RENUNGAN HARI RAYA PENTAKOSTA

RENUNGAN HARI RAYA PENTAKOSTA

Makna Percaya pada Penolong

 

  • Minggu, 23 Mei 2021
  • Injil: Yoh 15,26-27; 16,12-15
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Murid-murid Yesus di masa kini pun diminta menjadi saksi karya ilahi yang masih berlangsung. Juga di tengah-tengah orang yang paling membutuhkan penghiburan dan pertolongan.

 

Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya “hari ke-50”) dirayakan tujuh pekan setelah panen gandum, seperti disebutkan dalam Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12. Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50” ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa.

Sedangkan, di kalangan umat Kristen, peringatan “hari ke-50” ini terjadi tujuh pekan setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Jadi perayaan tujuh pekan  setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai melimpah.

Pada Hari Pentakosta minggu ini diwartakan Injil Yoh 15:26-27. Dalam warta Injil ini jelas-jelas menyebut kedatangan Penolong yang diutus Yesus dari Bapa. Lalu, bagaimana memetik warta Pentakosta khususnya bagi kita sekarang? Adakah relevansinya bagi zaman kita dan lingkungan kita sekarang?

Petikan hari ini sebenarnya bagian dari pesan-pesan Yesus kepada para murid pada perjamuan terakhir. Setelah menyampaikan perumpamaan pokok anggur dan ranting dan imbauan agar menumbuhkan kebersamaan yang sejati; Kemudian pada Minggu-minggu sebelumnya dalam pewartaan Injil Yesus mengajak mereka melihat pelbagai kenyataan hidup yang kerap kali kurang memberi rasa tenteram.

Ditegaskannya bahwa Yesus sendiri dimusuhi dunia. Maka tak usah heran, bila para pengikut-Nya juga akan mengalami hal yang sama. Kedatangan Yesus ke dunia membuat jelas apa yang tadinya gelap, tidak kentara, sekarang mulai dapat dirasakan hadir dan mencekam. Inilah teka teki kehidupan di dunia ini.

Sering yang jahat, yang menyakitkan, yang membingungkan itu tidak dapat diterangkan kejadiannya, hanya dapat dirasakan adanya serta daya perusaknya. Maka, dapatkah kita hidup terus dalam keadaan ini? bisakah kita bertahan? Begitulah pertanyaan para murid dalam hati kecil mereka. Apalagi katanya sebentar lagi guru mereka akan diambil dan mereka akan sendirian. Lalu, apa gunanya untuk bertahan?

Injil hari Minggu Pentakosta kali ini menjawab kegundahan itu. Dan kekuatan yang muncul dari Injil itu dapat juga membuat kita berani ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Keberanian itu bisa menjadi kekuatan bagi mereka.

Bagaimana keadaan para murid pada saat itu? Yang jelas hingga saat itu mereka bisa membanggakan menjadi pengikut seorang tokoh tenar dan dianggap penting di mana-mana, yakni Yesus Kristus. Semua yang dilakukan Yesus serta tanggapan orang banyak membuat mereka ‘PD’- percaya diri.

Tentu saja masa depan yang cemerlang kini tersedia bagi mereka. Yesus sendiri sebenarnya beberapa kali berusaha membuat kepala mereka tetap dingin. Tetapi biasanya antusiasme orang tidak gampang diatur akal. Hanya kenyataanlah yang dapat membuat mereka sadar apa yang sedang terjadi.

Permusuhan, kedengkian para pimpinan masyarakat Yahudi waktu itu mulai terasa. Mula-mula hanya dalam ujud mempertanyakan kompetensi Yesus mengajarkan Taurat. Kemudian kelompok baru di sekitar Yesus ini dirasa sebagai ancaman. Konflik menjadi makin tajam dan akhirnya mereka menemukan pelbagai cara untuk mendiskreditkan Yesus di hadapan lembaga resmi agama dan pemerintahan Romawi.

Kelanjutannya kita ketahui. Ketika Yesus ditangkap dan disalibkan, para murid bubar. Dari bangga dan penuh keyakinan, kini mereka berkecil hati. Dari orang-orang yang berani bercerita mengenai Sang Guru, sekarang mereka menjadi orang yang takut dituduh sebagai pengacau dengan risiko ditangkap. Mereka juga dianggap menawarkan ajaran yang keliru oleh para simpatisan mereka dulu. Mereka kehilangan muka di hadapan kaum sendiri. Inilah situasi para murid.

Dalam keadaan itulah mereka teringat akan pesan-pesan Yesus pada perjamuan terakhir, di mana Yesus berbicara mengenai Penolong yang akan diutus-Nya dari Bapa. Sebagai kata kunci di sini adalah “Penolong”. Yunaninya ialah “parakleetos”,arti harfiahnya ialah yang diseru, yang dipanggil, yang diminta agar datang menolong.

Maka konteksnya jelas, yakni dalam keadaan bencana, kehadiran para penolong memang lebih terasa. Itulah latar belakang pemakaian ungkapan “Penolong” dalam Yoh 15:27. Di situ Yesus mengatakan bahwa Ia mengutus Dia yang menanggapi seruan minta tolong tadi itu. Ditambahkannya bahwa Penolong itu berasal dari Bapa sendiri.

Diutus berarti dikirim, seperti orang yang diutus menjalankan urusan tertentu. Itulah yang dimaksud Yesus dengan “Penolong yang kuutus”. Tugasnya ialah menanggapi kebutuhan orang yang minta tolong apa saja. Dan Penolong ini “keluar dari Bapa”. Artinya, pertolongan yang akan diterima orang yang berseru itu berasal dari Yang Maha Kuasa yang berperhatian sebagai bapak. Ia adalah Roh Kebenaran, yakni kekuatan yang benar, yang terpercaya, bukan yang bakal membawa ke tujuan lain.

Roh Kebenaran tadi akan menegaskan bahwa yang dikerjakan Yesus selama hidupnya itu benar-benar dari Bapa asalnya. Ia menjauhkan kekuatan yang jahat, menyembuhkan, menghibur yang kena kesusahan, mengajar, membimbing banyak orang. Semuanya itu untuk memperbaiki kemanusiaan. Roh Kebenaran datang ke dalam kehidupan para murid dan dari dalam diri mereka Ia menegaskan bahwa semua yang dilakukan Yesus adalah karya ilahi sendiri. Itulah yang dimaksud dengan Penolong atau Roh Kebenaran yang “bersaksi tentang diriku”, diri Yesus.

Para murid percaya bahwa sang Penolong sudah datang. Bagaimana penjelasannya?

Ada dalam Yoh 15:26. Di situ mereka diminta menjadi saksi. Alasannya, mereka sejak semula sudah ada bersama dengan Yesus sendiri dan melihat karyanya. Kini mereka diminta melihat kembali semua itu sebagai karya ilahi dalam Roh Kebenaran yang datang kepada mereka.

Dalam ayat-ayat Injil Yohanes ini,kesaksian yang dimaksud ialah membiarkan sang Penolong yang ada dalam komunitas orang beriman leluasa bertindak. Inilah kekuatan yang bisa memperbaiki kemanusiaan yang sedang mengalami kejadian seburuk apapun. Para murid Yesus didampingi Sang Parakleetos yang siap dimintai tolong dan selalu ada di dekat mereka. Kita juga. Pelbagai upaya pertolongan yang kita usahakan dapat makin kuat, makin ambil bagian dalam yang dikerjakan Yesus dan yang kini dilakukan bersama dengan kekuatan yang dikirimkannya dari atas sana.

Sang Penolong tadi membuat orang percaya bahwa yang dilakukan Yesus itu ialah karya ilahi. Inilah kesaksian sang Penolong. Murid-murid Yesus di masa kini pun ikut diminta menjadi saksi karya ilahi yang masih berlangsung. Juga di tengah-tengah orang yang paling membutuhkan penghiburan dan pertolongan.

Maka, sadarilah bahwa Sabda Tuhan dapat menjadi bagian dalam kehidupan, khususnya pada saat-saat orang merasa tak berdaya, di waktu kesusahan dan penderitaan, juga dalam kesulitan rohani.

Marilah, kita membiarkan Sabda Tuhan itu ikut memikul beban penderitaan kita. Marilah kita pahami gerak-gerik kehadiran Sang Penolong, Roh Kebenaran, yang tak lain Roh Kudus yang diutus Yesus bagi murid-muridnya dan bagi kita juga tentunya, sekarang ini, di sini dan dalam keadaan seperti kita ini.

Atas dasar kekuatan Roh Kudus yang telah kita terima,  sebagai murid-murid-Nya zaman ini dan di sini, kita pun semua tergerak, bergerak dan berani menjadi saksi-saksi akan karya Tuhan kita Yesus Kristus dalam diri kita, yakni semua perbuatan baik kita dalam  menciptakan perdamaian, keadilan, ketentraman, menebar kasih Tuhan dalam setiap kata dan perbuatan kita, dan bersatu hati dalam berbuat baik.  ***

 

DOA:

Ya Roh Kudus Allah, yang selalu berkenan hadir dalam hidup kami, bantulah dan kuatkanlah kami dalam menjalankan tugas perutusan Yesus Kristus di dunia ini, mewartakan Kabar Keselamatan yang berasal dari Allah Bapa. Semoga dengan curahan Roh Kudus, kami dapat selalu memuji dan memuliakan Tuhan dalam kata dan perbuatan kami. Amin.

 

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *