Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XXV – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XXV

RENUNGAN MINGGU BIASA XXV

Melayani, Melayani, dan Melayani

 

  • Minggu, 19 September 2021
  • Injil Mrk 9:30-37
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Seorang Kristiani ialah seorang yang hidupnya dibaktikan untuk melayani dengan rendah hati. Bahkan, menjadi seorang pemimpin berarti menjadi pelayan bagi orang yang tidak berdaya, seperti anak kecil.

 

Warta Injil pada hari Minggu biasa ke XXV ini mengisahkan Yesus yang kedua kalinya memberitahukan penderitaan yang akan Dia jalani dan perdebatan antara para murid mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Jika direnungkan secara mendalam bahwa setelah Yesus memberitahukan penderitaan yang akan dijalani-Nya, tidak ada satu pun dari para murid yang berani bertanya, sementara mereka tidak mengerti.

Alasan para murid untuk tidak bertanya adalah sederhana bahwa mereka merasa segan. Mungkin banyak hal yang dapat kita pikirkan mengenai apa sebenarnya yang menjadi dasar dari perasaan segan yang dialami para murid.

Namun, tentu saja sikap seperti ini menunjukkan ketidakpekaan, keegoisan, dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi terhadap Yesus. Mengapa? Karena di saat yang sama Yesus tengah berusaha menjelaskan bahwa Ia akan dibunuh dan bangkit pada hari ke tiga.

Sadarilah bahwa Yesus sedang mempersiapkan hati dan diri dalam menghadapi penderitaan hingga kematian. Dengan situasi seperti ini setidaknya, para murid bisa menguatkan Dia, atau paling tidak mengetahui situasi itu. Tetapi justru para murid orang-orang di sekitar Yesus sibuk memperebutkan siapa yang paling besar diantara mereka.

https://www.youtube.com/watch?v=rO4pWGpD0n0

Misi hidup Yesus adalah pelayanan dan penebusan, bahkan di dalamnya terdapat penderitaan dan siksaan yang luar biasa. Namun, para murid yang tidak peka, malah sibuk dengan hal yang lain.

Hal ini hendaknya mengajarkan kepada kita, atau setidaknya kita dapat memahami dan mempelajari situasi yang terjadi, jangan karena hanya keegoisan dan ambisi semata, kita tidak meyadari apa yang sedang terjadi.

Seperti yang kita dengar tadi, ketika Yesus mengajar, para murid tidak mengerti, namun mereka segan menanyakannya kepada-Nya. Mungkin mereka masih belum memahami tentang apa yang Yesus bicarakan, tetapi  mungkin juga, karena mereka sedang sibuk membicarakan hal lain dan rupanya mereka sedang membicarakan tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.

Di sini, Yesus yang mampu membaca kedalaman pikiran hati setiap manusia, mengetahui apa yang ada dalam pikiran para murid-Nya saat itu. Sejumlah dari mereka mungkin masih terbayang-bayang pengalaman melihat Yesus yang  dimuliakan di atas gunung, lalu menghubungkan kemuliaan tersebut dengan kejayaan kerajaan-Nya di bumi.

Dengan demikian, mereka seolah-olah ingin berlomba menjadi yang terdekat dengan Yesus atau menjadi pemimpin bagi sesama rasul lainnya. Namun, Yesus memberi persyaratannya: bahwa siapa yang mau menjadi pemimpin harus mau menjadi pelayan bagi semuanya.

Para Rasul sebagaimana kebanyakan dari kita selalu ingin dan berambisi menjadi orang besar, orang terpenting dalam masyarakat. Kita suka menampilkan diri sebagai yang terbaik dan sangat penting.

Yesus yang tahu tentang diri-Nya dan misi-Nya bahwa Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, mengajarkan kepada para murid bahwa yang terlebih dahulu dan paling pertama dalam Kerajaan Allah adalah yang paling terakhir dan menjadi pelayan bagi semua orang.

Kebesaran dalam Kerajaan Allah diukur dengan berapa banyak orang yang kita layani dalam hidup ini dan berapa banyak kesempatan yang kita gunakan untuk melayani sesama. Pelayanan adalah tugas dan definisi hidup kita sebagai pengikut Kristus. Pelayanan bukan soal kemampuan, namun soal kesiapsediaan dalam memberikan diri dan hidup kita.

Lalu siapa yang akan mengambilalih kepemimpinan Yesus Kristus? Ingatlah bahwa konsep kepemimpinan mereka pun sama sekali lain. Mereka berpikir bahwa menjadi pemimpin berarti akan dilayani, dihormati, didengar.

Kini Yesus tampil merombak konsep kepemimpinan mereka dengan konsep kepemimpinan Yesus Kristus, yaitu dengan menempatkan seorang anak di tengah mereka.

Menjadi pemimpin berarti melayani orang yang tidak berdaya, seperti anak kecil, membela orang yang hak azasinya diperkosa oleh orang lain. Menjadi pemimpin berarti memimpin lewat contoh hidup yang baik, seperti memberi contoh kepada anak-anak agar dengan muda mereka mengikutinya; menjadi pemimpin berarti promosikan kebenaran dan kejujuran agar orang menaruh kepercayaan kepadanya; menjadi pemimpin berarti siap mendengarkan dan selalu menghargai dan menghormati sesama, apa pun latar-belakangnya.

Nah, walau mungkin pada saat itu perkataan ini belum dipahami sepenuhnya oleh para murid, namun setelah Yesus wafat, bangkit, naik ke Surga dan mengutus Roh Kudus-Nya, perkataan ini jelas tertanam di hati para rasul. Ini nampak juga dari tulisan Rasul Petrus (1Ptr 5:1-3) dan Rasul Paulus (1Kor 9:19-; 2Kor 4:5). Akhirnya, Paus sebagai penerus Rasul Petrus, juga melestarikan ajaran Yesus ini, dengan mengambilnya sebagai salah satu gelarnya, yaitu “Pelayan dari semua pelayan Tuhan,” – Servus servorum Dei.

Sebagaimana kita ketahui dalam warta tadi, ketika secara pribadi Yesus menanyakan apa yang sedang para murid perdebatkan namun mereka hanya diam saja. Perilaku ini memperlihatkan ciri seseorang melakukan kesalahan tetapi enggan mengakuinya. Sikap diam juga bisa menunjukkan kekerasan hati mereka.

Yesus menuntut kejujuran mereka. Setelah itu, Yesus menjelaskan arti menjadi terbesar dengan cara merendahkan diri dengan melayani semua orang. Seorang pemimpin harus merendahkan diri dan melayani siapa saja, bahkan anak kecil yang kelihatan tidak berdaya. Jadi, kejujuran merupakan ciri seorang pemimpin yang dapat dipercaya.

Di samping itu, Yesus juga berharap kepada kita semua untuk bersikap seperti anak kecil yang bersikap jujur dan polos apa adanya pada diri sendiri, serta bersikap tulus tanpa maksud dan pamrih dalam setiap perbuatan kita, karena dengan begitu kasih Allah terungkap dalam hidup kita dan kita menyambut Allah dalam diri kita.

Kita diingatkan untuk kembali ke satu prinsip dasar bagi seorang pemimpin sejati menurut Injil. Yaitu seorang pemimpin adalah seseorang yang mau menjadi pelayan. Yesus mengajarkannya demikian, dan telah melaksanakannya sendiri, sebagaimana kita lihat selama hidup-Nya di dunia sampai wafat-Nya di kayu salib.

Nah, pada hari ini Yesus mengingatkan para murid, dan sekarang ini tentu saja kita semua, untuk kembali ingat tentang nilai luhur dan abadi tentang melayani. Perlombaan untuk menjadi siapa yang lebih hebat dan berkuasa menjadi fenomena umum masyarakat, sejak zaman Yesus sampai sekarang ini.

Dalam sejarah kita bisa belajar bagaimana banyak tokoh dunia yang terkenal karena kekuasaannya, bukan karena hasil pelayanannya. Tidak sedikit orang yang menjadi begitu nyaman dengan jabatan, posisi, status, kedigdayaan, tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya. Hal ini juga menjadi pergulatan dalam diri para murid, siapa yang terbesar diantara mereka. Tetapi justru Yesus mengajak yang sebaliknya, melihat perspektif kebesaran seseorang karena ia mempunyai nilai hidup yang tinggi.

Karena situasi zaman, kita seperti kehilangan roh dari pelayanan, kita kekurangan makna tentang indahnya pelayanan. Kecenderungan sekarang yang jamak terjadi adalah apa yang bisa saya dapatkan, bukan berjuang untuk semangat apa yang bisa saya berikan.

Salah satu hal yang bisa mungkin terjadi mengapa sampai pada fenomena yang demikian adalah karena pengertian yang kurang penuh tentang melayani. Bagi kebanyakan orang, menjadi pelayan adalah status yang tidak lebih tinggi dari seorang bos misalnya.

Menjadi pelayan berarti berada pada taraf yang rendah, yang tidak mendapat penghargaan, yang harga dirinya diinjak-injak. Demikian juga dengan makna melayani, dimaknai sebagai bentuk hidup yang kurang berharga.

Kalau bisa dilayani, mengapa harus melayani?

Memang, melayani merupakan bentuk sikap orang beriman yang mau rendah hati, di hadapan sesama dan Tuhan. Dan nilai itulah yang ditawarkan oleh Yesus. Melayani sama sekali bukan menjadi orang yang rendah, melayani  persis bukan seperti orang yang tidak berharga atau tidak mempunyai harga diri. Justru orang yang berani melayani adalah orang yang berani dilihat kualitas hidupnya, kualitas dirinya, dan bahkan kualitas imannya. Sementara banyak orang yang maunya dilayani, Yesus mengajak para murid untuk berani menampakkan kualitas Kristiani yang berbeda namun berilai ilahi.

Sangat mengharukan bahwa tetap ada begitu banyak umat kristiani yang menghidupi indahnya nilai melayani, tanpa perhitungan untuk rugi, mereka sungguh melayani tanpa lelah. Bukan kehormatan dan kenyamanan manusiawi yang mereka perjuangan, namun nilai Kristiani yang ditawarkan oleh Yesus menjadi bagian hidup, bahkan dalam kehidupan yang paling personal.

Secara kasat mata, nilai luhur melayani tidak begitu tampak. Namun,itulah nilai Kristiani yang sejak permulaannya menjadi roh dari kehidupan Gereja. Sejarah membuktikan nilai melayani menjadi nilai yang tetap layak diperjuangkan hingga saat ini, dalam kehidupan kita masing-masing.

Maka, pertanyaan untuk kita, apakah kita sudah menjadi pemimpin yang melayani dengan baik dalam keluarga kita? Apakah kita melayani selalu dengan menghargai dan menghormati pendapat orang lain? Apakah kita selalu siap melayani siapa saja yang sangat membutuhkan bantuan kita? Marilah kita memeriksa batin kita masing-masing, terutama jika kita memegang suatu peran kepemimpinan di dalam keluarga, di lingkungan, di paroki, maupun dalam masyarakat. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang rendah hati dan mau memperhatikan kesejahteraan mereka yang kita pimpin? Sudahkah kita sungguh mau melayani mereka? ***

DOA:

Ya Tuhan, Yesus Kristus, Engkau selalu berharap supaya kami menjadi murid-murid-Mu yang suka melayani atas dasar kasih. Semoga kami dapat menghargai dan menghormati orang lain dalam pelayanan-pelayanan kami, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat kami. Curahkanlah Roh Kudus-Mu senantiasa dalam hidup kami sehari-hari sehingga kami sungguh dapat menjadi pelayan-pelayan-Mu seperti yang Kaukehendaki. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *