Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU ADVEN II – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU ADVEN II

RENUNGAN MINGGU ADVEN II

RENUNGAN MINGGU ADVEN II

TOBAT YANG MEMBAWA DAMAI

 

  • Minggu, 4 Desember 2022
  • Injil Mat 3:1-12
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Sebab pertobatan merupakan persiapan batin yang tiada tergantikan untuk menyambut kedatangan Tuhan.

 

Kalau kita minggu ini merayakan Ekaristi di gereja pastilah kita akan mendengarkan pewartaan atau seruan dua orang nabi:  Nabi Yesaya (Bacaan I: Yes 11:1-10) dan Yohanes Pembaptis(Mat 3:1-12). Nabi Yesaya memberikan gambaran akan sebuah tunas sampai kepada buahnya, yaitu Seseorang yang akan mengadili dunia dengan keadilan, yang menghasilkan damai sejahtera. Semua yang bermusuhan jadi berteman, berdampingan satu sama lain tanpa saling bertengkar: serigala dan domba; macan tutul dan kambing; anak lembu dan anak singa; lembu dan beruang, anak kecil dan ular tedung. Dan semua itu tenang-tenang saja; yang ada hanya ada damai!

Bagaimana kita mengartikan ini? Walaupun yang disebut di sana adalah berbagai binatang yang secara “tradisional” bermusuhan satu sama lain, tapi gambaran itupun dapat mewakili kita, manusia. Bukankah di dunia ini kita mengenal adanya kelompok-kelompok yang secara “tradisional” bermusuhan? Korea Utara dan Korea Selatan. Tiongkok dan Taiwan. India dan Pakistan. Serbia dan Kroasia. Myanmar dan Rohingya. Dan, tak usah jauh-jauh, hiruk pikuk politik di negeri ini, sudah cukup membuat kita melihat adanya kelompok-kelompok yang tidak sejalan, yang dengan susupan segelintir orang, konon berpotensi menyulut perpecahan dan pertikaian. Miris mendengarnya, tetapi inilah realita.

 

Bukankah juga realita, bahwa pertikaian bukan hanya monopoli kelompok masyarakat dan bangsa, tetapi juga bisa terjadi di dalam keluarga. Tetap bisa ada pertentangan, ataupun hubungan yang kurang harmonis. Antara anak dan orangtua. Suami dan istri. Kakak dan adik. Menantu dan mertua… Justru keadaan ini membuka mata hati kita, akan relevannya pesan sabda Tuhan hari ini, bahwa di masa Adven ini, kita diajak menumbuhkan pengharapan akan kedatangan Sang Mesias yang sanggup memberikan kedamaian itu kepada semua umat manusia, termasuk yang tadinya bermusuhan ataupun yang kurang harmonis.

Nah, menurut Yohanes Pembaptis, gambaran ideal tentang damai sejahtera di antara umat manusia itu, secara nyata hanya dapat dicapai melalui  pertobatan. Pertobatan didahului dengan mengenali dosa-dosa kita, dan diikuti oleh membalikkan seluruh hati kita ke jalan Tuhan yang kita nantikan itu. Pertobatan itu dimulai, menurut Rasul Paulus, saat kita “saling menerima satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita untuk kemuliaan Allah” (Rm 15:7). Demikianlah, untuk mengusahakan damai itu, kita dapat memulai dengan pertobatan diri kita sendiri, dan tidak perlu menunggu pihak lain bertobat lebih dulu.

Di hari Minggu pekan Adven yang kedua ini kita diajak untuk merenungkan tentang teladan Yohanes Pembaptis. Salah satu pesannya yang utama adalah agar kita bertobat: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!” (Mat 3:2). Sebab pertobatan merupakan persiapan batin yang tiada tergantikan untuk menyambut kedatangan Tuhan. Yohanes Pembaptis sendiri hidup dalam ulah tapa yang tanpa kata telah menyampaikan dengan lantang, pertobatannya sendiri untuk menyambut kedatangan Kristus sang Mesias. Tak heran ada banyak orang yang mendengarkannya, lalu mau mengakui dosa mereka dan meminta untuk dibaptis (lih. Mat 3: 4-6). Sungguh, Yohanes Pembaptis adalah seorang tokoh yang istimewa, sebab ia melaksanakan sendiri apa yang diajarkannya. Demikian pula, dunia sekarang ini lebih membutuhkan teladan, daripada pengajar.

Melihat teladan Yohanes Pembaptis, kita didorong tidak hanya untuk bertobat, tetapi juga untuk selanjutnya menjalani kehidupan sehari-hari dalam kerendahan hati dan kejujuran. Kerendahan hati Yohanes Pembaptis nampak juga dalam bagaimana ia memperkenalkan dirinya. Ia tidak mengatakan, “Aku anak Zakaria, seorang imam dari rombongan Abia…” (lih. Luk 1:5), untuk menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang. Tetapi yang dikatakannya adalah, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!…. (Yoh 1:23). Ya, hanya sebagai ‘suara’. Lagi dikatakannya, “Aku membaptis kamu dengan air…, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya (Mat 3:11). Ini adalah sebuah tindakan paling sederhana yang umumnya dilakukan seorang hamba. Ia pun hidup dalam kemiskinan dan mati raga demi melaksanakan misinya sebagai perintis bagi Kristus. Ia membiarkan murid-muridnya pergi menjadi murid-murid Kristus. Semboyannya adalah agar Kristus semakin besar, dan dirinya sendiri menjadi semakin kecil (lih. Yoh 3:30).

Padahal Yohanes Pembaptis sesungguhnya adalah tokoh yang penting, sebab padanya terangkum dua peran sekaligus, yaitu sebagai nabi terakhir dalam Perjanjian Lama, dan sebagai nabi pertama yang merintis kedatangan Yesus dalam Perjanjian Baru. Bahkan Tuhan Yesus pun mengakui keistimewaan Yohanes Pembaptis (lih. Mat 11:11). Namun demikian, Yohanes tetap tinggal dalam kerendahan hati dan kejujuran untuk menyatakan jati dirinya. “Aku bukan Mesias” (Yoh 1:20), demikian jawabnya, ketika beberapa imam bertanya kepadanya. Kejujuran dan keteguhannya untuk menyatakan apa yang benar dan apa yang salah bahkan akhirnya menggiringnya sampai kepada kematiannya.

Mengingat seruan ajakan Yohanes Pembaptis “bertobatlah” bagi kita, umat Katolik, hal itu dinyatakan dengan mengaku dosa dalam sakramen Tobat/Rekonsiliasi, yang didahului oleh pemeriksaan batin yang memadai. Dengan menerima sakramen Tobat, kita menerima rahmat pengampunan dari Tuhan dan kita dipulihkan ke keadaan semula, saat kita menerima ketujuh karunia Roh Kudus, melalui Sakramen Baptisan dan Sakramen Penguatan. Kita kembali diteguhkan dalam karunia Roh Tuhan, yaitu: roh hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan akan Allah, takut akan Tuhan dan kesalehan, yaitu yang kesenangannya adalah takut akan Tuhan (lih. Yes 11:1-3). Pastilah bertobat sangat berhubungan erat dengan sikap rendah hati. Tanpa kerendahan hati tentu saja tidak ada pertobatan sejati. Mengapa?

Karena hanya jika kita memiliki kerendahan hati seorang hamba, kita tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri, hal itu menunjukkan bahwa kita mengandalkan Allah, yang telah memberikan perkataan sabda-Nya sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci untuk memberi kekuatan, ketekunan dan penghiburan kepada kita. Kita dipanggil untuk bertobat dengan tekun membina hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Panggilan tersebut mengambil rupa bahkan dalam bentuk-bentuk sederhana, seperti memulai dengan senyuman, lebih dahulu menyapa, tidak mudah terprovokasi ataupun memprovokasi, tidak meneruskan informasi yang menyulut emosi, melainkan menyampaikan informasi yang membangun pengertian dan cinta kasih, tidak enggan berdialog, termasuk dengan pihak yang sedang tidak sepikiran dengan kita, dan sebagainya.

Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan sabda Tuhan Minggu ini, yang mengajak kita berdamai dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan sesama. Kita memperolehnya melalui pertobatan. Mari kita berdoa semoga kita diberi rahmat untuk dapat mengenali dosa-dosa dan kelemahan kita, serta kerendahan hati untuk mengakuinya. ***

 

DOA: (PS 221)

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.

Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cintakasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa pengharapan. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku  sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.Tuhan semoga aku ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai dari pada dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian (+) Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *