Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU PASKAH V – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU PASKAH V

RENUNGAN MINGGU PASKAH V

KREATIF DALAM MENGASIHI

 

  • Minggu, 15 Mei2022
  • Injil Yoh 13:31-33a.34-35
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Kita bisa saja menjadi pahlawan cinta kasih, tetapi tidak menjadi murid Yesus. Tidak perlu kita menginginkan dan mengusahakan klonasi rohani Yesus dalam batin kita.  Bisa-bisa kita akan saling mengklaim yang tidak-tidak.

 

Sebagaimana dituturkan oleh seorang ahli Kitab Suci, A. Gianto SJ dalam tulisannnya mengenai ulasan perikop ini, dikatakan bahwa: Perjamuan terakhir merupakan konteks dekat dari warta Injil yang kita dengar tadi, di mana Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari mereka akan menyerahkannya.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan guru-murid yang hingga saat itu baik kini mulai diganggu kekuatan atau kuasa gelap. Rupanya, kelompok ini tidak lepas dari kelemahan manusiawi juga. Petrus salah seorang murid-Nya meminta Yohanes (“murid yang dikasihi”) bertanya siapa yang dimaksud.

Yesus menjawab bahwa dia yang akan diberinya roti sesudah dicelupkannya, itulah orangnya. Kemudian ia memberikan roti itu kepada Yudas Iskariot. Tapi, juga dikatakan dalam Injil Yohanes, bahwa sesudah itu Yudas kerasukan Iblis (Yoh 13:27).

Kemudian, Yesus berkata kepada Yudas agar ia segera pergi melakukan apa yang hendak diperbuatnya. Dan Yudas pun keluar. Murid-murid tidak menangkap arti kejadian itu. Mereka mengira Yesus menyuruh Yudas, pemegang kas mereka, untuk pergi membeli sesuatu.

https://www.youtube.com/watch?v=GNHXZCClgL0

Yudas kerasukan iblis justru pada saat Yesus memberinya roti yang sudah dicelup. Artinya, makanan yang siap untuk disantap yang diberikan oleh tuan rumah kepada orang yang diundangnya. Sampai saat itu, Yesus masih menganggap Yudas orang sendiri, termasuk keluarga, yang diajak makan bersama.

Namun, justru pada saat itulah kekuatan gelap, yang melawan Yesus, membadan dalam diri seorang manusia. Di sini jelas bahwa iblis memakai cara-cara manusiawi juga untuk masih berusaha menggagalkan kehadiran ilahi di tengah-tengah dan di dalam diri manusia.

Terjadilah peperangan antara dua kekuatan ini. Yang Ilahi memakai ujud manusia dalam diri Yesus untuk menjalankan karya penebusan. Lalu, kekuatan-kekuatan yang melawan karya ilahi itu kini juga memakai ujud manusia.

Di sini, penginjil Yohanes mau menunjukkan bagaimana kekuatan-kekuatan gelap itu bisa juga memakai cara-cara yang dipakai Allah sendiri. Tujuannya, tidak lain agar kita makin memahami kenyataan seperti itu yang kerap kali tidak mudah dilihat.

Seperti yang kita dengar tadi dikatakan atau diterangkan bahwa “setelah Yudas pergi” (Yoh 13:31). Yudas yang sudah kerasukan Iblis itu tidak lagi ada di situ ketika Yesus berkata-kata mengenai Anak Manusia yang dimuliakan dan mengenai Allah yang dimuliakan di dalam dia. Juga Yudas tidak mendengar perintah baru yang diberikan Yesus kepada murid-murid untuk saling mengasihi “seperti halnya” dia sendiri mengasihi mereka.

Artinya apa? Dengan perginya Yudas dari kumpulan para murid hendak dikatakan bahwa di saat itu Iblis tidak hadir mengancam kelompok tadi. Maka, tidak perlu khawatir bahwa ajaran atau kata-kata Yesus dikelirukan oleh kekuatan-kekuatan yang bisa mengalihkan maksudnya. Orang kini mengalami suasana yang bersih dari kekuatan jahat. Dalam saat-saat yang khusus inilah Yesus menyampaikan perintah baru tadi, yakni perintah kasih, perintah untuk saling mengasihi.

Hubungan guru-murid dalam Injil Yohanes berpuncak pada ungkapan perhatian seorang guru kepada murid-muridnya. Penulis Injil, yang menyebut diri sendiri sebagai “murid yang dikasihi”, merasa ditugasi secara khusus menyampaikan perihal perhatian Yesus kepada murid-muridnya hingga saat-saat terakhir bersama mereka. Dialah satu-satunya murid yang memperoleh hidup panjang sehingga sempat menyampaikan hal itu kepada banyak orang dalam Injilnya.

Kemudian, perjamuan terakhir ini semacam perpisahan sebelum Yesus pergi kepada Bapanya untuk menyiapkan tempat di atas sana. Apa yang bakal diperbuat seorang guru dalam saat-saat terakhir?

Ia akan mengajarkan pengetahuannya yang paling dalam, menurunkan “ilmunya” yang paling handal kepada murid-muridnya. Memang murid-murid belum amat siap. Namun waktu sudah mendesak. Tentu yang bisa dilakukan akan dilakukannya. Tetapi hal ini tidak akan terjadi dan tidak kuat ditanggung bila ada murid yang tak pantas. Itulah sebabnya mengapa Yudas dijauhkan atau dipisahkan terlebih dahulu.

Jadi, inilah saat-saat para murid untuk sementara terlindung dari pengaruh jahat tadi. Nanti mereka akan berbaur lagi dalam keadaan di mana ada kekuatan jahat. Di sinilah saat satu-satunya yang mungkin untuk menyampaikan hal yang paling besar yang bisa disampaikannya bagi mereka.

Kemungkinannya murid-murid belum dapat segera menghayati saat itu. Namun, masih ada kesempatan untuk berlatih dan mendalaminya nanti. Di sini diberikan yang pokok-pokok, tetapi yang paling dalam. Dan Yesus juga memberikan yang paling nyata bagi kehidupan sehari-hari, yakni saling mengasihi. Inilah yang diturunkan Yesus kepada murid-muridnya saat itu.

Lalu, apa sebenarnya daya-daya gelap yang paling hebat dan yang paling menakutkan? Bukan penguasa jahat yang menindas. Bukan pemeras. Tetapi yang paling susah ditangkal ialah kekuatan-kekuatan yang sudah lama merasuk di dalam diri manusia dalam ujud kecenderungan yang mau meniadakan kemanusiaan itu sendiri.

Yesus sang Guru itu mengantar manusia mengenal Tuhan yang disebutnya sebagai Bapa dan mengajarkan bagaimana hidup terus di tengah-tengah daya-daya gelap itu: dengan saling mengasihi. Inilah bagian “pengetahuan” terakhir yang diturunkan Yesus sang Guru kepada murid-muridnya. Yang diwariskan Yesus itu ialah keyakinan untuk bersama-sama memperbaiki kemanusiaan, mulai dengan cara kecil-kecilan, dengan saling memberi perhatian.

Kemudian, bagaimana saling mengasihi itu dapat dibahasakan bagi orang sekarang? Kiranya rasa dan sikap sepenanggungan, solidaritas, boleh jadi sebuah gagasan yang bisa membantu untuk memahami saling mengasihi itu. Sehingga akhirnya dengan kasih atau saling mengasihi kesulitan pun menjadi perkara yang tidak lagi membuat putus asa.

Nah, yang tampaknya mudah ini bisa jadi sukar untuk dijalankan. Dalam Yoh 16:12-15 Yesus mengatakan terus-terang bahwa masih banyak yang akan diturunkannya, tetapi murid-murid belum kuat menanggungnya. Ia tidak mempunyai banyak waktu lagi. Tetapi nanti ia akan mengirim Roh Kebenaran, dan Roh ini akan menuntun mereka mendalami pengetahuan kebenaran itu.

“Seperti Aku mengasihi kalian.” Sering ungkapan “seperti” itu dipahami sebagai “dalam cara sama” atau “dengan jalan seperti”. Namun, perintah saling mengasihi diberikan justru tekanannya karena Yesus mengasihi mereka. Adalah godaan besar bagi orang yang dekat dengannya untuk mau menjadi seperti dia. Ini jelas bukan permintaan-Nya.

Kita bisa saja menjadi pahlawan cinta kasih, tetapi tidak menjadi murid Yesus. Yesus sendiri tidak pernah mau mencoba menjadi Allah. Ia diangkat oleh Allah yang disebut Bapanya itu menjadi Tuhan bagi manusia. Tidak perlu kita menginginkan dan mengusahakan klonasi rohani Yesus dalam batin kita. Nanti kisruh. Bisa-bisa orang akan saling mengklaim yang tidak-tidak, walaupun dengan maksud baik apa pun.

“Kreatif.” Merupakan kata kunci untuk mengasihi secara baru.

Kita harus mengakui bahwa merasa lebih tenteram bila tidak diminta menjalankan kasih sayang dengan cara persis seperti yang dilakukan Yesus. Dan, di sini kita justru diminta untuk kreatif menemukan jalan-jalan baru yang belum terpikirkan sebelumnya.

Inilah cara kita yang mengungkapkan dan menunjukkan bahwa Tuhan tetap mengasihi manusia. Maka, pengajaran yang diturunkan kepada murid-murid tadi itu juga bisa menjadi warisan bagi kita. Sehingga setiap orang dapat menghidupkan apa itu kasih kepada sesama dengan pelbagai cara.

Maka, marilah kita yang sudah dikasihi oleh Tuhan Yesus, secara kreatif mencari cara untuk membalas kasih itu. Mengasihi Tuhan dengan mengasihi sesama ikut merasakan sukaduka peziarahan di dunia ini, menjadikan dukacita mereka dukacita kita, bersolidaritas dan sepenanggungan, dan akhirnya dengan kasih atau saling mengasihi itu kesulitan hidup pun menjadi perkara yang tidak lagi membuat putus asa. ***

 

DOA:

Ya Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah memberikan ajaran dan perintah untuk saling mengasihi. Kami sadar bahwa ajaran ini indah tetapi tidak mudah ketika kami menjalankannya. Maka curahkanlah Roh Kudus-Mu selalu sehingga kami mampu untuk menghayati dan menjalankan perintah kasih-Mu itu dalam kehidupan kami sehari-hari. Terpujilah nama-Mu kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Semoga Allah Yang Mahakuasa memberkati saudara sekalian, (+) Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *