RENUNGAN MINGGU PASKAH IV

RENUNGAN MINGGU PASKAH IV

Doa dan Syukur Kita untuk Gembala

 

Kita semua diajak untuk mendoakan orang-orang yang di dalam hidupnya sudah menanggapi panggilan Tuhan supaya benar-benar bisa meneladani Yesus sebagai gembala baik.

 

  • Minggu, 25 April 2021
  • Injil: Yoh 10:11-18
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

 

Dari pewartaan Injil hari ini, yakni tentang Gembala yang Baik, kita dapat mengetahui bahwa ada tiga sifat gembala yang baik, yang membedakannya dengan orang upahan atau pencuri: (1) gembala mengenal dan dikenal domba-dombanya; (2) ia mempertaruhkan nyawanya untuk domba- dombanya; (3) ia menjaga domba-dombanya agar baik keadaan mereka, agar mereka dapat bertambah banyak.

Ketiga hal ini dilakukan oleh Kristus, sehingga memang tepat jika dikatakan bahwa Kristus adalah satu-satunya Gembala yang baik, sedangkan gembala-gembala yang lain, yang melalui “pintu” Kristus, adalah gembala dalam tingkatan yang lebih rendah dan tak bisa disamakan dengan Kristus sendiri. Sebab Kristus juga mengatakan:

“… Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali,” (Yoh 10:17-18).

Di sini Yesus menyatakan kerelaan-Nya untuk menyerahkan nyawa-Nya, dengan maksud untuk memperolehnya kembali, yaitu melalui kebangkitan-Nya.

https://www.youtube.com/watch?v=Ne-GcXnofZ4

Gembala yang baik adalah simbol yang sangat disukai oleh jemaat Kristen perdana. Gambar Yesus Gembala yang baik telah dibuat dalam bentuk fresco di gereja-gereja bawah tanah (katakomba). Gambaran ini juga sudah akrab di telinga orang-orang Yahudi, karena telah mereka kenal dalam tulisan para nabi dalam Perjanjian Lama, di mana Allah digambarkan sebagai Gembala bangsa Israel; Mesias pun digambarkan demikian.

Sebelum datangnya Mesias, hanya ada satu Gembala—yaitu Allah—yang menggembalakan satu kawanan yang tertutup, yaitu bangsa Israel. Namun ketika Kristus Sang Mesias datang dan Gereja-Nya melanjutkan misi-Nya, Kristus mengakhiri ketertutupan bangsa Israel dan membuka keanggotaan kawanan-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Ini menggenapi perkataan-Nya, “Ada lagi padaku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Ku-tuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” (Yoh 10:16).

Gembala yang baik kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa ada gembala-gembala yang tidak seperti diharapkan, yakni yang bukan gembala melainkan orang upahan. Hal itu dijelaskan,“sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu,” (v12).

Ini menunjukkan kepada kita bahwa ada orang yang dibayar untuk menggembalakan domba. Apa yang terjadi? Jika ada bahaya yang mengancam mereka dan domba yang mereka gembalakan, mereka pasti lari, karena mereka hanya memikirkan uang, dan bukan domba. Dia melakukan tugas dengan baik namun bersyarat, yakni asalkan tugasnya tidak menjadi terlalu berat.

Dalam Mishnah (kumpulan ajaran rabi-rabi Israel yang menjadi dasar Talmud) dikatakan bahwa seorang upahan yang menggembalakan domba orang lain, wajib melindungi domba yang dia gembalakan jika diserang oleh seekor serigala, tetapi dia tidak bertanggung jawab jika domba diserang oleh dua ekor serigala). Maka dikatakan selanjutnya, “Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu,” (v13).

Yesus menjelaskan bahwa orang itu lari karena sebagai seorang upahan, ia memikirkan upah. Ia tidak mengasihi domba-domba  itu. Hal ini mengingatkan kepada kita semua bahwa ada juga pemimpin-pemimpin agama yang menjalankan tugas mereka karena mereka dibayar, dan bukan karena mereka mengasihi “domba”, atau umatnya.

Sedangkan, Tuhan Yesus tidak demikian. Dia bukan melayani karena uang. Dia melayani karena Dia mengenal domba-domba-Nya, dan mereka mengenal Dia.“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku,”(v14). Hubungan saling mengenal yang disebutkan dalam ayat 14 ini bukan sesuatu yang dangkal.

Hubungan itu sejajar dengan hubungan yang ada antara Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Lagi pula oleh karena hubungan itu, Dia memberikan nyawa-Nya bagi mereka. Dia akan mati di kayu salib untuk menyediakan hidup ilahi bagi mereka dan bagi kita. “Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku,” (v15).

Tuhan Yesus, sebagai Gembala yang Baik, mempunyai domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini. Dalam ayat 1-5 gembala memanggil domba keluar dari kandang. Tampaknya kandang itu merujuk pada umat Israel. Selain kandang itu, ada kandang lain, dan di kandang itu Tuhan Yesus mempunyai domba-domba (non Israel), yang harus Dia tuntun keluar.

Seperti yang kita dengar tadi bahwa“Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala,” (v16).Hubungan dengan domba-domba dari luar kandang dikatakan sama dengan domba dari kandang Israel, mereka mendengarkan suara-Nya. Dari segi hubungannya dengan Tuhan Yesus, tidak ada perbedaan. Dari segi status dalam jemaat, tidak boleh dibedakan, Yahudi atau bukan Yahudi. Kesatuan ini ditekankan dengan. pernyataan, mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Nah, dalam ayat 16 ini Yesus bicara tentang domba-domba lain yang harus dibawa-Nya ke dalam satu kawanan domba, yakni bangsa asing, supaya semua menjadi sekawan. Sadarilah bahwa orang-orang Kristen menjadi satu kawanan domba bukan karena organisasi oikumenis atau organisasi gereja ataupun denominasi gereja, melainkan karena dengan sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus, satu-satunya Gembala. Semua orang yang ada di dalam Kristus memang sudah menjadi kawanan, atau sekawan. Mereka semua menjadi satu di dalam Kristus.

Dalam ayat 14-15 sebelumnya hubungan antara Gembala yang Baik dan domba-Nya disamakan dengan hubungan antara Allah Bapa dan Anak. Tetapi dalam ayat ini dikatakan, Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Kuuntuk menerimanya kembali.”Hubungan kasih antara Allah Bapa dan Anak diuraikan dan dikaitkan dengan ketaatan Anak yang sempurna.
Pernyataan ini agak aneh. Kita berpikir bahwa kasih Allah Bapa terhadap Anak adalah kasih tanpa syarat, sama seperti Dia mengasihi kita tanpa syarat, dan tidak berdasarkan perbuatan kita. Namun dalam ayat ini kita membaca/mendengar  bahwa Allah Bapa mengasihi Tuhan Yesus karena Dia taat dalam hal pengorbanan di kayu salib, dan kebangkitan. Sebenarnya pernyataan ini mirip dengan pernyataan dalam Filipi 2:8-9, yaitu bahwa “Ia … taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama …. “

Dalam ayat ini kebangkitan Tuhan Yesus adalah tujuan bagi kematian-Nya. Dia memberikan nyawa-Nya untuk menerimanya kembali. Kematian-Nya bukan merupakan kekalahan, melainkan sebagian dari kemenangan-Nya. Tidak seorangpun dapat mengambil nyawa daripada-Nya, melainkan dengan kehendak-Nya sendiri Ia memberikan nyawa-Nya. Ia berkuasa menyerahkan nyawa-Nya dan berkuasa mengambilnya kembali. Tidak seorangpun dapat membunuh Dia sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya menurut kehendakNya sendiri. Beberapa kali orang-orang hendak membunuh-Nya tetapi tidak dapat, karena waktu-Nya belum tiba. Yesus disalibkan, lalu bangkit lagi oleh kuasa-Nya sendiri dan Ia membuktikan hal itu dengan membangkitkan Lazarus dari antara orang mati.

Tuhan Yesus telah mengemukakan pengorbanan-Nya, dan Dia tidak mau meninggalkan hal itu tanpa menegaskan bahwa kematian-Nya bukan suatu kecelakaan, melainkan kehendak-Nya. Dengan sengaja Dia akan mati, demikian juga dengan sengaja Dia akan bangkit. Orang lain tidak mengalahkan Dia. Dia memberitahukan hal ini jauh sebelumnya. “Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (v-18)

Dia telah diberikan kuasa atau hak untuk melakukan hal ini, sesuai dengan tugas atau perintah yang telah Dia terima dari Allah Bapa. Walaupun dalam ayat ini Tuhan Yesus berkata bahwa Dia mempunyai kuasa untuk bangkit, pada umumnya Perjanjian Baru mengajar bahwa Dia bangkit oleh kuasa Allah Bapa (lihat Kisah Para Rasul 2:32; 4:10; 1 Korintus 6:14). Ajaran itu tidak kontradiksi, sebaliknya sesuai dengan ayat ini karena Yesus Kristus berkata bahwa Dia menerima ini dari Bapa-Nya.

Dari apa yang kita dengar dan renungkan tadi, dan sehubungan dengan hari minggu ini sebagai hari minggu panggilan, kita semua diajak untuk mendoakan orang-orang yang di dalam hidupnya sudah menanggapi panggilan Tuhan supaya benar-benar bisa meneladani Yesus sebagai gembala baik, yakni gembala-gembala yang mengenal domba-dombanya, yang mempertaruhkan hidupnya bagi domba-dombanya dan yang juga memperhatikan semua domba, yakni baik yang ada dalam kandangnya maupun yang ada di luar.

Hendaknya semua domba itu akhirnya dapat keluar-masuk melalui satu ‘pintu’, yang tak lain adalah Yesus sendiri. Dengan-Nya, domba-domba akan menikmati keselamatan dan kelegaan.

Di samping itu, kita juga berdoa dan mendoakan orang-orang yang akan menanggapi panggilan Tuhan menjadi gembala domba dan atau pekerja-pekerja di kebun anggurnya seperti yang diharapkan Tuhan Yesus sendiri, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu,” (Mat 9:37-38).

DOA:

Ya Tuhan Yesus, Engkau adalah Gembala Baik yang diutus Bapa kepada kami. Pada kesempatan Hari panggilan ini, Kami merindukan tercukupinya gembala-gembala kami di dunia ini dan mereka meneladani Engkau sendiri. Kami berdoa dan memohon kepada, supaya Engkau memanggil di antara orang muda kami untuk menanggapi panggilan-Mu dan mengirim lebih banyak lagi gembala-gembala yang akan menuntun dan menggiring kami pada keselamatan. Amin.

 

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *