RENUNGAN MINGGU PALMA

RENUNGAN MINGGU PALMA

Menyambut Raja Damai

 

  • Minggu, 28 Maret 2021
  • Injil: Mrk 14:1-15:47
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Dialah Raja damai yang mengendarai keledai simbol kedamaian untuk masuk ke dalam kota damai. Dialah Hamba Yahwe yang menderita seorang diri untuk menyelamatkan kita semua.

 

Apa yang baru saja kita dengar bersama adalah sepenggal cerita dari Kisah sengsara yang panjang, yang dibacakan/dinyanyikan pada Minggu Palma hari ini. Pada hari “Minggu Palma”, biasanya kita berduyun-duyun datang ke gereja, dengan membawa daun-daun palma.

Lalu menyanyikan seruan lagu, “Yerusalem, Yerusalem, lihatlah Rajamu!” Itu akan terjadi bila dalam situasi normal dan tidak seperti sekarang yang tidak mungkin dilakukan. Karena kita semua menyadari untuk melakukan 3M atau 5M. Salah satunya menghindari kerumunan. Tetapi yang penting dalam hal ini adalah soal penghayatan makna Minggu Palma itu sendiri.

St. Andreas dari Kreta dalam khotbahnya di hari Minggu Palma mengatakan, “Saat kita memperingati langkah kita ke Bukit Zaitun, mari menyongsong Kristus, yang hari ini kembali dari Betania, dan atas kehendak-Nya sendiri bergegas menuju sengsara-Nya yang terberkati, yang melaluinya, Ia menggenapi misteri keselamatan umat manusia”.

Yesus meninggalkan Betania di fajar pagi hari. Banyak pengikut-Nya telah mengikuti Dia sejak malam sebelumnya. Sejumlah di antara mereka adalah orang-orang yang mengikuti Dia setelah melihat mukjizat-Nya membangkitkan Lazarus dari kematiannya. Bersama mereka, Yesus mengambil jalan ke Yerusalem lewat Bukit Zaitun, tempat di mana Ia dapat melihat kota Yerusalem dari atas bukit.

https://www.youtube.com/watch?v=d9sx0SXM_R8

Sementara itu orang-orang membuat prosesi penyambutan rombongan Yesus. Konon katanya terdapat atau ada kebiasaan bahwa orang-orang menyambut kelompok peziarah yang datang dengan jumlah besar. Tuhan Yesus tidak menolak penyambutan itu.

Sebagaimana kita dengar dalam warta Injil (pertama) sebelum perarakan Yesus memilih mengendarai keledai menuju Yerusalem. Ketika mereka telah sampai di dekat kota, orang-orang banyak yang mengikut Yesus berseru dengan suka cita dan memuji Tuhan, untuk segala perbuatan besar yang dikerjakan Yesus yang telah mereka lihat. Orang-orang menggelar selimut sebagai alas duduk bagi Yesus, dan yang lain meletakkan pakaian mereka di tanah sebagai karpet untuk dilalui-Nya.

Mereka mengelu-elukan Yesus dengan daun palma, sambil menyerukan, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di Sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk 19: 38).

Demikianlah Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Mesias yang mengendarai keledai, dan dengan demikian menggenapi nubuat Zakaria berabad-abad sebelumnya (lih. Zak 9:9).

Ketika Yesus sudah dekat kota Yerusalem, Ia menangisi kota itu. Ia melihat bagaimana kota yang membentang di hadapan-Nya telah tenggelam dalam dosa, buta, karena tidak mengenali Juru Selamatnya. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang mengelu-elukan Dia, Tuhan Yesus telah melihat bagaimana orang-orang itu, dalam waktu kurang dari seminggu, akan berbalik menghujat Dia. Yesus menangisi Yerusalem, yang kelak dihancurkan dan diluluhlantakkan sampai rata dengan tanah. Hal itu tergenapi di tahun 70.

Di sini Yesus menangisi kekerasan hati manusia, yang tidak mau bertobat dan bahkan menolak Dia. Banyak hal telah dilakukan oleh Yesus, baik mukjizat, maupun berbagai perbuatan dan perkataan, baik dengan nada keras, maupun lemah lembut …. semua telah dilakukan Yesus untuk semua orang, agar mereka bertobat. Yesus telah siap untuk melakukan segalanya bagi umat manusia tetapi sejumlah orang tidak mau membuka pintu hatinya untuk menerima belas kasih-Nya.

Dalam peristiwa Minggu Palma ada seruan-seruan, dan sorak-sorai. Namun “Betapa bedanya seruan itu,”  kata St. Bernardus, “Buang saja, buang saja, salibkanlah Dia,” dengan “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan!” Betapa jauh bedanya, teriakan yang sekarang menyebutnya Raja Israel, dengan beberapa hari lagi, saat teriakan itu berubah menjadi, “Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar!”

Betapa kontras perbedaan antara daun yang hijau dengan palang salib, dan antara bunga-bunga dan mahkota duri! Sebelumnya mereka membentangkan pakaian mereka di tanah untuk dilalui oleh Yesus, dan tak lama setelah itu, mereka melucuti pakaian Yesus dan membuang undi atasnya.”

Seperti yang kita dengar bersama dalam Passio atau Kisah Sengsara tadi, Tuhan Yesus wafat di kayu salib. Inilah inti pewartaan dari Penginjil Markus dalam Kisah Sengsara.  Ia memulai narasinya dengan memanfaatkan momen hari raya agama Yahudi,yakni hari raya Paskah dan hari raya roti tidak beragi. Kedua hari raya ini menjadi momen di mana  para imam kepala dan para ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat yang ada.

Ia diurapi di Betania sebagai saat untuk mengenang kematian-Nya. Ia mengatakan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan mengalami goncangan iman. Petrus mengatakan tidak mengalaminya tetapi pada akhirnya ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus di kemudian hari menyatakan penyesalannya di hadapan Tuhan dan berjanji untuk mengasihi Yesus lebih dari segalannya.

Kita masih ingat semua bahwa para murid inti yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes diajak untuk berjaga-jaga tetapi mereka juga tertidur. Tuhan Yesus berdoa dan berpasrah hingga Yudas Iskariot dan para algojo datang dengan membawa senjata lengkap. Yesus sendiri mengatakan bahwa diri-Nya bukan penyamun, selalu berada di dalam Bait Allah untuk mengajar. Para murid-Nya berlarian karena ketakutan.

Yesus pun menerima semua penderitaan-Nya seorang diri hingga wafat di kayu salib. Dan pada akhirnya, seperti yang kita dengar tadi, Waktu kepala pasukan, yang berdiri berhadapan dengan Yesus melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah.”

Bicara tentang penderitaan, Rahner, seorang teolog menanyai teman akrabnya yang sedang sakit keras, “Dengan bekal apa kamu akan menghadap Tuhan?” Jawab temannya, ”Saya belum tahu. Tetapi, boleh aku bertanya: mengapa di dunia ini selalu ada penderitaan?” Jawab sang teolog: ”Penderitaan itu seperti sebuah gua dengan tulisan ’belum diselidiki’ — dengan kata lain penuh misteri.”

Nah, Hamba Tuhan dalam Yes 50,4-7 yang kita dengar sebagai bacaan pertama, pada bagian ibadat sabda dalam Misa Kudus hari ini mengalami penderitaan sebagai seorang murid. Ciri khas seorang murid itu kan taat pada gurunya. Ketika harus menderita, dia tidak memberontak. Baginya penderitaan adalah bagian dari ketaatannya kepada Allah maka tidak akan sia-sia bila ia harus menderita.

Semangat hamba Tuhan ini menjadi sempurna dalam diri Tuhan kita Yesus. Kerinduan Tuhan Yesus adalah taat kepada Bapa-Nya dan mencintai manusia secara total agar manusia selamat. Dia tidak menginginkan penderitaan, tetapi kalau harus menderita, Dia rela menanggungnya. Ia berdoa: ”Ya bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki!”

Penderitaan adalah bagian hidup manusia. Tak seorang pun bisa luput dari penderitaan. Sejak lahir kita sudah menderita. Penderitaan adalah pemurnian cinta sejati dan tanda ketaatan kita pada Allah. Bersama Kristus penderitaan mengantar kita pada keselamatan. Pada hari ini kita diajak memandang Yesus, raja kita yang bertakhta di atas salib, kayu yang kasar itu. Dialah raja yang lemah lembut dan rendah hati. Ia masuk ke dalam kota Yerusalem dengan keledai muda.

Dia adalah Raja damai, mengendarai keledai simbol kedamaian untuk masuk ke dalam kota damai, Yerusalem. Dialah Hamba Yahwe yang menderita seorang diri untuk menyelamatkan kita semua. Dialah yang tidak menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah karena rela merendahkan diri menjadi manusia dan tinggal bersama dengan kita. Cinta kasih Kristus menyelamatkan kita semua.

Di hari Minggu Palma ini, mari kita memeriksa batin kita. Adakah kita berbuat serupa dengan orang-orang itu? Sebab di setiap Misa, kita pun mendaraskan doa, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan…. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di Surga!” Namun,dengan mulut yang sama kita menyakiti Dia, misal, manakala kita membicarakan keburukan orang lain, mengucapkan kata yang sia-sia, dan bahkan meninggikan diri sendiri.

Ini bertentangan dengan pengakuan kita akan Kristus yang adalah Tuhan dan teladan kita. Setiakah kita untuk berkata “ya” kepada dorongan Tuhan untuk berbuat baik; dan “tidak” kepada kecenderungan kita untuk memikirkan diri sendiri, malas dan kurang berbuat kasih, bahkan untuk hal yang kecil-kecil?

Di samping itu, apakah kita yang sekarang mulai merayakan minggu sengsara Tuhan Yesus benar-benar bisa juga menerima penderitaan karena kita percaya dan beriman pada-Nya sebagai wujud kesaksian di tengah-tengah masyarakat bahwa kita sungguh-sungguh beriman dan demi Tuhan kesengsaraan/penderitaan itu bukanlah kutukan tetapi rahmat yang akan menuntun hidup kita pada keselamatan yang telah disediakan Allah Bapa.***

 

DOA:

“Ya, Tuhan, bantulah aku, untuk tidak mudah berubah setia, sebentar mau dekat dengan-Mu, namun lain waktu menolak Engkau dengan perbuatan maupun perkataanku yang menyedihkan hati-Mu! Mengingat kelemahanku sendiri, bantulah aku juga mengampuni sesamaku, yang sekali waktu dekat denganku namun kini menjauh dariku. Biarlah bersama Bunda Maria, mata hatiku tertuju kepada-Mu di Pekan Suci ini, agar aku dapat masuk dalam misteri Sengsara dan Wafat-Mu sampai pada Kebangkitan-Mu! Amin.

 

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *