Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH II – Rumah Dehonian

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH II

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH II

Tuhan Hadir Kini dan di Sini

  • Minggu, 28 Februari 2021
  • Injil: Mrk 9:2-10
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Tuhan tidak hanya hadir di tempat ibadah saja. Dia ada di tengah-tengah umat-Nya. Kita dipanggil dan diutus ke tempat di mana kita sekarang berada, apa pun situasi dan keadaannya. Tuhan ada di sana bersama kita.

 

Dalam warta Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajak secara eksklusif ketiga orang muridnya yang menjadi ‘saksi’: Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di tempat itu Tuhan Yesus berubah menjadi bercahaya, dan bertemu dengan Musa dan Elia.

Penginjil Markus seperti yang kita dengar tadi dalam Injil-nya mengatakan bahwa pada peristiwa itu pakaian Tuhan Yesus: “pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu”, sedangkan penginjil Lukas menyatakan bahwa “rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.”

https://www.youtube.com/watch?v=JwtVd7voAvo&feature=youtu.be

Transfigurasi itu kemungkinan terjadi pada malam hari, sebab para murid “telah tertidur” (Luk 9:32). Pada malam hari peristiwa itu tampak lebih jelas, dan mereka memang bermalam di atas gunung itu, karena baru pada keesokan harinya mereka turun dari gunung (Luk 9:37). Akan tetapi, dalam Injil tidak disebutkan berapa lama persisnya transfigurasi ini berlangsung.

Sebelum mendaki gunung itu, Kristus pernah bertanya kepada semua muridnya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” yang dijawab oleh Petrus, “Engkau adalah Mesias!” Setelah itu, Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa Ia akan mati dan dibangkitkan (Mrk 8:27-31), namun Ia juga menjanjikan bahwa ada beberapa muridnya “yang tidak akan mati” sampai mereka terlebih dahulu melihat “Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya” (Mat 16:28; Mrk 9:1).

Janji itu tergenapi “enam hari kemudian” ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyertai Tuhan Yesus naik ke “sebuah gunung yang tinggi”  dan di sana, ketika sedang berdoa, Yesus Kristus ditransfigurasi di depan mata mereka. Menurut kisah turun-temurun sejak kira-kira abad keempat Masehi, Gunung Tabor dianggap sebagai lokasi transfigurasi itu.

Apa makna transfigurasi itu? Pada waktu Yesus Kristus mengalami transfigurasi, Musa dan Elia juga muncul dengan kemuliaan. Telah dinubuatkan bahwa Allah akan membangkitkan seorang nabi seperti Musa, dan janji itu tergenapi dalam diri Kristus. Memang ada banyak kesamaan antara Musa dan Yesus Kristus, antara lain:

  • Anak-anak kecil dibunuh pada waktu kelahiran mereka, sedangkan mereka sendiri luput (Kel 1:20–2:10; Mat 2:7-23);
  • Keduanya berpuasa selama 40 hari (Kel 24:18; 34:28; Ul 9:18, 25; Mat 4:1, 2);
  • Keduanya berperan dalam melakukan pembebasan (Kel 3:1-10; Kis 7:30-37; 3:19-23);
  • Masing-masing menjadi perantara suatu perjanjian dengan umat-Nya (Kel 24:3-8; Ibr 8:3-6; 9:15).

Telah dinubuatkan pula bahwa Allah akan mengutus Nabi Elia,  yang salah satu pekerjaannya adalah memalingkan orang-orang Israel kepada pertobatan yang sejati. Selama Yesus Kristus berada di bumi, Yohanes Pembaptis melakukan pekerjaan seperti itu dan melayani sebagai pembuka jalan bagi sang Mesias, sebagai penggenapan Maleakhi 4:5-6. Namun, karena transfigurasi itu terjadi setelah kematian Yohanes Pembaptis, tampilnya Nabi Elia dalam peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan pemulihan ibadah sejati kepada Allah.

Selama transfigurasi itu, Yesus Kristus, Musa,  dan Elia berbicara tentang kepergian (exodus) Kristus yang telah ditentukan untuk Ia genapi di Yerusalem: Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk 9:31). Namun, kata eksodus atau kepergian, atau keberangkatan, jelas mencakup juga hal kematian Kristus maupun kebangkitan-Nya ke kehidupan mulia yang terjadi setelah itu.

Yesus Kristus menyebut peristiwa transfigurasi yang terjadi itu sebuah penglihatan, bukan sekadar ilusi. Kristus benar-benar ada di sana, sekalipun Musa dan Elia, yang telah meninggal, tidak hadir di sana secara harfiah. Mereka digambarkan dalam penglihatan. Namun demikian, Injil menuliskan pada peristiwa transfigurasi itu disaksikan oleh para murid dalam keadaan sadar (mereka terbangun).

Mereka menyaksikan dengan mata dan telinga jasmani. Petrus, Yakobus, dan Yohanes benar-benar melihat dan mendengar apa yang terjadi pada waktu itu : Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu (Luk 9:32)

Ketika Musa dan Elia berpisah dengan Yesus, Petrus mengusulkan untuk mendirikan tiga kemah: masing-masing untuk Yesus, Musa dan Elia Tetapi sementara sang rasul sedang berbicara, suatu awan terbentuk, tampaknya (seperti di kemah pertemuan di padang belantara) melambangkan kehadiran Allah di gunung tempat terjadinya transfigurasi tersebut. Dari awan itu keluarlah suara Allah, yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk 9:35).

Bertahun-tahun kemudian, Petrus mengidentifikasi suara dari surga itu sebagai suara Bapa di Sorga: Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus (2Pet 1:17-18).

Rasul Petrus memandang transfigurasi ini sebagai peneguhan yang luar biasa akan firman nubuat, dan setelah menjadi saksi mata kemuliaan Kristus, ia dapat menceritakan kepada para pembaca suratnya tentang kuasa dan kehadiran Tuhan Yesus Kristus sebagai raja, dan dia bersama para rasul lainnya adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.

Yesus Kristus memberi tahu ketiga rasulnya, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati”.

Mereka memang tidak menceritakan peristiwa yang mereka saksikan itu kepada siapa pun, tampaknya bahkan kepada rasul-rasul lain. Ketika turun dari gunung, ketiga rasul ini mendiskusikan di antara mereka apa yang Yesus maksudkan dengan “bangkit dari antara orang mati”. Mengapa?

Sebab menurut ajaran agama Yahudi pada waktu itu, Elia muncul sebelum kebangkitan orang mati yang akan menandai mulainya pemerintahan Mesias. Oleh karena itu, para rasul bertanya, “Jadi, mengapa para penulis mengatakan bahwa Elia datang lebih dahulu?” Tuhan Yesus meyakinkan mereka bahwa Elia sudah datang, dan mereka mengerti bahwa ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis (lih. Mat 17:10-13).

Transfigurasi itu, tampaknya, menguatkan Kristus untuk menghadapi penderitaan dan kematiannya, dan selain itu menghibur para pengikutnya dan menguatkan iman mereka. Transfigurasi itu memperlihatkan bahwa Yesus memperoleh perkenan Allah, dan memberikan gambaran pendahuluan tentang kemuliaan serta kuasa Kerajaan yang kelak ia miliki. Transfigurasi tersebut memberikan gambaran tentang kehadiran Kristus di masa depan, manakala ia memiliki wewenang penuh sebagai raja.

Dari warta Injil hari ini, kalau kita renungkan rupanya peristiwa itu sangat mengesankan. Petrus, Yohanes dan Yakobus menyaksikan bagaimana wajah Yesus berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Mereka menyaksikan Yesus berbincang-bincang dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama, Musa dan Elia.

Mereka merasa seperti di surga, sehingga Petrus dalam ketidak-sadarannya memohon kepada Yesus supaya mereka tetap tinggal di atas gunung Tabor itu dalam keadaan mulia dan bahagia. Petrus mengusulkan supaya ia dan kedua murid lainnya mendirikan tiga kemah di atas gunung itu, satu untuk Tuhan, satu untuk Musa dan satunya untuk Elia. Ia sampai lupa bahwa mereka juga membutuhkan kemah-kemah! Apakah Tuhan meluluskan permintaan Petrus? Ternyata tidak!

Sesudah peristiwa yang mulia itu justru Yesus mengajak murid-muridNya untuk turun dari gunung Tabor yang mengesankan itu, kembali ke dunia nyata, dunia tugas yang penuh tantangan. Bahkan kemudian Yesus melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem, tempat di mana ia melaksanakan puncak-puncak karya perutusan-Nya: menderita sengsara dan mati tersalib sebagai kesaksian yang paling akhir dan paling final tentang Kerajaan Allah.

Peristiwa Transfigurasi di gunung Tabor itu,bagi murid-murid-Nya,kiranya menjadi peneguhan untuk menghadapi saat-saat gelap di Taman Getsemani dan siang kelabu di Puncak Kalvari.

Dalam hidup ini kadang kala kita mengalami peristiwa –peristiwa batin yang membahagiakan. Saat-saat seperti itu dapat kita alami,misalnya,dalam kesempatan retret, rekoleksi, perayaan liturgi Ekaristi yang syahdu dan mengesankan. Kita merasa seperti di gunung Tabor. Kita merasa begitu dekat dengan Tuhan dan sesama.

Mungkin muncul suatu kerinduan di hati kita: Alangkah bahagianya kalau bisa berlama-lama di tempat dan suasana yang indah seperti itu! Tetapi rupanya Tuhan menghendaki supaya kita turun dari gunung kebahagiaan ini. Kita harus kembali ke dunia nyata. Dunia keluarga kita yang mungkin penuh persoalan. Dunia kerja kita yang rutin dan monoton. Dunia lingkungan masyarakat kita yang mungkin keras penuh tantangan.

Namun,pengalaman bermakna dan peristiwa bahagia yang kita alami itu bisa meneguhkan kita untuk kembali memasuki dunia nyata kita dengan pelbagai tugas dan tantangan-Nya.

Tuhan sebenarnya selalu dekat dan hadir di tengah-tengah kita, di mana pun kita berkarya. Tidak hanya di tempat ibadah saja. Percayalah, Tuhan selalu hadir di tengah-tengah umat-Nya, di tengah masyarakat di mana kita berkarya. Sadarilah bahwa kita dipanggil dan diutus oleh Tuhan di tempat di mana kita sekarang hidup berkarya dan berbakti, apa pun situasi dan keadaannya. Dan Tuhan ada di sana bersama kita dan umat-Nya.

Perjuangan dan tantangan akan selalu datang ke dalam hidup kita. Tetapi kita sudah mengalami kemuliaan Tabor, suatu kejayaan yang melambangkan kejayaan di masa datang. Dan gambaran serta pengalaman di Tabor harus bisa meneguhkan kita dalam tantangan apa pun.

Kita tak perlu mendirikan kemah di atas gunung Tabor seperti permintaan Petrus, tetapi kita mau mendirikan kemah dan rumah-rumah kita di dunia yang biasa ini. Penderitaan dan korban akan datang ke kemah-kemah kita, tetapi kita tidak kecut lagi, sebab kita sudah melihat dan mengalami peristiwa transfigurasi di gunung Tabor. ***

 

DOA:

Ya Tuhan Allah, kami percaya bahwa Engkau adalah Anak Allah yang terkasih. Bantulah kami untuk senantiasa siapmendengarkan firman-Mu. “Firman-Mu adalah tongkat bagi kakiku” maka jelaslah kami membutuhkannya supaya aku dapat berjalan di jalan yang benarmenuju ke hadirat-Mu. Amin.

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *