Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU BIASA XI – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU BIASA XI

RENUNGAN MINGGU BIASA XI

Membiarkan Benih Tumbuh

 

  • Minggu, 13 Juni 2021
  • Injil: Mrk 4:26-34
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Kerajaan Allah tetap misteri. Namunpertumbuhannya nyata dan lingkupnya amat besar tak terduga-duga. Orang diajak menjadi bak burung di udara, membangun sarang dan bernaung padanya.

 

Dalam warta Injil Mrk 4:26-34 yang tadi kita dengar memuat dua buah perumpamaan mengenai Kerajaan Allah dengan catatan sebuah catatan bahwa Yesus memakai perumpamaan bagi orang banyak tapi bagi para murid diberikannya penjelasan tersendiri. Perumpamaan yang pertama hanya didapati dalam Injil Markus, sedangkan yang kedua dikisahkan juga dalam Injil Matiusdan Lukas.

Ungkapan “Kerajaan Allah” kerap dijumpai dalam Injil Markus dan Lukas. Injil Matius mengungkapkannya dengan “Kerajaan Surga”. Makna ungkapan ini bukanlah wilayah atau pemerintahan seperti dalam kerajaan duniawi melainkan kebesaran, kemuliaan, kekuasaan Tuhan yang diberitakan kedatangan-Nya kepada umat manusia.

Maklum, pada zaman itu,  orang Yahudi mengalami pelbagai kekuasaan yang amat berbeda dengan masa lampau mereka sendiri sebagai umat-Nya Tuhan. Pada zaman Yesus,  mereka tidak lagi bisa menganggap diri umat merdeka seperti leluhur mereka karena mereka ada di bawah kuasa Romawi.

Namun di kalangan umat ada harapan, satu ketika nanti mereka akan kembali menjadi umat Tuhan seperti dahulu. Tidak jarang harapan ini berujung pada keinginan untuk merdeka dari kekuasaan Romawi dan menjadi negeri dengan pemerintahan dan kekuasaan sendiri. Tetapi cukup jelas harapan seperti ini tidak akan terwujud.

Ada bentuk rohani dari harapan akan kembali menjadi umat-Nya Tuhan. Yesus termasuk kalangan yang mengajarkan bentuk rohani harapan ini. Begitu pula para rahib yang juga dikenal pada zaman itu. Namun kebanyakan dari mereka menghayati harapan itu dengan menjauhkan dari kehidupan ramai dan pergi bertapa di padang gurun dan sekitar Laut Mati.

Nah, mereka ini tetap berada dalam masyarakat namun berusaha menumbuhkan iman akan kebesaran Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka yakin bahwa kebesaran-Nya tetap ada, juga di dunia ini, namun sering sukar dialami.

Bagaimana pun juga bagi kelompok ini berusaha menemukan apa itu kehadiran-Nya yang mulia di dalam kehidupan mereka. Kehadiran-Nya diimani oleh kelompok ini sebagai yang dekat, yang melindungi dan memberi kekuatan dari hari ke hari, yang tidak menghitung-hitung  kedosaan melainkan bersikap pengampun. Semua ini juga didapati dalam doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus.

Inilah warta yang digambarkan dengan pelbagai perumpamaan dalam Injil-Injil. Juga dalam warta yang kita dengar kali ini. Menurut Injil Markus, Yesus mulai tampil di Galilea dengan warta bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan orang-orang diajak untuk bertobat, yakni meninggalkan anggapan yang bukan-bukan seperti di atas dan memegang warta yang sejati dengan mempercayainya sebagai warta gembira.

Dengan latar penjelasan mengenai Kerajaan Allah tadi, kini dapat dilihat perumpamaan yang pertama. Di situ pertumbuhan Kerajaan Allah digambarkan sebagai biji yang ditaburkan dan dibiarkan bertunas, tumbuh hingga berbuah dan dituai pada musimnya. Bagaimana menangkap maksudnya?

Sebaiknya perumpamaan ini jangan dipahami sebagai penjelasan bahwa Kerajaan Allah itu butuh waktu untuk tumbuh hingga berbuah. Pendapat seperti itu memang tidak keliru – semua pertumbuhan memerlukan waktu dan keuletan dst. Tetapi perumpamaan ini justru tidak memusatkan perhatian ke sana. Yang ditonjolkan dalam perumpamaan ini ialah kuasa ilahi yang tidak bergantung pada upaya manusia. Dengan demikian diajarkan agar orang membiarkan kehadiran ilahi ini bergerak menurut iramanya sendiri.

Apakah tafsiran ini berlawanan dengan pengertian bahwa manusia perlu menerima dan menanggapi anugerah ilahi agar pemberian itu betul-betul menjadi nyata?

Guna mendalami pertanyaan ini baiklah diingat sebuah perumpamaan lain mengenai penabur dalam Mrk 4:1-20 yang menebar benih di lahan berbeda-beda: pingir jalan, tanah berbatu-batu, semak berduri, dan tanah yang baik. Hanya di tanah yang baik sajalah benih akan tumbuh terus dan berbuah berlipat ganda.

Begitu digambarkan pula bahwa benih membutuhkan lahan yang cocok. Namun pengajaran dalam perumpamaan itu bukannya untuk menilai dan menghakimi mana lahan yang tak baik, melainkan untuk mengajak agar orang mengusahakan agar benih mendapat lahan yang baik. Bila mendapati benih jatuh di pingir jalan, bawalah ke tanah yang baik, begitu pula bila mendapati benih di tanah yang berbatu-batu dan semak duri, pindahkan ke tanah yang baik. Perumpamaan diberikan untuk mengimbau, bukan untuk mengadili.

Bila demikian maka perumpamaan dalam Mrk 4:26-29 yang dibicarakan kali ini dapat dimengerti sebagai ajakan untuk membiarkan benih tumbuh terus dengan daya yang ada di dalamnya. Sudah diandaikan bahwa lahannya ialah lahan yang cocok. Hanya butuh dibiarkan dan dijaga agar tetap baik. Membiarkan daya ini bergerak sendiri ialah kerohanian yang dapat memberi kepuasan batin. Orang boleh merasa aman karena sadar dirinya tanah yang baik dan telah menerima benih. Nanti bila waktunya tiba maka akan ada tuaian yang besar. Begitulah perumpamaan ini kiranya untuk dimengerti.

Lalu, perumpamaan kedua, Mrk 4:30-32, mengenai biji sesawi, yang disebut biji terkecil dari segala jenis biji, tapi bila ditabur – sekali lagi tentunya di tanah yang cocok – dan bertumbuh akan menjadi besar sehingga burung-burung di udara dapat membuat sarang di dahan-dahannya dan bernaung di situ. Yang hendak disampaikan di sini kiranya ialah besarnya.

Kerajaan Allah sendiri yang tak terduga-duga sebelumnya. Dari yang paling kecil tumbuhlah yang sedemikian besar. Sangat mungkin, pendengar dan juga pembaca akan bertanya-tanya biji apakah biji sesawi itu? Orang tergugah rasa ingin tahu. Boleh dikatakan, zaman itu juga orang tidak tahu persis apa biji sesawi yang dibicarakan Yesus. Bahkan Yesus sendiri pun bisa jadi tak pernah melihat apa itu biji sesawi.

Bila hal di atas diterima, maka boleh dibayangkan bahwa Yesus justru memakai kata “biji sesawi” yang bakal mengherankan banyak orang guna menyampaikan warta khas mengenai Kerajaan Allah. Keheranan, ketidakjelasan mengenai apa itu biji yang dimaksud justru menjadi bagian dari wartanya. Kerajaan Allah tetap misteri, namun pertumbuhannya nyata dan lingkupnya amat besar tak terduga-duga. Orang dihimbau untuk menjadi seperti burung di udara, membangun sarang dan bernaung padanya.

Dalam penjelasan tadi, kedua perumpamaan mengenai Kerajaan Allah dipahami sebagai ajakan untuk membiarkannya tumbuh dengan daya ilahi yang ada di dalamnya dan menghormati bahkan mengherani kebesaran yang kerap tidak segera tampak. Dengan demikian perumpamaan ini dapat menjadi pengajaran yang menumbuhkan rasa percaya akan daya ilahi sendiri.

Lalu pengajaran berikutnya adalah merupakan Pengajaran khusus – bagi siapa? Dalam ay. 33-34 disebutkan bahwa Yesus tidak berbicara kepada orang banyak tanpa memakai perumpamaan, tetapi penjelasannya ia berikan kepada para murid. Kepada orang banyak Yesus menyampaikan himbauan, seperti yang tadi kita pahami. Kepada para murid, yakni kelompok yang lebih dekat padanya, diberikannya uraian secara tersendiri.

Dalam kaitan dengan dua perumpamaan tadi Injil Markus tidak memberi penjelasan lebih jauh tentang uraian Yesus  itu. Maka, pembaca boleh menduga-duga. Tetapi tidak akan sampai pada pengertian baru. Perlu diingat bahwa catatan Markus itu mengenai para murid, bukan mengenai kita pada zaman ini.

Kelirulah bila kita ingin menyamakan diri sebagai para murid yang dikatakan telah menerima uraian tersendiri. Ini semacam sikap sok rohani yang mau menonjolkan diri telah dapat pengajaran khusus. Bisa-bisa malah menghimpit iman. Lebih baik menganggap diri sama seperti “orang banyak”, pendengar umum, yang disebut dalam Injil, yang mendengarkan perumpamaan dan menikmatinya.

Sikap ini lebih memberi kebebasan hati, lebih memungkinkan orang memasuki dunia perumpamaan dan memetik hikmatnya. Bila langsung ingin menyamakan diri dengan para murid waktu itu, kemungkinan orang hanya akan sampai pada pernyataan-pernyatan moral tanpa mengolah makna perumpamaannya itu sendiri.

Maka marilah kita renungkan dua perumpaan tadi dan akhirnya berusaha untuk sungguh dapat membiarkan Sabda Allah itu tumbuh berkembang dalam diri dan hidup kita karena kita sudah percaya akan kuasa Allah dalam firman-Nya.

Yang pokok adalah: Kita tidak akan pernah meragukan kebenaran dan kuasa Allah dalam sabda-Nya. Lalu, kita harus buat apa supaya diri kita memang cocok dan layak untuk tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Allah disamping percaya akan kuasa tersebut? Hendaknya kita semakin beriman pada Tuhan dan sungguh percaya bahwa Dia ingin menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini melalui dan dalam diri kita umat beriman.

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, kami percaya akan daya dan kuat kuasa-Mu dalam setiap firman yang Kausabdakan. Namun, sering kali terjadi kami kurang sabar dan tidak bertekun dalam iman kepercayaan itu. Iman kami sering terjadi pasang-surut. Maka tolonglah kami senantiasa dengan daya Roh-Mu supaya kami dapat senantiasa mengusahakan  kehendak-Mu terjadi dalam hidup kami. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *