RENUNGAN MINGGU ADVEN I

RENUNGAN MINGGU ADVEN I

RENUNGAN MINGGU ADVEN I

ADVEN, TUHAN DATANG

 

  • Minggu, 27 November 2022
  • InjilMat 24:37-44
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Kita selalu dalam situasi adven, sebab Tuhan selalu bisa datang dalam setiap kejadian,
setiap peristiwa.

 

Kita memasuki tahun liturgi baru dan persis dimulai dengan perayaan Minggu Adven yang pertama minggu ini. Memasuki masa Adven artinya kita memasuki masapenantian akan kedatangan Yesus.  Lalu apa yang harus kita lakukan? Dalam warta Injil tadi (Mat 24: 37-39) dikatakan tentang perilaku manusia dan situasi zamannya:

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”

 

Di sini Tuhan Yesus sekilas menggambarkan akan keadaan manusia yang tidak peka dan tidak mempedulikan hal-hal surgawi. Manusia cenderung berpikir bahwa lebih pentinglah urusan makan dan minum, untuk menemukan suami atau istri (menikah); tetapi jika demikian, maka sikap ini melupakan apa yang menjadi hal yang terpenting/ terutama, yaitu kehidupan kekal. Tuhan kita mengatakan bahwa keadaan akhir dunia adalah seperti banjir besar (seperti di jaman nabi Nuh); artinya kedatangan-Nya yang kedua akan terjadi secara tiba- tiba, akan mengejutkan banyak orang, apakah mereka saat itu sedang berbuat baik ataukah berbuat jahat.

Dengan demikian perumpamaan air bah Nabi Nuh dimaksudkan sebagai gambaran kondisi akhir dunia yang datangnya secara tiba- tiba. Jika kita membaca di Kitab Kejadian tentang Nabi Nuh, (Kej 6-9) maka kita akan mengetahui bahwa Nabi Nuh dan keluarganya dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan dari bencana air bah, karena Nuh adalah seorang yang benar (Kej 6:9). Maka hanya Nuh saja yang diselamatkan dengan keluarganya di bumi, sedangkan semua orang yang lain dilenyapkan oleh air bah.

Dikatakan di dalam Alkitab adalah ‘semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi’ (Kej 6:12), sehingga mereka semua terkena hukuman Allah. Allah dengan kebijaksanaan-Nya menentukan demikian, atas dasar keadilan-Nya, namun kasih karunia-Nya ditunjukkan kepada Nuh sekeluarga (lih. Kej 6:8) dengan melindungi mereka dari bencana air bah yang melenyapkan hampir seluruh bumi. Lalu bagaimana dengan kita sekarang, di mana masa adven yang sedang kita masuki bersama ini?

Kata “adven” berasal dari kata “adventus” dari bahasa Latin, yang artinya “kedatangan”. Maka Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya dan selalu hadir di tengah- tengah umat-Nya.

Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Maka kata “Adven” harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.

 

Lalu, apa pesan mendasar yang perlu kita renungkan pada masa Adven ini? Fokus utama kita ialah penantian Yesus sang penebus karena itu persiapan batin lebih penting daripada persiapan yang lain. Boleh-boleh saja kita mempersiapkan hal-hal jasmani, baju baru, mencat rumah, pangkas rambut, persiapan lagu-lagu namun yang terpenting ialah mempersiapkan hati.

 

Maka dalam warta Injiltadi dikatakan, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini, jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia akan berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Dengan ini jelas bahwa dalam masa penantian ini kita tetap bisa bersikap semakin beriman, bersaudara dan berbelarasa untuk mewujudkan kesejahteraan sebagai tanggungjawab bersama. Maka dibutuhkan perubahan sikap dan perilaku secara nyata kita sebagai tanda pertobatan di masa adven ini.

 

Sadarilah bahwa semakin beriman artinya kita meyakini bahwa Yesus yang kita nanti-nantikan itu adalah Kasih Sejati yang akan membawa perubahan. Berbelarasa merupakan ajakan berbuat kasih kepada mereka yang membutuhkan pada masa Adven ini. Dan bersaudara intinya kita memupuk semangat persaudaraan dengan siapa saja. Kita satu dalam iman, harap dan kasih. Karena itu persiapan menyambut Yesus bukan hanya persiapan pribadi tetapi juga persiapan bersama sebagai umat beriman. Maka mari kita memupuk semangat kasih dan semangat berbelarasa dan berbagi pada masa Adven ini. Banyak saudara-i kita yang membutuhkan uluran tanganmu sehingga mereka juga bisa menikmati masa penantian ini sampai pada puncaknya, kelahiran Yesus Kristus, yang membawa sukacita dan damai sejahtera bersama.

 

Masa Adven adalah saat rahmat di mana kita menantikan kedatangan Tuhan secara khusus dan istimewa. Bukan berarti, Tuhan tidak pernah ada, hadir dan datang? Apakah Tuhan datang hanya pada masa adven, juga natal, dan hanya masa ini kah kedatangan-Nya disiapkan dan dinantikan? Tentu saja tidak! Sekali lagi, Adven adalah saat, waktu dan kesempatan bagi gereja, bagi kita menyiapkan diri, menyiapkan hati secara khusus untuk kedatangan-Nya pada hari raya natal, sementara Ia sudah datang, Ia juga sedang datang dalam keseharian dan pengalaman hidup kita, bahkan Ia  selalu datang kapan saja, Ia datang pada peristiwa kematian kita, juga pada akhir zaman dimana kita tidak tau kapan itu waktunya terjadi, Ia datang dalam kemuliaan-Nya.

Dengan demikian, adven tidak sebatas empat minggu menjelang pesta Natal, tetapi seumur hidup kita. Kita selalu dalam situasi adven, sebab Tuhan selalu bisa datang dalam setiap kejadian, setiap peristiwa. Oleh karena itu kedatangan-Nya serba tak terduga, maka Yesus ingatkan melalui bacaan hari ini untuk berjaga, waspada, siap sedia selalu kapan saja. “Hendaklah kamu siap sedia, karena Anak manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24:44). Ia datang seperti pencuri. Ia datang seperti maut, kapan saja, di mana saja dan dalam situasi apa saja.

Pertanyaan terbaik bukanlah “kapan Yesus datang?”, melainkan”bagaimana saya menyambut  kedatangan-Nya?”Menyambut datang-Nya ada berbagai sikap dalam diri manusia (kita). Sikap siap, cemas, takut, tidak peduli, masa bodoh/cuek, atau biasa-biasa saja. Terserah apapun itu sikap kita, tapi Yesus mengingatkan agar kita benar-benar mempersiapkan diri, agar fokus hidup kita selalu pada kebenaran Firman-Nya. Karena kita mengasihi Yesus dan mencintai-Nya, apapun yg Ia perintahkan, saya lakukan. Karena, hidup ini bukanlah hanya untuk menunggu kedatangan Yesus, tetapi di dalam hidup ini adalah menyenangkan hati Yesus di dalam segala keadaan. Agar kita dijumpai dengan keadaaan apa adanya. Hidup kita bukanlah kehidupan yg munafik dan dibuat-buat.

Ketidaktahuan kita tentang kapan datangnya seorang pencuri dipakai Tuhan Yesus untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua kali (ay. 43). Dia akan kembali suatu hari nanti untuk menghakimi seisi dunia. Kita menyebutnya “kiamat” atau “akhir zaman”. Dia akan datang dalam kemuliaan-Nya, membawa penghukuman bagi mereka yang tidak percaya, namun akan memberi upah bagi setiap orang percaya kepada-Nya.

Banyak orangmencoba meramalkan kapan waktu kedatangan-Nya. Padahal Yesus telah memperingatkan agar kita tidak perlu pusing soal “kapan” waktunya, melainkan lebih berfokus kepada sikap kita menyambut kedatangan-Nya, yaitu dengan “berjaga-jaga” atau “siap sedia”. Berjaga-jaga artinya kita menaruh iman kita kepada Kristus dan menghidupinya setiap saat, sehingga kapan pun Dia datang, kita siap. Dengan begitu, kedatangan-Nya justru menjadi sukacita bagi kita. Maka adven kita adalah sepanjang hidup, setiap saat dan kapan saja.

Apa yang harus kita lakukan agar kita dapat berjaga-jaga.Pertama, kita harus berjaga-jaga dengan cara menjaga hati kita. Memang kita juga harus menjaga perkataan dan perbuatan kita, tetapi yang lebih penting dari itu adalah menjaga hati kita. Segala perkataan dan perbuatan kita keluar dari hati kita. Oleh karena itu, jika kita mau berjaga-jaga, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga hati kita agar tetap kudus dan memiliki motivasi yang benar di hadapan Tuhan.

Kedua, kita harus menjauhkan dari segala hal dan kepentingan duniawi. Dalam ayat ini kepentingan duniawi digambarkan sebagai pesta pora. Ingat bahwa konteks berjaga-jaga adalah berjaga-jaga terhadap kedatangan Tuhan yang kedua kali, sehingga jangan sampai kita sibuk dengan hal-hal atau perkara-perkara duniawi yang sementara ini dan justru lupa mempersiapkan hal-hal surgawi yang kekal.

Ketiga, kita harus harus selalu siap sedia setiap saat, supaya hari Tuhan (hari kedatangan Tuhan) tidak jatuh secara  tiba-tiba kepada kita seperti sebuah jerat. Oleh karena itu, berjaga-jaga juga harus dimaknai sebagai membangun sebuah persiapan agar kita selalu siap sedia.

Keempat, kita harus berjaga-jaga sambil berdoa meminta kekuatan dari Tuhan. Berjaga-jaga bukan berarti kita harus bangun terus menerus dan tidak tidur (secara harafiah). Berjaga-jaga harus kita isi dengan berdoa dan membangun hubungan dengan Tuhan, sehingga Tuhan memampukan kita dan menguatkan kita untuk tetap mampu bertahan hingga akhir.

Kedatangan Tuhan bukanlah suatu peristiwa yang biasa, tetapi sangat luar biasa. Semua penduduk bumi akan melihat kedatangan Tuhan. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menganggap serius tentang hal ini, dan berjaga-jaga dengan sungguh-sungguh. Kita harus berjaga-jaga agar kita tetap memiliki iman hingga akhir, sehingga kita tetap dapat menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali, dan kapan saja dengan sukacita, bukan dengan rasa takut dan dukacita karena kita telah menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita.***

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, jagalah hati dan pikiran kami supaya tetap focus akan kedatangan-Mu yang kedua pada akhir zaman, sehingga dalam setiap kata dan perbuatan kami sungguh merupakan cerminan iman kami. Teguhkan iman kami senantiasa sehingga saat akhir zaman tiba Engkau akan mendapati iman kami di bumi ini. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian (+) Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *