RENUNGAN MINGGU BIASA XXXII

RENUNGAN MINGGU BIASA XXXII

Memberi dari Kekurangan

 

  • Minggu, 7 November 2021
  • Injil  Mrk 12:38-44
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Kamu memberi-Ku hal-hal yang sementara dan Aku membalasnya dengan hal-hal yang kekal. Kamu memberi-Ku hal-hal yang fana, tapi Aku memberimu apa yang tetap selamanya.

 

Warta Injil hari ini mengisahkan kisah sederhana, yang mungkin sudah sering kita baca atau kita dengar. Namun, saat kita membaca atau mendengarnya lagi dan merenungkannya, semoga kisah ini tetap menyalakan semangat kasih yang baru di hati kita.

Diceritakan bahwa Tuhan Yesus yang mengamati setiap orang yang datang ke bait Allah dan memberikan persembahan kepada Allah. Tuhan yang memahami isi hati setiap orang, mengetahui bahwa ada banyak orang yang memberi dari kelebihan mereka. Bukannya Tuhan Yesus mengecilkan arti persembahan mereka ini, namun Ia mau menunjukkan nilai yang lebih luhur di mata Tuhan.

Sebab di mata Tuhan Yesus bukan jumlah persembahan yang terpenting, namun sikap batin yang mendasari dan mengiringi persembahan itu. Karena persembahan kita tidak terletak semata-mata dari nilai pemberian kita, tetapi dari kasih kepada Tuhan yang kita miliki dalam jiwa kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memuji persembahan janda miskin itu, sebab walaupun jumlahnya sangat sedikit—hanya dua peser—namun itu adalah “semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (Mrk 12:44). Dua peser itu menunjukkan kasihnya yang total kepada Tuhan.

https://www.youtube.com/watch?v=v3BcUIV-iAY

Kisah tentang janda miskin dalam warta Injil hari ini, juga ajaran Yesus ditujukan kepada para murid yang mau berbicara tentang keadaan dalam jemaat Kristen sendiri. Di situ pun ada orang miskin dan orang-orang kaya. Yang terakhir tentu saja menyumbang jumlah yang lebih banyak, dengan risiko bahwa mereka menilai sumbangan mereka lebih berharga daripada sumbangan orang miskin.

Penilaian yang dangkal itu ditumbangkan oleh penilaian revolusioner dari Yesus, penilaian berwibawa yang akan berlaku dalam pengadilan Tuhan. Nilai kuantitatif tidak berbanding lurus, bahkan dapat terbalik dengan volume kuantitatif. Yang penting bukan berapa tetapi dari berapa (beda). Sebab hanya dari situ dapat dilihat sejauh manakah seorang memberikan dirinya sendiri.

Seorang yang memberi banyak dari kelebihan, belum tentu memberi menurut kemampuannya, dan belum tentu hidupnya sendiri terkena oleh pemberiannya. Tetapi seorang yang memberikan dari kekurangan dan kemiskinannya, barangkali atau besar kemungkinannya memberi melebihi kemampuannya, dan dengan demikian memberikan nyawanya sendiri. Orang itu mencintai Allah dengan segenap hati, dan mencintai sesama melebihi dirinya sendiri.

Kemudian bagaimana tentang Uang Dua peser. Dua peser adalah jumlah uang yang menjadi milik dari janda itu. Apakah makna “dua peser” ini bagi kita? Apakah kalau itu adalah semua yang ada pada kita, kita mau memberikannya kepada Tuhan? Apakah yang paling kita banggakan dalam diri kita? Apakah yang kita anggap penting dalam hidup kita? Apa yang paling sering mengisi hati kita dan pikiran kita? Kiranya hanya Tuhan, yang mengetahuinya! Jujur, betapa jauhnya kita dari memberikan “semua yang ada pada kita” kepada Tuhan! Betapa kita perlu belajar mengasihi Tuhan seperti janda miskin itu!

Warta Injil hari ini membuat kita semakin menghargai pemberian diri yang total kepada Tuhan, yang telah dilakukan oleh para imam, biarawan, dan biarawati. Dan meski panggilan hidup kita tidaklah sama dengan panggilan mereka, namun kita tetap dapat belajar untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan dengan segenap hati kita. Ini tercermin dari bagaimana kita menyediakan waktu yang terbaik untuk berdoa dan mempersembahkan kembali talenta dan berkat yang Tuhan percayakan kepada kita untuk memuliakan-Nya.

Nah, di bulan November ini, kita bersama-sama dengan seluruh Gereja mendoakan saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia. Kita mendukung jiwa-jiwa mereka dengan doa-doa dan perbuatan amal kasih, agar selekasnya jiwa-jiwa tersebut dapat digabungkan dengan para kudus di Surga. Dengan demikian, Gereja mengarahkan kita untuk belajar bermurah hati dalam mengasihi Tuhan dan sesama, tentu demi kasih kita kepada Tuhan.

Semangat kasih inilah yang perlu kita miliki, untuk mendasari segala perbuatan kita. Sebab dengan demikian kita dapat memberi dengan sukacita. Tuhan mengasihi orang-orang yang memberi dengan sukacita (2Kor 9:7): “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita,” – dan akan melipatgandakan buahnya, termasuk memberkati kembali mereka yang memberi.

Bukankah Kitab Suci mengatakan bahwa, siapa yang menabur sedikit akan menuai sedikit dan yang menabur banyak akan menuai banyak pula (lih. 2Kor 9:6)? Sebab, dengan demikianlah, Allah memberkati janda dari Sarfat, yang telah bermurah hati mau berbagi kepada hamba-Nya, Nabi Elia (1Rj 17:10-16). Dan juga bagaimana Tuhan Yesus menggandakan roti dan ikan untuk memberi makan lebih dari 5000 orang, yang diawali dari kemurahan hati seorang anak yang mau membagi bekalnya, lima roti dan dua ikan untuk dibawa kepada Yesus (lih. Yoh 6:1-15).

Sungguh, di tangan Tuhan, persembahan kita yang mungkin nampak tak seberapa, dapat dijadikan-Nya berdayaguna mendatangkan kebaikan, bahkan melampaui segala pemikiran kita. Tuhan tidak memperhitungkan nilai persembahan kita, tetapi kasih di baliknya. St. Agustinus dalam khotbahnya berkata, “Demikianlah Tuhan berkata:….. Kamu memberi-Ku sedikit, tetapi Aku membalaskannya kepadamu berlipat ganda. Kamu memberi-Ku hal-hal yang sementara dan Aku membalasnya dengan hal-hal yang kekal. Kamu memberi-Ku hal-hal yang fana, tapi Aku memberimu apa yang tetap selamanya….” ***

DOA:

Tuhan Yesus,  dengan segenap hatiku, kupersembahkan pujian kepada-Mu. Engkaulah Tuhan yang Pengasih dan Penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Aku bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, sepanjang hidupku. Terimalah persembahan dua peser yang kumiliki, yang sebenarnya adalah milik-Mu sendiri. Lipatgandakanlah untuk mendatangkan kebaikan yang melampaui segala akal dan pemikiranku, untuk keselamatan jiwaku dan sesamaku, demi kemuliaan nama-Mu. Amin.”

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *