Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XVIII – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XVIII

RENUNGAN MINGGU BIASA XVIII

Akulah Roti Hidup

  • Minggu, 1 Agustus  2021
  • Injil: Yoh 6:24-35
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Setelah kita merasakan dan mengalamiYesus, cicipanitu akan membatalkan keperluan untuk sesuatu lain yang dapat memuaskan dan memenuhi hasrat kita.

 

PADA awal warta Injil Minggu Biasa XVIII ini, Yoh 6:24-35, disebutkan bagaimana orang banyak yang telah mendapatkan makan dari Yesus yang mencarinya di Kapernaum seperti yang diwartakan minggu yang lalu, Yoh 6:1-15.

Mereka menemukan Dia di pantai seberang. Dan juga mereka, adalah orang-orang yang ingin menjadikan-Nya raja, tetapi Yesus menyingkir dari mereka. Terjadilah percakapan antara mereka dengan Yesus. Dari sini menjadi jelas apa yang sebetulnya diinginkan orang-orang itu, dan sekaligus juga dijernihkan apa yang sebaiknya dan seharusnya mereka cari dan dapatkan.

Mengapa demikian? Ketika orang banyak mendapati Yesus di seberang danau (disebut “laut”), mereka bertanya kepadanya kapan ia tiba di sini. Orang-orang itu begitu tertarik dan bahkan ingin mengangkatnya sebagai pemimpin. Maka mereka tak habis mengerti mengapa justru Yesus pergi menghindar. Oleh karena itumereka mencarinya.

Kini mereka menemukannya di tempat lain. Yesus menjawab keheranan mereka dengan mengatakan bahwa yang mereka cari ialah orang yang memberi makan mereka, bukan dia yang membawakan “tanda-tanda”.

Dalam Injil Yohanes, tindakan-tindakan Yesus yang membuat orang terkesan, disampaikan sebagai “tanda”. Begitulah pemberian makan bagi orang banyak yang dikisahkan dalam Yoh 6:1-5 kini dibicarakan sebagai tanda, bukan sebagai mukjizat atau sebagai kegiatan amal belaka. Tanda menghadirkan kenyataan atau pesan yang bukan tanda itu sendiri.

Dalam hal Yesus memberi makan orang banyak,  yang hendak disampaikan bukanlah terutama kebesaran hati atau kedermawanan atau kekuasaannya, melainkan pengalaman nenek moyang mereka diberi makan oleh Allah Tuhan mereka selama mereka berjalan di padang gurun menuju ke Tanah Terjanji.

https://www.youtube.com/watch?v=NA0C51Sdjhw

Dalam ungkapan iman umat Perjanjian Lama, pemberian makanan itu dalam ujud manna dari langit. Pemberian makan orang banyak oleh Yesus kiranya hendak menampilkan kembali pengalaman umat Perjanjian Lama ini. Namun,mereka belum dapat melihat Dia sebagai utusan dari Allah yang hendak menyertai mereka, juga kali ini.

Dalam peristiwa memberi makan orang banyak,  Yesus juga ditampilkan bukan saja pembawa manna surgawi, melainkan kenyataan Tuhan menyertai mereka. Dialah makanan yang menopang orang dalam perjalanan menuju tempat yang dijanjikan. Inilah yang dimaksud dengan “tanda” dalam warta Injil hari ini. Orang banyak yang menemui Yesus kali itu diajak menimba kekayaan pengalaman iman leluhur mereka dan mempercayai tindakan ilahi yang kini sedang mereka alami.

Kini Bapa yang ada di surga memberi kehidupan kepada umat dalam ujud kedatangan Yesus di tengah-tengah mereka. Namunmereka belum menyadarinya.

Mereka baru melihat Yesus sebagai tokoh masyarakat, sebagai yang membela kepentingan mereka, sebagai orang yang diharapkan bisa berbicara demi kebutuhan mereka. Semua ini bagus dan terpuji. Namunbukan ke arah itulah Yesus tampil di tengah-tengah umat. Ia tampil sebagai kenyataan hadirnya Yang Ilahi di tengah umat untuk membawa mereka ke akhir perjalanan. Inilah kehidupan yang dibawakan-Nya kepada orang banyak.

