Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN NATAL 2022 – Rumah Dehonian

RENUNGAN NATAL 2022

RENUNGAN NATAL 2022

RENUNGAN NATAL 2022

Pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain

 

  • Minggu, 25 Desember 2022
  • Injil Luk 2:1-14.
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

“’Jalan lain’ itu dapat dipahami juga secara rohani. Sesudah bertemu dengan Yesus, orang tidak lagi menjalani hidup dengan cara lama, tetapi dengan cara yang baru, menjadi manusia baru.”

 

Tema Pesan Natal KWI-PGI tahun ini adalah “… pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” ( Mat. 2:12)

 

Kita tahu bahwa kutipan itu sepenggal dari kisah Orang-orang majus dari Timur yang dengan bantuan bintang datang mencari Raja Orang Yahudi yang baru lahir untuk dapat menyembah-Nya dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Setelah mengalami sukacita dalam perjumpaan yang istimewa tersebut, orang-orang bijak itu kembali ke negerinya melalui jalan lain seperti yang ditunjukkan Tuhan (bdk. Mat. 2:12). Mereka mampu melewati tantangan, hambatan, dan kesulitan dalam perjalanan mereka mencari Yesus dan setelah berjumpa dengan- Nya mereka juga berani menempuh jalan baru yang belum tentu lebih mudah dari sebelumnya. “Jalan lain” itu dapat dipahami juga secara rohani. Sesudah bertemu dengan Yesus, orang tidak lagi menjalani hidup dengan cara lama, tetapi dengan cara yang baru, menjadi manusia baru. Dengan demikian, Natal juga mengajak kita untuk menemukan jalan baru dan kreatif dalam mewartakan kasih-Nya kepada sesama dan semua makhluk ciptaan.

 

 

Dari pelukisan kisah yang kita dengar malam ini menunjukkan bahwa Sang Juruselamat yang tidak lain adalah Yesus Kristus lahir dari rahim Perawan Maria, di mana bayi Yesus itu diletakkan dalam palungan (tempat makanan hewan). Sangat menyentuh hati. Lalu kita juga mendengar bala tentara surga yang memuji Allah “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di Antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Namun yang perlu kita camkan adalah seruan para malaikat sebelumnya kepada para gembala yang mengatakan “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar  untuk seluruh bangsa: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai  seorang bayi dibungkus dengan kain lampin dan terbaring dalam palungan.”

 

“Kesukaan besar itu untuk seluruh bangsa”, berarti kesukaan itu bukan hanya ditujukan bagi orang-orang Israel yang nota bene orang beriman yang beragama Yahudi melainkan kepada semua manusia di atas bumi yang kita diami ini. Memang Sang Juruselamat lahir di Betlehem di tanah Israel yang didiami umat pilihan Allah namun kelahiran Yesus itu sebenarnya diperuntukkan kepada semua bangsa. Maka dari itu sekarang kita bisa mengerti mengapa orang-orang majus dari Timur datang untuk menyambah-Nya dan memberikan persembahan yang sangat istimewa: emas, kemenyan dan mur. Ditilik dari tiga macam persembahan mereka jelas sekali bahwa mereka bukan orang miskin tetapi orang kaya yang mampu memiliki barang-barang seperti itu. Hal ini sangat mungkin bahwa dulu peringatan kedatangan orang-orang majus ini disebut sebagai Pesta Tiga Raja.

 

Kalau dalam peristiwa kelahiran Yesus yang selalu dinampakkan adalah Yusuf, Maria dan Bayi palungan serta para gembala dan domba serta kawanan hewan, hal itu mau mengatakan bahwa mereka adalah kawanan kecil umat Israel yang memang karena imannya sedang menantikan Sang Mesias, maka merekalah yang dapat menjumpai bertemu dengan Sang Juruselamat.  Dapat dikatakan juga karena iman dan kesetiaan mereka dalam penantian maka mereka bertemu dengan Sang Imanuel itu. Dengan kata lain, melalui jalan iman mereka bertemu dengan Tuhan.

 

Namun kita juga bisa merefleksikan jalan iman orang Yahudi ini bukan satu-satunya jalan untuk bertemu dengan-Nya. Seperti yang dialami oleh para majus, yang bukan orang Yahudi, mereka menggunakan jalan ilmu pengetahuan untuk sampai kepada Sang Raja Yahudi yang baru lahir. Dari peristiwa ini menjadi jelas bagi kita bahwa kelahiran Yesus Kristus itu tidak hanya untuk orang-orang Yahudi, orang-orang miskin mereka yang diwakili para gembala tetapi juga untuk orang-orang kaya yang diwakili oleh para majus, orang asing. Demikian juga sukacita pewartaan Kabar Gembira akhirnya menjadi tugas panggilan bagi setiap orang yang telah bertemu dengan Yesus dan percaya pada-Nya, dengan kata lain tugas perutusan mewartakan dan memuliakan Dia adalah tugas kita semua.

 

Orang-orang majus dari Timur yang berjalan bersama-sama mencari Yesus mengajak kita untuk berjalan bersama juga, dalam menemukan kehendak Dia yang “tinggal di antara kita” (bdk.Yoh.1:14) untuk menegakkan Kerajaan Kasih-Nya. Sebagai warga bangsa dan warga Gereja, meskipun kita bhinneka – berbeda agama, suku, golongan, budaya – kita mesti selalu berjalan bersama agar dalam kebersamaan itu mampu menghadapi berbagai macam tantangan dan kesulitan hidup. Keanekaragaman merupakan anugerah Allah yang harus disyukuri, dirawat, dan dikembangkan. Kebhinekaan yang kita sadari sebagai anugerah Tuhan itu seharusnya mendorong kita untuk saling bergandengan tangan dalam mewujudkan tata kehidupan bersama yang lebih bermartabat.

 

Tidakkah dengan berjalan bersama kita dimampukan untuk “pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat”: membangun kembali kehidupan dari keterpurukan dalam berbagai bidang akibat pandemi COVID- 19; membangun peradaban kasih di tengah menguatnya tindak kekerasan; merajut kerukunan di tengah merebaknya intoleransi; mempopulerkan budaya jujur di tengah mengguritanya tindak kejahatan korupsi; menggemakan pertobatan ekologis di tengah maraknya kerusakan lingkungan hidup, dan mengembangkan hidup berpolitik yang beretika menjelang pesta demokrasi tahun 2024.

 

Berjalan bersama dapat menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Oleh karenanya semangat itu perlu ditopang dengan sikap saling memahami, menerima, mendengarkan, dan menghargai kawan yaitu seluruh warga bangsa kita. Kita hilangkan berbagai pikiran negatif dan prasangka buruk. Kita kembangkan budaya hidup damai dan bersaudara. Kasih Allah juga bisa diwartakan dengan kesediaan kita untuk menjadi teman dan sahabat bagi saudara-saudari kita yang menjadi korban pelecehan seksual, peredaran obat-obat terlarang, pemutusan hubungan kerja, diskriminasi, bencana alam, dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya.

 

Kasih Allah yang hadir dalam peristiwa Natal ini memanggil kita untuk peduli pada sesama yang sedang menderita, karena apa yang kita lakukan untuk saudara- saudari kita yang sedang menderita atau mengalami kehinaan, kita lakukan juga untuk Allah (bdk. Mat. 25:40). Berlandaskan iman yang teguh dan kasih yang tulus kita bersama-sama dapat menumbuhkan harapan dan semangat saudara- saudari kita untuk kembali melangkah dan berjuang meraih mimpi-mimpi yang mungkin telah hilang. Berani berpihak kepada korban juga merupakan jalan kasih yang perlu kita tempuh saat ini, mana kala masih banyak orang yang hanya menjadi penonton saat sesamanya menderita, atau sengaja menutup mata agar hidupnya tetap aman dan nyaman.

 

Kehadiran Allah di dunia ini dalam diri Yesus Kristus, Sang Kasih Sejati yang menyelamatkan kita haruslah terus diwartakan. Berbagai kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sebagai karya manusia seharusnya dimanfaatkan untuk memuliakan Allah dengan membangun tata kehidupan bersama yang penuh kasih. Media sosial sebagai bagian dari kemajuan ini menawarkan jalan-jalan menarik untuk mewartakan kasih Allah.

 

Marilah kita menuliskan pendapat, renungan, dan kotbah yang menyejukkan dan mendamaikan hati banyak orang. Kita mengunggah foto-foto tentang keindahan hidup bersama di tengah aneka perbedaan yang dapat menginspirasi orang untuk peduli kepada orang lain serta alam sekitarnya. Kita mengisi ruang publik dengan kesejukan dan kedamaian guna menyebarluaskan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, kesederhanaan, dan kebersamaan. Di samping itu, kita juga harus berani melawan ujaran kebencian dan berita bohong yang dapat merusak kerukunan hidup bersama. Dalam terang Natal kita diajak untuk semakin bijak dan cerdas dalam bermedia sosial, semakin kreatif dalam mewartakan kasih, semakin setia dalam memegang nilai-nilai moral dan etika di dunia maya, sehingga kasih Allah semakin terpancar dan damai sejahtera semakin nyata.

 

Jalan-jalan kreatif yang ditawarkan oleh media sosial sudah sepantasnya kita manfaatkan sebagai sarana pewartaan sehingga mampu menggerakkan banyak orang untuk menjadi duta- duta kasih dan pelopor perdamaian di lingkungan keluarga, Gereja, dan masyarakat. Semoga dalam menyambut dan merayakan Hari Natal ini, kita sungguh merasakan kasih-Nya. Allah Sang Mahakasih selalu bersama dengan kita, Imanuel, Allah beserta kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apa pun (bdk. Ibr. 13:5). Ia juga selalu menjaga kita sehingga kaki kita tidak pernah goyah (bdk. Mzm. 121:3) dalam mencari dan menemukan jalan-jalan kreatif agar karya keselamatan Allah dapat dirasakan oleh sebanyak mungkin orang. ***

 

DOA:

 

Ya Tuhan Allah, kami bersyukur dan bersukacita atas kelahiran Putra-Mu menjadi manusia di dunia ini. Engkau yang tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam diri Yesus. Semoga bersama Dia dan bersama semua orang beriman yang percaya akan Yesus Kristus Sang Mesias, kami dapat mewartakan dan bersaksi akan karya keselamatan di dalam hidup kami kepada dunia dan segala makhluk. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa (+) dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

 

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *