Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XXVI – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVI

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVI

SI KAYA DAN LAZARUS

 

  • Minggu, 25 September 2022
  • Injil Luk 16:19-31
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Si kaya itu tidak mampu lagi berkomunikasi dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Nurani kemanusiaannya terkikis dan tidak mampu lagi merasakan belas kasihan. Akhirnya, ketumpulan batin itu mengurungnya di neraka.

 

Perumpamaan dalam warta Injil hari ini menampilkan orang kaya sebagai orang yang hidup tanpa kekurangan suatu apa. Dan, tentu saja pada waktu itu di mata orang banyak, ia adalah sungguh orang yang dilimpahi berkat Allah. Saya pikir sampai sekarang pun secara umum atau sebagian besar orang beriman akan berpikir begitu. Orang yang berkelimpahan adalah orang yang dipenuhi berkat Allah. Bahkan setiap orang berkeinginan hidup yang seperti itu. Tidak salah, bukan?

Lalu bagaimana dengan Lazarus? Kenyataannya, Lazarus mengalami hidup kebalikannya. Ia justru duduk meminta-minta di gerbang rumah orang kaya itu. Di sini, Lazarus seolah-olah sudah kehilangan martabat sebagai manusia. Ia akan sudah merasa beruntung bila mendapat sisa-sisa makanan dari orang kaya itu. Tentu saja Ia tidak termasuk kelompok orang yang beruntung menikmati kebahagiaan seperti orang kaya dan rekan-rekannya.

Tetapi bagaimana nasib Lazarus maupun orang kaya itu setelah mereka sama-sama mati?

Dalam warta Injil tadi diceritakan, baik Lazarus maupun orang kaya itu meninggal dan keadaan mereka selanjutnya sangat berbeda. Lazarus terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan bersama dengan nenek moyangnya. Sedang orang kaya itu sebaliknya tersiksa di dunia orang mati. Dari sana ia berseru meminta Abraham agar menyuruh Lazarus memberinya setetes air saja yang dari ujung jarinya untuk mengurangi dahaganya.

Kalau kita kembali ke masa mereka masih hidup di dunia, si kaya itu tidak punya perhatian sama sekali kepada Lazarus yang miskin dan badannya penuh borok berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Kini justru ia meminta Abraham agar menyuruh Lazarus menolong dia. Baginya, Lazarus hanya pantas jadi pesuruh.

https://www.youtube.com/watch?v=zPzruq-WpMQ

Ia bahkan tidak mau kenal padanya, menyapa atau menyapa Lazarus dengan namanya,  walau dia tahu siapa namanya. Dengan kenyataan ini, meski nasibnya terbalik, si orang kaya itu tetap mau meninggikan diri. Tapi satu keadaan dan kenyataan di akhirat itu lain, sangat berbeda dan kontras. Kalau di dunia dulu orang kaya ‘melihat ke bawah’ artinya memandang rendahLazarus namun di akhirat dia harus mendongak melihat Lazarus yang berada di atas, bersama Abraham.

Dari cerita yang disampaikan Yesus, kita mungkin bertanya pesan apa yang mau disampaikan Dia kepada pendengar-Nya kini, kita semua? Di sini, kita harus sadar bahwa dalam Gereja Awal makin tumbuh kesadaran bahwa mereka yang mengalami keberuntungan (kecukupan atau bahkan kaya) wajib memperhatikan mereka yang berkekurangan. Akan celakalah mereka bila tidak mengindahkan kewajiban ini.

Perlu diketahui bahwa pada awalnya warta mengenai Kerajaan Allah tidak hanya menjawab keinginan untuk selamat kelak di akhirat, tetapi juga menjadi dorongan untuk memperhatikan orang-orang yang tidak seberuntung mereka, yakni kaum miskin yang hidup di luar kalangan mereka. Karena itu, komunitas kristiani awal tidak hanya berkembang ke kalangan menengah atas tetapi juga meluas ke lapisan kelas bawah. Keadaan ini tercermin dalam gambar ideal mengenai jemaat pertama di mana di antara mereka ada yang menjual kepunyaan mereka lalu mengumpulkan uangnya dan menyerahkan kepada para rasul untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin menurut kebutuhan mereka. Tujuannya bukan supaya bisa hidup sama rata sama miskin, melainkan untuk memungkinkan yang kurang berkesempatan untuk ikut menikmati keberuntungan. Bagi mereka ini cara untuk memelihara integritas – kesungguh-sungguhan dan kejujuran – dalam hidup umat.

Nah, lalu ada gambaran yang tajam mengenai mereka yang menyalahgunakan kegiatan ini. Contoh: Safira (istri Ananias) yang terkutuk mati karena menahan sebagian hasil penjualan tanah mereka dan tidak membagikan kepada orang miskin (Kis 5:1-11), demikian juga perumpamaan mengenai orang kaya dan Lazarus dalam Luk 16:19-31 yang ditampilkan dalam warta tadi dengan latar kesadaran seperti ini.

Kemudian kesadaran dan perkembangan hubungan antar anggota semakin didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak lagi mengikuti batas-batas kelompok sosial, bahkan mengatasi perasaan permusuhan turun-temurun. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati mencerminkan kesadaran ini. Juga persyaratan radikal menjadi murid Yesus – meninggalkan orang tua, sanak saudara, milik dan warisan (bdk. Luk 14:25-33). Juga baru bisa dipahami bila gagasan itu dipandang dalam hubungan dengan kesadaran baru yang lebih kuat daripada ikatan-ikatan keluarga.

Siapa sebenarnya orang kaya itu?

Ketika masih hidup dan berkedudukan tinggi di dunia, orang kaya itu tidak membutuhkan apa-apa. Ia tidak peduli ada orang yang kelaparan dan sakit di dekat pintu gerbang rumahnya. Padahal sebenarnya ia bisa berbuat baik kepada Lazarus itu. Tidak mungkin tidak… dan sedikit kebaikan saja takkan mengurangi miliknya. Malah ia akan beruntung karena kebaikannya nanti akan diingat di akhirat. Dari pemikiran ini, boleh jadi ia tidak percaya akan ada kelanjutan hidup di akhirat. Justru ia baru merasakan kebenaran itu setelah betul-betul ia mati.

Menarik kita perhatikan bahwa, meskipun demikian keadaannya, seperti dikatakan ia masih berani sekali lagi meminta kepada Abraham agar supaya mengirim Lazarus memperingatkan kelima saudaranya supaya mereka tidak bernasib sama dengannya. Di sini, orang kaya itu rupanya hanya mau memperbudak Lazarus lewat Abraham. Juga kelima saudaranya hanya dipakai sebagai alasan agar Lazarus masih menjalankan apa yang diinginkannya. Ternyata di akhirat pun ia tidak memiliki kepekaan terhadap Lazarus, juga terhadap dirinya sendiri.

Maka kata Abraham, kelima saudara itu mestinya dapat menemukan bimbingan dari Musa dan para nabi, maksudnya dari wahyu ilahi dalam Kitab Suci. Tetapi orang kaya tadi ngotot. Saudara-saudaranya, katanya, takkan diyakinkan dengan cara ini. Mereka baru akan percaya bila didatangi dan diperingatkan orang yang kembali dari dunia orang mati. Jelas ia mau memaksakan keinginannya sendiri kepada Abraham dan Lazarus. Di sini ditunjukkan bahwa orang kaya itu tidak percaya pada Kitab Suci dan wahyu ilahi. Lebih buruk lagi, ia beranggapan saudara-saudaranya juga tak percaya seperti dia.

Perumpamaan ini diceritakan kepada para murid agar disampaikan kepada orang banyak. Apa yang tak beres dalam kehidupan orang kaya itu? Yaitu bahwa ia tidak mampu lagi berkomunikasi dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Bahkan orang kaya itu tidak membiarkan dirinya sendiri atau orang lain seperti dia, belajar mendengarkan Tuhan. Ketumpulan batin orang kaya tadi telah mengikis nurani kemanusiaannya sendiri. Ia tidak bisa merasakan belas kasihan terhadap Lazarus yang tiap hari dilihatnya duduk di dekat pintu gerbang rumahnya. Ketumpulan batin itu akhirnya mengurungnya di neraka.

Perumpamaan ini disampaikan dengan maksud agar para murid, tidak meninggalkan baik si kaya maupun Lazarus. Tugas kita para murid dan kini kita semua, orang beriman ialah mengurangi jarak antara Lazarus dan kebaikan nyata Tuhan di dunia dan jarak antara si kaya dengan kebahagiaan yang tak diperolehnya di akhirat. Bila terjadi, maka si kaya akan menemukan jalan bagaimana berbagi keberuntungan dengan mereka yang berkekurangan dengan cara yang paling cocok. Dan kemudian bagi orang-orang seperti Lazarus, perasaan Tuhan berada jauh tidak akan membuatnya putus asa.

Namun lebih-lebih bagi kita, perumpamaan itu mengungkapkan sosok Tuhan yang tidak meninggalkan orang yang sudah tanpa harapan lagi baik di dunia maupun di akhirat, si miskin dan si kaya. Dan kita dihimbau dan hendaknya kita berani memperkenalkan serta memberi kesaksian hidup bahwa Tuhan itu mahabaik, selalu memberi kesempatan untuk berharap pada-Nya dan bertobat mohon belas kasih pengampun-Nya.***

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, berilah dan bimbinglah kami umat-Mu untuk mau bersikap belas kasih terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan di dunia ini dan doronglah kami untuk berani memberi kesaksian hidup yang benar sebagai orang beriman, hidup seturut apa yang Kaukehendaki. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *