RENUNGAN MINGGU ADVEN II

RENUNGAN MINGGU ADVEN II

Menyiapkan Jalan Tuhan

 

  • Minggu, 06 Desember 2020 
  • Injil Mrk 1:1-8
  • Oleh Romo Thomas Suratno SCJ

Pentinglah menghayati apa yang terungkap dalam pembaptisan yang kita terima, yakni mengakui diri sebagai orang berdosa dan mengarahkan langkah kembali kepada Tuhan Yesus.

Warta Injil Minggu Adven II ini (Mrk 1:1-8), hampir seluruhnya membicarakan tentang Yohanes Pembaptis. Dia adalah seorang tokoh yang sudah sejak lama dinubuatkan sebagai utusan yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Orang-orang daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem mendatangi dia di padang gurun minta dibaptis olehnya sebagai tanda pertobatan demi pengampunan dosa.

Lalu, Yohanes juga tampil sebagai seorang nabi. Nah, tentu saja permenungan mengenai Yohanes Pembaptis kiranya mengajak kita untuk semakin melihat siapa tokoh yang akan datang kemudian. Dialah tokoh yang jauh lebih besar yang diwartakan oleh Yohanes sendiri, yakni YesusKristus.

Dalam Mrk 1:1, dikatakan ‘Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah’. Kata “Injil” sebenarnya dipakai dengan makna ganda. Makna biasa kata itu ialah berita yang melegakan, berita yang menggembirakan, kebalikan dari berita yang membuat orang sedih, tegang dan kusut pikirannya. Penginjil Markus kiranya bermaksud menunjukkan bagaimana Yesus membuat pikiran dan hati banyak orang serasa “plong”, lega, lepas dari ganjalan-ganjalan.

Itulah cara penginjil Markus memperkenalkanYesus yang membuat orang-orang pada waktu itu merasa gembira. Tindakan serta ajarannya menjawab pertanyaan-pertanyaan serta keinginan dasar yang ada dalam diri orang pada waktu itu tapi juga pada zaman dan tempat yanglain.

Namun, kata “Injil” bagi para pengikut Yesus – pada zaman penginjil Markus – sudah mulai dipakai juga dalam arti “kabar baik” mengenai diri Yesus. Diberitakan di kalangan para pengikut Yesus bahwa ia yang tadinya disalibkan, wafat, dan dimakamkan itu kini sudah bangkit dari kematian dan kini hidup dan akan datang lagi dalam kemuliaannya pada akhir zaman.

Kabar baik inilah yang membuat para murid pertama dapat terus menghidupi kepercayaan mereka dan mewartakannya kepada banyak orang lain yang mau bergabung dengan mereka.

Jadi kalimat atau ayat pertama Injil Markus itu menunjuk pada dua hal sekaligus, yakni bagaimana asal mulanya “berita yang melegakan” yang dibawakan Yesus serta “berita yang menggembirakan” mengenai dirinya. Tentu saja para pembaca/ pendengar Injil Markus sekarang diajak mendalami kedua-duanya.

Seperti yang kita dengar tadi, Yesus ditampilkan dengan gelar ‘Kristus’dan ‘Anak Allah’. Yang pertama berarti Yang Diurapi, yakni Mesias, tokoh yang resmi diangkat Yang Mahakuasa sendiri untuk mengerjakan urusan-Nya di dunia ini.

Orang Yahudi pada masa itu amat mengharapkan datangnya tokoh ini. Ia juga disebut sebagai yang amat dekat dan akrab dengan keilahian sendiri, dalam bahasa Kitab Suci, disebut “Anak Allah”.

Berita mengenai kedatangan tokoh ini menjadi kabar yang membuat lega. Jadi yang disampaikan dalam Injil Markus itu ialah Berita/ Kabar Baik mengenai Dia yang resmi mendapat tugas membawa kembali kemanusiaan kepada Yang Ilahi (Kristus) sebagai orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri (Anak Allah).”

Tentu saja orang akan bertanya-tanya bagaimana Yesus bisa sehebat itu. Nah, dalam ayat-ayat berikutnya, memberi penjelasan dengan menampilkan seorang tokoh lain yang waktu itu sudah amat dikenal, yakni Yohanes Pembaptis. Kita ketahui bahwa Yohanes Pembaptis bukan sembarang tokoh.

Pertama, dalam ingatan orang zaman itu, dia ialah tokoh suci yang mempesona orang banyak. Mereka datang meminta nasihat, mencari kejernihan batin di tempat ia tinggal, yakni di padang gurun. Mereka datang kepadanya minta dibaptis dan dengan tindakan itu orang mengungkapkan diri bertobat dan siap mendapat pengampunan dosa.

Kedua, dalam bayangan orang pada masa itu, Yohanes juga tampil seperti seorang nabi.

Ketiga, dan yang terutama, Yohanes itu diutus oleh Tuhan sendiri untuk “mendahului” serta “mempersiapkan jalan”. Dia adalah orang yang berseru-seru di padang gurun meminta agar yang mendengar mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskannya bagi-Nya.

Dari kisah warta Injil hari ini, Yohanes pembaptis, tokoh yang sedemikian mengesan ini ternyata justru memberitakan kedatangan orang/tokoh yang lebih berkuasa dari dia ialah Yesus. Maka dari itu, rasa ingin tahu orang banyak makin besar. Yohanes sendiri bersaksi bahwa membungkuk untuk melepaskan tali kasut orang yang sedang diwartakannya itu saja ia merasa dirinya kurang pantas. Lalu, siapa gerangan tokoh yang lebih besar daripadanya?

Ungkapan membungkuk melepaskan tali kasuttidak hanya berarti penghormatan kepada orang yang dihadapi. Dengan latar belakang kebiasaan/tradisi (Rut 4:7), maka kata-kata Yohanes bukan sekadar basa-basi melainkan pengakuan bahwa dirinya tidak layak melakukan hal yang membuat Yesus melepaskan ‘haknya’. Apa yang dimaksud dengan hak Yesus itu? Tak lain tak bukan ialah membawakan baptisan dalam Roh Kudus dan mendekatkan kembali keilahian kepada manusia.

Yohanes Pembaptis hendak mengatakan dalam bahwa yang dijalankannya ialah membaptis dengan air – itulah yang bisa dilakukannya untuk menyadarkan orang banyak. Namun, untuk sungguh membawakan yang di atas sana kepada manusia, itu adalah hak Dia yang lebih berkuasa yang akan datang, yang akan membaptis dengan Roh Kudus.

Orang banyak yang mendengar pernyataan itu dengan segera akan semakin bertanya-tanya siapakah dia yang dibicarakan ini? Di sinilah perhatian orang-orang zaman itu dan kita juga sekarang diarahkan dari Yohanes Pembaptis kepada Dia (Yesus) yang diwartakannya.

Catatan: Kutipan dari Yes 40:3 dalam Mrk 1:3 (“Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”) menjadi makin besar artinya bila kita ikut disimak konteksnya dalam tulisan Nabi Yesaya sendiri. Intinya, umat tak perlu berkecil hati, yang terburuk sudah lewat. Yang perlu kini ialah melihat ke depan, kembali pulang ke negeri sendiri, melewati padang gurun.

Seperti ketika Allah menuntun nenek moyang mereka keluar dari Mesir lewat padang gurun dulu, kini Allah yang sama akan memimpin umat-Nya kembali. Nah, dalam Yes 40:3 sang nabi menyebut diri sebagai suara yang berseru-seru menyampaikan kepada kekuatan-kekuatan tadi agar mereka juga mempersiapkan jalan, meluruskan lorong-lorongnya, meratakannya bagi perjalanan-Nya bersama umat. Itulah gagasan dasar yang ada dalam Kitab Yesaya.

Lalu, seperti yang kita dengar dalam warta Injil tadi, suara yang berseru-seru di padang gurun itu ialah Yohanes Pembaptis. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”Tentu hal ini mengingatkan kita akan seruan Nabi Yesaya. Yohanes ditampilkan sebagai nabi yang mengenali suara ilahi dan kehendak-Nya dan berani menyerukannya. Kemudian, orang-orang berdatangan kepadanya di padang gurun mencari petunjuknya.

Dan Yohanes pun memberi petunjuk bagaimana orang harus mempersiapkan diri untuk menyambut Yesus yang dia wartakan. Ia mengajak orang untuk menyatakan tobatnya, menyadari segala penyelewengan yang menjauhkan dari Tuhan, mengakui kesalahannya, dan mengungkapkan penyesalannya melalui perlambangan yang nyata, agar dosanya diampuni Tuhan, yakni dengan pembaptisan air.

Lalu bagaimana bagaimana kita?

Warta Injil hari ini mengingatkan kita betapa pentingnya pembaptisan kita yang telah kita terima dan agar kenyataan tersebut tetap dihayati, agar tetap terbuka untuk menyambut kedatangan Kristus. Ingatlah ketika kita dibaptis, kita sudah menyambut Dia, Tuhan Yesus Kristus.

Nah, agar penyambutan awal itu semakin terwujud di sepanjang hidup kita, pentinglah terus menghayati apa yang terungkap dalam pembaptisan itu, yakni mengakui diri sebagai orang sesat, berdosa dan mengarahkan langkah kembali kepada Tuhan Yesus.

Di samping itu, sesungguhnya kalau kita refleksikan dan renungkan dalam hati, kisah Yohanes ini juga merupakan kisah bagi hidup batin, bukan sekadar cerita tentang seorang yang berseru dan membaptis orang di padang gurun. Sehingga bila kisah dalam warta hari ini dimengerti dalam arti seperti itu maka kesaksian Yohanes membantu orang pada zaman sekarang juga atau membantu kita semua.

Sadarilah bahwa sebenarnya ‘Yohanes Pembaptis’ itu ada dalam diri setiap orang yang dengan tulus menantikan Yang Ilahi datang membimbing hidup orang beriman. Maka, marilah kita sekarang bertanya diri: sejauh mana kita sungguh-sungguh secara jujur dan tulus menantikan Sang Mesias dalam masa Adven ini? Atau kita selalu sadar bahwa kita orang berdosa lalu di sepanjang hidup sampai saat ini kita senantiasa mengharapkan kedatangan Yesus dalam hati dengan mempersiapkan jalan bagi-Nya dengan berusaha senantiasa mencari dan menemukan kehendak-Nya, serta melaksanakannya?

DOA:

Ya Tuhan Allah, kami bersyukur atas baptisan yang telah kami terima dari-Mu. Semoga kami selalu ingat bahwa kami adalah orang yang selalu jatuh bangun dalam dosa dan karena belas kasih-Mu, kami digerakkan oleh-Mu sendiri untuk dating kepada-Mu menerima karunia rahmat pengampunan dari-Mu. Terpujilah Engkau kini dan sepanjang segala masa. Amin.***

LEAVE A COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *