Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU XXI – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU XXI

RENUNGAN MINGGU XXI

Petrus dan Makna Kunci Kerajaan Surga

 

  • Minggu, 23 Agustus 2020
  • Injil:Mat 16:13-2020
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Kunci Kerajaan Surga. Ini bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut.

 

Penegasan Petrus yang disampaikan secara sederhana tapi tegas dalam Mrk 8:29 “Engkaulah Mesias” mengungkapkan pokok kepercayaan yang tumbuh dalam Gereja Awal. Bukan tanpa arti bila dalam ketiga Injil Sinoptik pemberitahuan pertama mengenai penderitaan, wafat dan kebangkitan didahului dengan penegasan Petrus mengenai siapa sebenarnya Yesus itu.

Penegasan ini kemudian dipertajam rumusannya oleh Matius dan Lukas dengan cara masing-masing. Menurut Mat 16:16, Petrus berkata, “Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16).

Dengan penegasan “anak Allah yang hidup” untuk menggarisbawahi bahwa Allah-lah yang memilih Yesus sebagai pewarta kehadiran-Nya di dunia.

Penginjil Matius juga bermaksud menjelaskan bahwa Mesias yang dinanti-nantikan ini bukan pemimpin politik atau penguasa yang bakal membangun kembali kejayaan Israel dengan kekuatan militer. Melainkan Yesus datang dan menunjukkan bahwa Allah sendiri bertindak dalam diri-Nya untuk membebaskan manusia dari kuasa-kuasa jahat, dari penyakit, dari kekersangan batin. Inilah yang membuat Yesus betul-betul menjadi Mesias bagi semua orang.

Ketika Yesus menanyai murid-muridnya apa kata orang mengenai siapa “Anak Manusia” ada jawaban yang bermacam-macam. Ingatlah bahwa Ia tidak bertanya mengenai apa kata orang mengenai ajaran-Nya, mengenai tindakan-Nya, mengenai kelakuan-Nya. Namun Yesus ingin mendengar bagaimana orang menerima tokoh, yang disebut “Anak Manusia” (maksudnya tokoh yang terarah kepada Yang Mahakuasa itu) dalam hidup mereka.

 

Pendapat-pendapat orang tidak bisa dikatakan meleset. Namun,Petrus kemudian tampil sebagai wakil para murid yang kemudian mempersaksikan Yesus Kristus dan meneruskan wartanya. Lalu, jawaban Petrus juga mencerminkan pemahaman para murid. Memang kemudian Penginjil Matius secara khusus menyoroti Petrus.

Petrus dikatakan ‘berbahagia’ karena jawabannya adalah pengetahuan yang didapat bukan dari manusia melainkan dari Bapa di surga. Kemudian dikatakan berikutnya di mana Simon disebut oleh Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun yang tak bakal terkalahkan oleh maut, ia juga disebut pemegang kunci surga (Mat 16:18-19).

Sadarilah bahwa batu karang menjadi tempat berlindung dari hempasan ombak dan tempat berpegang agar tak hanyut oleh arus-arus ganas. Dengan menyebut Petrus sebagai batu karang, Yunaninya “petra”, ditandaskan bahwa ia bertugas melindungi umat yang dibangun Yesus dari marabahaya yang selalu mengancam dan menghantam.

Dikatakan juga bahwa alam maut (Yunaninya “hades”, Ibraninya “syeol”) takkan bisa menguasainya, maksudnya tidak akan dapat mematikan atau membinasakan kumpulan orang yang percaya kepada Kristus yang diserahkan kepada Petrus.

Orang dulu membayangkan jalan ke alam maut sebagai lubang yang menganga lebar. Seperti liang lahat yang besar. Semua orang mati pasti akan ke sana dan tak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk mencegah agar orang tidak tersedot ke dalamnya ialah dengan menyumbatnya dengan batu besar yang tidak bakal tertelan dan tak tergoyahkan. Nah, Petrus digambarkan sebagai tempat di mana Yesus mendirikan umat yang takkan terkuasai alam maut seperti itu.

Gambaran itu dapat membantu mengerti mengapa kepada Petrus diberikan kunci Kerajaan Surga. Bukannya ia dipilih menjadi orang yang menentukan siapa boleh masuk siapa tidak, melainkan sebagai yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga!

Ia mengunci surga dari pengaruh yang jahat. Apa yang diikatnya di bumi, yang tetap dikunci di bumi, yakni jalan ke alam maut akan tetap terikat dan tidak akan bisa merambat ke surga. Tak ada jalan ke surga bagi daya dan kuasa maut. Apa yang dilepaskannya di bumi, yakni manusia yang bila dibiarkan sendirian akan menjadi mangsa lubang ‘syeol’ menganga tadi.

Maka, kiranya tidak amat membantu bila kata-kata itu (diberi kunci kerajaan surga) hanya ditafsirkan sebagai penugasan Petrus menjadi “juru kunci gerbang surga” untuk menentukan siapa orang diperkenankan masuk dan siapa yang dibiarkan di luar.

Kemudian, bisakah gagasan ‘kunci Kerajaan Surga’ dipakai sebagai dasar bagi wibawa takhta apostolik Paus penerus Petrus? Tentu saja bisa, asal dilandasi dengan pengertian seperti tadi (yang bertugas menahan agar kekuatan-kekuatan maut tidak memasuki Kerajaan Surga).

Maka, bukan dalam arti juru kunci gerbang ke arah keselamatan, membuka atau menutup akses ke surga, melainkan sekali lagi sebagai penangkal kekuatan-kekuatan alam maut. Jelaslah di sini bahwa pernyataan itu memuat penugasan melindungi umat, bukan pemberian kuasa menghakimi.

***

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *