Deprecated: Array and string offset access syntax with curly braces is deprecated in /home/scjori3/public_html/wp-content/themes/porto/porto/inc/functions/general.php on line 178
RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN IV – Rumah Dehonian

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN IV

RENUNGAN HARI MINGGU ADVEN IV

Menjadi Hamba Tuhan

 

  • Minggu, 20 Desember 2020
  • Injil: Lukas 1:26-38
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.

 

Warta Injil Minggu Adven IV, hari ini yakni dari Luk 1:26-38 mengisahkan bagaimana malaikat Gabriel diutus ke sebuah kota kecil di Galilea – di sebelah utara Tanah Suci – kepada Maria yang diperkenalkan dalam Injil sebagai “perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud”.

Setelah mengucapkan salam damai, Gabriel memberitakan bahwa seorang anak lelaki akan lahir dari Maria, dan hendaknya ia dinamai Yesus. Ia akan menjadi besar dan dinamakan Anak Allah Yang Maha Tinggi dan akan dikaruniai kekuasaan tanpa akhir.

Bagaimana ini mungkin, ia kan belum bersuami? Tak ada yang mustahil bagi Allah, Gabriel menjelaskan, Elisabet yang sudah lanjut usia pun kini sudah enam bulan mengandung. Yang terjadi sekarang lebih besar. Anak yang akan dilahirkan Maria itu akan disebut kudus, Anak Allah, karena Maria akan dinaungi kuasa Allah dan Roh Kudus akan turun ke atas dirinya.

https://www.youtube.com/watch?v=SSZxp8a6CEQ

Marilah berhenti sejenak saat di mana Malaikat Gabriel datang mengunjungi Maria. Kiranya, inilah saat-saat yang paling menegangkan dalam seluruh peristiwa itu sebelum akhirnya Maria memberikan jawaban yang sudah kita ketahui bersama.

Sadarilah bahwa seluruh warta Injil yang kita kenal sekarang sebenarnya berawal sebagai kelanjutan kisah ini. Bahkan sejarah kemanusiaan setelah itu sungguh amat menakjubkan. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Nazaret dua ribu tahun silam itu bukan perkara yang biasa-biasa saja.

Dari saat itu kemanusiaan mengambil arah baru sampai ke zaman ini. Juga Yang Ilahi masuk ke dalam kemanusiaan dan belajar merasakan apa itu menderita, apa itu bergembira, apa itu bergaul dengan orang lain, apa itu “dulu”, “kini” dan “nanti”, pendek kata, bisa menyelami bagaimana hidup sebagai manusia yang katanya semula diciptakan-Nya sebagai gambar dan rupa-Nya.

Mengapa penginjil Lukas menyebutkan dengan lengkap bahwa Malaikat Gabriel datang kepada “seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria.”? Boleh jadi ia merasa perlu menampilkan profil Maria sebagai tunangan Yusuf, orang keturunan Daud.

Dengan demikian,  bagi pembaca zaman dulu, jelas bahwa berkat kedua orang itulah nanti Yesus menjadi keturunan Daud dan dengan demikian memang berhak mendapat kepenuhan janji Tuhan kepada nenek moyang dahulu.Maria kemudian berkata, bagaimana mungkin ini terjadi, karena ia “belum bersuami”.

Tidak usah kita sangkal bahwa waktu itu Maria memang masih berpikir dalam ukuran-ukuran yang tidak dipakai Gabriel, atau lebih tepat, oleh Dia yang mengutusnya. Dan Gabriel pun akan meluruskan pemikiran Maria itu.

Keterbukaan Maria untuk menerima penjelasan, itulah yang menjadi kekuatannya. Bukan kesediaan buta mengatakan aku ini cuma hamba dan menurut saja. Bila hanya itu maka pernyataan Mariatidak akan bertahan lama. Tak bakal Maria berani menyimpan dalam hati kata-kata Simeon mengenai pedang yang akan menembus dirinya sendiri (“jiwamu”) sendiri “supaya nyata pikiran hati orang banyak.”

Selanjutnya, bila kesediaan Maria itu hanya sebatas antusiasme sesaat saja, ia takkan dapat menimbang-nimbang terus apa maksud kata-kata Yesus kecil yang diketemukan kembali di Bait Allah. Di mana di situ Yesus berkata, “…bukankah ia harus berada dalam rumah Bapaku?”, maksudnya, memikirkan urusan Allah yang semakin bisa dialami sebagai Bapa itu. Memang arti kata-kata itu masih gelap.

Tetapi Maria tetap menyimpannya dalam hati, memikir-mikirkan, tidak mendiamkannya begitu saja. Jawaban Maria “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” dalam bahasa sekarang akan disebut komitmen terhadap Allah. Ikut mengusahakan agar yang dikerjakan-Nya bisa berhasil. Dan dalam pandangan penginjil, ini dijalankannya dengan menerima kehadiran Roh Kudus di dalam dirinya. Kehadiran itu nanti mengambil wujud sebagai anak yang namanya sudah diberikan dari atas, seperti dikatakan Gabriel, yakni Yesus, harfiahnya “Tuhan itu jaya”, pertanda ia menjadi penyelamat.

Siapa yang tidak terkejut bila tiba-tiba didatangi malaikat? Maria terkejut. Penginjil Lukas mencatat bahwa setelah mendengar salam damai dari Gabriel, “Maria terkejut … , lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.” Malaikat Gabriel berhadapan dengan seorang gadis yang meskipun terguncang batinnya tetap berpijak di bumi dengan dua kaki. Ia berani bertanya pada diri sendiri, memikirkan apa gerangan yang hendak disampaikan malaikat Gabriel yang menggetarkan itu?

Maria mulai memikirkan dan mencari makna kata-kata sang malaikat. Dan kita tahu kehidupannya memang kehidupan menemukan arti salam damai Gabriel kepadanya sekalipun tak selalu gampang jalannya bahkan ada banyak penderitaan. Dan kemauannya memahami kedatangan Yang Ilahi kepadanya itu menjadi kekuatannya.

Kepada Maria malaikat Gabriel berkata “Jangan takut…”. Lalu kepada Maria dijelaskan, “sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah.” Di sini Gabriel mengajar Maria agar semakin berani hidup menurut jalan yang tak tersangka-sangka tapi bukan asal-asalan.

Dengan demikian Maria akan menemukan anugerah “yang ada di hadapan Allah”, yakni pemberian yang diperhatikan Allah sendiri, yang menjadi kesayangan-Nya sendiri. Seakan-akan belum cukup. Gabriel menambahkan bahwa wujudnya ialah anak lelaki dan yang namanya sudah ditentukan dari sana, yakni Yesus.

Kini semua menjadi lebih jelas. Karena berada di hadapan Allah, maka sang anugerah itu juga akan menjadi besar dan dikenal sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi, artinya orang yang amat dekat dengan-Nya. Gabriel, kendati penampakannya yang menggentarkan, namun mempunyai kekuatan yang dapat membimbing di jalan kehidupan sejati. Sejak saat itu kemudian Maria hidup menyongsong kelahiran Dia yang bakal datang dalam ujud manusia. Kini Maria adalah menjadi “adven” yang hidup.

Bila kita merenungkan semua peristiwa hidup yang terjadi dalam diri kita, maka di sana kita akan menemukan bahwa ada banyak terjadi hal yang tidak kita duga, ada hal yang sesuai dengan rencana kita tetapi sebaliknya ada juga hal diluar dugaan kita, dan kadang kita sulit pahami, tetapi itu terjadi otomatis tanpa perlu kita kendalikan, karena itu rencana Tuhan dan bukan rencana kita. Sikap yang sering kita ambil adalah biarkan semuanya mengalir saja.

Walaupun itu kabar gembira, tetapi bagi Maria kabar itu mengejutkan karena pembawa kabar memperkenalkan diri sebagai seorang malaikat, dan kabar yang dibawa pun sulit dipahami dan tidak masuk di akal Maria.

Maria sulit memahami berita yang dibawah Malaikat karena apa yang disampaikan Malaikat, tidak mungkin terjadi menurut pikiran Maria. Maria memahami berita dari Malaikat itu dalam level seorang manusia sederhana yang lugu. Dalam kebingungan ia bertanya: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

Tetapi Malaikat Gabriel meyakinkan dia bahwa: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Sampai di situ Maria semakin bingung, tetapi dalam kebingungan itu dia menjawab: “jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Maria menerima berita itu sambil berdoa dan menyerahkan semua itu terjadi menurut kehendak Allah. Ia percaya bahwa kalau Allah yang menghendakinya, maka Dia pula yang akan menyelesaikannya. Kalau itu karunia Allah, maka Roh Kudus akan memampukan dia untuk menjalani semua itu.

Setiap peristiwa yang terjadi di luar rencana kita dan membawa manfaat bagi masa depan kita, adalah juga kabar gembira Tuhan untuk kita. Peristiwa itu mungkin tidak masuk di akal kita, sulit kita pahami, tetapi semua itu terjadi otomatis karena terjadi menurut kehendak Tuhan, dan bukan kehendak kita. Hal ini patut kita syukuri.

Kita perlu sadari bahwa setiap hari Allah juga menyampaikan kabar gembira-Nya kepada kita lewat teman akrab kita, lewat sesama kita, lewat suami atau istri kita. Tetapi apakah kita seperti Maria yang walau tidak mengerti tetapi membiarkan perkataan Allah itu terjadi sesuai kehendak-Nya?

Di sini kita perlu membina dalam diri kita spiritualitas lugu seperti seorang Maria. Kita perlu membina dalam diri kita spiritualitas gadis desa, supaya mampu membaca kabar gembira Tuhan yang terjadi di sekitar kita, dalam komunitas dan keluarga kita. Hanya dengan memiliki spiritualitas lugu, maka kita akan mampu melihat, mendengarkan dan merasakan berita gembira dari Allah.

Kita perlu menyadari juga bahwa Allah memilih kita menjadi orang Kristen-Katolik, itu juga adalah suatu anugerah luar biasa yang patut kita syukuri. Allah menghendaki kita supaya kita mengalami kasih karunia Allah yang dicurahkan lewat Roh kudus sehingga kita bisa merasakan kasih persaudaraan lewat keluarga, komunitas dan lingkungan di mana kita bekerja.

Itulah makna kabar gembira Malaikat Gebriel kepada Maria, yang adalah juga kabar gembira kita semua umat beriman. Mari kita selalu hidup dalam spiritualitas gadis desa seperti maria sehingga kita pun mampu menyerahkan semua peristiwa hidup kita kepada Allah sambil berkata: jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”***

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *