Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XXVII – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVII

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVII

Menjadi Pekerja yang Baik

 

  • Minggu, 04 Oktober 2020
  • Injil Mat 21:33-43
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Melalui alur pengalaman sehari-hari, hidup beriman kita dimurnikan. Kadang melalui kejadian-kejadian menyakitkan, melalui penderitaan.  Di situlah kita terus dimurnikan sampai menghasilkan ‘anggur’ yang berkualitas.

 

Minggu ini, Kristus ingin mengingatkan kita akan tuntutan untuk para penggarap dan para pekerja kebun anggur agar dapat menggarap kebun anggur dengan sebaik-baiknya.

Dengan kata lain, Kristus mengingatkan seluruh umat beriman, baik di tingkat hierarki maupun awam, untuk benar-benar menghasilkan buah-buah yang limpah, dan dapat menjadi alat Tuhan sehingga orang-orang lain juga dapat menghasilkan buah yang limpah, yaitu semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji (lih. Fil 4:8), atau dalam satu kata adalah ‘kekudusan’.

https://www.youtube.com/watch?v=nTSmwXIK6Xc&t=3s

Anggur dan kebun anggur adalah dua hal yang begitu umum dijumpai di dalam bangsa Israel. Bahkan sejak awal, Tuhan menjanjikan tanah yang berlimpah dengan begitu banyak hal termasuk berlimpah dengan anggur (lih. Ul 6:11, 8:8).

Sejak awal, Tuhan telah memilih umat Israel sebagai umat pilihan, seperti kebun anggur yang dijaga dengan tembok, melengkapi dengan seluruh perlengkapan – menara jaga, pemeras anggur – sehingga perkebunan anggur itu dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain, Tuhan telah melakukan bagian-Nya dengan sebaik-baiknya.

Dan kemudian, Tuhan menitipkan umat Israel (kebun anggur) kepada para pemimpin-pemimpin agama, para imam, ahli taurat, yang diumpamakan dengan para penggarap. Dengan kata lain, para ahli taurat, kaum Farisi dipercaya oleh Tuhan untuk menggembalakan umat Israel, sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan Firman Tuhan atau dapat menghasilkan buah yang limpah.

Nah, untuk dapat menghasilkan buah yang limpah, diperlukan kerja keras dari penggarap-penggarap, termasuk mencangkul agar tanah menjadi gembur, mencabut tanaman liar, meranting atau membuang ranting-ranting yang mati dan tak berguna. Semuanya ini harus dijalankan secara konsisten, sehingga pada saatnya, kebun anggur akan menghasilkan tanaman yang limpah.

Dari proses ini, kita melihat bahwa untuk sampai menghasilkan anggur yang berkualitas, diperlukan proses yang begitu banyak. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan umat beriman, yang perlu dimurnikan – kadang melalui kejadian-kejadian yang sering menyakitkan, melalui penderitaan, dll – sehingga dapat menghasilkan buah yang limpah dan terus dimurnikan sampai menghasilkan anggur yang berkualitas.

Dari warta Injil hari ini, kita mengetahui bahwa si pemilik kebun anggur yang tak lain adalah Allah sendiri dan para hamba yang tak lain adalah para nabi dan dari antara mereka yang diutus oleh Allah banyak yang dibunuh, maka dalam kepenuhan waktu akhirnya Allah mengutus Anak-Nya sendiri, yaitu Kristus.

Namun apa yang dilakukan oleh kaum Farisi dan tetua-tetua? Mereka melihat bahwa Yesus telah melakukan begitu banyak mukjizat yang menjadi satu tanda bahwa Dia dipandang sebagai nabi. Namun, apa yang dilakukan oleh Yesus adalah lebih dari sekadar nabi, Dia mengatakan bahwa Dia adalah Putra Allah, yang mampu membuat banyak mukjizat, yang mampu membangkitkan orang mati, dan bahkan mampu mengampuni dosa.

Menyadari akan hal ini, kaum Farisi bukannya bertobat, namun mereka mengeraskan hati dan memperlakukan Yesus dengan kejam, seperti perlakuan mereka terhadap nabi-nabi di dalam Perjanjian Lama. Dengan tipu muslihat, mereka menangkap Yesus, membawa-Nya keluar dari benteng (dalam warta tadi digambarkan sebagai ke luar kebun anggur), dan kemudian membunuh-Nya dengan menyalibkan-Nya.

Karena kekejaman para penggarap yang membunuh hamba-hamba serta anak dari tuan tanah itu, maka tuan tanah tersebut membinasakan penggarap-penggarap yang jahat dan kemudian menyerahkan tanah garapan itu kepada orang lain.

Dalam konteks kita umat beriman, maka kita dapat juga melihat bahwa kalau kebun anggur adalah Gereja, maka sudah seharusnya para pastor, para uskup, dan paus untuk senantiasa menjadi penggarap-penggarap kebun anggur yang bijaksana, yang senantiasa meniru teladan Kristus. Inilah sebabnya, dalam setiap Perayaan Sakramen Ekaristi, kita senantiasa mendoakan semua klerus agar dapat memimpin umat Allah dengan baik.

Sebagai umat beriman yang telah dibaptis, maka kita pun dipanggil untuk juga menjadi pekerja kebun anggur. Dalam kapasitas kita masing-masing, bisa jadi sebagian dari kita harus mencangkul tanah, sebagian merantingi, sebagian mencabut tanaman liar, sebagian membuat anggur, sampai pada akhirnya dihasilkan kualitas anggur yang baik, manis dan harum semerbak.

Seperti yang kita dengar dalam warta tadi Batu yang akan dibuang menjadi batu penjuru dan menjadi keselamatan bagi seluruh bangsa. Batu penjuru tak lain adalah Kristus, yang telah dibuang dan dibunuh oleh bangsa Yahudi (lih. Ef 2:20).

Namun dengan kematian Kristus, maka rahmat Kristus mengalir bukan hanya kepada bangsa-bangsa Yahudi tetapi juga mengalir kepada bangsa-bangsa lain non-Yahudi. Nah, sama seperti batu penjuru mengikat dua dinding, maka Kristus telah mengikat keselamatan bangsa Yahudi dan keselamatan bangsa-bangsa lain.

Hal itu terlaksana setelah misteri Paskah, maka keselamatan juga ditawarkan oleh Kristus kepada seluruh bangsa. Tandanya tak lain adalah baptisan kepada semua orang – yang bersumber dari misteri Paskah Kristus.

Maka jelaslah pewartaan Injil hari ini mengajak kita merefleksikan secara nyata dalam kehidupan kita, apakah kita yang telah dipanggil oleh Kristus untuk menjadi pekerja kebun anggur-Nya – dengan baptisan – telah benar-benar menjalankan bagian kita?

Kristus telah mendirikan Gereja Katolik, seperti kebun anggur, dan memperlengkapinya dengan kebenaran dokrin dan juga sakramen, seperti tembok yang dipasang mengelilingi kebun anggur untuk melindungi umat Allah.

Kristus juga telah mendirikan menara jaga, yaitu Magisterium Gereja, sehingga tidak ada yang tersesat, karena mengetahui kebenaran secara pasti. Sekarang tinggal kembali kepada para penggarap atau pekerja kebun anggur kita semua untuk dapat melakukan pekerjaannya secara konsisten dan terus-menerus, sehingga pada waktunya, anggur yang murni, manis dan semerbak dapat dihasilkan.
Maka marilah kita menjadi pekerja-pekerja di kebun anggur Tuhan yang baik dan bekerja bersama menggarap kebun anggur Tuhan sehingga akhirnya dapat membuahkan hasil anggur iman yang membawa sukacita banyak orang bahkan semua yang menikmatinya.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, jadikalah kami penggarap-penggarap kebun anggur-Mu yang baik, yang dapat menghasilkan dan menyerahkan anggur-anggur yang Kausukai.Bantulah kami dan jangan Kaubiarkan kami masuk dalam pencobaan yang akhirnya tidak mengikuti apa yang menjadi perintah-Mu.Maka,curahkanlah kepada kami Rahmat Kuat kuasa Roh Kudus-Mu sehingga kami mampu mewujudkan apa yang menjadi kehendak-Mu. Amin.

 

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *