Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XVII – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XVII

RENUNGAN MINGGU BIASA XVII

BERDOA, BERSABAR DAN TERUS MENGETUK

 

  • Minggu, 24 Juli 2022
  • Injil Luk 11:1-13
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Sabar dalam doa artinya tetap berdoa meski tampaknya permohonan belum terjawab.  Yesus menghendaki kita tidak menjadi suam-suam kuku dalam berdoa. Sebaliknya, kita mesti tekun dan bersungguh-sungguh. 

 

Kita masih ingat bahwa Warta Injil minggu lalu tentang Yesus  yang mengunjungi Maria dan Martha. Lalu, Dia menekankan pentingnya doa dengan mendengarkan sabda Tuhan atau kehendak Tuhan. Kemudian, Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan dengan mana Ia pun mengajar berdoa.

Di sini kita menjadi paham, mengapa Yesus berdoa. Sebab, dalam kepenuhan-Nya sebagai Allah, Yesus sesungguhnya tidak perlu berdoa. Namun, dalam kemanusiaan-Nya, Yesus hendak memberikan contohnya kepada kita. Supaya kita mengetahui betapa kita sebagai manusia perlu berdoa kepada Allah yang begitu peduli akan kehidupan kita, seperti seorang bapa kepada anaknya.

Mungkin banyak orang berpikir –termasuk kita semua- bahwa doa yang didengarkan Tuhan adalah doa yang dikabulkan, menurut keinginan orang yang berdoa. Oleh karena itu, ketika keinginan orang tersebut tidak terkabul, lalu orang itu menjadi malas berdoa. Padahal, sebagaimana Injil yang telah diwartakan dan diajarkan Minggu lalu,  doa itu sangatlah penting. Namun, doa yang dimaksud bukanlah semata-mata permohonan, tetapi juga mendengarkan kehendak Tuhan.

Maka dari itu, ketika murid Yesus meminta-Nya untuk mengajar mereka berdoa, Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Dan Yesus pun segera mengajarkan perumpamaan tentang seseorang yang dengan tidak malu-malu meminta bantuan kepada sahabatnya untuk meminjamkan roti untuk menjamu tamunya. Mengapa Yesus mengajarkan perumpamaan ini?

St. Sirilus berkata, “Dapat terjadi, mereka yang telah menerima ajaran yang baik ini [tentang doa Bapa Kami], mencurahkan doa-doa mereka dengan rumusan seperti yang diajarkan itu, tetapi secara sembrono dan tak bersemangat, dan ketika doa pertama atau kedua kali mereka merasa  tidak didengarkan, mereka berhenti berdoa. Supaya ini tidak terjadi pada kita, Ia menunjukkan dengan perumpamaan bahwa sikap pengecut dalam doa itu merugikan diri sendiri, tetapi adalah bermanfaat, jika kita memiliki kesabaran dalam doa….” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 11:1-4).

Sabar dalam doa maksudnya adalah tetap berdoa meski tampaknya permohonan belum terjawab. Maka Yesus menghendaki diri kita tidak menjadi suam-suam kuku dan malas berdoa, tetapi sebaliknya, tekun dan bersungguh-sungguh dalam doa-doa kita. Bahkan, tak perlu malu-malu untuk menyatakan permohonan kita kepada Tuhan, seperti juga telah dilakukan oleh Abraham dalam Kej 18:20-33 (Bacaan Pertama). Tuhan Yesus berkata, “Mintalah, maka kamu akan mendapat…”

Lalu, bagaimana sebaiknya permintaan kita agar dikabulkan?

Dalam warta Injil tadi kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus memberikan perumpamaan berikutnya, yakni perumpamaan seorang bapa yang tidak memberi batu kalau anaknya minta roti. St. Sirilus melanjutkan demikian, “Penyelamat kita memberi pengajaran yang penting. Sebab sering kita gegabah, karena dorongan kesenangan, menyerah kepada keinginan-keinginan yang merugikan. Ketika kita meminta hal-hal seperti ini dari Allah, kita tidak akan memperolehnya. Untuk menunjukkan ini, Yesus memberi sebuah contoh dari hal-hal yang terjadi di sekitar kita, dalam kehidupan sehari-hari. Sebab ketika anakmu meminta roti kepadamu, kamu akan memberikannya dengan senang hati, sebab ia meminta makanan yang berguna.

Tetapi jika karena ketidaktahuan ia (sang anak) minta batu untuk dimakan, maka kamu tidak akan memberikannya, namun justru akan menghalanginya untuk memenuhi keinginannya yang merugikan…. Demikian juga dengan argumen ikan dan ular, telur dan kalajengking…. Dari contoh yang diberikan, Ia menyimpulkan, jika kamu (kita manusia) yang jahat — yaitu mempunyai pikiran yang dapat mendorong berbuat jahat — tahu bagaimana memberikan pemberian yang baik, betapa Bapamu di Surga jauh melampauimu [dalam memberi yang baik]?” (St. Cyril, Catena Aurea, Luk 11: 5-13).

Ya, Bapa di Surga  akan memberikan yang terbaik bagi kita. “Ia akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya,”(Luk 11:13).

Maka marilah dalam keheningan hati, kita memeriksa batin kita. Bagaimana dengan doa-doa kita selama ini? Apakah kita berdoa dengan tekun dan bersungguh-sungguh? Sudahkah kita yakin bahwa Allah adalah Bapa yang akan memberikan apa yang terbaik bagi keselamatan kita?  Sudahkah kita meminta Roh Kudus kepada-Nya?

Tentu dengan pertanyaan-pertanyaan ini maksudnya mau mengajak kita untuk semakin percaya kepada Allah Bapa itu mahabaik sumber segala kebaikan dan keselamatan. Mari kita jangan putus asa tetapi bertekun dalam doa atau permohonan-permohonan kita dan hendaknya kita selalu mendengar-mencari kehendak Tuhan dan berusaha untuk menjalankannya.***

 

DOA:

Ya Allah Bapa yang kudus, aku bersyukur untuk segala berkat dan kasih-Mu. Jadikanlah agar diriku senantiasa menghendaki apa yang Engkau kehendaki. Ajarlah aku untuk meminta apa yang baik bagi keselamatanku, untuk mencari apa yang berguna bagi kehidupan kekal dan mengetuk pintu yang membawaku kepada-Mu. Semoga dengan demikian, permohonanku berkenan kepada-Mu dan Engkau berkenan menjawab doa-doaku. Amin.

Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara sekalian, Bapa (+) dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *