Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XIII – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XIII

RENUNGAN MINGGU BIASA XIII

Menjadi Berkat Bagi Sesama

 

  • Minggu, 27 Juni 2021
  • Injil: Mrk 5:21-43
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Dengan pertolongan rahmat Tuhan dan kuasa Roh Kudus, Tuhan akan memampukan kita untuk menyentuh kehidupan sesama kita, walaupun mungkin dengan cara yang lebih sederhana.

 

Warta Injil hari ini, Mrk 5:21-43,mengisahkan kisah mengharukan mengenai kesembuhan seorang perempuan dari sakit pendarahan terbingkai di dalam kisah Yesus menghidupkan kembali anak perempuan Yairus. Kedua peristiwa itu terjalin satu sama lain lewat harapan yang kuat dan penuh kepercayaan dari orang-orang yang mendekat kepada Yesus, baik Yairus maupun perempuan tadi. Kekuatan penyembuh dalam diri Yesus tidak bisa tinggal diam di hadapan harapan yang sebesar itu dan kepercayaan yang selugu itu.

Ketika Yesus kembali dari seberang danau dengan perahu, orang banyak datang berbondong-bondong mengerumuninya. Mereka ingin mendengarkan pengajarannya. Seperti biasa, orang-orang itu juga memintanya menyembuhkan orang sakit. Seorang di antara mereka bernama Yairus, kepala rumah ibadat. Orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang ini datang ke hadapan Yesus dan bersujud. Ini tindakan penghormatan yang luar biasa, apalagi bila dilakukan oleh seorang kepala rumah ibadat. Dimintanya dengan sangat agar Yesus datang menumpangkan tangan pada anak perempuannya yang sedang sakit, katanya, “agar selamat” dan “tetap hidup”.

Permintaan ini mengungkapkan harapan yang amat besar pada Yesus. Boleh diduga, sudah macam-macam upaya dijalankannya tetapi tanpa hasil. Kini ia amat khawatir anak perempuannya itu tidak bakal sembuh. Tidak diceritakan apa jawaban Yesus. Hanya disebutkan bahwa ia pergi bersama Yairus diikuti orang banyak yang berdesak-desakan. Penginjil Markus kiranya hendak mengungkapkan betapa besarnya harapan Yairus dan rasa ingin tahu orang banyak itu.

https://www.youtube.com/watch?v=3Zt__hwQy4Y

Nah, di antara kerumunan itu ada seorang perempuan yang menderita penyakit pendarahan. Semacam haid yang berkepanjangan dan tak teratur. Ada hal penting yang jelas bagi pembaca waktu itu walaupun tidak dituliskan dalam kisah ini. Menurut hukum agama Yahudi, perempuan dalam keadaan ini dianggap menajiskan tempat yang dipakainya berbaring atau tikar tempat duduknya. Juga siapa saja, laki atau perempuan, yang bersentuhan dengan barang-barang tadi akan ikut najis. Mereka harus menjalankan upacara pembersihan diri. Lihat peraturan yang terperinci dalam Im 15:25-30.

Jadi,perempuan itu harus disingkiri dan dijauhi. Boleh jadi juga ia sendiri memisahkan diri. Hidupnya terkucil. Ia sudah menerima nasib. Putus asa. Tak ada tabib yang bisa menyembuhkannya dan uangnya sudah habis dipakai berobat. Tapi kali ini ada sesuatu yang lain. Banyak telah didengarnya mengenai Yesus.

Hanya penginjil Markus-lah yang mengisahkan hal ini, seakan-akan ia dapat menyelami batin perempuan itu. Dan kita diajak ikut merasakan yang dirasakan Markus. Matius dan Lukas tidak merasa perlu memasuki batin perempuan itu.

Perempuan tadi datang mendekat kepada Yesus, kendati ada orang banyak yang dalam keadaan biasa tentu menjauhi dan dijauhi perempuan itu. Kabar tentang Yesus yang sampai ke telinganya ternyata menghidupkan kembali harapan yang sudah berangsur-angsur pudar dan mati. Perempuan itu menemukan keberanian mendekat ke tokoh tenar dan penyembuh hebat ini. Ia juga tidak membiarkan diri terhalang oleh rambu-rambu yang telah menyingkirkan dirinya.

Maka kata perempuan tadi dalam hati, “Asal kusentuh saja jubahnya, aku akan sembuh.” Dan terjadilah demikian. Menarik diamati, dalam kisah ini, peristiwa menyentuh jubah itulah yang membuat Yesus mulai berbicara, “Siapa menyentuh jubahku?” Pertanyaan aneh. Juga bagi orang zaman itu. Karena itulah murid-murid menyahut, lihat sendiri, kan ada banyak orang berdesak-desakan, kok bertanya siapa menyenggol jubah segala. Gimana sih Bapak Guru ini. Tetapi tidak aneh bagi Yesus – ia merasa ada kekuatan dari dirinya tertarik keluar.

Pakaian yang paling luar, jubah, memberi bentuk pada orang yang memakainya. Bagi orang zaman itu, pakaian membuat orang yang memakainya bisa dikenal secara khusus. Motif seperti ini sering dijumpai: di sebuah gunung nanti pakaian Yesus jadi putih berkilauan, di bawah salib nanti pakaian luarnya diundi, di kubur nanti ada sosok yang berpakaian jubah putih – dan juga kisah penuh tanda tanya mengenai pemuda yang akan ikut ditangkap di Getsemani tapi berhasil meloloskan diri dengan melepaskan pakaiannya yang hanya sehelai itu. Ia tidak lagi dikenali karena tak berpakaian lagi.

Dalam peristiwa kali ini, perempuan yang sakit pendarahan tadi melihat Yesus yang sudah banyak didengarnya itu dengan mata kepala sendiri dan mengenali siapa dia: tumpuan harapan satu-satunya. Dan sisi Yesus yang dikenalinya itulah yang disentuhnya. Dan ada kekuatan yang keluar daripadanya yang mengubah keadaannya.

Setelah mendengar reaksi Yesus, perempuan itu menjadi takut dan gemetar, lalu bersujud kepada Yesus. Ini pengakuan akan siapa Yesus itu. Tetapi apa yang dikatakan Yesus kepadanya? Sapaannya penuh perhatian, “Nak, imanmu telah menyelamatkanmu”. Bukan hanya kesembuhan dari pendarahan belaka diperoleh oleh perempuan itu.

Berita tentang dia yang telah banyak didengar, itulah yang menyelamatkannya dari apatisme dan keputusasaan serta pengucilan diri dari masyarakat. Yesus masih menambahkan, “Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Harapan sembuh dari penyakit yang diidap 12 tahun itu menjadi kenyataan dan bukan hanya itu, ia mendapat tambahan lebih besar lagi, bisa hidup damai dengan diri sendiri dan dengan orang lain, dan akan tetap begitu. Inilah yang didapat oleh perempuan yang mengenali siapa Yesus itu dan berani mendekat kepadanya. Keluguan dan keberanian perempuan seperti itu masih bisa dijumpai kini juga dan perlu lebih diakui.

Pada saat itu beberapa orang dari keluarga Yairus datang dan mengatakan bahwa anak perempuannya sudah mati. Tak perlu lagi merepotkan sang Guru. Mereka tidak melihat siapa dia sesungguhnya. Memang ia bisa menyembuhkan, tapi menghidupkan yang sudah mati? Mana bisa. Tak usah saling mempermalukan nanti.

Begitulah jalan pikiran mereka. Pembaca bagaimana? Kisah penyembuhan perempuan berpendarahan tadi membuat pembaca tahu bahwa Yesus dapat menghidupkan harapan yang sudah mati. Memang penginjil Markus bermaksud membuat pembaca melihat perkara ini sambil mengikuti jalan peristiwa yang dituturkannya.

Pembaca boleh ikut merasakan yang dialami Yairus. Nasi sudah jadi bubur! Apa permintaannya menumpangkan tangan dan menyembuhkan anaknya masih ada artinya? Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Jangan takut, percaya saja!” Dan ia berjalan ke rumahnya untuk menemui anak perempuannya.

Dalam Injil, “jangan takut” dipakai untuk mengisyaratkan kekuasaan ilahi. Dan ditambahkannya “percaya saja”. Bila teks aslinya diikuti, maka perlu diterjemahkan “Terus percaya saja!” Orang-orang mulai menertawakan Yesus ketika ia berkata bahwa anak perempuan itu hanya tidur, tidak mati, maka tak usahlah ribut-ribut menangisinya. Mereka tak bisa percaya.

Apa sebetulnya yang terjadi? Apakah Yesus yakin anak itu tidur. Tidak usah kita menduga-duga. Baginya hidup atau mati itu urusan yang di atas sana.

Hanya penginjil Markus-lah yang menyebut anak itu berusia 12 tahun. Pembaca diingatkan bahwa perempuan yang sakit pendarahan itu telah menderita 12 tahun juga sebelum berjumpa dengan sang pemberi kehidupan baru. Tapi ada juga alasan lain. Pada usia itu seorang anak mulai menjadi dewasa menurut hukum Taurat. Hingga umur ini seorang anak ada di bawah pengajaran bapaknya, yakni Yairus. Pada umur 12 seorang anak akan diserahkan kepada Taurat sendiri.

Di dalam kisah ini anak perempuan itu dipanggil bangun oleh sang Taurat yang hidup. Dalam kisah ini anak itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendengar. Dan yang didengarnya pertama kali dari Taurat hidup ini ialah panggilan penuh perhatian “Talita”, artinya domba betina yang masih kecil, tapi dalam bahasa Aram juga dipakai untuk menyapa anak perempuan, seperti “Nak”. Kemudian didengarnya pula perintah “Qum” (=Bangunlah) dari dia yang menyapa dengan penuh perhatian tadi. Dan anak perempuan Yairus itu menurut dan hidup kembali.

Ketiga murid terdekat, yakni Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ikut menyaksikan bagaimana kematian pun tidak bisa bertahan di hadapan perkataan dia yang membawakan kehidupan baru ini. Mereka melihat sendiri bagaimana harapan dan kepercayaan Yairus menjadi hidup dalam diri anak perempuannya. Dan inilah yang dibagikan tokoh-tokoh yang paling berwibawa itu kepada kita semua lewat Markus dalam Injil hari ini.

Pada awal ulasan disebutkan Yesus tidak bisa tinggal diam di hadapan harapan yang sebesar itu dan kepercayaan yang selugu itu. Dan yang diberikannya kepada mereka ialah perhatian yang nyata. Ini kasih. Dan inilah yang menyembuhkan, yang menghidupkan. Itulah dahsyatnya berharap pada-Nya.  Di situlah letak mukjizat-Nya.

***

Di samping itu, seperti yang kita dengar pewartaan Injil tadi, Tuhan Yesus menyembuhkan seorang wanita yang sakit perdarahan, dan kemudian membangkitkan anak perempuan Yairus dari kematian. Mungkin kisah mukjizat itu sendiri membuat kita takjub, namun rasa takjub itu tidak cukup. Sebab tujuan kisah itu ditulis dalam Injil adalah agar kita percaya akan Kristus dan percaya bahwa Ia adalah Allah yang menghidupkan dan menyelamatkan kita. Pertolongan dan mukjizat Tuhan yang terjadi dalam hidup kita dimaksudkan agar membantu kita semakin mengimani Dia.

Warta Injil hari ini sudah selayaknya menggugah hati kita, untuk mengikuti teladan iman wanita itu, ataupun iman Yairus, yang artinya “ia yang diterangi”.

Oleh imannya, wanita itu disembuhkan, hanya dengan menyentuh ujung jubah Yesus. Oleh iman Yairus, anaknya yang telah wafat dibangkitkan oleh Yesus. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, adakah kita memiliki iman seperti mereka?

Jika dengan menyentuh ujung jubah Yesus saja, wanita itu mengalami mukjizat kesembuhan, betapa lebih lagi kita dapat mengalami kesembuhan dengan menyambut Tubuh dan Darah Tuhan Yesus dalam Ekaristi! Jika Tuhan Yesus berbelas kasihan kepada Yairus, maka tentulah Yesus pun berbelas kasihan kepada kita!

Semoga dengan merenungkan warta Injil hari ini, kita dapat menjadi seperti Yairus, yaitu menjadi “ia yang diterangi” oleh sabda Allah. Sebab sabda-Nya mengingatkan kita bahwa Allah masih terus menolong dan melakukan mukjizat-mukjizat-Nya untuk kita.

Mukjizat dan pertolongan Allah bagi kita itu pertama-tama dimaksudkan bukan semata untuk kebaikan jasmani, tetapi untuk mengarahkan kita kepada keselamatan kekal. Sebab, sebagaimana dikatakan dalam sabda Tuhan hari ini, kita diciptakan untuk kebakaan (lih. Keb 1:15).

Karena itu, setelah kita menerima mukjizat dan pertolongan Allah, kitapun dipanggil untuk menjadi alat-Nya untuk melakukan pelayanan kasih kepada sesama, agar sesama kitapun beroleh keselamatan kekal. Sebab,sama seperti bahwa kita dapat menerima mukjizat dan pertolongan Tuhan melalui bantuan dan kehadiran sesama, demikianlah kitapun dapat menjadi alat Tuhan untuk menyampaikan mukjizat dan pertolongan Allah kepada sesama kita.

Dengan demikian, panggilan untuk berbagi kepada sesama, baik itu iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk menolong dan mengasihi (lih. Keb 1:7), itu tidak hanya tertuju kepada para Santo dan Santa, tetapi tertuju kepada kita juga. Singkatnya, kita diberkati untuk memberkati.

Atau, dengan kata lain, hendaknya kita menjadi berkat bagi sesama. Dengan pertolongan rahmat Tuhan dan kuasa Roh Kudus, Tuhan akan memampukan kita untuk menyentuh kehidupan sesama kita, walaupun mungkin dengan cara yang lebih sederhana. Kita dapat saling mengingatkan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah yang hidup, yang telah mengalahkan kematian untuk menyelamatkan kita. Karena itu, kita pun mempunyai pengharapan akan hari esok yang lebih baik, dan khususnya, akan kehidupan yang kekal.

 

DOA:

Ya, Tuhan Yesus, kami percaya akan janji-Mu, bahwa barangsiapa  percaya kepada-Mu, akan tetap hidup meskipun ia sudah mati. Kami mohon, teguhkanlah iman kami akan kebangkitan, dan buatlah kami menjadi murid-Mu yang sejati, yang mengharapkan kemuliaan kebangkitan yang melampaui kematian. Amin.”

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *