Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XIX – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XIX

RENUNGAN MINGGU BIASA XIX

JANGAN TAKUT

  • Minggu, 7 Agustus 2022
  • Injil Luk 12:32-40
  • Oleh Rm Thomas Suratno SCJ

Tak usah khawatir mengenai apa yang bakal terjadi. Dengan Sabda itu, Yesus hendak mengatakan bahwa Yang Mahakuasa merupakan Bapa yang penuh perhatian. Kita dilindungi-Nya, kita tidak sendirian tapi selalu bersama dengan Dia.

 

“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu,” (Luk 12:32). Ayat itu sebetulnya menyimpulkan dan menutup serangkaian nasehat Yesus dalam ayat 22-31 sebelumnya supaya orang meninggalkan rasa was-was dan khawatir. Yang penting ialah menemukan Kerajaan Allah dan hal-hal lain akan diberikan juga sebagai tambahan. Setelah itu baru saya teruskan dengan ayat 33-34 yang berisi peringatan-peringatan agar orang lebih memikirkan kekayaan di surga daripada harta yang bisa rusak di bumi disusul dengan beberapa nasehat lain tentang kewaspadaan dalam ayat 35-48. Jadi ada tiga macam pokok.

Menarik bahwa adanya peringatan agar melepaskan keterikatan pada harta dan nasehat agar tetap waspada ini bersama dengan seruan tak usah khawatir tadi. Penggabungan dalam petikan hari ini membuat rangkaian nasehat tadi makin mengena pada kehidupan. Memang bahaya keterikatan pada kekayaan memang tetap ada. Maka perlu membangun kewaspadaan terhadap kelemahan sendiri sambil menyadari bahwa Yang Mahakuasa selalu menyertai dan memperhatikan kita.

“Jangan takut, hai kamu kawanan kecil!” Ungkapan “kawanan” itu maksudnya kawanan domba, Yunaninya “poimnion”, sekawanan domba yang butuh gembala. Dan gagasan “kecil” di situ dipakai untuk mengungkapkan perhatian dan kasih sayang, bukan untuk menyebut kelompok minoritas agama atau masyarakat pada zaman itu. Bayangkan saja seperti seorang ibu yang sedang menimang-nimang anak kesayanganya dan menggumamkan kata-kata lembut. Tentu ini semuanya ibarat.

https://www.youtube.com/watch?v=MY_ydlt1YCg

Yesus mengungkapkan “Jangan takut, hai kamu kawanan kecil!”  untuk membesarkan hati orang. Tak usah khawatir mengenai apa yang bakal terjadi. Yesus hendak mengatakan bahwa Yang Mahakuasa sebagai Bapa yang penuh perhatian pada kawanan kecil tadi. Ingatlah bahwa ungkapan “Jangan takut!” itu kerap dipakai Allah dalam Perjanjian Lama untuk menguatkan umat-Nya. Mereka dilindungi-Nya dari kekuatan-kekuatan jahat yang selalu mengancam. Kata-kata itu menegaskan bahwa kita tidak sendiri melainkan bersama dengan Dia sendiri.

Kemudian dalam ayat 32 itu saya kutip juga kata-kata Yesus yang mengatakan “Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu!” Maksudnya: karena kita berada dalam kuasa Bapa maka tak perlu khawatir. Tak ada kekuatan apapun dapat mencelakai kita. Tentu maksudnya juga untuk membuat kita merasa aman berada bersama Bapa dan, bila kita dapat, ajaklah saudara-saudara kita agar mengerti dan ikut berlindung kepada-Nya.

Ingat akan apa yang dikisahkan dalam Luk 15, di mana diceritakan bagaimana Yesus mengibaratkan diri sebagai pemilik kawanan domba yang berani meninggalkan kawanan besar untuk mencari satu saja dari kawananannya yang sedang tersesat. Kegembiraannya meluap-luap ketika menemukan yang satu itu tadi. Luar biasa Tuhan Yesus itu. Tentu saja banyak orang terpesona oleh karena kepribadian-Nya. Walau kita tak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri, tetapi mendengarkan kisah tentang Dia dapat membuat kita merasa sedang mengikuti-Nya dari tempat ke tempat. Dia memang gembala yang baik.

Yesus sebagai Gembala sendiri bagaimana Dia sampai tiga kali meminta Petrus agar tetap menjaga kawanan dombanya sehingga tidak terlantar. Dan Petrus mengiyakan tiga kali pula. Boleh jadi ini hal ini mau mengatakan bahwa penyangkalan Petrus yang tiga kali itu kini tuntas terhapus oleh tiga kali ungkapan kesediaannya. Dan peristiwa itu acap kali dimengerti sebagai dasar penugasan bagi Petrus. Memang tidak meleset. Akan tetapi, yang hendak disampaikan terutama ialah ungkapan perhatian Sang Gembala sendiri serta ketulusan orang yang diserahi tugas itu.

Kenyataan inilah yang melatari firman hari ini. Dan kalau kita baca terus, sebetulnya, tokoh Petrus juga saya sebutkan. Memang konteksnya ialah kewaspadaan, bukan lagi nasehat tak usah khawatir. Nasehat berwaspada itu lebih-lebih ditujukan kepada mereka yang bertugas mengurus kawanan kecil milik Sang Gembala tadi. Kawanan domba dibesarkan hatinya agar tak usah takut karena diperhatikan Bapa yang akan mencarikan yang dibutuhkan, termasuk mencarikan orang untuk memelihara.

Sekarang orang yang diberi tugas mengurus kawanan itu, yaitu Petrus, dinasehati Yesus agar terus waspada. Ia mesti berjaga terus agar bila sang empunya rumah kembali, semuanya beres dan siap. Bahkan penjaga ini mesti berlaku seperti tuan rumah yang memperhitungkan pencuri yang datang pada saat orang terlena. Berat tentunya tugas orang yang diserahi mengurus rumah tangga, termasuk mengurusi kawanan kecil yang disayang pemilik itu. Akan tampak apakah dia itu betul-betul mau melayani atau sekedar untuk mencari untung bagi diri sendiri.

Akan kelihatan apakah ia ikut menyayangi semua yang termasuk rumah tangga tuannya, barang, peliharaan, dan para pekerja lain. Ia tidak akan berlaku kejam. Sekali ia bertindak bengis dan tak adil ia sudah melanggar tekadnya sendiri.  Kita tahu bahwa sebesar-besarnya dedikasinya, pengurus rumah tangga itu juga tetap manusia. Kesalahan bisa dibuatnya secara sengaja. Memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Tapi akan menjadi lain bila ia sadar dan bertindak kejam terhadap orang yang dibawahkan kepadanya dan menyalahgunakan barang-barang yang dipercayakan kepadanya. Nanti ia akan dimintai tanggungjawab, dan bila keliru akan kena pukulan. Yang dengan sadar menjalankan hal yang tak benar akan benar-benar mendapat hukuman. Tetapi bila tidak, ia tetap tak dapat mengelakkan tanggungjawab dan akan kena tindakan, tapi tidak sekeras bila ia sengaja mengabaikan tuannya.

Di sini yang namanya tugas dan tanggung jawab dalam sebuah pekerjaan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Salah satu ukuran terbesar untuk melihat apakah sebuah tugas dilaksanakan dengan semestinya adalah dengan melihat hasil dari tugas itu sendiri. Seorang yang bertanggung jawab akan mempunyai hasil yang bisa dipertanggungjawabkan pula. Biasanya orang yang diserahi sebuah tugas tertentu dianggap sebagi orang yang bertanggung jawab. Semakin ia dipercaya, semakin besar pula ia diserahi sebuah tanggung jawab. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar juga tanggung jawabnya.

Tanggung jawab dalam warta injil hari ini adalah sebuh bentuk kewaspadaan tadi. Tentu saja setiap orang diajak untuk selalu waspada. Ada banyak hal yang perlu diwaspadai, mulai dari bahaya yang kecil, sampai dengan bahaya yang bisa mengancam nyawa. Orang yang wasapa berarti matanya terbuka untuk mengamati. Ia akan peka jika ada perubahan-perubahan yang tidak wajar. Ia akan segera mampu menilai situasi sekitarnya dan bersiap mengambil langkah-langkah yang memungkinkan.

Maka kewaspadaan masuk dalam ranah beriman. Seorang beriman senantiasa diajak untuk menjadi orang yang sadar diri. Sadar diri yang dimaksud adalah sadar diri akan imannya, akan tanggung jawabnya sebagai orang beriman. Terhadap banyak godaan, ia tidak boleh lengah. Senjata iman harus selalu siaga, kapanpun dibutuhkan, ia siap bergerak. Ancaman selalu datang secara tiba-tiba, bahkan menunggu waktu yang tepat untuk menyerah. Ketika kita waspada, tidak ada ancaman yang datang. Namun ketika kita lengah, ancaman akan segera beraksi. Bukan ancamana yang tidak ada, namun kesiagaan kitalah yang membuat ancaman itu tidak mempunyai peluang.

Dalam seluruh aspek kehidupan, entah dunia kerja dan dunia beriman, kita dipanggil untuk selalu waspada. Bahaya dan ancaman datang dengan tiba-tiba. Ketika ia tiba, hanya kesiagaan yang akan mampu mengalahkannya. Jika kesiagaan tidak ada, pastilah kita habis oleh ancaman itu. Nah, sebagai orang yang dibaptis, kita diberi rahmat istimewa yang lebih. Maka kita juga dituntut tanggung jawab yang lebih atas rahmat istimewa itu. Beranikah kita mengaku diri sebagai orang Kristiani jika kita belum ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar kita?***

 

DOA:

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk berani bertanggung jawab atas hidup kami. Bantulah kami agar kami mampu mengembangkan hidup kami secara bertanggung jawab. Sadarkan kami agar kami mau peduli terhadap lingkungan kami, terhadap mereka yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Semoga kami mampu melihat lingkungan sekitar kami dengan bertanggung jawab. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa (+) dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *