar, meranting atau membuang ranting-ranting yang mati dan tak berguna. Semuanya ini harus dijalankan secara konsisten, sehingga pada saatnya, kebun anggur akan menghasilkan tanaman yang limpah.

Dari proses ini, kita melihat bahwa untuk sampai menghasilkan anggur yang berkualitas, diperlukan proses yang begitu banyak. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan umat beriman, yang perlu dimurnikan – kadang melalui kejadian-kejadian yang sering menyakitkan, melalui penderitaan, dll – sehingga dapat menghasilkan buah yang limpah dan terus dimurnikan sampai menghasilkan anggur yang berkualitas.

Dari warta Injil hari ini, kita mengetahui bahwa si pemilik kebun anggur yang tak lain adalah Allah sendiri dan para hamba yang tak lain adalah para nabi dan dari antara mereka yang diutus oleh Allah banyak yang dibunuh, maka dalam kepenuhan waktu akhirnya Allah mengutus Anak-Nya sendiri, yaitu Kristus.

Namun apa yang dilakukan oleh kaum Farisi dan tetua-tetua? Mereka melihat bahwa Yesus telah melakukan begitu banyak mukjizat yang menjadi satu tanda bahwa Dia dipandang sebagai nabi. Namun, apa yang dilakukan oleh Yesus adalah lebih dari sekadar nabi, Dia mengatakan bahwa Dia adalah Putra Allah, yang mampu membuat banyak mukjizat, yang mampu membangkitkan orang mati, dan bahkan mampu mengampuni dosa.

Menyadari akan hal ini, kaum Farisi bukannya bertobat, namun mereka mengeraskan hati dan memperlakukan Yesus dengan kejam, seperti perlakuan mereka terhadap nabi-nabi di dalam Perjanjian Lama. Dengan tipu muslihat, mereka menangkap Yesus, membawa-Nya keluar dari benteng (dalam warta tadi digambarkan sebagai ke luar kebun anggur), dan kemudian membunuh-Nya dengan menyalibkan-Nya.

Karena kekejaman para penggarap yang membunuh hamba-hamba serta anak dari tuan tanah itu, maka tuan tanah tersebut membinasakan penggarap-penggarap yang jahat dan kemudian menyerahkan tanah garapan itu kepada orang lain.

Dalam konteks kita umat beriman, maka kita dapat juga melihat bahwa kalau kebun anggur adalah Gereja, maka sudah seharusnya para pastor, para uskup, dan paus untuk senantiasa menjadi penggarap-penggarap kebun anggur yang bijaksana, yang senantiasa meniru teladan Kristus. Inilah sebabnya, dalam setiap Perayaan Sakramen Ekaristi, kita senantiasa mendoakan semua klerus agar dapat memimpin umat Allah dengan baik.

Sebagai umat beriman yang telah dibaptis, maka kita pun dipanggil untuk juga menjadi pekerja kebun anggur. Dalam kapasitas kita masing-masing, bisa jadi sebagian dari kita harus mencangkul tanah, sebagian merantingi, sebagian mencabut tanaman liar, sebagian membuat anggur, sampai pada akhirnya dihasilkan kualitas anggur yang baik, manis dan harum semerbak.

Seperti yang kita dengar dalam warta tadi Batu yang akan dibuang menjadi batu penjuru dan menjadi keselamatan bagi seluruh bangsa. Batu penjuru tak lain adalah Kristus, yang telah dibuang dan dibunuh oleh bangsa Yahudi (lih. Ef 2:20).

Namun dengan kematian Kristus, maka rahmat Kristus mengalir bukan hanya kepada bangsa-bangsa Yahudi tetapi juga mengalir kepada bangsa-bangsa lain non-Yahudi. Nah, sama seperti batu penjuru mengikat dua dinding, maka Kristus telah mengikat keselamatan bangsa Yahudi dan keselamatan bangsa-bangsa lain.

Hal itu terlaksana setelah misteri Paskah, maka keselamatan juga ditawarkan oleh Kristus kepada seluruh bangsa. Tandanya tak lain adalah baptisan kepada semua orang – yang bersumber dari misteri Paskah Kristus.

Maka jelaslah pewartaan Injil hari ini mengajak kita merefleksikan secara nyata dalam kehidupan kita, apakah kita yang telah dipanggil oleh Kristus untuk menjadi pekerja kebun anggur-Nya – dengan baptisan – telah benar-benar menjalankan bagian kita?

Kristus telah mendirikan Gereja Katolik, seperti kebun anggur, dan memperlengkapinya dengan kebenaran dokrin dan juga sakramen, seperti tembok yang dipasang mengelilingi kebun anggur untuk melindungi umat Allah.

Kristus juga telah mendirikan menara jaga, yaitu Magisterium Gereja, sehingga tidak ada yang tersesat, karena mengetahui kebenaran secara pasti. Sekarang tinggal kembali kepada para penggarap atau pekerja kebun anggur kita semua untuk dapat melakukan pekerjaannya secara konsisten dan terus-menerus, sehingga pada waktunya, anggur yang murni, manis dan semerbak dapat dihasilkan.
Maka marilah kita menjadi pekerja-pekerja di kebun anggur Tuhan yang baik dan bekerja bersama menggarap kebun anggur Tuhan sehingga akhirnya dapat membuahkan hasil anggur iman yang membawa sukacita banyak orang bahkan semua yang menikmatinya.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, jadikalah kami penggarap-penggarap kebun anggur-Mu yang baik, yang dapat menghasilkan dan menyerahkan anggur-anggur yang Kausukai.Bantulah kami dan jangan Kaubiarkan kami masuk dalam pencobaan yang akhirnya tidak mengikuti apa yang menjadi perintah-Mu.Maka,curahkanlah kepada kami Rahmat Kuat kuasa Roh Kudus-Mu sehingga kami mampu mewujudkan apa yang menjadi kehendak-Mu. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVI

Berlutut dan Berserah

 

  • Minggu, 27 September 2020
  • Injil Mat 21:28-32
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Secara duniawi, bisa jadi kita merupakan orang hebat dan tanpa cacat. Namun, di hadapan Tuhan, kita tetaplah orang berdosa. Itulah sebabnya, seorang yang dekat dengan Tuhan selalu memiliki kerendahan hati sebagai sikap utamanya.

 

Perumpamaan sederhana mengenai kedua bersaudara yang sarat makna ini. Sang Bapa berkata, “Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur!”

Kata-kata ini tidak berisi sebuah perintah keras, bukan paksaan, bukan tekanan, melainkan tawaran yang diungkapkan dengan halus dan lembut. Sapaan yang penuh kasih sayang sangat terasa. Isi permintaannya sendiri sebenarnya bukanlah sebuah tuntutan yang amat berat. Sang Bapa meminta anaknya bekerja di kebun karena ia mau menawarkan kesempatan bagi mereka.

Reaksi yang muncul sungguh tak terduga! Anak yang pertama dengan lantang langsung mengiyakan permintaan Bapanya, “TAAT”, tetapi ternyata ia tidak mampu memenuhi kata-katanya sendiri.

Anak yang kedua juga langsung menyatakan ketidaksetujuannya, ia menolak, “TIDAK TAAT” tetapi kemudian ia menyesal, akhirnya ia memenuhi permintaan Bapanya.

https://www.youtube.com/watch?v=mVjtUZBpRuA

Dengan perumpamaan ini, sesuai dengan konteksnya, para lawan Yesus, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat merasa mendapat pukulan telak. Dasar teguran itu ialah prinsip yang mereka pakai mengadili orang lain, yakni ketaatan atau ketidaktaatan religius.

Sikap Yesus sungguh lain dengan para pemimpin tadi, Yesus tidak menyembunyikan pendapatnya mengenai Yohanes Pembaptis. Yesus berkata bahwa Yohanes “datang untuk menunjukkan jalan kebenaran”. Dan diakui oleh-Nya penugasan itu datangnya dari Allah sendiri. Namun, para pemimpin Yahudi tidak menanggapinya dengan semestinya, malah tidak berani mengakuinya karena takut.

Maka mereka bersikap seperti anak yang berkata “Ya ya!” kelihatannya taat tapi tidak melakukan yang diharapkan.

Justru orang-orang yang mereka anggap rendah sehingga tidak layak diselamatkan, yakni para pemungut cukai dan pelacur, sebaliknya seperti anak kedua yang pada mulanya dengan tegas menolak permintaan Sang Bapa tapi kemudian akhirnya sampai pada satu kesadaran: menyesal dan menurut permintaan Sang Bapa.

Mereka kelihatannya tidak taat justru mereka adalah orang-orang taat, melalui penyesalan akhirnya melakukan apa yang diminta oleh Allah Bapa.

Tanpa kita sadari mungkin pengalaman anak pertama itu juga pernah menjadi bagian dalam praktik hidup keseharian kita. Kita sering terjebak dalam situasi di mana kita tidak mau kehilangan sahabat, kehilangan muka, kehilangan kesempatan, sehingga kita dengan begitu mudahnya mengiyakan sesuatu yang tidak bisa kita penuhi. Menjadi lebih menyakitkan lagi jika kita melakukannya tanpa penyesalan.

Maka, dalam warta hari ini, sebenarnya mau mengajar kepada kita bahwa di dalam Tuhan Yesus Kristus, tidak ada jalan seburuk apapun yang tidak bisa kembali kepada kebenaran. Jalan itu ialah jalan pertobatan, membangun sikap pertobatan yang tulus dan jujur.

Warta Injil hari ini merupakan sebuah permenungan yang sangat dalam terutama bagi yang mengatakan diri bahwa kehidupannya dekat dengan Tuhan. Atau bagi mereka yang mungkin setiap hari berada di sekitar Gereja, diingatkan bahwa itu bukanlah sebuah jaminan yang mutlak.

Pertanyaanya adalah dalam kehidupan sehari-hari saya berlaku seperti anak yang pertama atau anak yang kedua?

Di samping itu, warta Injil hari ini mengingatkan kita akan pentingnya ketaatan dalam setiap pekerjaan kita. Kristus adalah teladan utama bagi kita dalam ketaatan. Ia, dalam kemanusiaan-Nya (ratione humanae naturae), telah “taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8).

Di dalam Kitab Suci, kita bisa menemukan banyak sekali orang-orang yang memberikan kita contoh melalui ketaatan mereka kepada kehendak Tuhan. Salah satu teladan utama bagi kita dalam ketaatan, selain Yesus sendiri dan Bunda Maria, adalah Santo Yusuf.

Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa, oleh karena manusia jatuh dalam dosa akibat ketidaktaatan (lih. Kej3:1-6), permulaan keselamatan kita ditandai oleh ketaatan Santo Yusuf, yang memiliki empat ciri khas: teratur (ordered), cepat (prompt), sempurna (perfect), dan teliti (discrete).

Ketaatan kita harus teratur. Agar kita bisa taat kepada kehendak Allah yang diungkapkan melalui sesama kita (baik orang tua, guru, atau teman yang kita percayai), kita harus terlebih dahulu meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk (vices), seperti kemalasan dan kesombongan.

Ketaatan kita harus cepat, seperti yang disampaikan kepada kita oleh Kitab Yesus bin Sirakh: “Jangan menunda-nunda berbalik kepada Tuhan, jangan kautangguhkan dari hari ke hari” (Sir 5:7). Kita diundang untuk tidak menunda pekerjaan kita sampai besok, karena seringkali ‘besok’ adalah kata keterangan bagi para pecundang.

Ketaatan kita harus sempurna. Ini berarti kita patut melaksanakan apa yang diperintahkan (what) dengan sarana tertentu (how), sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (what for). Dengan kata lain, kita diajak untuk taat termasuk dalam hal-hal yang kecil — “engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (Mat 25:21) — dan menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik — “siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” (Luk 14:28).

Ketaatan kita, akhirnya, harus teliti (discrete). Kita perlu memastikan bahwa kita mentaati Allah — bukan Iblis — dan orang-orang yang ditempatkan Allah disekeliling kita untuk membimbing kita.

Percayalah bahwa bagi mereka yang berdosa seberat apapun tetap mempunyai jalan terbuka untuk kembali kepada Tuhan, apalagi bagi mereka yang hidupnya lebih baik.

Keterbukaan hati dan kemauan untuk senantiasa membangun sikap pertobatan itulah yang menjadi ukuran hidup dalam Tuhan. Maka dari itu, akhirnya untuk bisa taat kita perlu penyesalan dan pertobatan.

Bisa jadi secara duniawi kita adalah orang-orang hebat, tanpa cacat, namun di hadapan Tuhan kita tetaplah orang berdosa. Sehingga kerendahan hati merupakan sikap utama yang harus kita miliki. Seseorang dapat dikatakan dekat dengan Tuhan bila mempunyai sikap kerendahan hati dalam hidupnya.

Seorang teolog besar, Karl Rahner mengatakan bahwa sepintar apapun seorang teolog, pada akhirnya ia harus tetap berani berlutut di hadapan Tuhan tanpa mengatakan apapun, karena pengetahuannya tidak pernah cukup untuk mengerti Tuhan. Di hadapan yang Kuasa, seorang beriman hanya bisa berlutut dan berserah.

 

DOA:

Ya Tuhan, sabda-Mu hari ini begitu menusuk hati kami. Engkau mengingatkan kami akan kesombongan dan keangkuhanku. Ajarilah kami untuk mampu senantiasa membangun sikap pertobatan yang tulus, berani dengan rendah hati mengakui kesalahan dan kelalaian kami, serta tidak menganggap rendah orang lain. Sehingga tidak bisa tidak kami harus selalu taat akan perintah-perintah-Mu, melakukan apa yang Kaukehendaki dan bukan apa yang kami ingini. Amin.

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XXV

Karena Dia Murah Hati

 

  • Minggu, 20 September 2020
  • Injil Mat 20:1-16
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Allah tidak memperlakukan manusia atas dasar satu perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik yang lain’, seperti sudah diatur dengan rapi menurut jasa yang telah dikumpulkan seseorang. Dia memberi karena Dia murah hati.

 

Warta Injil Minggu ini menceritakan perumpamaan tentang Kerajaan Surga seperti seorang tuan yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah dicapai kesepakatan upah sedinar sehari, didapatinya orang-orang yang mau bekerja di awal hari itu.

Kemudian sang tuan kembali keluar mencari para pekerja, pada pukul 9 pagi, 12 siang, 3 sore dan juga pada pukul 5 sore. Ketika hari sudah malam, mereka menerima upahnya, mulai dari mereka yang bekerja paling akhir sampai kepada yang bekerja terdahulu.

Mereka yang bekerja mulai jam 5 sore itu masing-masing  menerima satu dinar. Dan semua akhirnya menerima satu dinar. Hal ini menimbulkan protes dari para pekerja yang bekerja dari pagi dan menerima upah yang sama satu dinar dan menuding tuannya bertindak tidak adil.

Tuduhan tidak adil terhadap tuan mereka adalah untuk menutupi iri hati dan ketamakan. Tuan tersebut tidak membantah, tidak menjelaskan, dan tidak membenarkan dirinya.

https://www.youtube.com/watch?v=D3VjJsR_SpI

Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan di mana pendengarnya dipaksa menjawab setuju.  “Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?” Sebuah pertanyaan yang juga merupakan satu jawaban. “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?”

Pokok permasalahannya bukanlah masalah kecurangan atau penipuan. Sebaliknya, tak seorang pun yang diperlakukan tidak adil. Sebagian besar para pekerja mengalami kemurahan hati si pemilik tanah. Jika ada orang yang mau berkurban dalam masalah ekonomi demi kebajikan, orang tersebut adalah si pemilik tanah.

Pemilik tanah tersebut akan merasa jauh lebih baik jika telah membayar para pekerja dengan jumlah gaji yang tepat. Dia disalahkan karena kemurahan hatinya yang tulus. Dia bertanya, “Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”

Melalui pertanyaannya yang terakhir, tuan tersebut menghapuskan selubung dari pegawai yang tidak puas. Dia telah menunjukkan kebaikan dan keramahan, sementara para pekerja menunjukkan keirihatian dan ketamakan.

Mereka benar-benar buta terhadap kebajikan tuannya sampai topeng yang menyelubungi ketidakpuasan mereka dilepaskan melalui pertanyaan, “Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

Kata Yesus, hal ini sama dengan apa yang ada di dalam Kerajaan Surga. Karena Allah begitu baik, prinsip kasih karunia menang. Prinsip di dalam dunia adalah bahwa dia yang bekerja paling lama menerima gaji yang paling banyak. Ini namanya adil. Tetapi prinsip-prinsip jasa dan kemampuan dikesampingkan di dalam Kerajaan Allah, sehingga kasih karunia dapat berlaku.

Perumpamaan ini tidak bermaksud mengajarkan pelajaran bisnis atau ekonomi. Perumpamaan ini tidak digunakan sebagai contoh tentang hubungan manusia di dalam lingkup pekerjaan dan manajemen.

Pengajaran yang disampaikan di dalam perumpamaan ini adalah kasih karunia menggantikan praktik-praktik keadilan yang memihak dan praktik-praktik bisnis demi keuntungan. Tuan di dalam perumpamaan ini pergi ke pasar beberapa kali dalam satu hari dan melihat di belakang tiap-tiap pekerja ada keluarga yang memerlukan sokongan. Dia tahu bahwa jumlah dibawah sedinar tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dalam sehari.

Oleh karena itu, tuan tersebut membayar para pekerja yang bekerja selama setengah hari berdasarkan kebutuhan akan besarnya tanggungan mereka pada hari itu, bukan berdasarkan hitungan jam kerja. Dia adalah orang yang paling murah hati.

Ketika Yesus mengajarkan perumpamaan ini, Dia menghadapi pendengar yang biasanya diajarkan tentang upah menurut doktrin Yahudi. Orang-orang sezaman-Nya percaya bahwa manusia harus mengumpulkan perbuatan baik sebanyak-banyaknya dimana perbuatan-perbuatan baik tersebut dapat diubah menjadi upah di hadapan Allah.

Karena itu,mereka dapat datang kepada Allah dan menuntut upah. Itulah doktrin yang berlaku pada zaman Yesus. Seharusnya mereka sudah mengenal kasih karunia Allah yang mereka pujikan di dalam Mazmur dan doa. Namun demikian,dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetap menekankan upah dari suatu perbuatan.

Di dalam mengajarkan perumpamaan ini, Yesus menunjukkan bahwa Allah tidak memperlakukan semua manusia menurut prinsip-prinsip upah, keadilan, dan ekonomi. Dalam beberapa hal, Allah tidak tertarik untuk mencari untung.

Allah tidak memperlakukan manusia atas dasar “pukulan dibalas dengan pukulan” atau “satu perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik yang lain.” Kasih karunia Allah tidak dapat dibagi secara sederhana menjadi jumlah proporsi yang sudah diatur dengan rapi menurut jasa yang telah di kumpulkan seseorang.

Biasanya ada sebuah koin di dalam sirkulasi uang yang disebut pondion, yang nilainya seperduabelas dinar. Tetapi, kasih karunia Allah tidak beredar di dalam persentase, karena “dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh1:16).

Saudara-saudari yang terkasih,semoga kita bisa memahami apa yang dikehendaki  Tuhan lewat perumpamaan tentang Kerajaan Surga tadi. Dan semoga juga dengan mengerti kita dapat menghayati dalam hidup sehari-hari sebagaimana dikehendaki Tuhan, Jangan sampai kita mengalami seperti yang disabdakan Yesus, “… orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

DOA:

“Ya Tuhan, aku bersyukur atas kemurahan-Mu untuk menyelamatkan umat-Mu. Bantulah aku untuk terus mengerjakan keselamatanku, sambil turut bersuka cita atas rahmat keselamatan yang dapat juga Kauberikan kepada sesamaku tanpa memandang bulu. Amin.”

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIV

Mengampuni dengan Murah Hati

 

  • Minggu, 13 September 2020
  • Injil: Mat 18:21-35
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Jika kita membuka hati untuk mengampuni kesalahan sesama, Allah pun akan berbelas kasih kepada kita.

 

Sampai berapa kali kita harus mengampuni? Tujuh kali tidaklah cukup, melainkan harus tujuh puluh kali tujuh kali atau dengan kata lain tak terbatas. Warta Matius 18:21-35 menceritakan pentingnya mengampuni dan berbelas kasih kepada sesama, karena kita semua telah menerima belas kasih dan pengampunan dari Tuhan.

Namun, kita hanya dapat mengampuni sesama kita dengan segenap hati, kalau kita bekerja sama dengan rahmat Allah. Injil hariini ingin mengajarkan kita bahwa belas kasih adalah merupakan esensi dari Injil dan kekristenan. (Paus Yohanes Paulus II, Dives in Misericordia, 14)

Dalam Injil Lukas 17:3-4 diceritakan bagaimana Yesus mengajarkan untuk mengampuni kesalahan orang lain. KemudianYesus mengatakan “Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

https://www.youtube.com/watch?v=Zcof7_lNO8w&t=9s

 

Mungkin perkataan Yesus ini masih terngiang-ngiang di telinga Petrus dan mungkin dia bertanya-tanya apakah benar seseorang harus mengampuni dosa sebanyak tujuh kali saja. Kemudian dalam Mat 18:21 dikatakan Petrus datang kepada Yesus dan bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Dalam pemikiran rasul Petrus, pengampunan tujuh kali seperti yang pernah dikatakan oleh Yesus mungkin telah cukup. Namun, rasul Petrus lupa bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus sebelumnya adalah seseorang harus mengampuni kesalahan seseorang walaupun orang tersebut telah berdosa tujuh kali sehari dan kemudian menyesal.

Dan untuk memperjelas, Yesus menjawab rasul Petrus, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali,” (ay.22). Tujuh melambangkan banyak hal, namun mempunyai karakteristik sempurna di dalam bangsa Yahudi maka dengan kata lain pengampunan itutak terbatas.

Mengampuni adalah salah satu perintah yang mungkin gampang diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Namun perlu disadari bahwa mengampuni itu penting, sangat essensial dalam kekristenan dan itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus.

Hal itu terungkap dan sungguh indah terwujud dalam sikap Yesus dan apa yang dilakukan–Nya ketika di kayu salib di mana Dia mengatakan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34)

Pengampunan yang diberikan oleh Kristus di kayu salib adalah merupakan gambaran akan misi Kristus di dunia ini, yaitu Dia datang untuk memberikan pengampunan terhadap dosa yang diperbuat seluruh umat manusia. Pengampunan ini merupakan perwujudan dari belas kasih Allah Bapa kepada umat manusia, yang memberikan Putera-Nya yang dikasihi untuk datang ke dunia dan menebus dosa dunia, sehingga barang siapa percaya kepada-Nya akan mendapat kehidupan yang kekal. Pengampunan ini juga merupakan perwujudan dari Allah yang maha kuasa.

Yesus memberikan beberapa perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Seperti dalam warta Injil hari iniKerajaan Sorga seumpama seorang Raja yang sedang mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.  Di sini Kerajaan Sorga menggambarkan suatu drama belas kasih, karena memang seseorang tidak memperoleh Kerajaan Sorga berdasarkan apa yang dia buat, namun berdasarkan kasih karunia. Kalau mau adil, maka kita semua yang telah berdosa akan masuk neraka, karena upah dosa adalah maut.

Namun, karena belas kasih Allah, Dia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Diceritakan bahwa dalam perhitungan dengan hambanya, maka raja tersebut menemukan bahwa hambanya berhutang sepuluh ribu talenta atau merupakan jumlah yang besar dan tak terbayarkan, walaupun hamba itu harus menjual segala harta miliknya, anak dan istrinya untuk melunasi hutangnya.

Dengan kata lain, hutang itu tak terbayarkan! Manusia yang telah berdosa tidak dapat masuk ke dalam kemuliaan Allah di dalam Kerajaan Sorga, sama seperti orang tidak dapat membayar 10,000 talenta. Adalah adil bahwa seseorang yang tidak dapat membayar hutangnya yang sangat besar, maka dia dimasukkan ke penjara, sama adilnya kalau manusia yang berdosa masuk dalam neraka abadi.

Namun, untuk melepaskan diri dari neraka abadi, maka langkah pertama yang diperlukan oleh manusia adalah kerendahan hati. Kerendahan hati ini ditunjukkan oleh hamba yang menyembah sang raja dan memohon agar raja tersebut dapat bersabar.

Menyaksikan kerendahan hati hambanya, maka dikatakan bahwa raja itu tergerak hatinya oleh belas kasihan, dan kemudian membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Hamba yang dengan rendah hati minta tambahan waktu untuk melunasi hutangnya mendapatkan sesuatu yang lebih, yaitu penghapusan hutang.

Inilah bukti belas kasih Allah, yang tidak hanya mengampuni dosa manusia, namun pengampunan ini juga dilakukan dengan cara yang sungguh tak terpikirkan, yaitu dengan cara mengirimkan Putera-Nya yang terkasih, untuk menebus dosa manusia, sehingga yang percaya kepadanya tidak akan binasa, melainkan akan mendapatkan kehidupan yang kekal.

Setelah sang hamba mendapatkan pengampunan dan pembebasan akan hutangnya yang begitu besar dari rajanya, maka diceritakan bahwa hamba ini bertemu dengan kawannya yang berhutang seratus dinar atau senilai tiga bulan upah kerja, karena satu dinar adalah upah satu hari kerja. Yang dilakukan oleh hamba itu bukannya meniru teladan raja yang berbelas kasih, namun malah menangkap dan mencekik kawannya, serta memaksa kawannya untuk segera melunasi hutangnya. Bahkan permohonan dari kawannya untuk memberikan waktu lebih lama baginya untuk dapat melunasi hutangnya tidak digubris dan malah memenjarakan kawannya.

Di sini kita melihat bahwa sungguh hamba ini telah melupakan belas kasih yang telah dia terima dari tuannya. Dan kalau kita mau membandingkan, maka sebenarnya kita semua berhutang kepada Tuhan dan dengan kekuatan kita sendiri, maka kita tidak dapat membayarnya. Namun, dalam belas kasih-Nya, Tuhan telah membebaskan kita semua dari himpitan dosa dan mempunyai pengharapan akan kehidupan abadi di Sorga. Oleh karena itu, sungguh menjadi selayaknya, kita juga mau mengampuni kesalahan sesama kita.

Menarik untuk disimak bahwa teman- teman dari kawan hamba tersebut sangat sedih dan melaporkan kepada raja. Apa yang dilakukan oleh hamba itu seolah-olah dapat dirasakan sebagai suatu bentuk ketidakadilan. Hamba yang telah menerima pengampunan berlimpah namun tidak mau memberi pengampunan walaupun dalam masalah kecil menimbulkan pergolakan, sehingga akhirnya mereka melaporkan kejadian ini kepada raja. Dan raja yang berbelas kasih akhirnya memberikan keadilan.

Rupanya raja yang telah mengampuni hutang yang begitu besar dari hambanya juga menuntut agar hamba tersebut dapat juga berbelas kasih pada sesama. Yesus mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita.

Dan di ayat sebelumnya, Yesus memberikan pegangan, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni,” (Luk 6:37). Dengan demikian, menjadi satu permenungan bagi kita semua, agar mau mengampuni dan berbelas kasih kepada sesama, sehingga kitapun akan diampuni oleh Allah dalam pengadilan terakhir.

Ketidakmampuan seseorang untuk mengampuni kesalahan sesama membuat rahmat Allah tidak dapat menembus hati yang penuh dengan kebencian. Atau dengan kata lain, hati yang penuh kebencian seolah-olah telah tertutup dan tidak mau menerima rahmat Allah.

Dalam keterbatasan kita, memang sungguh sulit untuk dapat mengampuni seseorang yang begitu menyakiti kita. Namun, kita dapat yakin, bahwa kalau Yesus memberikan perintah, maka itu bukanlah perintah yang mustahil untuk dijalankan. Pengampunan hanya mungkin kalau kita mengundang Tuhan untuk memberikan rahmat kepada kita, sehingga kita mempunyai kekuatan untuk mengampuni kesalahan orang yang bersalah kepada kita.

Hanya dengan rahmat Allah dan kesediaan kita untuk mengampuni, maka seseorang dapat benar-benar mengampuni orang yang telah menyakitinya. Kesadaran bahwa Allah akan berbelas kasih pada kita pada saat pengadilan terakhir kalau kita juga berbelas kasih kepada orang lain, seharusnya juga dapat membuka hati kita untuk mau mengampuni kesalahan sesama.

Di ayat terakhir, Yesus menegaskan, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”  Pernyataan yang sama sebenarnya secara gamblang telah diberikan oleh Yesus sendiri dalam petisi keempat dari doa Bapa Kami, yang mengatakan: Ampunilah kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Dengan demikian, mengampuni sesama adalah perwujudan dari kasih kita kepada Allah. Jadi, kepada saudara/i yang mempunyai kebencian dan sungguh sulit untuk melepaskan diri dari dosa ini, maka marilah kita bersama mohon rahmat Allah agar hati kita dapat diubah dan biarlah contoh pengampunan Allah yang diwujudkan dalam misteri Paskah Kristus dapat memberikan kepada kita teladanyang harus ditiru. Pengampunan yang dituntut oleh Allah bukan hanya pengampunan yang dangkal, namun pengampunan dengan segenap hati, yang berarti harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.***

 

DOA:

Ya Allah Bapa yang ada di sorga, ampunilah dosa-dosaku dan curahkanlah daya kuat kuasa-Mu sehingga aku mampu untuk meneladan Putra-Mu, Yesus Kristus untuk dapat selalu mengampuni sesama yang bersalah padaku. Semoga dengan rahmat-Mu aku senantiasa dimampukan juga untuk dapat mengampuni sesamaku dengan segenap hati sebagai wujud nyata akan semangat belas kasih-Mu. Amin.

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIII

Menegur dalam Semangat Belas Kasih

 

  • Minggu, 6 September 2020
  • Injil: Mat 18:15-20
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Kita menegur orang bukan pertama-tama untuk menghukumnya. Dengan teguran itu kita mau supaya ia kembali kepada Tuhan, kembali dalam persekutuan umat, yakni dalam Gereja. Inilah sikap belas kasih dalam relasi dengan sesama, terutama saudara kita yang bersalah.

 

Saudara-saudari yang terkasih, warta Injil hari ini, Mat 18:15-20 adalah sebuah pengajaran tentang prosedur untuk menghadapi orang yang bersalah.

Tidak dapat disangkal bahwa hal menegur sesama kita adalah pekerjaan yang sulit. Ada banyak orang yang tidak mau menerima teguran, dan ada banyak teguran diberi dengan cara yang tidak bijaksana, misalnya langsung di muka umum atau dalam kepanasan hati dan dengan kata-kata yang terlalu kasar.

Dari warta Injil hari ini, teguran harus dimulai di bawah empat mata, supaya jangan sampai teguran itu terlalu mempermalukan. Apalagi, bila kita menegur seseorang, janganlah niat kita untuk “memukul” saja; niat yang wajar ialah mendapatkan kembali saudara kita ‘laksana seekor domba yang sesat’.

Dengan demikian kiranya teguran yang kita ucapkan kepada saudara kita yang berbuat salah dapat menjadi pertolongan baginya.

https://www.youtube.com/watch?v=RaM-Da0DX64

Saudara-saudari yang terkasih, kalau kita cermati perikopa Injil hari ini, Bagian pertama (Mat 18:15-17) mengajarkan kepada kita: Sikap Rekonsiliasi Terhadap Pendosa. Biasanya dalam ajaran Yesus, Perjanjian Lamalah yang merupakan titik tolaknya; dan sudah hampir di sini bahwa titik tolak terletak dalam Kitab Imamat 19:17 yang berbunyi: “Janganlah membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu.”

Untuk itu, Tuhan Yesus secara khusus berbicara mengenai sikap terhadap saudara (anggota jemaat) yang berdosa dengan prosedur tahapan yang harus diambil sbb. : [1. Pembicaraan pribadi, kemudian 2. Pembicaraan di depan saksi, dan akhirnya 3. Pembicaraan di depan Jemaat].

Saudara-saudari yang terkasih, tanggung jawab yang pertama ialah pergi secara pribadi kepada orang yang bersalah, tanpa menunggu permintaan maaf. Jika hal itu tidak berhasil, sekalipun sudah diperingatkan melalui pembicaraan pribadi, kesalahan akan tetap terjadi.

Maka perlu masuk pada tahap yang ke-2. Prosedur semacam ini membuatnya lebih mudah untuk meruperoleh suatu pengakuan bersalah. Pada langkah yang kedua ini harus ada beberapa orang saksi pada saat wawancara (lih.Ulangan 19:17). Keikut-sertaan dua atau tiga orang lain dalam teguran, dengan 2 alasan:

1) Teguran yang diberi oleh tiga orang adalah lebih kuat daripada teguran yang diucapkan satu orang saja.

2) Dengan dua orang tambahan itu pembicaraan akan menjadi lebih matang dan lengkap.  Apabila berhasil, dia akan memperoleh orang itu sebagai sahabatnya dan memulihkan hubungan orang tersebut dengan Tuhan dan dengan sesama orang beriman. Hal tersebut bertujuan untuk mengajak saudara kita yang berdosa kembali ke dalam jemaat.

Namun, saudara-saudari yang terkasih, apabila tahap ke-2 masih saja tidak berhasil, masuk kepada tahap yang ke-3. Prosedur ini dirumuskan untuk menunjukkan bagaimana pihak yang dirugikan harus menanggapinya. Tahap ke-3 sering kali melahirkan langkah yang drastis yaitu ‘pengucilan’. Dari pengucilan ini barangkali dimaksudkan untuk membuat kejutan bagi yang berdosa supaya mengadakan rekonsiliasi.

Proses yang sama ditempuh oleh jemaat di Israel pada masa lalu berdasarkan Ulangan 19:15. Penyebutan anggota yang dikucilkan sebagai orang kafir atau pemungut cukai (ayat 17) ini meski agak aneh mengingat sikap Yesus yang terbuka terhadap kedua kelompok tersebut. Namun kita dapat menarik maksud istilah tersebut, bahwa istilah ini melukiskan orang yang dikucilkan dari arus kehidupan religius Yahudi.

Saudara-saudari yang terkasih, Bagian kedua (Mat 18:18-20): Mengikat dan Melepaskan. Mat 18:18: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”.

Orang Yahudi memakai istilah “mengikat” untuk hal mengucilkan seseorang dari jemaat Tuhan, dan istilah “melepaskan” dipergunakan untuk hal melepaskan seseorang untuk masuk ke tahap pengucilan. Apa yang dimaksudkan atau pengertiannya?

Orang yang “terikat” pada kesalahannya maka ia akan “terlepas” dari komunitas gerejawi. Melalui ayat 18 ini Tuhan Yesus memberikan suatu wewenang “disiplin gerejawi” bukan hanya tindakan dari anggota-anggota jemaat terhadap seorang anggota jemaat, melainkan dapat dikatakan atau diartikan sama dengan tindakan Allah sendiri.

Sehingga jika jemaat menegur seorang supaya dia bertobat dan meninggalkan dosanya, maka melalui teguran itu Tuhan sendirilah yang mencari dan memanggil orang itu, dan jika ia tetap menolak panggilan Tuhan itu, maka Tuhan menolak orang itu. Sebaliknya, jika jemaat menyambut seorang anggota yang menyesal, maka Tuhan sendiri juga menyambut orang itu.

Saudara-saudari yang terkasih, kiranya melalui warta Injil hari ini menjadi jelas bagi kita semua, bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang beriman terhadap saudara kita yang berbuat salah.

Kita berkewajiban menegur dia namun bukan pertama-tama untuk menghukum melainkan dengan teguran itu kita mau supaya dia kembali kepada Tuhan, kembali dalam persekutuan umat, yakni dalam Gereja.

Inilah salah satu sikap belas kasih ilahi yang harus kita wujudkan dalam relasi atau hubungan dengan sesama kita terutama saudara kita yang bersalah.***

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU BIASA XXII

 Arti Mengikuti DIA

 

  • Minggu, 30 Agustus 2020
  • Injil: Mat 16:21-27
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

“Mengikuti Kristus. Ia merupakan seorang yang berjalan di jalan yang dilalui Kristus, dipimpin oleh Roh-Nya, mengikuti Jejak langkah-Nya, tunduk kepada perintah-perintah-Nya dan mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Dia pergi.”

 

Menjadi Murid Kristus artinya, mengikuti Dia. Ketika Kristus memanggil para murid-Nya, Ia mengucapkan kata-kata perintah, “Ikutlah Aku”. Murid Kristus yang sejati adalah seorang yang mengikut Dia di dalam menjalankan tugas, dan akan terus mengikut Dia sampai mencapai kemuliaan-Nya. Orang itu harus mengikut Dia, bukan mengatur-atur Dia melakukan ini dan itu, seperti yang barusan diperbuat Petrus yang lupa daratan.

Seorang murid Kristus akan mengikut Dia, seperti domba mengikut gembalanya, seperti pelayan yang mengikut tuannya, prajurit yang mengikut komandannya. Ia adalah orang yang menuju kepada tujuan akhir yang sama dengan yang dituju Kristus, yaitu kemuliaan Allah dan kemuliaan sorga.

Ia seorang yang berjalan di jalan yang sama yang dilalui Kristus, dipimpin oleh Roh-Nya, mengikuti Jejak langkah-Nya, tunduk kepada perintah-perintah-Nya dan mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi.

Yang menjadi dasar yang disyaratkan Kristus bagi orang-orang yang ingin menjadi murid-Nya, yakni adanya pilihan yang disengaja, di mana ada sukacita, dan ketetapan hati di dalam pilihan itu. Lalu, apakah persyaratan-persyaratannya?

 

https://www.youtube.com/watch?v=qpr6HRHeUwE

Pertama, ia harus menyangkal dirinya.Maksudnya apa? Yakni kita harus mengikut Kristus, karena kelahiran-Nya, kehidupan-Nya, dan kematian-Nya, semua merupakan tindakan penyangkalan diri yang tiada henti-hentinya, sebuah pengosongan diri sendiri (Kenosis) – Filipi2:7-8. Penyangkalan diri memang merupakan pelajaran yang sulit dan keras, dan bertentangan keinginan daging kemanusiawian kita.

Namun, tindakan ini tidak lebih dari apa yang telah dipelajari dan dikerjakan oleh Guru kita di hadapan kita dan untuk kita, keduanya untuk penebusan kita dan sebagai petunjuk bagi kita. Lagi pula seorang hamba tidak tebih dari tuannya, Perhatikanlah, semua murid dan pengikut Yesus Kristus harus menyangkal diri mereka sendiri. Inilah aturan dasar untuk bergabung di dalam sekolah Kristus.

Kita harus menyangkal diri untuk suatu tujuan, harus menyangkal diri bagi Kristus, bagi kehendak-Nya dan kemuliaan-Nya, dan melayani kepentingan-Nya di dunia ini. Kita harus menyangkal diri demi saudara-saudara kita dan demi kebaikan mereka. Dan kita harus menyangkal diri demi kebaikan diri kita sendiri, menyangkal nafsu tubuh jasmani demi kebaikan jiwa kita.

Kedua, ia harus memikul salibnya.Yang dimaksudkan dengan salib di sini adalah seluruh penderitaan kita, baik yang kita derita sebagai manusia maupun sebagai orang Kristen, meliputi segala kemalangan karena ketentuan ilahi, penganiayaan oleh karena kebenaran, setiap masalah yang menimpa kita, baik karena berbuat baik ataupun karena tidak melakukan sesuatu yang jahat.

[1] Setiap murid Kristus memiliki salibnya masing-masing. Setiap orang harus sadar akan ini dan bersiap-siap. Karena setiap orang memiliki tugas khusus yang harus dilaksanakannya, maka setiap orang juga memiliki masalah khusus yang harus ditanggung masing-masing.

Setiap orang merasakan paling banyak dari bebannya sendiri. Salib adalah nasib yang dimiliki secara umum oleh anak-anak Allah. Tetapi walaupun umum sifatnya, setiap orang memiliki bagian tertentu. Itulah salib yang telah ditetapkan bagi kita oleh Allah, yang diletakkan di atas pundak kita oleh Dia, dan salib itu sangatlah sesuai bagi kita masing-masing.

Maka, sangat baik bagi kita, bila kita menyebut salib yang kita pikul sebagai milik kita sendiri, dan menyambutnya dengan semestinya. Kita cenderung berpikir bahwa kita sanggup memikul salib orang lain dengan lebih baik daripada salib kita sendiri. Namun, yang terbaik adalah, kita harus memikul salib kita masing-masing sebaik-baiknya.

[2] Setiap murid Kristus harus memikul salibnya yang telah ditetapkan oleh Allah dengan bijaksana. Hal ini mengingatkan kita akan kebiasaan Romawi yang memaksa orang yang dihukum mati dengan cara disalibkan untuk memikul salibnya sendiri. Ungkapan ini digambarkan ketika Simon harus memikul salib Kristus di belakang Dia.

Pertama, ini artinya bahwa salib itu ada di tengah jalan kita, dan tersedia bagi kita. Kita tidak boleh membuat salib bagi diri kita sendiri, tetapi harus menerima bagi diri sendiri salib yang telah dibuat Allah bagi kita. Aturan yang kita anut adalah, jangan pernah meninggalkan kewajiban: kita harus memikul salib kita itu, dan jangan sampai kehilangan. Kita tidak boleh, karena tergesa-gesa dan ceroboh, menghancurkan salib itu sesuai pemikiran kita sendiri, tetapi kita harus memikulnya ketika salib itu diletakkan di jalan kita.

Kita harus mengelola dengan baik penderitaan kita supaya tidak menjadi batu sandungan atau hambatan bagi kita dalam melayani Allah. Kita harus memikulnya dan membawanya keluar dari jalan kita, dengan segera membereskan salib sebagai batu sandungan. Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, dan kita harus berjalan terus sambil memikul salib di jalan kita, meskipun salib itu menindih berat.

Kedua, yang harus kita lakukan bukan hanya memikul salib itu (yang dapat saja berupa sebalok kayu, sebuah batu, atau sepotong tongkat), tidak hanya berdiam diri di bawahnya, tetapi kita harus mengangkatnya ke atas, harus mengembangkannya agar dapat memberi keuntungan yang baik. Kita tidak boleh berkata, “Ini suatu kemalangan, saya harus memikulnya, karena saya tidak dapat menghindarinya,” tetapi, “ini suatu kemalangan, saya akan memikulnya, karena hal ini akan mendatangkan kebaikan bagi saya.”

Hanya dengan bersukacita dalarn penderitaan kita, dan bermegah di dalamnya, barulah kita bisa mengangkat salib itu. Hal ini sesuai dengan ajaran penyangkalan diri, karena orang yang tidak mau menyangkal diri terhadap kesenangan dosa dan keuntungan-keuntungan dunia ini bagi Kristus, maka orang itu tidak akan mau memikul salibnya ketika timbul kesesakan. “Orang yang tidak dapat menetapkan hati untuk hidup sebagai orang kudus, ia menunjukkan di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan pernah bersedia mati sebagai seorang martir,” demikian kata Uskup Agung TilIotson [1630-1694].

Ketiga, ia harus mengikut Aku.Khususnya dalam hal memikul salib, Orang-orang kudus yang menderita haruslah memandang Yesus, dan menerima petunjuk serta dorongan semangat dari-Nya ketika menderita. Apakah kita sedang memikul salib itu? Kalau ya, itu berarti, kita mengikut Dia, yang telah memikul salib itu di depan kita, menanggungnya bagi kita, dan dengan demikian mengambil dan memikulnya dari kita.

la telah memikul bagian berat dari ujung salib itu, bagian yang mengandung kutuk, bagian yang berat itu. Dengan demikian la membuat bagian lain dari salib itu terasa ringan dan mudah bagi kita, Atau, secara umum ini berarti bahwa kita harus mengikut Kristus dalam segala kekudusan dan ketaatan. Itulah yang dimaksud dengan mengikut Tuhan dengan segenap hati. Orang-orang yang ingin mengikut Kristus harus menuruti Dia.

Marilah kita, menjadi murid Kristus, dengan menjalankan tiga hal tadi: mau menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia tanpa henti.***

 

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU XXI

Petrus dan Makna Kunci Kerajaan Surga

 

  • Minggu, 23 Agustus 2020
  • Injil:Mat 16:13-2020
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Kunci Kerajaan Surga. Ini bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut.

 

Penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 “Engkaulah Mesias” mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu.

Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, “Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16).

Dengan penegasan “anak Allah yang hidup” untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiran-Nya di dunia.

Penginjil Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Melainkan Yesus datang dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri-Nya untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.

Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa “Anak Manusia” ada jawaban yang bermacam-macam. Ingatlah bahwa Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajaran-Nya, mengenai tindakan-Nya, mengenai kelakuan-Nya. Namun Yesus ingin mendengar bagaimana orang menerima tokoh, yang disebut “Anak Manusia” (maksudnya tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu) dalam hidup mereka.

https://www.youtube.com/watch?v=jyRpxoOBTZ8

 

Pendapat-pendapat orang tidak bisa dikatakan meleset. Namun,Petrus kemudian tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Lalu, jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Penginjil Matius secara khusus menyoroti Petrus.

Petrus dikatakan ‘berbahagia’ karena jawabannya adalah pengetahuan yang didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dikatakan berikutnya di mana Simon disebut oleh Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19).

Sadarilah bahwa batu karang menjadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu mengancam dan menghantam.

Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya tidak akan dapat mematikan atau membinasakan kumpulan orang yang percaya kepada Kristus yang diserahkan kepada Petrus.

Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyahkan. Nah, Petrus digambarkan sebagai tempat di mana Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut seperti itu.

Gambaran itu dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga!

Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya dan kuasa maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang ‘syeol’ menganga tadi.

Maka, kiranya tidak amat membantu bila kata-kata itu (diberi kunci kerajaan surga) hanya ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” untuk menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan siapa yang dibiarkan di luar.

Kemudian, bisakah gagasan ‘kunci Kerajaan Surga’ dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja bisa, asal dilandasi dengan pengertian seperti tadi (yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga).

Maka, bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sekali lagi sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Jelaslah di sini bahwa pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.

***

Posted on Leave a comment

RENUNGAN HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

Maria Mendengarkan dan Memelihara Firman

 

  • Minggu, 16 Agustus 2020
  • Injil Luk 1:39-56
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Sabda juga bisa berkembang dalam diri manusiabahkan menjadi bagian hidupnya. Maria merupakan salah satu yang menjalankannya. Ia berbahagia karena mendengarkan firman Alah dan memeliharanya.

Saudara-saudari yang terkasih, pengakuan iman akan Maria diangkat ke surgasangat berbeda dengan pengakuan iman Yesus yang terangkat ke surga. Sadarilah bahwa Yesus terangkat ke surgamenunjukkan kepada kita bahwa dengan kuat kuasa ilahi-Nya Tuhan Yesus dapat dengan sendirinya masuk dalam surga.

Namun,berbeda dengan SP Maria, dia adalah manusia, bukan malaikat apalagi Tuhan, sekali lagi Maria adalah manusia seperti kita. Maka dalam pengakuan iman kita menyebut SP Maria diangkat ke surga.

Hal itu menunjukkan bahwa Maria tidak dengan kekuatan sendiri – menjadi orang hebat – dapat masuk ke surganamun karena kekuatan Tuhanlah dia diangkat ke surga. Tuhan Allah lah yang mengangkat naik dan masuk ke dalam surga. Dkl, Allahlah yang menyelamatkan SP Maria!

Lalu bagaimana kita sekarang dapat mendalami makna perayaan Maria diangkat ke surgaitu? Merayakan peristiwa itu kiranya dapat menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan sendiri. Percayalah bahwa pada satu saat nanti umat manusia seluruhnya akan kembali berada bersama dengan Tuhan di surga.

Hal ini sering digambarkan bakal terjadi lewat “pemurnian” dengan pelbagai cara seperti halnya tempat penantian, pengadilan terakhir yang memisahkan orang baik dari orang jahat, atau pembersihan jiwa kedosaan (Api Penyucian).

Inti pemikirannya sama, yakni satu ketika nanti kita akan pulih menjadi warga firdaus kembali dan masuk ke sana. Dan kita percaya bahwa itu dapat terjadi karena salah satu dari kemanusiaan, yakni Maria, sudah ada di sana dan kini ia melantarkan atau ‘pengantara’ doa-doa permohonan kita dari yang biasa hingga yang aneh-aneh kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Kita acapkali menyadari bahwa Tuhan lebih mendengarkan kita – berkat Maria – daripada kita mendengarkan-Nya. Maria tahu jalan-jalan menyampaikan doa kita kepada Yang Mahakuasa.

Menurut Kitab Kejadian, manusia dan istrinya diusir dari firdaus karena melanggar larangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ini dosa.

Dosa membuat kemanusiaan merosot. Sebelumnya mereka akrab dengan dunia ilahi, dapat bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia merasa aman di hadapan-Nya. Kemudian Tuhan mengusir dan menempatkan manusia ke dunia.

Akibatnya, kini manusia harus berjerih payah mencari makan agar hidup terus. Namun,kita bisa membayangkan setelah pengusiran manusia itu, Tuhan merasa kesepian di surga. Pada suatu saat Tuhan Allah mengambil keputusan untuk turun ke dunia mencari manusia yang sudah diusir-Nya.

Ia mengubah diri menjadi ‘suara hati’ (= suara Tuhan) yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian manusia diam-diam dituntun-Nya melangkah, mungkin dengan jatuh bangun, pada jalan kembali ke firdaus, lewat jalan lain yang tidak dijaga malaikat berpedang api.

Begitulah Ia berharap satu ketika nanti manusia akan bisa berada kembali di surga mengusir suasana murung, rasa kesepian-Nya, untuk selama-lamanya.

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita bersama merayakan kembalinya satu dari keturunan manusia yang telah terusir dari firdaus tadi. Merayakan pulihnya suasana gembira di surga sana. Merayakan kebesaran Tuhan yang dapat membawa kembali manusia ke surgayakni dengan ‘mengangkat SP Maria ke surga’.

Merayakan juga kemampuan manusia untuk ‘bekerja sama’ dengan Tuhan. Merayakan seorang yang hidup tulus mengikuti suara hati, di mana dia membiarkan diri dituntun suara hati itu, yang tak lain itu adalah Suara Tuhan dalam dirinya.

Semua itu berkat Tuhan Yesus, yang pernah datang ke dunia melalui Rahim Bunda Maria, karena Maria mau berhamba kepada Tuhan Allah dengan mengikuti kehendak-Nya “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkatanmu.”  T

uhan Yesuslah yang menuntun manusia kembali ke sana. Dia dating sebagai Penyelamat. Tak mengherankan yang pernah membawanya masuk ke dunia ini yakni Bunda Maria dengan sendirinya ikut terbawa kembali ke surga.

 

https://www.youtube.com/watch?v=w569MNU6PTA

 

Kidung Magnificat

Warta Injil pada perayaan ini, Luk 1:39-56, memuat dua bagian, yakni kisah Maria mengunjungi Elizabet (ayat 39-45) dan Kidung Pujian “Magnificat” (ayat 46-56) dan berakhir dengan ayat 56 sebagai penutup kisah. Kita tahu dalam kisahnya bahwa Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya.

Roh Kudus itulah yang berkarya menjadi ‘suara hati’ manusia. Dan suara hatinya itu jugalah yang membuat SP Maria mengucapkan fiatnya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!”

Roh yang sama itu juga yang membuat Maria mengidungkan pujian yang diwartakan hari ini. Isinya tak lain adalah pujian Maria kepada Tuhan dengan gembira – Ia itu Allah yang menyelamatkan. Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna.

Kemudian terungkap pula pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi tinggi di mata orang. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, bukan karena orang kecil itu romantik, ideal, melainkan karena orang kecil itu dapat memberi-Nya naungan dan mengurangi kesepian-Nya!

Orang yang hina dina biasanya ingat Tuhan dan itu cukup membuat-Nya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari surga dulu. Ini teologi sehari-hari.

Saudara-saudari yang terkasih, orang sering beranggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketakberuntungan, aib ialah hukuman dari atas bagi kesalahan. Ada anggapan bahwa hukuman bisa juga dikenakan kepada keturunan orang yang bersalah. Entah berapa keturunan?

Dosa menurun, hukuman berkelanjutan. Dalam Kidung Magnificat pendapat seperti ini tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepadanya yang meminta pertolongan dari-Nya.

Bagaimana dengan orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka?

Kiranya bukan itulah yang dimaksud. Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Samasekali bertolak belakang bila orang membiarkan kekayaan, kedudukan, kepintaran membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju.

Inilah yang kiranya hendak disampaikan dalam ayat yang mengatakan bahwa orang congkak hati akan diceraiberaikan, orang berkedudukan akan direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa. Kidung Magnificat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan kelebihan bukan untuk menikmatinya melainkan untuk memungkinkan sesama ikut beruntung, ikut bersukacita.

Di sini tidak ditawarkan sebuah teologi penjungkirbalikan nasib, melainkan pelurusan hakikat kehidupan itu sendiri. Kepercayaan akan kebesaran Tuhan tidak bisa dipakai begitu saja untuk memerangi ketimpangan sosial yang mengakibatkan adanya ketidakadilan yang melembaga. Namun demikian, kepercayaan ini dapat membuat manusia makin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan sendiri. Keterbukaan kepada dimensi ilahi akan membuat orang makin lurus.

 

Memelihara Firman Allah

Dalam Injil Luk 11:27 dikatakan orang menyebut ‘wanita yang melahirkan-Nya berbahagia’. Namun,Yesus menambahkan, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Alah dan yang memeliharanya.”

Yang menarik di sini ialah penekanan kepada kegiatan pihak manusia. Dikatakan manusia memelihara sabda Allah yang didengarkan. Berarti sabda itu juga bisa berkembang dalam diri manusia dan bahkan menjadi bagian kehidupannya. Maria ialah salah satu yang menjalankannya.

Seperti diutarakan dalam Luk 1:38 “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”, Secara nyata ‘Sabda Allah’ yang dibawakan malaikat kepadanya menjadi kehidupan karena diterimanya dan dikandungnya.

Dan Maria melahirkannya tadi dalam ujud manusia. Dia adalah Tuhan Yesus. Maka kata-kata Yesus yang diteruskan dalam Luk 11:28 tadi memperjelas apa artinya berbahagia karena bisa melahirkan dan membesarkannya.

Maria berbahagia karena ia mendengarkan firman Alah serta memeliharanya.

Lalu, bagaimana dengan kita umat beriman yang kini merayakan SP Maria diangkat ke surgaini? Apakah kita merasa tertuntun dan tertantang untuk menerima Firman dengan tulus dan sukacita, kemudian terdorong selalu mengusahakan untuk melakukan kehendak Tuhan yang terkandung dalam Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah mengangkat SP Maria, manusia ciptaan-Mu masuk ke dalam surga. Engkau memberi harapan kepadaku, sebagai manusia, bahwa aku pun bisa selamat seperti SP Maria karena kuat kuasa-Mu. Aku percaya kepada karena Yesus Kristus Tuhan dan Penyelamatku. Amin.

Posted on Leave a comment

RENUNGAN MINGGU XIX

Fokuskan Hidup pada Kasih Tuhan

  • Minggu, 09 Agustus 2020
  • Injil Mat 14:22-33
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Hanya ketenangan di dalam Tuhanlah yang dapat meredakan ketakutan kita. 

 

Saudara-saudari yang terkasih, kehidupan rohani yang terbangun dari kehidupan doa dan sakramen menjadi sangat penting, karena begitu banyak gelombang permasalahan dan derita yang menimpa kehidupan kita.

Tanpa kehidupan doa yang baik, maka perahu kehidupan kita juga akan goncang. Tanpa kehidupan doa yang baik, maka perahu karya kerasulan kita juga akan tergoncang. Bahkan, kalau perahu adalah lambang Gereja tanpa kehidupan doa yang baik dari anggota Gerejanya, maka Gereja juga akan terombang-ambing karena angin pencobaan,  tergoncang badai kehidupan.

Dan inilah yang terjadi ketika terjadi masa-masa sulit dalam sejarah Gereja. Namun percayalah, Tuhan yang telah berjanji untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir zaman (lih.Mat 28:19-20), tidak pernah meninggalkan Gereja Katolik, sehingga pada saat-saat yang sulit, Tuhan mengirimkan santo-santa, orang-orang kudus-Nya yang turut membangun Gereja dari dalam.

Cara Tuhan untuk menyelamatkan seseorang dalam kesulitan atau Gereja yang dalam krisis sering dengan cara yang tidak disangka-sangka dan mengejutkan.

https://www.youtube.com/watch?v=uUD3z0CTNYo

 

Nah, dalam warta Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus datang kepada para murid yang sedang panik karena terjangan badai, pada waktu dan cara yang tidak tidak umum. Yesus datang pada jam tiga malam dengan cara berjalan di atas air.

Bayangkan bahwa para murid mungkin berjuang semalam suntuk di kapal dari terjangan ombak dan badai. Mungkin mereka menyadari bahwa guru mereka tidak sedang bersama mereka, sehingga mereka tidak meminta tolong kepada-Nya (lih.Luk 8:22-25).

Tetapi, pada saat gawat seperti ini dan pada waktu yang sungguh sulit dan tak terduga, mereka melihat sosok yang berjalan di atas air, sehingga mereka mengira bahwa itu adalah hantu (ay.26).

Namun, kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay.27).Ini berarti dalam menghadapi masalah kehidupan, masalah kesehatan, dan juga masalah-masalah yang harus dihadapi dalam menjalankan karya-karya kerasulan, seseorang harus terus bersandar kepada Yesus, sehingga Yesus dapat terus memberikan kekuatan kepadanya.

Mendengar perkataan Yesus serta mengenali sosok dan suara Yesus, para murid mendapatkan ketenangan. Namun, bagi orang yang sungguh mengasihi, ketenangan saja rupanya tidaklah cukup.

Orang yang mengasihi senantiasa ingin bersatu dengan orang yang dikasihinya. Petrus, yang mengasihi Yesus mengatakan, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air,” (ay.28).

Di sini terungkap bahwa Petrus dipenuhi dengan kasih dan iman akan Kristus. Kasihnya membuat Petrus ingin cepat bersama dengan Yesus yang saat itu masih berjalan di atas air dan imannya membuat Petrus percaya bahwa Yesuslah yang berjalan di atas air itu, serta percaya bahwa Yesus dapat memberikan kekuatan yang sama kepada orang lain.

Melihat kedalaman hati Petrus, maka Yesus menjawab “Datanglah!” Dan dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus, Petrus turun dari perahu, menapakkan kakinya dan kemudian berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Imanlah yang membuat seseorang berani untuk meninggalkan apa yang dia punyai, melepaskan apa yang dia pegang, meninggalkan daerah nyamannya, dan kemudian melangkah ke sesuatu yang mungkin lebih sulit, lebih tidak nyaman, namun mata hatinya terus tertuju kepada Yesus.

Petrus, yang dengan berani menapakkan kakinya ke luar perahu, untuk berjalan di atas air, karena Yesus, yang adalah Sang Sabda, telah berkata kepadanya, “Datanglah!”

Dengan demikian, selama seseorang memusatkan perhatian pada Sabda atau Kristus, maka dia akan dapat mengarungi badai kehidupan. Tetapi ketika Petrus tidak lagi fokus pada Yesus, namun pada apa yang terjadi di sekitarnya, yakni pada tiupan angin, maka hatinya dipenuhi dengan kebimbangan dan ketakutan.

Petrus mengalami hal itu, kehilangan dasar (iman) dan tujuan (harapan), membuat dirinya ketakutan dan kemudian mulai tenggelam.

Saudara-saudari yang terkasih, lawan dari ketakutan adalah keberanian (audacity), yaitu sikap berani untuk menghadapi tantangan atau ancaman. Keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan bukanlah bersumber pada diri kita, namun pada Kristus sendiri.

Inilah sebabnya, ketika kita takut, maka kita perlu membangkitkan kembali sumber kekuatan kita, yaitu Kristus sendiri. Inilah yang dilakukan oleh rasul Petrus, ketika dia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” (ay.30).

Dan,pada saat kita meminta tolong kepada Tuhan, ketika kita mengangkat tangan kita, maka Tuhan menghampiri kita, memegang tangan kita dan menarik kita dari keterpurukan kita, sama seperti Kristus kemudian mengulurkan tangan-Nya kepada Petrus (ay.31).

Ketika Kristus mengulur tangan-Nya, Dia menghapus semua kebimbangan dan ketakutan Petrus, dan kemudian Kristus membawa Petrus naik ke perahu (ay.32). Sungguh menarik bahwa ketika Yesus menghapus ketakutan dan kemudian naik perahu bersama mereka, maka dikatakan bahwa ‘anginpun reda’.

Hanya ketenangan di dalam Tuhanlah yang dapat meredakan ketakutan kita. Maka, bagaimana dengan kehidupan iman kita? Apakah kita sedang bahkan sudah merasakan ketenangan dalam Tuhan? Atau justru kita masih dalam kebimbangan dan kebingungan karena banyak hal yang menjadi perhatian, permasalahan dan sekaligus penderitaan kita di dunia ini?

Dengan kata lain, kita belum bisa FOKUS hidup dalam kasih Tuhan.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, berilah aku senantiasa kekuatan dan kesetiaan iman kepada-Mu sehingga aku dapat menyerahkan seluruh hidup dan karyaku kepada-Mu. Berilah aku mata hati yang senantiasa dapat memandang karya-Mu yang menyelamatkan diriku dan mencukupkan diri hanya dalam kasih-Mu aku hidup tenang bersama-Mu. Amin.