Masalah iman bagi umat ketika itu ialah ketidakmampuan menyadari bahwa iman itu hidup, bukan sekadar ingatan yang dikeramatkan. Bagi orang zaman sekarang, juga bagi orang yang tidak turun temurun menghayati kisah pemberian manna, warta Injil kali ini tetap bisa bermanfaat. Diajarkan agar orang membiarkan iman menjadi bagian kehidupan, bahkan menjadi cara untuk menjalankan hal-hal yang dikehendaki Yang Maha Kuasa.

Kemudian, dalam Kitab Suci, kata roti muncul ratusan kali dan sering digunakan untuk memaksudkan makanan pada umumnya untuk menunjang kehidupan. Misalnya, Tuhan Yesus mengajar para murid untuk berdoa: “Berikanlah kami pada hari ini roti kami yang secukupnya,” (Mat 6:11). Di sini, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kita bisa mengandalkan Allah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (Mzm 37:25).

Meski merupakan kebutuhan pokok manusia, namun ada yang lebih penting daripada roti, atau makanan. Tuhan Yesus berkata,“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.Pernyataan itu mengingatkan kita pada masa ketika orang Israel bergantung sepenuhnya kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan mereka.Ini terjadi tidak lama setelah mereka keluar dari Mesir, seperti yang tadi kita lihat bersama.

Setelah sebulan mengembara di Gurun Sinai, persediaan makanan mereka hampir habis. Karena takut mati kelaparan di padang gurun yang gersang itu, mereka mengeluh, “Kami makan roti hingga kenyang di Mesir,” (Kel 16:1-3). Allah tidak akan membiarkan umat-Nya kelaparan. Lalu Ia berjanji, “Lihat, aku akan menurunkan hujan roti untukmu dari langit.” Dan benar saja, roti dari langit berupa “butiran yang halus” seperti embun beku muncul keesokan paginya. “Apa ini?” tanya orang Israel saat pertama kali melihatnya. Musa menjawab,”Ini adalah roti yang TUHAN berikan kepadamu sebagai makanan.” Mereka menyebutnya manna, dan roti dari bahan manna ini menunjang kehidupan mereka selama 40 tahun.

Awalnya, orang Israel pasti takjub melihat manna yang turun secara mukjizat itu. Rasanya seperti “kue pipih yang dibubuhi madu”, dan jumlahnya cukup untuk semua orang (Kel 16:18). Tapi lama-kelamaan, mereka mulai merindukan berbagai makanan yang pernah mereka nikmati di Mesir. Mereka menggerutu, “Kami tidak melihat apa pun selain manna” (Bil 11:6). Belakangan, mereka bahkan mengatakan, “Kami sudah membenci roti yang memuakkan ini,” (Bil 21:5). Mereka akhirnya tidak suka lagi dan jijik terhadap roti manna.

Tentu saja, sebagai umat beriman janganlah kita menjadi seperti orang Israel yang tidak bersyukur pada zaman Musa, bagaimana kita bisa menunjukkan bahwa kita menghargai roti yang tak ternilai ini? Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku,” (Yoh 14:15) Jika kita menaati perintah Yesus, kita akan memiliki kesempatan untuk menikmati roti yang lezat selama-lamanya (Ul 12:7).

Maka, mukjizat-mukjizat dari Tuhan Yesus hanya dilihat oleh para audiens-Nya sebatas keajaiban yang mengagumkan atau sebatas sebentuk berkat. Namun, hal ini tidak atau belum dimengerti sebagai tanda untuk mengenal dan percaya kepada Sang Pemukjizat. Padahal mereka sendiri mengakui bahwa tanda mukjizat dibuat agar orang menjadi percaya. Tidakkah bahwa setiap pekerjaan yang menyenangkan Allah didasarkan atas rumusan ini, yaitu percaya kepada Yesus, Sang Mesias sebagaimana diungkapkan dalam Yoh 6:28-29: Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” 

Kemudian selanjutnya orang-orang Yahudi dalam Yoh 6:30 bertanya: ”Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?”

Tentu tuntutan kaum Yahudi ini sungguh tidak patut bila itu ditujukan kepada Tuhan Yesus yang nyata-nyata sudah memberikan begitu banyak mukjizat di hadapan mereka, termasuk memberi makan 5000 orang yang baru saja terjadinya. Tuhan Yesus memperingatkan bahwa orang-orang yang sudah menyaksikan tanda-tanda mukjizat-Nya tetapi tetap tidak bertobat dan jadi percaya, maka mereka akan celaka (Luk 10:13-15).

Pernyataan Yesus bahwa “Akulah roti hidup” merupakan frasa yang dipahami oleh kaum Yahudi sebagai penamaan-diri yang bersifat keilahian. Ungkapan “Akulah roti hidup” ini diucapkan dalam pembahasan waktu setelah Ia bermukjizat memberi makan 5000 orang. Dalam penyampaiannya, Tuhan Yesus memberitahukan orang banyak itu, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu,” (Yoh 6:27). “Maka kata mereka kepada-Nya: Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?” (Yoh 6:30).

Yesus, dan Yesus saja, adalah satu-satunya yang adalah roti kehidupan itu. ‘Roti kehidupan’ juga menunjukkan bahwa sifat Yesus adalah sifat yang memuaskan. Ini dilihat jelas dalam ucapan, “tidak akan lapar, dan tidak akan haus.”

Semua jenis roti lain, seperti manna di padang gurun, tetap tidak memuaskan sepenuhnya. Masih ada hasrat yang belum dipenuhi: kita akan lapar lagi. Sebaliknya, setelah kita merasakan Yesus, cicipan itu akan membatalkan keperluan untuk sesuatu lain yang dapat memuaskan dan memenuhi hasrat kita.

Dalam pengajaran ini, Tuhan Yesus juga menegaskan, bahwa tujuan-Nya datang ke dunia ini bukan untuk memberikan makanan yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani yang bersifat sementara, melainkan makanan yang memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal.

Dengan mentransformasikan diri-Nya menjadi roti hidup, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pusat dan Pemilik kehidupan universal. Sebab,siapa pun yang memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya, pasti mendapatkan hidup kekal, bahkan dibangkitkan pada akhir zaman (Yoh 6:54).

Pernyataan ini sekaligus bermakna, bahwa menolak roti hidup berarti binasa. Kesimpulannya, dalam klaim, “AKULAH roti hidup”, Tuhan Yesus menyatakan dengan tegas bahwa asal usul-Nya adalah surga, dan bahwa Dia sajalah yang memenuhi keseluruhan kerinduan rohani para pendengar-Nya. Tuhan Yesus sepenuhnya memenuhi kebutuhan manusia yang terdalam, yang memberi makanan/minuman kekekalan, namun ini justru ditolak oleh mereka yang tidak mau percaya.

Nah, kita sebagai umat beriman yang percaya pada Tuhan Yesus, tentu saja percaya bahwa Dia adalah benar-benar Roti Hidup yang turun dari surga. Roti yang setiap saat memenuhi kelaparan dan kehausan kita untuk bisa hidup dalam kehidupan yang bahagia abadi atau yang dapat mengantar kita pada keselamatan.

Dan hal itu, sebagai umat Katolik khususnya terjadi dan dapat dirasakan setiap minggu bahkan setiap hari, yakni dengan menerima EKARISTI KUDUS. Karena Ekaristi tidak lain adalah kurban salib Yesus Kristus sendiri yang hadir secara sakramental.

Sadarlah bahwa kurban salib ini selalu dihadirkan di atas altar secara tak berdarah dan menguduskan bagi kita semua yang percaya dan menyambut-Nya. Hal inilah yang menjadikan diri kita mengalami dan menikmati prakondisi keselamatan karena kita percaya dan beriman pada-Nya.

Maka dari itu, marilah kita selalu menjadi orang yang selalu haus dan lapar akan Kristus dan selalu berdoa memohon pemenuhan rasa haus dan lapar itu dari kasih-Nya sendiri dengan menerima Ekaristi Kudus.

 

DOA:

Ya Tuhan Yesus Kristus, kami sungguh percaya pada-Mu bahwa Engkau adalah sumber kehidupan dan pemenuhan hidup kami. Semoga Engkau selalu mendorong kami untuk tetap haus dan lapar akan kasih-Mu. Maka mampukanlah kami untuk menanggapi undangan-Mu secara positif, datang dan merayakan Ekaristi sebagai sumber dan puncak hidup kristiani kami. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *